Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Orang Asing


__ADS_3

PoV Nilam


Suara burung yang berkicau dan sinar matahari masuk melalui jendela di kamarku. Aku rasa itulah alasan kenapa aku bisa membuka mataku. Tepat saat aku membuka mataku, ingatan akan apa yang sudah terjadi tadi malam, kembali dalam kepalaku. Satu detik, aku berpikir bahwa semua itu hanyalah sebuah mimpi apalagi saat aku terbangun dan tidak melihat Aldi ada di sisiku. Bagaimanapun aku tidak bisa menutupi semuanya dan menyangkal bahwa semua yang terjadi tadi malam itu adalah nyata. Bagaimanapun bekas semuanya di tubuhku dan seluruh tanda merah yang tertinggal di seluruh tubuhku menjadi buktinya.


"Aldi sialan itu... Aku hampir saja lupa bagaimana liarnya dia." Ucapku saat melihat banyak tanda merah ditubuh ku.


Saat aku turun dari atas tempat tidur, ada sebuah suara ketukan di pintu kamar yang membuat aku terkejut.


Tok! Tok! Tok!


"Ehhh... Iya... Siapa itu?" Tanyaku gugup.


"Ini saya Nyonya Muda. Saya datang untuk memeriksa kondisi Anda. Apakah Anda baik-baik saja?" Ucap seseorang yang ternyata merupakan Bibi Ana itu.


Bagi Bibi Ana, jika dia memeriksa keadaanku, itu menandakan berarti dia tengah khawatir kepadaku. Aku biasanya orang yang bangun sangat pagi, tapi kali ini aku rasa aku tertidur terlalu larut hingga membuatku bangun terlambat dan hal itu membuat Bibi Ana menjadi khawatir.


"Iya, aku baik-baik saja Bibi Ana. Aku hanya tertidur larut semalam karena ada banyak yang aku kerjakan. Aku akan turun secepatnya." Ucapku meyakinkan Bibi Ana yang terdengar cukup khawatir tentangku.


Aku bersyukur, untungnya dia tidak meminta untuk masuk ke dalam kamarku. Jadi, aku langsung membersihkan diriku dan kamarku dengan cepat. Setelah itu, aku menggunakan pakaian, lebih tepatnya sebuah sweater yang bisa menutupi bagian leherku dan memakai celana jeans. Aku lalu mengikat rambutku dengan model kuncir kuda dan aku lalu turun ke lantai bawah untuk sarapan.


Setelah apa yang terjadi semalam, sejujurnya aku tidak tahu bagaimana caranya aku harus berhadapan dengan Aldi. Aku pasti akan begitu malu jika harus bertatap muka dengannya. Tapi aku rasa apa yang terjadi semalam itu, hanyalah sebuah cinta satu malam yang terjadi diantara kami. Dan semua kesalahpahaman di antara kami sudah terpecahkan.


"Selamat pagi semuanya, maaf aku terlambat." Ucapku meminta maaf kepada semua orang yang sudah duduk di meja makan.


Kemudian aku menyadari bahwa ada sosok Sarah juga duduk di sisi Aldi.


"Tidak apa-apa, kami baru saja duduk di meja makan. Kau bisa duduk sekarang." Ucap Tuan Erfandi.


Aku pun langsung mengambil tempat dudukku di samping Leon. Sementara Sarah tampak ingin terus mencoba bermesraan dengan Aldi.


Bagaimana aku bisa melupakan tentang dirinya semalam. Jangankan tentang Sarah, aku bahkan lupa tentang semuanya dan juga tentang statusku di rumah ini. Bagaimanapun aku tidak menyesali semua itu. Aku bahkan tidak merasa bersalah atau menyesal dengan apapun yang terjadi semalam antara aku dan Aldi.


"Bisakah Mama membantuku?" Tanya Leon.


"Tentu sayang." Balasku kepada Leon dan membantunya menaruh selai di roti panggang miliknya.

__ADS_1


Setelah itu, aku membantu untuk menyajikan teh hijau untuk Tuan Erfandi sama seperti yang selalu aku lakukan untuknya setiap hari.


"Nyonya Erfandi begitu penuh kasih sayang. Benar-benar istri yang baik dan juga ibu yang baik untuk suami dan anaknya juga. Bukankah kau berpikir begitu Aldi?" Ucap Sarah dengan suara yang licik dan tatapan penuh dengan kebencian kearahku.


Itu semua terdengar dia bukan tengah memujiku. Dia lebih terdengar bicara untuk mengingatkan aku tentang statusku di rumah ini dan bagaimana memalukannya hal itu.


"Aku tidak akan keberatan memiliki seorang Mama mertua seperti dirimu dan aku yakin hubungan kita bisa menjadi hubungan mertua dan menantu yang terbaik." Ucap Sarah.


'Hubungan kita kepalamu? Kenapa aku bahkan harus mau menciptakan hubungan seperti itu dengan orang seperti dirimu?' umpat ku dalam hati.


Sarah tersenyum ke arah ku seolah dia tengah memuji dirinya sendiri. Tapi kenyataannya dia hanyalah seekor ular berbisa yang menunggu waktu yang tepat untuk bisa menyerang.


"Bagaimana menurutmu Aldi?" Ucap Sarah.


