Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Kedatangan Maria


__ADS_3

PoV Nilam


Setelah menurunkan Aku di depan pintu, Aldi langsung mengendarai mobilnya menjauh. Mungkin dia akan memarkirkan mobilnya. Jadi aku berjalan ke dalam rumah dengan lelah. Aku hanya punya satu hal dalam pikiranku, yaitu berjalan masuk ke kamarku dan menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur dan mungkin aku akan sedikit tidur. Tapi aku takut tidurku itu akan berlebihan dan Leon akan menyalahkan aku karena tidak memenuhi janjiku padanya.


"Leon sayang, Mama pulang." Ucapku.


Saat aku berjalan masuk ke area ruang tamu karena aku yakin pada saat ini Leon masih duduk di sana sendirian di ruang tamu, bagaimanapun semuanya terasa tidak sama dengan kehadiran seseorang itu secara tiba-tiba.


"Hai Adik kecil. Kau akhirnya kembali aku sudah menunggu dirimu."


Suaranya dan wajahnya adalah sesuatu hal yang aku harap tidak pernah aku dengar dan temui lagi. Dia dan keluarganya membuat hidupku seperti di neraka, bahkan setelah kematian orang tuaku. Itu semua juga karena mereka yang membuat aku sekarang menikah dengan Tuan Erfandi.


Mereka memiliki semua kekayaan itu dan harus menghadapi pernikahan ini sebagai sebuah solusi untuk menghindari kebangkrutan mereka dan mereka hanya melihat aku sebagai seseorang yang harus dikorbankan seperti seekor domba pada akhirnya. Dan sekarang saat aku sudah belajar untuk beradaptasi dengan hidup ini, dia malah datang lagi.


"Maria... Kenapa kau ada di sini?" Tanyaku kepadanya.


Tapi dia tersenyum palsu kepadaku dan memperlihatkan seolah dia itu adalah kakak sepupu yang benar-benar peduli kepadaku.


"Apa yang kau katakan? Ini sudah sangat lama. Aku hanya datang kemari untuk mengunjungi adik kesayanganku seperti yang diinginkan oleh Mama. Kau tahu bahwa Alen masih bersama kami bukan?" Ucapnya.


Ini dia! Lagi-lagi keluarga jahat ini menggunakan adikku untuk bisa mengontrol hidupku. Hanya saja kapan aku bisa terbebas dari perlakuan jahat mereka kepadaku.


"Apa yang kau inginkan?" Tanyaku kepadanya.


"Sangat bagus. Aku dengar bahwa suamimu yang tua itu memiliki putra yang tampan dan aku ingin kau meyakinkan mereka bahwa aku akan tinggal di sini beberapa hari. Jadi aku bisa mendapatkan dia untuk menikah denganku." Ucap Maria.


Jadi itulah alasannya, mereka memisahkan aku dengan Aldi dan memaksa aku menikah dengan Papa Aldi dan sekarang Maria ingin meminta bantuan ku agar dia bisa menikah dengan Aldi, ayah dari anakku.


Apa yang akan mereka lakukan jika mereka tahu bahwa Aldi adalah Papa dari Leon? Di masa lalu mereka mungkin memaksa aku untuk melakukan aborsi. Untung saja mereka tidak menyadari hal itu.


"Mama....."


Leon berlari mendekat ke arahku dan aku langsung berjongkok melihat ke arahnya.


Di dunia yang gelap dan kejam ini, Leon adalah satu-satunya yang membuat aku bisa tersenyum dan merasa bahwa dunia ini masih bisa aku lihat dengan cara yang indah.


"Sayang. Bagaimana harimu?" Tanyaku kepada Leon.


"Baik Ma. Aku belajar banyak lagi." Balas Leon.


"Ini lah anak kesayangan Mama." Ucapku.


"Oh jadi ini anak yang kau miliki dengan pria tua bangka itu? Dia cukup menggemaskan. Kau sepertinya melakukan hal yang baik dengan pria tua itu. Hai anak menggemaskan. Aku adalah Tante mu." Ucap Maria dan mendekat ke arah Leon.


