Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Curhat Pada Alex


__ADS_3

PoV Nilam


Aldi tidak mempercayai aku, lalu apa masalahnya? Dia selalu berpikir bahwa aku ini adalah wanita murahan, wanita penggila harta, seorang penjahat, seorang penghianat yang tidak punya hati jadi. Memangnya kenapa jika dia berpikir semua hal itu tentang diriku?


Aku lah orang yang menyebabkan dia salah paham kepadaku dan aku terus membuat dia merasakan hal seperti itu. Jadi kenapa aku harus menangis karena semua hal itu?


Aku lalu menghapus air mataku dan membersihkan wajahku karena aku tidak mau menangis lebih lama lagi. Aku ingin menjalani hidupku tanpa ada rasa khawatir. Aku kemudian mengenakan pakaian kasual dengan memakai celana pendek berwarna putih dan aku tidak memakai make up sedikitpun.


Aku mengambil tasku dan melangkah keluar dari dalam kamarku, kemudian ponselku tiba-tiba mulai berdering lagi. Jadi aku pun menjawab panggilan itu.


"Halo Alex!" Ucapku.


"Apa yang kau lakukan? Aku sudah ada di depan rumahmu." Ucap Alex.


"Oh, aku sudah ada di jalan. Kenapa kau tidak masuk?" Tanyaku.


"Tidak perlu. Aku akan menunggumu di luar sini, jadi cepatlah dan temui aku di luar." Balas Alex.


"Baiklah Alex, aku mengerti. Aku akan bertemu denganmu di luar."


"Jangan terlalu lama." Ucap Alex.


"Iya, tunggulah di sana. Aku akan menemui mu." Balas ku.


Aku memutuskan sambungan telepon itu. Tapi tepat saat aku melangkah, sebuah suara membuatku menghentikan langkahku.


"Kau mau pergi ke mana?"


Aku langsung menghentikan langkahku dan berbalik saat melihat Aldi tengah menatapku.


"Kenapa kau terus bertemu dengan Alex itu? Bagaimana dekatnya hubungan kalian?"


Aldi melangkah mendekat ke arahku dan memegang tanganku dengan sangat erat. Tapi aku langsung menghempaskan tangannya dari tubuhku. Itu bukan urusanmu." Balas ku.


"Apa?" Ucapnya dengan marah.


"Kenapa kau ada di sini mengurusi hidupku? Bukankah seharusnya kau harus menjaga kekasihmu itu?" Teriakku kepadanya dan bahkan saat aku menyebutkan kata 'kekasih', aku merasa bahwa aku menyakiti diriku sendiri dengan pisau yang sangat tajam.


"Aku mengerti kau cemburu." Ucapnya.


"Hah!" Balas ku bingung.


"Kau cemburu kepada Sarah. Itulah kenapa kau mendorongnya."


Jadi dia benar-benar percaya bahwa aku telah mendorong Sarah. Dia percaya apa yang wanita licik itu katakan dan bukannya padaku. Dia percaya bahwa aku bersalah karena sudah menyakiti orang lain dengan cara seperti itu. Tapi apalagi yang bisa aku harapkan. Itu semua sudah sangat jelas sejak awal. Aku dengan marah langsung mendorongnya menjauh dariku.

__ADS_1


"Jaga jarak mu dariku Aldi, dan jika kau percaya bahwa aku mendorong Sarah, maka terserah saja. Percayalah pada apapun yang kau harapkan. Aku tidak peduli." Ucapku.


"...."


"Aku sudah mengkhianati cintamu dan kau sudah menemukan cintamu. Jadi ayo kita akhiri semuanya di sini."


Aku menangis dan juga menertawakan diriku sendiri di dalam hati karena Ucapanku itu seolah aku tengah memutuskan kekasihku. Bagaimanapun kami sudah putus sejak lama dan tidak ada masa depan lagi di antara kami.


