
PoV Author
Tuan Erfandi tengah duduk di taman sembari membaca sebuah buku dan meminum jus buah saat dia tiba-tiba bertemu dengan putranya, Aldi yang tidak mengatakan apapun padanya.
"Kau kembali bekerja dengan cepat. Apa kau membutuhkan sesuatu dariku?" Tanya Tuan Erfandi tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang tengah dia baca itu.
"Bagaimana kau tahu bahwa aku membutuhkan sesuatu darimu?" Ucap Aldi.
"Kita memang tidak punya hubungan yang baik sebenarnya. Tapi aku masih bangga mengatakan bahwa aku tahu putraku dengan baik." Ucap Tuan Erfandi tersenyum dengan mata tetap tak melihat ke arah Aldi.
"Berhenti bicara omong kosong. Kau jangan mencoba untuk menunjukkan contoh sebagai seorang Papa yang peduli kepada anaknya." Balas Aldi dengan kesal.
"Sangat menyedihkan karena kau tidak mempercayai bahwa tindakanku itu adalah nyata." Ucap Tuan Erfandi.
"......" Aldi tidak mengatakan apapun.
"Terserah saja. Aku harap waktu akan merubah pikiranmu. Sekarang katakan kepadaku, apa yang kau inginkan dariku?" Ucap Tuan Erfandi
"Sangat sederhana, aku ingin mendiskusikan tentang hubunganmu dengan Nilam." Ucap Aldi.
"Ke... Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Ucap Tuan Erfandi terlihat gugup.
"Karena aku penasaran. Kenapa kau bisa menikahi seorang wanita yang memiliki anak dengan laki-laki lain." Ucap Aldi.
Tuan Erfandi berhenti bicara sebentar. Dia tampak menghela nafasnya panjang.
"Sepertinya kau sudah mengetahui kebenarannya." Ucap Tuan Erfandi dengan tenang, seolah dia sudah mengetahui bahwa putranya itu sudah menemukan fakta yang sebenarnya dan sekarang itu tidak merubah apapun, tapi rasanya Tuan Erfandi bisa melepaskan beban yang selama ini ada di pundaknya.
"Berada di bawah tekanan seperti apa Nilam, sehingga kau bisa menikahi dia?" Tanya Aldi lagi tidak sabaran.
"Karena semuanya sudah sampai di sini, aku hanya bisa mengatakan satu hal kepadamu." Ucap Tuan Erfandi serius.
"....."
"Pernikahan itu terjadi karena sebuah ketertarikan." Ucap Tuan Erfandi.
"Maksudmu sebuah ketertarikan yang egois!" Ucap Aldi geram.
"Terserah kau mau menyebutnya apa. Tapi aku punya alasan baik untuk melakukan apa yang sudah aku lakukan." Ucap Tuan Erfandi.
"Apa alasan baik yang bisa mendorongmu mengambil keuntungan dari fakta bahwa keluarga Nilam itu miskin. Apa itu yang membuatmu menjadikan dia istri dia usianya yang sebenarnya lebih cocok untuk menjadi putrimu?" Ucap Aldi semakin kesal.
Aldi juga memukul meja dengan sangat keras yang membuat gelas jus dari Papanya itu terjatuh di atas meja. Tapi Aldi tidak peduli sedikitpun, karena dia sudah mengetahui bahwa Nilam dipaksa untuk menikah dan Leon adalah putranya. Aldi tidak bisa berhenti menyesali bagaimana dia memperlakukan Nilam pada awal mereka bertemu setelah dia kembali dari luar negeri.
"Aku tidak bisa mengatakan kepadamu kenapa untuk saat ini. Tapi kau harus tahu bahwa pernikahanku dengan Nilam adalah untuk keselamatannya sendiri dan itu akan lebih baik untuk semua orang mempercayai bahwa Leon adalah putraku." Ujar Tuan Erfandi dengan tetap bersikap tenang.
"Oh ya? Tapi apakah kau pernah mencoba untuk mengetahui siapa Papa kandung dari Leon?" Tanya Aldi.
"Tidak, tapi kelihatannya kau seperti begitu peduli akan semua ini. Apa aku benar?" Ucap Tuan Erfandi balik bertanya.
"Tentu saja.... karena.... aku.... Aku adalah Papa dari Leon." Ucap Aldi yang akhirnya mengatakan semua yang sudah dia ketahui pada Papa nya.
"Apa?" Ucap Tuan Erfandi tampak begitu terkejut.
"Kau mendengar apa yang sudah aku katakan. Aku adalah pria yang sama di mana pria yang putus dengan Nilam 3 tahun yang lalu untuk menikah denganmu. Sekarang kau mengerti kenapa aku begitu marah saat aku kembali 3 tahun setelahnya dan mengetahui bahwa dia menikah denganmu. Apakah kau tahu bagaimana terlukanya aku saat itu?" Ucap Aldi.
