Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Kecewa


__ADS_3

PoV Aldi


Setelah melihat foto Nilam beberapa saat, aku menjadi begitu kesal dan seolah itu belum cukup, mereka mengirim seorang pelayan untuk mengundang aku bergabung bersama keluarga kecil mereka untuk makan malam. Aku disini masih mencoba untuk mencerna apa yang baru saja terjadi setelah aku pergi selama 3 tahun yang lalu. Hubungan spesial ku dengan Nilam dan fakta bahwa dia menikah dengan Papa ku dan menjadi Ibu tiri ku, atau fakta sialan bahwa dia memberikan aku seorang saudara laki-laki membuat aku begitu marah.


Aku memarahi pelayan itu memintanya untuk pergi dari kamarku. Setelah itu, aku mencoba untuk menahan amarah yang ada di dalam diriku tapi setelah satu jam atau lebih aku merasa tubuhku semakin begitu panas. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan mandi air dingin.


Aku begitu terkejut saat aku keluar dari dalam kamar mandi setelah selesai mendinginkan tubuhku. Aku melihat Nilam Yuniarta Widuri tengah berdiri di pintu kamarku dan hendak berjalan keluar dari dalam kamarku.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Ucapku.


Nilam tiba-tiba berhenti melangkah saat aku bertanya kepadanya. Tapi dia tidak mengatakan apapun selama beberapa saat dan aku juga tidak mengatakan apapun lagi. Aku mau dia berani untuk mengucapkan kalimat terlebih dahulu.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengganggumu lebih lama, aku akan pergi secepatnya." Ucap Nilam.


"Maaf?" Teriakku dengan sangat keras.


Di saat yang bersamaan mendengarkan kata maaf yang diucapkannya itu juga semakin membuat aku kesal.


Itu adalah kata yang sama yang dia gunakan tiga tahun yang lalu saat dia memutuskan hubungan denganku. Wanita ****** di depanku ini bahkan tidak memberikan aku penjelasan dan semua yang bisa dia katakan hanya permintaan maaf saja.


Dia bersiap untuk pergi lagi dengan hanya mengatakan maaf dari mulutnya itu. Tapi aku tidak mau membiarkan dia pergi begitu saja kali ini. Jadi aku menghempaskan pintu dan menghentikan dia untuk pergi dari kamarku.


"Maaf, maaf, dan maaf. Kau mengatakan hal yang sama selama 3 tahun yang lalu saat kau memutuskan untuk putus denganku dan menikahi pria tua itu. Aku butuh penjelasan Nilam Yuniarta Widuri." Teriakku kepadanya dan dia pun membeku.


Dia belum juga mengatakan apapun dan apalagi sampai berbalik ke arahku.


'Apakah dia tidak mencoba untuk tidak menghiraukan aku?'


"Nilam Yuniarta Widuri.... Kau tahu benar apa yang paling aku benci. Jadi jangan membuat aku kehilangan kesabaran ku." Ucapku.


Dia sepertinya mengerti dengan apa yang aku maksudkan hingga dia langsung berbalik ke arah ku. Kelihatannya dia tidak lupa hal apa yang paling aku benci selama ini. Apa yang membuat aku terkejut adalah saat dia berbalik menatapku. Dia tampak tengah menatap tubuhku untuk beberapa saat, seolah dia kehilangan kendali akan dirinya sendiri dengan mengagumi tubuhku.

__ADS_1


Aku sebenarnya harus mengakui bahwa hal itu membuat aku senang, mengetahui bahwa aku masih memiliki pesona di depannya, walaupun sebenarnya hal itu harusnya membuat aku merasa jijik.


"Apa kau senang melihat apa yang kau tatap saat ini?" Ucapku yang membuat dia langsung tersadar, tapi dia langsung mengalihkan pandangannya dariku.


"Aku tidak tahu apa yang kau katakan. Tapi kau seharusnya menggunakan pakaianmu. Kau mungkin saja akan kedinginan dan tidak baik bicara dengan kondisi seperti itu." Ucapnya.


"Hah? Apa sebenarnya yang kau takutkan?" Ucapku.


"Hah?" Ucapnya melihat ke arahku dengan tatapan yang bingung.


Tapi aku kemudian kembali melanjutkan ucapanku.


"Apakah kau takut akan kehilangan kontrol dirimu dan terjatuh dalam pelukanku? Aku bisa mengerti gestur tubuhmu itu." Ucapku menyeringai.