"Tentu dia akan menjadi ibu mertua yang terbaik." Ucap Aldi menyetujui apa yang dikatakan Sarah padanya.


Aldi tidak menyangkal hal itu dan itu hanya berarti bahwa dia memang memiliki keinginan untuk menikah dengan Sarah secepatnya. Apa yang terjadi semalam, memang benar-benar hanya cinta satu malam saja diantara kami berdua. Dann hal itu membuat aku merasa bersalah, karena Tuan Erfandi yang selalu baik kepadaku sejak awal. Tapi tidak tahu kenapa, meski aku merasa bersalah, namun aku tidak menyesali hal yang terjadi semalam itu. Tidak peduli bagaimanapun aku merasa bersalah.


"Aldi, bisakah kau menolong aku pergi ke kamarku? Aku sedikit lelah." Ucap Sarah meminta Aldi yang harus membawanya ke kamarnya dan Aldi melakukan hal itu tanpa keraguan sedikitpun.


"Mama aku sudah selesai. Bisakah aku...."


"Tentu saja Leon." Ucapku sebelum Leon bisa menyelesaikan kalimatnya saat dia ingin pergi meninggalkan meja makan.


Leon langsung meninggalkan meja makan dan aku berdiri membantu Bibi Ana dengan piring-piring dan semua alat bekas makan yang ada di atas meja makan.


Semua hal ini tidak mudah bagiku karena aku mencoba yang terbaik untuk menghindari Aldi. Tapi aku juga tidak bisa menerima bagaimana perlakuan Sarah yang begitu mencoba dekat dengan Aldi. Dia bahkan tidak membiarkan Aldi bisa meninggalkan sisinya. Namun semua itu cukup mudah bagiku untuk bisa menghindari Aldi.


"Tinggalkan saja semuanya biar saya yang mengerjakan semuanya Nyonya Muda. Itu adalah pekerjaan saya." Ucap Bibi Ana saat aku memegang spons untuk membersihkan jendela kaca rumah setelah selesai membersihkan meja makan.


"Tidak apa-apa Bi, di samping itu Leon juga sudah bersama gurunya dan aku sedikit bosan sendirian tidak melakukan apapun. Jadi biarkan aku melakukannya." Ucapku meyakinkan Bibi Ana.


Bibi Ana menghela nafas dan tampak menyerah, karena dia tahu saat aku sudah membuat keputusan, tidak ada hal yang bisa merubahnya.


"Baiklah kalau begitu berhati-hatilah. Jangan sampai anda terjatuh dari sana." Ucap Bibi Ana.

__ADS_1


"Tentu saja aku tidak akan terjatuh dari sini." Ucapku dengan begitu yakin bahwa aku tidak akan jatuh dari kursi yang aku naiki itu.


Tapi aku rasa, aku tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya terutama tentang kursi yang bisa berdiri tegap itu. Aku malah hampir terjatuh ke lantai. Tapi untungnya saat aku terjatuh, tubuhku ditangkap oleh seseorang yang sepertinya familiar. Tapi sejujurnya saja, dia adalah orang asing bagiku.


Dia merupakan seorang pria yang tampak begitu tinggi dan terlihat seperti berusia lebih dari 30 tahun. Rambutnya hitam dan dia tampak stylish dengan menggunakan anting di telinga sebelah kirinya. Tapi dia tidak terlihat seperti seorang gangster. Namun kemudian pertanyaannya adalah siapa dia?


"Ini sudah 5 tahun dan aku tidak menyangka akan diberikan seorang bidadari cantik."


'Orang ini....'


Beberapa saat yang lalu dia terlihat seperti bongkahan es yang dingin dan sekarang aku malah mendengar dia bicara semakin aneh.


"Eh terima kasih karena sudah menangkap ku." Ucapku dan mencoba untuk melepaskan diri dari pegangannya.


Tapi dia terus menarik ku dengan erat ke dalam pelukannya. Dia memeluk aku dengan paksa.


"A.... Apa yang kau lakukan? Tolong lepaskan aku." Ucapku dan mencoba untuk melepaskan diri dari pelukannya.


Tapi pria itu terlihat tidak ingin melepaskan pelukannya dariku.


'Sebenarnya siapa pria ini dan kenapa dia bersikap seperti ini padaku?'


Aku tidak tahu apapun tentangnya. Dan tentu saja aku tidak bisa membiarkan dia mengambil kesempatan akan diriku. Jadi aku mencoba untuk menggunakan ilmu bela diriku terhadap dirinya. Tapi pria ini tidak sesederhana yang aku pikirkan. Dia langsung bisa menangkap tanganku dengan mudah.


"Wow bidadari cantik ini cukup memiliki kemampuan seperti seekor harimau betina." Ucapnya.


"Hah! Siapa kau? Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu dariku." Teriakku.


Tapi permintaanku itu tidak berarti apapun baginya dan dia malah tampak menampilkan tersenyum lebar di wajahnya.


"Om! Apakah Om harus bersikap begitu macho di hari pertama kedatangan Om." Ucap Aldi dari arah belakang.


Tapi apa yang membuat aku tersadar adalah, saat Aldi memanggil pria ini dengan sebutan Om.


"Oh, itu dia keponakan kesayanganku Aldi..." Ucap pria itu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2