Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Sakit Hati


__ADS_3

PoV Author


Sudah hampir dua minggu sejak insiden antara Aldi dan Nilam terjadi. Nilam selalu saja bersama dengan Alex sepanjang waktu. Dan untuk sekarang, Nilam tidak terlalu memiliki masalah dengan membagi waktu antara Alex dan Lila karena untungnya Lila tengah pulang ke kota asalnya. Lila tentu tidak akan selalu ada bersama dengan Nilam sepanjang hidupnya dan Nilam juga harus bertahan yang menghadapi sikap Lila yang menghina Alex dan kebencian Alex terhadap Lila juga.


Situasi itu cukup rumit bagi Nilam, tapi tidak serumit situasi yang dia hadapi dengan Aldi.


Malam setelah Aldi memaksa menciumnya dan menggigit bibirnya, Nilam mencoba yang terbaik untuk tidak berhadapan dengan Aldi dan lebih memilih menghabiskan waktu luangnya bersama dengan Alex. Bagaimanapun semua itu tidak menyelesaikan masalah apapun di antara mereka karena mereka masih tetap tinggal bersama di rumah yang sama dan mereka sepertinya selalu bertemu satu sama lain.


Nilam tetap saja memikirkan semua itu dan pikirannya menjadi begitu kacau. Tiba-tiba secangkir kopi berdiri di hadapannya kemudian dia menyadari bahwa itu diberikan oleh Alex dengan ekspresi wajah yang tampak kosong menatapnya.


"Al.... Alex..." Ucap Nilam.


"Kau terlihat tidak baik, jadi aku membawakan secangkir kopi untukmu." Ucap Alex.


"Oh, terima kasih Alex." Balas Nilam.


"Apa masalah mu sebenarnya? Kau sudah tidak hadir selama beberapa hari ini." Ucap Alex lagi.


'Masalahku?' pikir Nilam.


Hidup Nilam selalu dipenuhi dengan masalah, tapi semuanya menjadi lebih buruk saat dia menyadari dirinya berada dalam sebuah hubungan yang tidak dia inginkan dan ditambah dengan kehadiran Aldi.


"Aku tidak bisa mengatakan apapun sekarang. Semuanya sangat kacau dalam hidupku."


"Oh apa itu masih tentang kau dan Aldi?" Tanya Alex.


"Iya, apalagi." Balas Nilam dengan sedih.


Tapi Alex hanya menghela nafas seolah itu semua tidak ada apa-apanya.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan masalahmu. Kau sebenarnya mencintai Aldi. Jadi kenapa kau tidak mengatakan kepadanya yang sebenarnya terjadi di balik pernikahanmu ini?"


Kenyataannya adalah sesuatu yang sangat ingin dikatakan Nilam kepada Aldi atau bahkan kepada seluruh dunia. Tapi dia merasa dagunya dipegang dengan sangat erat, tangannya diikat dan mulutnya di tutup dengan sebuah lakban yang begitu tidak bisa membuatnya bicara. Dia merasa bahwa seluruh hidupnya dan keluarganya terikat oleh sebuah tali yang dikontrol oleh sosok iblis yang memerintahkan untuk melakukan hal itu kepadanya.

__ADS_1


"Aku... aku... tidak bisa." Balas Nilam memegang pakaiannya dengan sangat erat.


"Dan aku rasa, kau masih tidak bisa mengatakan kepadaku kenapa." Ucap Alex.


"Aku minta maaf Alex." Ucap Nilam.


"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai hari dimana kau bisa percaya kepadaku sepenuhnya dan kemudian kau bisa mengatakan kepadaku tentang kekhawatiran mu itu. Siapa yang tahu mungkin saja aku bisa membantumu." Ucap Alex.


"Itulah satu-satunya keinginanku Alex." Ucap Nilam.


Alex hanya bisa mengharapkan hal yang sama. Dia hanya berharap untuk bisa membantu Nilam menyelesaikan masalah yang selama ini dia hadapi dalam hidupnya dan juga kebahagiaannya. Nilam benar-benar memiliki suatu masalah yang tidak bisa dia katakan kepada orang lain. Nilam terus bertahan seorang diri. Itu semua seolah terlihat seseorang tengah memperlakukan dia dan memaksanya untuk menjauhkan dirinya dari kebahagiaan. Tapi pertanyaan yang sebenarnya adalah siapa dan kenapa?


"Oh sial! Aku sangat kelelahan dan kita masih harus bekerja dengan desain sulit ini." Ucap Alex dan duduk di sebuah kursi di samping Nilam.


"Sebenarnya desainnya tidak terlalu rumit, hanya klien saja yang menjadi sedikit pemilih." Ucap Nilam.