Dia tetap terdiam dan aku mendekat ke arahnya dengan semakin membuat jarak diantara kami semakin dekat, kemudian aku berbisik beberapa kata di telinganya.


"Aku akan mengerti karena bagaimanapun akulah orang pertama yang melakukan hubungan itu denganmu. Akulah pria pertama yang merasakan tubuhmu."


Aku sebenarnya tidak pernah menganggap itu sebagai sebuah permainan dan aku menghargai momen yang aku lakukan bersamanya itu seperti sebuah harta paling berharga bagiku. Tapi aku tentu saja tidak akan pernah membiarkan dia mengetahui hal itu.


"Aku mengingat hari itu dengan jelas. Tapi tolong hargai aku dan tolong hargai aku saat kau bicara tentang hal itu." Ucapnya.


"Menghargai mu? Apakah kau memiliki pikiran yang sama saat kau naik di atas tempat tidur Papa ku dan membuka kakimu, sama dengan yang kau lakukan dengan para pria lain yang juga melakukannya denganmu seperti seorang ******."


Aku tidak bisa melanjutkan ucapan ku setelah aku merasa sebuah tamparan mengenai wajahku.


"Sudah cukup Aldi. Aku mengakui bahwa aku memang putus denganmu untuk menikah dengan Papa mu. Tapi kau tidak bisa terlalu berlebihan seperti ini."


Setelah menampar aku dan juga setelah dia memarahi aku, dia pun keluar dari dalam kamarku dengan air mata yang tampak turun ke pipinya.


'Aku memang sengaja mengatakan hal itu untuk menyakitinya tapi kenapa kemudian aku malah merasa terluka saat melihat dia yang merasa terluka?'

__ADS_1


Dia sebenarnya pantas menerima itu, tapi aku tidak percaya bahkan setelah beberapa tahun ini dia masih saja bisa mempengaruhi aku sama seperti tiga tahun yang lalu. Aku tetap saja masih tidak bisa menyakiti dirinya atau melihat dia terluka.


Setelah itu aku memilih untuk minum banyak bir untuk membuat diriku mabuk dan kemudian aku tidur sangat larut malam.


Saat aku bangun keesokan paginya, aku merasa kepala ku begitu sakit. Aku lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku sendiri, menyikat gigiku. Setelah itu, aku kemudian turun ke lantai bawah, di mana sarapan sudah siap. Tapi tidak ada seorangpun berada di meja makan.


"Bibi Ana, di mana semua orang?" Ucapku bertanya kepada Bibi Hana yang datang mendekat kearahku untuk menyajikan secangkir kopi untukku.


"Oh Tuan besar tengah beristirahat di kamarnya. Sementara Nyonya Muda keluar pagi ini untuk bertemu dengan temannya bersama dengan Tuan kecil." Balas Bi Ana.


'Tuan kecil?' ucapku dalam hati.


Setiap kali aku memikirkan anak kecil itu, itu hanya membuat aku semakin kesal.


Sejujurnya aku tidak memiliki masalah apapun dengan anak itu. Tapi memikirkan dirinya terus mengingatkan aku bahwa Nilam meninggalkan aku untuk Papa ku. Aku tidak pernah melihat anak itu secara langsung. Aku hanya pernah melihat figurnya dari jauh. Bagaimanapun aku tidak peduli untuk bertemu dengan dia atau tidak.


"Bibi Ana, tolong bawakan obat untukku bisa menghilangkan rasa sakit kepala ini." Ucapku kepada Bibi Ana.


"Tentu Tuan Muda." Balas Bibi Ana.


Sakit kepala sialan ini benar-benar membuat aku menjadi gila. Untung saja aku tidak perlu menghadapi Papa ku dan keluarga barunya itu. Jika tidak, hal itu hanya akan semakin membuatku merasa sakit kepala.


Bagaimanapun aku merasa penasaran tentang siapa teman yang hendak di temui oleh Nilam itu.


'Terserah saja, apa peduliku.' ucapku dalam hati.


Aku lalu mengalihkan pikiranku tentang hal itu. Siapapun orang yang akan dia temui, bukanlah urusanku.


Tapi sekarang, bagaimana aku bisa hidup dengan tenang setelah mengetahui bahwa dia sekarang menjadi Mama ku, lebih tepatnya Mama tiri ku yang harus aku hormati. Jadi sekarang, apa yang harus aku lakukan untuk selanjutnya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2