
PoV Author
Di dalam sebuah restoran yang berada dekat dengan perusahaan, Nilam duduk bersama dengan Lila dan Alex. Dia tidak pernah bermaksud untuk mempertemukan kedua sahabatnya itu. Tapi dia tidak pernah memilih hal itu bahkan dia tidak menyangka hal itu akan terjadi di hari yang tidak bisa dia prediksi sama sekali.
"Aku rasa kita harus membuat pesanan kita. Apa kalian berpikir begitu guys?" Ucap Nilam dengan harapan bisa merubah situasi canggung dan tekanan yang dia rasakan untuk memisahkan kedua sahabat baiknya itu.
"Iya benar, kita memang harus melakukannya karena kita sebentar lagi akan kembali ke kantor." Ucap Alex dengan santai yang sebenarnya membuat Nilam merasa terkejut.
Di masa lalu, Alex selalu berakhir dengan berdebat bersama Lila yang selalu memilih untuk tenang.
"Ini sudah begitu lama Alex, dan kau sudah banyak berubah. Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu denganmu bersama dengan Nilam." Ucap Lila.
"Iya, Nilam dan aku adalah teman baik, sama seperti di masa lalu." Balas Alex.
"Sahabat baik?" Ucap Lila dengan tenang, kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya. "Ya senang mengetahui hal itu. Kalau begitu selamat datang Alex
Aku harap kita berdua bisa berteman baik demi kebaikan Nilam."
"Tentu saja, aku tidak akan terjatuh lagi dan menghilang lagi karena aku punya keinginan untuk menunjukkan wajah seseorang yang bermuka dua." Ucap Alex.
"Alex ini sudah sangat lama, apakah kau masih melihat aku seperti musuh?" Ucap Lila tampak kesal.
"Oh Lila sayang, aku hanya menyebutkan untuk menunjukkan wajah seorang wanita ****** bermuka dua. Kenapa kau begitu gugup dan tampak marah. Padahal aku sama sekali tidak menyebutkan nama seseorang. Apakah itu berarti kau sudah mengetahui siapa yang aku bicarakan itu?" Ucap Alex lagi.
"Ti... Tidak. Bagaimana itu mungkin terjadi. Itu bukanlah yang aku maksudkan." Balas Lila kali ini terlihat gugup.
"Jadi apa yang kau maksudkan Lila sayang?" Ucap Alex.
"Aku hanya mencoba untuk memperbaiki hal yang terjadi di antara kita berdua karena itu tidak akan baik bagi kita, jika kita selalu memiliki kesalahpahaman. Aku hanya memikirkan kebaikan Nilam. Kau sudah menjauh begitu lama, jadi kau tidak tahu apa yang sudah dia lalui selama beberapa tahun ini." Ucap Lila.
"Tenanglah Lila, Nilam sudah memberitahukan kepadaku tentang semuanya." Ucap Alex.
"Apa? Nilam kau....." Ucap Lila begitu tampak terkejut.
Alex pun memiliki pendapat di dalam dirinya bahwa dia sudah melihat identitas tersembunyi dari ekspresi di wajah Lila yang dia tunjukkan saat ini.
"Ada apa dengan ekspresi mu yang tiba-tiba berubah itu? Apa kau berpikir Nilam sudah membuat pilihan buruk dengan mengatakan kepadaku semua hal itu?" Ucap Alex.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Aku hanya khawatir tentang Nilam. Kau tahu bagaimana situasinya sekarang itu cukup menyulitkan baginya. Maksudku, kau sudah menjauh darinya begitu lama." Ucap Lila lagi.
"Jadi maksudmu adalah aku ini orang asing dan Nilam seharusnya tidak mengatakan kepadaku semua masalahnya?" Ucap Alex.
"Tidak...." Ucap Lila.
Tapi Alex langsung menyela ucapan Lila dengan dia menarik kursinya mundur dan melihat ke arah jam di tangannya.
"Waktuku sudah habis. Aku harus pergi Nilam." Ucap Alex.
"Tapi kita bahkan belum makan." Balas Nilam.
"Aku kehilangan selera makan ku." Ucap Alex.
"Alex..." Ucap Lila, tapi kembali dihentikan saat Alex melanjutkan ucapannya.
"Aku berjanji kepadamu bahwa aku akan bersikap baik saat kita bersamanya. Tapi aku juga mengatakan bahwa aku tidak akan memaksa diriku sendiri untuk berteman dengannya dan kau sudah setuju dengan ucapanku itu." Ucap Alex pada Nilam.
Nilam harus mengakui bahwa dia setuju dengan apa yang dikatakan Alex itu. Tapi dia juga berharap bahwa Lila dan Alex bisa menjadi teman baik dan dia tidak harus merasa memisahkan mereka berdua. Semuanya terlihat tidak berakhir dengan apa yang dia harapkan dan Alex pun pergi meninggalkan Nilam bersama Lila lagi.