"Sedikit pemilih apanya? Tidak! Mereka memang begitu menyebalkan, dan aku hanya ingin menendang mereka." Ucap Alex dengan suara yang terdengar begitu kesal tapi kekesalannya itu malah membuat Nilam merasa lucu dan tertawa.


Nilam memiliki senyuman yang indah di wajahnya yang tidak bisa diabaikan oleh Aldi yang terus melihat Nilam dari ruangannya melalui CCTV yang terhubung ke laptopnya.


Aldi langsung menutup laptopnya saat Ruben bicara di belakangnya. Aldi juga begitu terpesona dengan senyuman Nilam sehingga dia tidak menyadari bahwa Ruben berdiri di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan Ruben?" Ucap Aldi.


"Aku lah seharusnya yang menjadi orang yang bertanya kepadamu tentang pertanyaan itu. Apa yang kau lakukan? Apakah kau tengah memata-matai Mama tiri....?"


Ruben langsung menghentikan ucapannya saat dia melihat tatapan mematikan dari Aldi. Dia hampir lupa bawa Aldi benci orang lain mengingatkan kepada dirinya tentang status Nilam saat ini. Jadi dengan tujuan merubah situasi yang canggung, Ruben pun terbatuk perlahan untuk merubah topik pembicaraan mereka.


"Baiklah, aku sudah mengerjakan permintaanmu untuk pesta lainnya." Ucap Ruben.


"Oh ya, bagaimana itu?" Tanya Aldi.


"Aku sudah mengatur sebuah waktu meeting dengan mereka....."

__ADS_1


"Dan aku ingin agar kau bisa membicarakan tentang yang lainnya dengan sekretaris ku dan aku akan melihatnya nanti." Ucap Aldi menyela ucapan Ruben.


"Baiklah, kedengarannya bagus." Ucap Ruben.


Aldi lalu mengambil beberapa file yang ada di atas mejanya. Dia terlihat seperti seseorang yang bekerja begitu keras. Tapi kenyataannya, dia hanya mencoba untuk kabur dari kenyataan yang sedang dia hadapi.


Dia bekerja sangat keras seolah dia ingin mengeluarkan Nilam dari dalam pikirannya.


Semuanya berjalan dengan baik-baik saja sampai dia selesai bekerja. Namun semuanya berubah saat dia secara tak sengaja bertemu dengan Nilam di lobi kantor.


"Baiklah Alex. Sampai bertemu lagi besok."


Sekali lagi Aldi mendengar Nilam bicara melalui ponsel dengan Alex yang sama dan senyuman Nilam seperti seseorang yang bertemu dengan orang paling baik dalam hidupnya. Aldi benci mengetahui di mana dia bukanlah orang yang membuat Nilam tersenyum, tapi orang lain yang tetap dia tidak ketahui identitasnya. Saat itu Aldi sangat ingin tidak menghiraukan para karyawan yang lewat, dan dia ingin langsung mendekat ke arah Nilam dan mengambil ponsel dari tangan Nilam.


Aldi hampir saja melakukannya tapi sesosok wanita dengan aroma parfumnya yang familiar terasa menusuk hidung Aldi dan tubuh wanita itu langsung menekan tubuh Aldi begitu dekat dan erat sehingga Aldi tidak bisa melepaskan tubuhnya dari wanita itu.


"Aldi.... Aku sangat senang melihatmu."


"Sa... Sarah.... Apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Aldi dan dia hampir saja mendorong Sarah menjauh dari tubuhnya.


Namun matanya menatap ke arah Nilam yang tiba-tiba berhenti bicara melalui ponsel dan tampak melihat ke arah mereka dengan wajah yang terkejut.


"Aku sangat merindukanmu Aldi. Bagaimana denganmu, apakah kau juga merindukan aku?"


Saat itu Aldi bisa saja mendorong Sarah, tapi ekspresi yang dia lihat di wajah Nilam membuat dia memikirkan sesuatu yang jahat.


"Tentu saja aku sangat merindukanmu." Ucap Aldi dan tidak berakhir dengan ucapannya itu saja.


Aldi tampak langsung memegang Sarah dengan sangat erat dalam pelukannya dan dia begitu yakin bahwa Nilam tengah menatap ke arah mereka berdua.


"Itu terdengar sangat hebat. Bagaimana jika kau mentraktir aku makan siang?" Ucap Sarah yang merasa bahagia dan mendekat ke arah Aldi.


"Tentu saja, sesuai keinginanmu." Balas Aldi.

__ADS_1


Nilam merasa bahwa jantungnya hampir terjatuh ke bawah dan terpecah menjadi berkeping-keping. Dia tidak bisa berdiri di sana dan melihat semua itu lebih lama. Dia pun kemudian berjalan menjauh dengan penuh kemarahan. Tapi tidak ada orang yang bisa mengatakan bagaimana terlukanya dia dengan apa yang baru saja dia lihat di hadapannya itu.


Bersambung...


__ADS_2