"Tetap berdiri di sana Nilam. Aku melarang mu bertemu dengan Alex itu." Ucapnya dengan suara yang marah dan terdengar seperti seorang suami yang cemburu atau kekasih yang cemburu. Tapi kenyataannya, kami bukan lagi dalam tipe hubungan seperti itu lagi.


"Kau tidak punya wewenang untuk melarang ku Aldi. Siapa yang aku temui atau tidak hanya bisa diputuskan oleh Papamu. Jadi jaga dirimu, Putraku sayang."


'Putraku sayang!'


Aku tidak bisa percaya apa yang sebenarnya aku katakan itu. Rasanya terdengar seolah aku benar-benar mengakui kenyataan pahit itu bahwa aku memang sudah menjadi ibu bagi Aldi.


Aku akhirnya berhasil keluar dari dalam rumah dan bertemu dengan Alex. Kami akan pergi untuk berbelanja. Bagaimanapun karena perasaanku yang tengah kacau dan tidak senang, jadi Alex membawaku pergi ke rumahnya dengan menawarkan aku minuman dan aku mengatakan kepadanya apa yang sudah terjadi barusan antara aku dan Aldi.


"Jadi seperti itu." Ucap Alex saat dia mendengarkan ceritaku seolah dia tidak merasakan rasa sakit yang aku rasakan.


"Iya, Aldi membenciku. Dia benar-benar percaya bahwa aku mendorong Sarah, tapi aku tidak melakukannya." Ucapku.


"Kaulah yang menginginkan hal itu terjadi." Ucapnya.


Dia seolah mengatakan kepadaku bahwa aku sendiri lah yang menginginkan untuk dilukai dan aku pantas mendapatkannya. Tapi kenapa?


"Apa yang kau katakan?" Tanyaku kepadanya.


"Dengarkan aku Nilam, aku sudah mendengar ceritamu beberapa minggu ini dan dari yang aku lihat, itu semua sangat jelas bahwa Aldi sangat mencintaimu dan rasa sakit yang dia sebabkan kepadamu itu belum cukup dengan rasa sakit yang kau berikan kepadanya."


"....." Aku tidak dapat mengatakan apapun.


"Setiap kali kau datang kemari dan kau selalu komplain tentang dirinya, tapi kau memang pantas mendapatkannya." Ucap Alex lagi.


"Apa?" Ucapku dengan semakin bingung.


"Kaulah orang yang selalu membuatnya salah paham kepadamu dengan tetap membiarkan dia berada dalam kegelapan. Jadi kau tidak bisa mengharapkan dia untuk memperlakukanmu dengan cara yang lain." Ucap Alex.


"Aku hanya...."


"Kau lah orang yang semakin menyiram apa yang kau tanam agar semakin tumbuh besar. Kau lah yang menanam kebencian dan tidak percaya kepadanya dan sekarang itulah apa yang kau dapatkan."


Alex memang benar, aku tidak pernah mencoba untuk melihat semua hal dengan sudut pandang lainnya, dan sekarang saat aku bisa melihat itu, aku hanya....


"Kau bertingkah seperti wanita bodoh yang ada di dalam film yang aku tonton. Mereka menyembunyikan rahasia mereka dari cinta mereka dengan anggapan ingin melindungi mereka. Tapi rahasia yang sama itu justru menyebabkan kerusakan bagi mereka. Tidak kah kau tahu bahwa menyembunyikan rahasia itu adalah hal lain dari membunuh dirimu sendiri." Ucap Alex.

__ADS_1


"Aku...."


"Kau tidak punya apapun yang ingin kau katakan tentang hal ini. Tentu saja Aldi melukaimu, tapi kau tidak bisa juga menyalahi dia karena hal itu. Bukan begitu?" Ucap Alex lagi.


Sangat sulit mendengarkan kenyataannya dari sahabat baikmu. Tapi Alex memang benar dalam setiap sudut pandangnya dan aku tidak bisa menyangkal hal itu. Cinta memang berdasarkan kepercayaan. Tapi aku mengkhianati Aldi bukan karena aku meninggalkan dia untuk Papa nya. Tapi karena aku tidak cukup mempercayai dia.


