Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Bertemu Lila


__ADS_3

PoV Nilam


Aku bangun dengan begitu pagi hari ini karena aku harus bertemu dengan Lila untuk sarapan bersamanya. Leon juga sudah bangun pagi sekali hari ini. Jadi aku lebih dulu memandikannya dan setelah itu membawa sarapan untuk Tuan Erfandi sebelum aku membuat sesuatu untuk dimakan Leon sebagai menu sarapannya.


Sejak aku menikah dengan Tuan Erfandi, sudah menjadi rutinitas harian ku untuk membawa sarapan ke kamarnya dan membantu dia dengan obat-obatan nya.


Saat itu sudah selesai, aku pun meninggalkan semua tugas lainnya untuk Bibi Ana dan berkonsentrasi kepada Leon.


Leon selalu begitu aktif pada pagi hari. Jadi itu membuatku harus membutuhkan energi yang cukup banyak untuk mempersiapkan dirinya.


"Tenanglah Leon, biarkan Mama menyisir rambutmu. Ini masih berantakan sayang." Ucapku menarik Leon ke sisiku.


Setelah aku selesai menyiapkan dirinya, aku pun mempersiapkan diriku dan setelah itu membawa putraku ini untuk keluar rumah.


Aku menaruh Leon di kereta dorongnya.


"Apakah anda akan pergi Nyonya Muda?" Tanya Bibi Ana padaku.


"Iya Bi, aku akan pergi sarapan dengan seorang temanku. Tapi aku sudah membuat sarapan untuk Aldi. Jadi Bibi harus memberikannya secangkir kopi kemudian nasi dengan omelette dan roti panggang dengan selai pada menu akhirnya." Ucapku.


"Oh Nyonya, bagaimana anda bisa tahu tentang apa yang disukai Tuan Muda?" Tanya Bibi Ana.


ucap ku dalam hati.


Tapi aku mencoba untuk membuat diriku tetap tenang agar tidak memperlihatkan kegugupanku lebih jauh lagi kepada Bibi Ana.


"Aku hanya menebak saja Bibi Ana. Tapi jika dia tidak menyukai apa yang aku siapkan untuknya, tolong bisakah Bibi membuatkan sesuatu yang lain untuknya?" Ucapku.


"Tentu saja Nyonya. Tapi aku yakin bahwa Tuan Muda akan menyukai apa yang anda buat." Ucap Bibi Ana.


Aku hanya bisa tersenyum palsu dan mendorong kereta Leon keluar dari dalam rumah. Sopir lalu membantu aku dengan kereta dorong itu dan kami pun pergi ke arah cafe di mana aku akan bertemu Lila yang sudah menunggu aku.


"Halo Lila." Ucapku.


"Nilam, kau akhirnya datang." Balas Lila.


"Tentu saja aku tidak akan melupakan waktu untuk menemui sahabat baik ku." Ucapku.

__ADS_1


Kami lalu berpelukan satu sama lain, kemudian setelah itu Lila berjongkok untuk melihat Leon.


"Oh lihat lihatlah, bagaimana menggemaskannya bayi ku, Leon ini. Sekarang dia terlihat jauh lebih mirip dengan Aldi setiap harinya. Dia tidak terlihat mirip sama sekali dengan Tuan Erfandi. Bicara tentang dia, bagaimana hubunganmu dengan Aldi?" Tanya Lila.


"Aku sungguh tidak tahu. Aku hanya merasakan seperti apa yang aku katakan kepadamu melalui telepon." Balas ku dengan sedih saat kami duduk di meja kami.


"Siapa yang bisa menyangka bahwa Tuan Erfandi dan Aldi benar-benar berhubungan dekat. Bahkan mereka merupakan ayah dan anak." Ucap Lila dan menyesap kopi yang ada di depannya.


"Itu benar." Balas ku.


"Ayo pesan sesuatu, lalu kau bisa mengatakan kepadaku semuanya secara detail saat kita makan nanti." Ucap Lila.


Obrolan kami cukup panjang jadi kami sampai tidak menyadari bahwa pesanan kami akhirnya datang. Aku memesan beberapa salad dan segelas jus jeruk. Sementara Lila memesan hamburger dan cappucino dan tentu saja beberapa salad buah seperti yang selalu dia sukai.


"Jadi Aldi sebenarnya memang mengatakan semua hal buruk itu kepadamu?" Tanya Lila.


"Iya dia membuat aku seolah aku ini terlihat seperti aku ini adalah wanita ****** yang selalu berselingkuh darinya. Aku tahu apa yang dia katakan itu sangat menyakitkan. Tapi aku tidak bisa menyalahkan dia." Ucapku.


"Mmm...." Ucap Lila.


"Iya, a saat kau pergi meninggalkan kos, dia terus datang menemui aku dengan mabuk dan terus saja mengetuk pintu kamar dengan situasinya yang mabuk itu." Ucap Lila.


