Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Mabuk


__ADS_3

PoV Aldi


"Dia? Siapa dia itu?"


Aku tersadar saat aku mendengar suara Papa yang berasal dari belakangku.


Aku perlahan berbalik dan melihat dia berdiri dari jarak yang sedikit jauh dariku. Aku sebenarnya tidak tahu seberapa banyak dia melihat semuanya. Tapi aku tidak peduli apapun lagi, mungkin aku mau dia tahu bahwa wanita yang dia nikahi adalah tunangan ku atau mungkin aku masih tidak harus mengatakan hal itu. Aku hanya mau melupakan bahwa aku pernah memiliki hubungan indah dengan istri dari Papa ku itu.


"Wanita seperti apa yang sebenarnya kau inginkan? Apakah kau memiliki seorang kekasih?" Tanya Papa dan aku hanya bisa mendengus kesal.


"Hah bahkan jika aku punya, apakah hal itu penting bagimu? Kau sudah punya istri, jadi kenapa kau tidak melepaskan milikku? Kenapa kau mau tahu tentang pilihanku?" Ucapku.


"Kau adalah putraku, jadi aku hanya ingin mengetahui tentang kehidupan pernikahanmu." Ucapnya.


"Oh ayolah pria tua, pikirkan saja istrimu sendiri dan juga anakmu. Dan aku akan memikirkan hidupku sendiri." Ucapku.


"....."


"Dibandingkan dengan dirimu, aku pasti akan memilih wanita di kota ini yang seusia denganku dibandingkan memiliki seorang simpanan dan kemudian melakukan pernikahan yang pedofil." Ucapku.


"Kau....."


"Maaf, tapi aku tidak punya waktu untukmu. Jadi bersenang-senanglah dengan istrimu dan anakmu itu." Ucapku lagi.


Aku melambaikan tanganku dan berjalan pergi. Tapi tidak ada yang bisa mengetahui bagaimana terlukanya hatiku saat aku berjalan naik ke lantai atas dan hendak pergi ke kamarku.


"Tuan Erfandi, makan siang sudah siap."


Aku merasa begitu terluka saat aku mendengar suara Nilam dari lantai bawah. Dia terlihat menggandeng Papa ku dan mereka berjalan ke arah ruang makan seperti pasangan yang bahagia.


"Aldi, kau harus turun ke bawah untuk makan siang juga." Ucap Papa memanggilku dan melihat ke arahku yang masih berdiri di ujung tangga teratas.


Saat itu aku merasa terkejut melihat mata Nilam yang dia sendiri tampak tidak menyadari kehadiranku disana.


'Apakah dia merasa malu?' pikirku dalam hati.


Aku tidak menjawab permintaan Papa. Aku mendengus kesal dan berjalan menjauh dari pandangan mereka menuju kamarku.


"Sekumpulan pengkhianat menjijikkan." Ucapku dengan suara yang hampir berteriak begitu keras.


Aku sebenarnya merasa bahwa suaraku masih terlalu kecil dan aku masih berpikir bahkan apakah mereka bisa mendengarkan ucapan ku tadi, tapi ternyata beberapa detik setelah aku melangkah, Papa terdengar berteriak marah padaku.

__ADS_1


"Anak tidak berguna! Bagaimana kau bisa berbicara kepada Papa mu sendiri dengan cara tidak hormat seperti itu? Tidak peduli apapun, aku masih lah Papa mu. Karena hal itu berterima kasihlah kepadaku karena kau bisa ada di dunia ini...."


Dan aku tidak diam di sana untuk mendengarkan ucapannya lagi. Dia mengatakan bahwa aku harus berterima kasih kepadanya karena aku terlahir ke dunia ini.


'Tapi, apakah aku benar-benar peduli tentang hal itu? Bukankah akan jauh lebih baik jika aku tidak pernah dilahirkan ke dunia ini?'


Apa sebenarnya yang sedang aku pikirkan? Bagaimana bisa sekelompok penghianat itu bisa menghancurkan hidupku. Mereka bahkan tidak pantas dan aku bisa melawan siapapun di dunia ini. Aku pasti akan berusaha membuat hidupku bahagia seorang diri.


Hari ini aku sudah tahu bagaimana kejamnya dunia ini pada saat Papa berselingkuh dari Mama dengan sekretarisnya dan menyebabkan kematian Mama. Mama, dialah satu-satunya orang yang paling mencintai aku di hidup ini.


...****************...


"Hai tampan, apa kau mau bersenang-senang denganku?"


Aku langsung kembali kepada kesadaran ku saat seorang wanita dengan make up tebal dan pakaian seksi berdiri di sisiku. Dia mencoba untuk menggodaku dan membuat aku hampir saja lupa bahwa aku datang ke klub ini untuk mencari para wanita yang bisa menghiburku. Tapi wanita yang ada di sampingku ini sangat menjijikkan bagiku. Dia memakai parfum yang memiliki aroma yang sangat kuat dan hal itu membuat aku semakin merasa jijik padanya.


Iya benar-benar berbeda dengan Nilam selalu menggunakan parfum beraroma buah dan tidak perlu memakai make up untuk membuat dirinya semakin cantik. Kecantikannya benar-benar natural dan aku.....


"Sial! Apa yang aku pikirkan?" Ucapku menyumpahi diriku sendiri karena kembali memikirkan Nilam di dalam kepalaku.


