
PoV Aldi
"Masuklah." Ucapku kepada Nilam saat aku melihat dia di jalan.
Dia mungkin tengah menunggu sebuah taksi. Bagaimanapun saat aku mengatakan kepadanya untuk masuk ke dalam mobil, dia bahkan tidak melihat ke arahku dan langsung berjalan menjauh dari mobilku yang membuat aku kesal. Tapi aku mengikuti dia dengan mobilku.
"Nilam, aku bilang masuk. Apakah kau mau menguji kesabaran ku?" Ucapku lagi dengan suara yang terdengar marah.
Hal itu langsung membuat dia berhenti berjalan dengan cepat dan dia tidak punya pilihan lain. Dia langsung masuk ke dalam mobil setelah melihat ke arah sekeliling dengan hati-hati.
"Kau benar-benar sudah gila. Bagaimana jika seseorang melihatku masuk ke dalam mobilmu?" Ucapnya pada saat dia masuk ke dalam mobil dan dengan cepat memakai seat belt nya.
"Apa kau begitu takut dengan orang lain yang melihat kau bersama dengan putramu sendiri?" Ucapku padanya.
"Berhentilah bermain-main denganku. Apakah kau tahu konsekuensinya jika orang lain mengetahui bahwa aku berhubungan dengan CEO dari perusahaan tempat aku bekerja?" Ucap Nilam.
"Aku rasa kau akan mendapat lebih banyak rasa hormat dari mereka." Balas ku.
"Jangan bertindak bodoh. Kau tahu dengan benar bahwa aku akan dipandang rendah oleh orang lain. Tidak akan ada yang menghargai hasil kerjaku dan bahkan mereka akan berpikir bahwa aku masuk ke dalam perusahaan mu dengan bantuan mu yang bisa jadi para pekerja wanita lainnya mungkin akan membuat cerita buruk tentang diriku." Ucap Nilam padaku.
"Sudah cukup." Balas ku dan mulai menghidupkan mesin mobil.
Kami kemudian pulang ke rumah. Perjalanan pulang ke rumah cukup sunyi sampai aku dengan cepat melihat ke arah Nilam yang tampak berkonsentrasi menatap ke arah luar jendela. Hari ini dia menggunakan pakaian berwarna putih dengan tidak memiliki lengan dan memakai celana jeans biru. Pakaian yang digunakannya itu memperlihatkan lekuk tubuhnya dan saat dia mengenakan pakaian seperti itu, selalu membuat aku mulai menggila melihat ke arahnya. Dia benar-benar terlihat seperti seorang mahasiswa berusia 18 tahun.
"Apakah Papaku membiarkan kau menggunakan pakaian sesuai keinginanmu?" Tanyaku kepadanya.
"Apa maksudmu?" Balasnya dan merubah fokus pandangannya.
"Pakaianmu." Ucapku.
"Ada apa dengan pakaianku?" Ucapnya kembali.
"Aku tidak tahu tapi kau sepertinya dengan sengaja membiarkan aku melihat lekuk tubuhmu dan bagaimana mulusnya dada mu itu." Ucapku.
"Huh! Tuan Erfandi punya banyak pekerjaan penting lainnya, jadi dia tidak punya waktu untuk mengurus hal ini." Ucap Nilam padaku.
Pada saat itu senyuman muncul di bibirku dan aku langsung menghentikan mobil di tepi jalan. Aku membuka seat belt yang aku gunakan dan langsung mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Nona Widuri ini selalu membuat aku tergoda dengan setiap tindakan dan gerakan yang dia lakukan. Apa yang harus aku lakukan dengannya sekarang?" Ucapku seraya menekan tubuhku ke arah tubuhnya.
Tapi dia tidak mendorongku dan malah menaruh tangannya di dadaku.
Tangannya terasa hangat dan lembut tubuh. Aroma tubuhnya sangat menggoda seolah dia itu adalah seperti buah-buahan yang ingin aku makan sepenuhnya.
"Nilam." Ucapku.
"Hah?" Balasnya.
"Apakah kita harus mencoba hal yang menarik?" Ucapku.
"Apa yang kau maksudkan?" Balas Nilam dan aku mendorong kursinya ke belakang mencoba untuk menciumnya di bagian seluruh tubuhnya yang terbuka karena gaun yang dia gunakan cukup terbuka bagian dada dan pundaknya.
Aroma di tubuhnya benar-benar membuat aku merasa tidak cukup untuk memiliki dia sepanjang hidupku ini.
"Al.... Aldi... kumohon, kita... kita tidak bisa...."