"Aku benar-benar merasa buruk setiap kali aku memikirkan hal itu. Aku benar-benar menyakitinya dan aku masih menyakitinya sampai saat ini. Jadi aku tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya." Ucapku.


"Kenapa kau tidak mengatakan kepadanya yang sebenarnya?" Tanya Lila.


"Kau tahu bahwa aku tidak bisa. Mulutku ini seolah terkunci dan kau tahu kenapa." Balas ku.


"Aku selalu merasa bahwa kau seharusnya mencoba untuk mengagmakan semuanya." Ucap Lila Lagi.


" Aku ragu jika dia bisa percaya kepadaku." Ucapku.


Lila terdebgar menghela nafasnya. Dia lalu menggigit hamburger nya dan aku menyesap jus jeruk ku yang ada di depan kami.


"Kisahmu dengan Aldi sedikit rumit. Tapi aku hanya berharap bahwa ada akhir yang bahagia di antara kalian berdua dan keluarga kalian." Ucap Lila dan menatap ke arah Leon yang tampak tengah melihat ke sekeliling Cafe.


"Sudah sangat lama sejak aku menyerah dengan pikiran itu." Balas ku kepada Lila dengan rasa sakit yang terasa di dadaku.

__ADS_1


"Jangan menjadi begitu pesimis. Kau tidak mau menghabiskan seumur hidupmu dengan seorang pria tua bukan?" Ucap Lila.


"Aku akan memilih untuk mengabaikan kebahagiaanku, karena prioritas utamaku sekarang adalah anakku. Tuan Erfandi sangat baik dan dia menghargai aku. Jadi aku akan melanjutkan kehidupan menyedihkan ini. Setidaknya aku punya Leon dan aku baik-baik saja dengan satu kebahagiaan ini." Ucapku.


Menyedihkan, ini memang hidup yang menyedihkan karena ini semua bukan tipe hidup yang selalu aku impikan. Aku menyerah akan mimpiku sejak lama karena mimpiku akhirnya juga berakhir menyedihkan dan malah berbanding terbalik dengan apa yang aku harapkan.


Setelah menghabiskan sepanjang pagi dengan Lila, aku pun kembali ke rumah. Tuan Erfandi bahkan tidak menanyakan keberadaanku. Aku sejujurnya tidak mau menghadapi Aldi tapi aku tidak bisa kabur darinya terlalu lama.


Aku kembali ke rumah, tapi aku dengar bahwa Aldi tengah membaca di ruang tamu utama.


Di kediaman Erfandi ada setidaknya dua ruang tamu. Satu ruang tamu ditujukan untuk para tamu dan sebagai tempat untuk menghabiskan waktu untuk menonton televisi.


Ruang tamu lainnya sedikit sunyi dan klasik dengan ada banyak barang antik dan lukisan. Di sisi lain ruang tamu itu ada sebuah lemari yang dipenuhi dengan beberapa buku.


Itu bukanlah ruang tamu yang biasa didatangi orang-orang. Hanya anggota keluarga dan partner bisnis yang bisa memasuki ruangan itu.


Aku begitu lega karena aku tidak harus menghadapi Aldi.


"Bibi Ana, aku akan membuat susu untuk Leon. Bisakah Bibi Ana mengawasi dia untukku beberapa saat?" Ucapku kepada Bibi Ana yang tengah membersihkan rumah dan berdiri tidak jauh di mana Leon tengah bermain dengan mainan mobilnya dan beberapa mainan lainnya.


"Baiklah Nyonya Muda, Anda bisa mengandalkan. Aku... aku akan mengawasi Tuan kecil." Ucap Bibi Ana.


Aku lalu pergi ke dapur dan mencoba untuk membuat susu untuk Leon, aku merasa yakin dan nyaman karena dia berada di bawah pengawasan Bibi Ana.


Apa yang terjadi saat aku kembali untuk membawakan susu untuk Leon, siapa yang bisa menyangka bahwa anak laki-laki kecil itu bisa kabur dari pandangan Bibi Ana yang sedikit berpaling darinya tadi.


"Maafkan aku Nyonya Muda. Aku pergi sebentar untuk menjawab sebuah panggilan telepon. Aku tidak tahu kemana Tuan kecil pergi." Ucap Bibi Ana.


"Tidak apa-apa Bi, rumah ini cukup besar. Dan pasti akan membutuhkan waktu yang lama tapi kita pasti akan menemukan dia ucapku.


Aku mencoba untuk membuat Bibi Ana tidak khawatir. Tapi aku lah orang yang paling khawatir dan memerlukan orang untuk membuat aku merasa tenang.


Beberapa saat setelah aku mencari keberadaan Leon, aku akhirnya menemukannya dengan tersenyum dan tengah bermain.


'Tebak dengan siapa dia bermain saat ini?'


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2