"Aku tidak punya pilihan lain Alex. Mama sudah meninggal, aku juga tidak mau kehilangan Alen." Ucapku.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Alex.


"Tante dan Om memaksa aku untuk menikah dengan Tuan Erfandi. Tapi seseorang juga mengancam hidup adikku dan juga putraku. Aku takut Alex. Aku tidak tahu di mana keberadaan Alen jadi aku sangat takut." Ucapku.


"Kenapa kau harus? Kau seharusnya tidak takut. Percayalah kepada dirimu sendiri dan percayalah juga kepada cintamu." Balas Alex.


Percaya kepada diriku sendiri? Aku bisa melakukannya hanya jika solusinya sangat sederhana. Aku berharap bahwa semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk dan aku bisa terbangun dengan adanya Aldi di sisiku. Sama seperti hujan di siang hari dan di malam hari yang aku habiskan bersama dengan Aldi malam itu saat Leon mungkin saja mulai tumbuh di perutku. Aku benar-benar tidak bisa melupakan hari itu, hari di mana hujan turun begitu deras.


Setelah menghabiskan sepanjang hari di rumah Alex, aku lalu pulang ke rumah menggunakan sebuah taksi. Aku langsung pergi ke kamar Leon dan dia sudah tertidur dengan nyenyak. Saat aku melihat ke arahnya, dia terus mengingatkan aku kepada sosok Papa nya.


"Tidurlah yang nyenyak sayang." Ucapku memberikan ciuman di kening anakku itu.


Aku kemudian berjalan keluar dari dalam kamarnya, menutup pintu dengan perlahan agar tidak membangunkan dia. Aku hendak berjalan ke dalam kamarku, tapi kemudian aku melihat ke arah kamar Aldi yang berada di samping kamarku. Aku mengakui bahwa aku begitu penasaran dan ingin untuk masuk ke dalam. Tapi kemudian aku tidak melakukannya. Sarah mungkin saja tengah tertidur dan Aldi berada di samping Sarah sama seperti pasangan lainnya.


'Kau yang membawa semua ini kepada dirimu sendiri Nilam.'


Ucapan Alex kembali terngiang di pikiranku. Iya, aku harus mengakuinya. Aku lah yang membawa semua ini untuk diriku sendiri. Pernikahanku dengan Tuan Erfandi bukanlah pilihanku. Tapi aku menjauh dari Aldi karena aku malu pada diriku sendiri dan aku terus menyimpan semua rahasiaku darinya karena aku takut atau mungkin aku hanya menjadi seorang pengecut atau mungkin saja aku adalah seorang idiot.


Aku mendorong pintu kamarku dan menutupnya dengan sedih. Tapi apa yang tidak aku harapkan adalah melihat Aldi berada di dalam kamarku.


"Hah.... Al... Aldi..." Ucapku dengan gugup.


Tapi bukan kehadirannya yang paling membuat aku terkejut di saat itu. Aku kalah jauh lebih terkejut saat aku melihat dia memegang sebuah cincin. Itu adalah cincin yang sama, yang dia berikan kepadaku saat kami berkencan dulu.


"Aku tidak berpikir bahwa kau masih menyimpan ini selama ini." Ucapnya.


"...."


"Kenapa kau masih menyimpan ini bersamamu? Apakah kau memiliki perasaan kepada putramu sendiri dan jika kau masih memiliki perasaan kepadaku, kenapa kau menikah dengan Papa ku? Kenapa kau meninggalkan aku?"


Aku tidak tahu kenapa, tapi saat itu aku ingin mengatakan semua kebenarannya kepada Aldi. Aku ingin mengatakan kepadanya apa yang selama ini aku simpan di dalam hatiku.


"Bicaralah Nilam Yuniarta Widuri..."


"......"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2