"Hai tampan kau terlihat banyak pikiran. Ayo ikutlah denganku dan aku akan melepaskan rasa sakit mu itu." Ucap wanita itu berusaha kembali untuk menggoda aku.


Wanita itu mencoba untuk menyentuhku, dan saat aku mau menghempaskan tangannya, tiba-tiba kemudian ada ide gila muncul dalam kepalaku.


Senyumannya itu memperlihatkan seolah dia baru saja memenangkan sebuah lotre.


Aku membiarkan dia menunjukkan jalan dan dia membawaku ke dalam sebuah kamar. Aku rasa di mana dia menerima banyak kliennya di sana. Saat kami tiba di sana, dia langsung mendorongku ke atas tempat tidur dan dia langsung membuka pakaiannya dan yang tersisa hanyalah pakaian dalamnya. Dia lalu membuat tubuhnya yang berat itu berada di atas ku.


"Santai lah tampan, aku akan membuatmu merasa bahagia." Ucapnya.


"Kalau begitu aku ingin melihat kemampuanmu." Ucapku padanya.


Di saat itu aku tidak peduli apapun lagi. Sejak hari di mana aku berkencan dengan Nilam dan bahkan setelah dia pergi, aku tidak pernah bisa bersenang-senang dengan wanita manapun lagi. Seolah tubuhku hanya bisa bereaksi dengan sentuhan darinya.


Bagaimanapun hari ini aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku mau melepaskan diriku darinya. Aku akan membuat tubuhku bereaksi lagi kepada wanita lain dan bukan hanya dengannya.


Aku memegang tubuh wanita itu yang berada di atas ku dan mendorong dia ke atas tempat tidur. Sekarang dia berada di bawah dan aku di atasnya.


"Bagaimana jika kau membiarkan aku yang memimpin?" Ucapku.


"Kau sangat nakal Tuanku." Ucapnya padaku.

__ADS_1


"Humm....!!" Ucapku mendengar suaranya yang terdengar menggoda itu.


Parfumnya yang kuat menusuk hidungku, tapi aku mencoba untuk tidak menghiraukan hal itu.


Aku mulai mencoba untuk menjamah tubuhnya dan dia mulai merintih karena sentuhan ku sama seperti wanita murahan yang sudah bersiap untuk melakukan hubungan itu denganku. Aku mau untuk melanjutkan semuanya dan melewati batas. Tapi Nilam tidak bisa hilang dari pikiranku dan saat tangan wanita murahan itu mencoba untuk masuk ke dalam celanaku, aku langsung menepis tangannya dan bangun menjauh dari tubuh baunya itu yang aku tidak bisa menahannya lagi.


"Tapi ke mana kau akan pergi? Kita bahkan belum memulainya." Ucap wanita murahan itu memegang tanganku dan mencoba menarik aku kembali ke arah tubuhnya, tapi aku menatapnya dengan tatapan marah.


"Lepaskan tangan kotor mu itu dariku." Ucapku.


"Apa? Tapi kita baru saja...."


"Jangan biarkan aku mengulang ucapan ku." Ucapku kepadanya dengan tatapan mematikan dan membuang banyak uang kepadanya.


Aku tidak tahu seberapa banyak uang itu, tapi aku hanya mau pergi meninggalkan tempat itu.


Aku berjalan keluar dari ruangan itu, kembali ke bar dan membiarkan diriku terus meminum alkohol. Aku tidak menghiraukan semua wanita yang ada di sisiku. Baru saja aku hampir melakukan hubungan itu dengan wanita lain, tapi Nilam kembali lagi ada dalam pikiranku.


Wanita sialan itu, dia benar-benar sudah mempengaruhi aku dan aku hanya bisa terpesona kepadanya. Tapi di saat yang bersamaan, saat aku memikirkan dirinya, aku merasakan rasa sakit di dadaku.


Aku benar-benar ingin untuk melupakan semuanya. Aku lalu membuat diriku mabuk dan meninggalkan klub itu dengan benar-benar dalam kondisi mabuk berat. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di rumah. Tapi saat aku membuka pintu kamarku, aku melihat sosok Nilam.


Dia terlihat berdiri di balik cahaya bulan di dekat jendela kamarku dengan menggunakan gaun malamnya yang berwarna biru. Dalam waktu 3 tahun ini, dia bahkan menjadi jauh lebih cantik lagi.


"Aldi...."


Suaranya yang begitu lembut langsung terdengar menggoda di telingaku dan aku tersadar bahwa aku masih mencintainya dan aku bahkan berhalusinasi tentang dirinya.


"Kau.... Kenapa kau ada di sini?" Ucapku.


"Apa?" Dia terlihat bingung.


"Kenapa kau melakukan semua itu dan sekarang kau ada di kamarku untuk menghancurkan aku lagi." Ucapku.


"Aldi kau mabuk." Ucapnya.


Mungkin aku memang mabuk dan dalam kondisi ini, aku jadi berhalusinasi tentang seseorang yang sudah mencuri hatiku dan juga nafasku. Dia bahkan jauh lebih cantik dalam mimpiku dan bibirnya yang berwarna merah muda itu begitu menarik perhatianku dan aku sangat ingin menciumnya.


"Aldi, apa yang kau lakukan?"


"......."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2