__ADS_1
Siapa yang tidak akan merasakan rasa sakit seperti itu saat mengetahui bahwa wanita yang mereka cintai sepenuh hati, malah menyerah dengan hubungan mereka untuk Papa mereka sendiri. Rasa sakit yang sama yang dirasakan Aldi saat dia kembali dan mengetahui bahwa Nilam adalah sudah bersama Papanya dan bahkan Aldi berpikir bahwa Nilam sudah memberikan adik kecil untuknya.
"Kapan kau mengetahui bahwa Leon adalah anakmu?" Tanya Tuan Erfandi.
"Belum terlalu lama." Balas Aldi.
Tuan Erfandi kembali menghela nafas.
"Aku mengerti dan aku tebak bahwa kau ingin mengambil kembali Nilam dan putramu." Ucap Tuan Erfandi.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Aldi.
"Aku akan mengecewakanmu karena aku tidak akan bisa memberikan Nilam kepadamu." Ucap Tuan Erfandi.
"Beraninya kau." Ucap Aldi begitu marah.
"Seperti yang aku katakan. Nilam berada di bawah perlindunganku dan aku tidak akan memberikan dia kepadamu." Ucap Tuan Erfandi lagi.
"Kau...."
"Kau bisa menyebut ini sebagai tawaran. Tapi aku hanya mencoba untuk melindungi dirinya dan cucuku. Jika kau benar-benar mencintai Nilam dan anakmu, sekali saja dalam hidupmu dengarkan aku." Ucap Tuan Erfandi.
Tidak ada yang masuk akal dan Aldi tidak bisa memikirkan kenapa semuanya berbalik seperti ini untuknya. Papanya ingin tetap memiliki Nilam karena dia tengah melindungi Nilam dan Nilam terus menyimpan rahasianya untuk alasan yang tidak diketahui oleh Aldi.
Aldi sekarang berada di antara dua pilihan, dimana yang pertama mungkin akan membuatnya kehilangan Nilam sepenuhnya jika dia tidak mengikuti ucapan Papanya untuk menyelamatkan hidup Nilam dan yang lainnya adalah berjuang untuk memiliki Nilam sebagai istrinya dan hidup bersama Nilam dan putra mereka.
Sepanjang hari Aldi tidak memikirkan hal lainnya tapi terus memikirkan tentang apa yang dia diskusikan dengan Papanya. Dia bahkan mengunci dirinya sendiri di dalam kamarnya, bekerja dengan tabletnya. Namun pekerjaannya tidak selesai karena pikirannya selalu memikirkan tentang Nilam.
Sementara pikirannya masih berada pada dunia lain, pintu kamarnya tiba-tiba terdengar diketuk. Aldi berpikir apakah itu Nilam dan dia pun berharap seperti itu. Tapi dia kecewa pada saat dia malah melihat Sarah dibandingkan dengan Nilam.
"Aku tidak bisa tidur. Jadi aku berpikir mungkin aku bisa tidur di sini denganmu. Itupun jika kau tidak keberatan." Ucap Sarah.
"Maaf Sarah, tapi kau tidak bisa tidur di sini." Ucap Aldi.
"Tapi kenapa? Kita sering tidur di tempat tidur yang sama di masa lalu dan kita bahkan sudah melakukan lebih dari hanya berbaring bersama di atas tempat tidur." Ucap Sarah.
Aldi tidak bisa menyangkal bahwa dia memang sudah melakukan hal yang lebih dibandingkan hanya dengan berbaring di atas tempat tidur bersama dengan Sarah. Tapi itu semua terjadi di masa lalu, saat Aldi masih mempercayai dirinya bahwa dia mencintai Sarah. Aldi sebenarnya tidak tahu perasaan apa yang dia miliki untuk sarah di masa lalu. Tapi perasaannya itu tidak bisa dibandingkan dengan perasaan yang dia miliki saat ini kepada Nilam.
"Aldi, biarkan aku tidur bersamamu hari ini." Ucap Sarah dengan tangannya yang langsung mengarah ke dalam pakaian Aldi lebih dalam.
Tapi Aldi langsung memegang tangan Sarah dan berdiri menjauh dari sofa di mana dia tengah bekerja dengan tabletnya sebelum Sarah mengganggunya.
"Itu semua sudah berlalu Sarah, dan itu hanya terjadi di masa lalu." Ucap Aldi.
"Iya aku tahu, tapi kita bisa membuat masa lalu itu kembali lagi jika kau mau memberikan aku sebuah kesempatan." Ucap Sarah memohon dan mencoba untuk meminta sebuah hubungan yang sudah lama usai kepada Aldi.
Aldi tidak bisa mengatakan apapun, tapi dia merasa bahwa memang tidak ada masa depan di antara mereka berdua. Aldi hanya mendekati Sarah saat ini untuk membuat Nilam cemburu dan sekarang Aldi menyesali kesalahan yang dia buat itu.