"Aku minta maaf Nilam." Ucap Lila meminta maaf dengan segera setelah Alex pergi meninggalkan mereka di meja restoran itu.
"Tidak, kau tidak seharusnya meminta maaf. Ini adalah kesalahanku karena tidak memberitahukan kepadamu lebih awal." Ucap Nilam merasa bersalah.
"Ini sudah sangat lama. Tapi kelihatannya Alex masih benci kepadaku. Aku tidak tahu kenapa dia sangat membenci aku. Tapi aku akan mencoba yang terbaik agar kita bisa dipanggil sebagai tiga sahabat baik." Ucap Lila.
"Tentu, aku juga menantikan hari itu datang." Ucap Nilam.
Sama seperti di masa lalu, Nilam selalu berharap bahwa mereka bisa menjadi tiga sahabat baik. Tapi dengan apa yang baru saja terjadi hari ini, Nilam merasa bahwa dia butuh banyak perjuangan yang mungkin harus dia lakukan. Bagaimanapun dia tetap tidak bisa mengerti kenapa Alex selalu bersikap buruk terhadap Lila.
Semuanya sikapnya itu dimulai dengan beberapa kecelakaan yang Nilam alami saat di masa sekolah dulu yang selalu tidak diketahui oleh Nilam, siapa pelaku sebenarnya. Tapi Alex selalu menyalahkan Lila akan hal itu, walaupun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Lila memang yang bersalah.
"Nilam, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Lila seraya memegang tangan Nilam dengan lembut.
"Aku hanya memikirkan tentang masa lalu. Kau tahu benar bahwa Alex selalu tidak baik padamu. Tolong jangan salahkan dia. Aku hanya berpikir bahwa dia terlalu khawatir dan merasa tidak yakin dengan semuanya." Ucap Nilam.
"...."
__ADS_1
"Orang tuanya menelantarkan dia saat masih kecil. Dia dikhianati oleh teman dekatnya dan juga Om nya. Jadi itu semua terlalu sulit baginya untuk mempercayai sesuatu." Ucap Nilam.
"Apakah itu alasan sampai kau mengatakan kepadanya tentang dirimu dan Aldi?" Ucap Lila menyela ucapan Nilam.
Tapi ekspresi di wajah Lila tidak memperlihatkan seperti seseorang yang khawatir. Ekspresi yang di tunjukan itu lebih terlihat seperti perasaan yang marah dan juga kecewa.
"Lila, maaf. Aku tidak mengatakan kepadamu sebelumnya apakah kau pikir aku melakukan hal yang salah?" Tanya Nilam.
"Tidak aku hanya.... aku hanya khawatir tentang dirimu jika banyak orang yang mengetahui tentang itu, maka adikmu...."
"Tenanglah Lila. Tante ku yang jahat dan keluarganya itu tidak mengganggu aku lagi untuk waktu yang lama sekarang. Walaupun aku tidak tahu di mana keberadaan adikku. Aku yakin bahwa dia baik-baik saja selama aku terus menjaga hubungan kau dengan Tuan Erfandi." Ucap Nilam.
"Aku mengerti, Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan Aldi?" Tanya Lila.
"Al.... Aldi Sebenarnya aku..."
Nilam tiba-tiba menghentikan ucapannya saat mereka mulai membicarakan tentang hubungannya dengan Aldi. Dia tidak tahu apakah ide yang baik baginya untuk mengatakan semuanya kepada Lila bahwa dia sudah bertemu dengan Aldi untuk sekarang. Dia tidak bisa mengatakan kepada siapapun bahkan tidak kepada Alex sampai semuanya akhirnya bisa stabil.
"Sebenarnya sama seperti di masa lalu, kau tahu bahwa Aldi sekarang adalah anak tiri ku." Balas Nilam dan dia memang menyembunyikan kebenaran dari Lila.
"Ini sudah terlambat Lila. Aku harus kembali ke kantor. Kita akan bertemu lain kali dan kau akan mengatakan kepadaku tentang bagaimana perjalanan yang kau lewati." Ucap Nilam.
"Tentu saja." Balas Lila, dengan senyuman hangat yang langsung menghilang dengan cepat saat Nilam berjalan keluar dari restoran.
Lila mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya kemudian menelpon sebuah nomor dan menunggu jawaban dari panggilannya itu.
"Bukankah aku mengatakan kepadamu untuk terus mengawasi dia? Lalu bagaimana dia bisa dekat dengan Alex? Apakah kau tahu siapa Alex ini?" Ucap Lila.
"Temui aku di tempat biasa. Ayo kita buat semuanya menjadi lebih jelas." Ucap Lila Lagi.
Tut.... Tut... Tut...
Lila langsung menutup sambungan telepon itu tanpa memberikan kesempatan bagi orang di seberang telepon itu untuk mengatakan hal yang lainnya. Dia lalu menaruh ponselnya di dalam tasnya kembali dan berjalan keluar dari dalam restoran itu.
"Dasar bodoh." Ucap Lila.
Bersambung....
__ADS_1