Aku menghentikan ucapannya dengan menutup bibirnya dengan bibirku dan menciumnya dengan penuh hasrat dan memperdalam ciuman kami yang membuat dia merintih di antara ciuman kami itu.
"Iya." Balas ku.
Tapi saat dia hendak mengatakan sesuatu, aku kembali menutup bibirnya sekali lagi dan mencium dia dengan semakin penuh hasrat dan aku mengarahkan tanganku bergerak ke arah dadanya yang lembut dan mulai mengusap dadanya itu dengan lembut.
"Aldi kumohon, dengarkan aku." Ucap Nilam dan dengan perlahan mendorong aku saat kami berdua mencoba untuk mengambil nafas kami setelah ciuman yang aku berikan kepadanya.
"Kita tidak bisa melakukan hal ini. Aku sudah berjanji kepada Leon bahwa aku akan kembali ke rumah dengan cepat sebelum dia tidur."
Aku tersenyum dan menaruh rambutnya ke belakang telinganya.
"Baiklah kucing liar ku. Kita akan mengakhiri semuanya di sini hari ini." Ucapku padanya.
Aku mendekatkan wajahnya ke arah wajahku dan memberikan dia ciuman terakhir di bibirnya, kemudian aku menarik diriku menjauh darinya dan dia pun memperbaiki kekacauan yang terjadi di rambutnya dan pakaiannya untuk tampak normal lagi.
"Kita akan tiba di rumah setidaknya kurang dari 10 menit." Ucapku setelah aku dengan cepat memakai seat belt ku.
Aku lalu menghidupkan mesin mobil dan tidak butuh waktu lama bagi kami yang bahkan tidak sampai 10 menit kami pun akhirnya sampai di rumah dan Nilam langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan aku. Aku lalu memberikan kunci mobil ke arah pelayan. Tapi saat aku masuk ke dalam rumah, Leon malah berlari ke arahku.
__ADS_1
"Hai teman kecil, ada apa? Di mana Mamamu?" Tanyaku kepadanya.
Leon tidak mengatakan apapun seperti yang selalu dia lakukan saat dia bertemu denganku. Dia malah menunjuk ke arah seorang wanita yang aku rasa usianya sama denganku. Tinggi tubuhnya sekitar 168 cm. Pakaiannya dan make up yang dia gunakan benar-benar begitu berlebihan. Dia menggunakan heels berwarna merah dan gaun berwarna merah yang hampir memperlihatkan seluruh bagian tubuhnya. Gaun yang dia gunakan itu juga tampak serasi dengan lip gloss yang dia gunakan.
"Oh ya Tuhan, kau pasti Tuan Muda Aldi. Suatu kehormatan bagiku bertemu denganmu." Ucapnya dan langsung menjulurkan tangannya ke arahku untuk berjabat tangan.
Dia memiliki senyuman yang tampak licik di wajahnya yang membuat aku merasa jijik. Jadi aku tidak menyambut tangannya untuk berjabat tangan.
"Dan siapa kau?" Ucapku.
"Maria EEleano.rNilam dan aku adalah sepupu dekat." Ucapnya.
"Oh, aku mengerti." Balas ku.
Aku tidak terlalu menghiraukannya. Aku juga tidak mau menjabat tangannya dan berpura-pura bahwa tanganku tengah menggendong Leon. Padahal tubuh Leon tidak terlalu berat.
"Senang bertemu denganmu Nona Eleanor." Ucapku.
"Tolong panggil aku Maria. Tidak perlu bersikap begitu formalitas di antara kita. Bagaimanapun kita ini adalah keluarga." Ucapnya padaku.
'Sebuah keluarga? Hah!' ucapku dalam hati karena aku tidak bisa menyebutkan dia adalah keluargaku.
Aku benar-benar mengingat bahwa Nilam tidak pernah disukai oleh mereka. Jadi aku tidak tahu kenapa dia ada di sini. Tapi aku sangat tidak peduli dengan kehadirannya.
"Aku harus pergi Nona Eleanor. Aku baru saja kembali dari bekerja dan aku merasa kelelahan." Ucapku padanya.
"Oh baiklah, silakan. Bagaimanapun kita punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain." Balasnya.
Ucapannya itu terdengar aneh dan kenapa aku mau untuk mengenal dirinya lebih jauh.
"Apa yang dimaksudkan oleh Nona Eleanor?" Ucapku bingung.
"Ma... Maria akan menghabiskan waktu beberapa hari di sini." Ucap Nilam dan tiba-tiba bicara di belakang wanita itu.
"Apa?" Ucapku dengan begitu terkejut dengan alisku yang menyatu pada saat aku mendengar apa yang diucapkan oleh Nilam itu.
Bersambung....
__ADS_1