"Aldi, kenapa kau tidak bisa memberikan aku satu kesempatan lainnya?" Tanya Sarah.
"Karena aku...."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka dan Aldi tidak bisa jauh lebih bahagia karena mendengar ketukan di pintu itu. Tapi dia juga berpikir apakah itu adalah Nilam. Pintu itu tampak terbuka dan menunjukkan sedikit rambut dengan kepala kecil yang muncul di pintu dan mengintip dengan matanya yang tampak menggemaskan.
__ADS_1
"Leon kenapa kau masih malu, kemari lah!" Ucap Aldi.
Leon awalnya ragu kemudian dia meninggalkan pintu dan berjalan mendekat ke arah Aldi. Aldi langsung menunduk untuk menatap Leon.
"Ada apa? Apa kau tidak bisa tidur?" Tanya Aldi.
Gestur dari kepala Leon mengatakan tidak. Leon berharap bahwa dia bisa mengatakan sesuatu dengan mudah dengan kata-katanya. Tapi dia tidak melakukannya. Aldi pun mengingat bahwa Nilam pernah mengatakan kepadanya bahwa Leon hanya bicara di depan orang yang dia percayai.
"Apa kau mau tidur denganku?" Tanya Aldi.
Leon pun menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia membuat Aldi mengerti bahwa dia merasa tidak nyaman.
"Hah, jika kau tidak bisa tidur, kenapa kau tidak pergi kepada Mamamu itu, dibandingkan dengan datang kemari untuk bertingkah menyedihkan seperti itu." Ucap Sarah.
"Sarah perhatikan ucapan mu. Leon masih seorang anak kecil." Ucap Aldi
"Seorang anak kecil yang sangat manipulatif seperti Mamanya. Dia memiliki seorang Mama dan seorang Papa, jadi kenapa dia memilih untuk datang kemari dan bertingkah menyedihkan seperti itu." Ucap Sarah.
"Leon memiliki darahku. Jadi sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga dirinya." Ucap Aldi.
"Al...."
"Dan aku tidak mentoleransi ucapan kasar mu kepadanya. Jadi tolong jaga setiap ucapan mu itu." Ucap Aldi.
"Aldi...." Ucap Sarah tidak senang.
"Tolong, bisakah kau pergi dari kamarku? Leon butuh tidur." Ucap Aldi lagi.
Sarah begitu kesal bukan hanya karena dia dipermalukan oleh seorang Mama dan sekarang anaknya juga menyebabkan dia di tendang keluar dari kamar Aldi. Sarah menatap ke arah anak kecil itu beberapa saat dan menghentakkan kakinya keluar dengan penuh kemarahan.
'Dasar anak kecil sialan!' Ucap Sarah berteriak dalam hati dan dia berjalan keluar dari dalam kamar Aldi dengan penuh kemarahan.
"Bro, Tante tadi itu kelihatannya sangat marah." Ucap Leon secara tiba-tiba setelah Sarah pergi.
"Apa kau berpikir begitu?" Tanya Aldi.
"Iya, aku rasa dia tidak menyukai aku. Apakah aku anak nakal?" Tanya Leon.
"Omong kosong. Tentu saja kau itu anak yang paling baik dan menggemaskan. Siapapun yang tidak menyukaimu tidak akan mendapatkan perhatian dariku." Ucap Aldi langsung memeluk kepala anak kecil itu.
Setelah itu Aldi membaca beberapa buku cerita sampai Leon pun kelelahan dan akhirnya tertidur. Anak kecil itu terlihat sangat polos, sama seperti malaikat. Di usianya itu, dia itu adalah sesuatu yang rapuh dan tanpa dosa dan tidak mengerti tentang masalah apa yang tengah dihadapi pada saat ini. Aldi hanya bisa berharap di dalam kepalanya saat dia melihat Leon yang tertidur dengan nyenyak, dia ingin melindungi Mama Leon dan juga Leon.
Tidak peduli apapun, Aldi tidak akan membiarkan orang lain menyakiti mereka dan suatu hari nanti Aldi akan dengan penuh bahagia memperkenalkan Nilam dan Leon kepada seluruh dunia. Bagaimanapun Aldi butuh untuk meyakinkan diri ta bahwa tidak ada bahaya yang ada dalam hidup mereka berdua.
...----------------...
Keesokan harinya di meja makan, Nilam tengah menyajikan sarapan untuk Aldi, saat Sarah tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan hanya menggunakan sebuah handuk. Sarah tidak berjalan dengan tongkat bantunya dan kakinya terlihat baik-baik saja.
"Aldi ada ada monster di kamarku." Ucap Sarah dengan wajah yang tampak panik.
Tidak ada yang bisa mengatakan jika memang ada monster atau tidak. Tapi kedatangan Sarah hanya memperlihatkan kenyataan yang selama ini tersembunyi.
"Sarah... Kaki mu... Kau...."
Bersambung....
__ADS_1