Tapi Leon langsung mengabaikan sentuhan darinya dan melihat ke arahku seolah Leon memintaku untuk menyelamatkan dia dari Maria. Tapi saat aku hendak mengatakan sesuatu, pintu terbuka dan itu menunjukkan kehadiran Aldi yang tampak keren itu. Leon langsung berlari ke arah Aldi dan seolah itu semua terlihat seperti Leon bertemu dengan pahlawannya.


"Hai teman kecil ada apa? Di mana Mamamu?" Tanya Aldi.


Leon tidak mengatakan apapun seperti yang selalu dia lakukan. Dia malah menunjuk ke arah di mana aku berdiri bersama dengan Maria.

__ADS_1


Pada saat Maria melihat Aldi, dia dengan cepat berlari ke arah Aldi dengan senyuman menggoda di wajahnya.


"Oh ya Tuhan, kau pasti adalah Tuan Muda Aldi. Suatu kehormatan bagiku bertemu denganmu." Ucap Maria langsung menjulurkan tangannya ke arah Aldi untuk berjabat tangan.


Tapi Aldi menatap ke arahnya dan tanpa menyambut jabatan tangan dari Maria.


"Dan siapa kau?" Tanya Aldi.


"Maria Eleanor. Nilam dan aku adalah sepupu dekat." Ucap Maria kepada Aldi.


Maria benar-benar seorang Ratu drama dan dia pantas mendapatkan piala Oscar.


'Sejak kapan kami menjadi begitu dekat?'


Aku tidak bisa mengatakan hal itu, tapi dia selalu mencoba yang terbaik untuk menggoda Aldi dan Aldi terlihat tidak suka kepadanya. Sikap Aldi terhadapnya itu terlihat sangat jelas dari mata Aldi.


"Aku harus pergi Nona. Aku baru saja kembali dari bekerja dan aku sangat kelelahan." Ucap Aldi.


"Oh tentu saja, silahkan. Bagaimanapun kita masih punya cukup waktu untuk saling mengenal satu sama lain."


"Apa maksudnya?" Tanya Aldi dengan penasaran.


Tapi Aldi juga terlihat kesal karena aku bisa melihat dia yang menatap ke arahku.


"Ma.... Maria akan menghabiskan waktu beberapa hari di sini." Ucapku.


"Apa?" Ucap Aldi.


"Baiklah jika seperti itu, maka Nona Eleanor bisa merasa bebas di sini. Teman kecil, aku akan pergi mandi. Apa kau mau ikut denganku?" Ucap Aldi.


...****************...


PoV Aldi


Leon kecil hanya menganggukkan kepalanya dengan ucapanku dan itu mungkin karena kehadiran dari wanita menjijikkan yang bahkan tidak terlihat menarik meski menggunakan make up yang begitu tebal di wajahnya. Aku tidak begitu terkejut kika dia memang sudah melakukan operasi plastik di wajahnya.


Aku lalu kabur dari wanita menjijikkan itu dan mandi begitu lama dengan Leon dengan harapan bisa menghindari dari wanita itu. Aku masih tidak mengerti kenapa Nilam harus membiarkan dia untuk tinggal di sini.


"Tenanglah Leon, biarkan aku mengeringkan rambutmu. Aku tidak mau Mamamu marah kepadaku jika kau kedinginan nanti." Ucapku dan mulai mengeringkan rambut Leon.


"Bro, aku tidak suka Tante yang baru itu sama seperti Tante yang sebelumnya." Ucap Leon.


'Tante yang sebelumnya?'


Aku penasaran siapa yang dibicarakan Leon. Aku tahu bahwa dia tidak menyukai Sarah. Tapi siapa orang lainnya.


'Apakah itu Alex?'


"Teman kecil, kau begitu pintar. Jadi Tante mana yang tidak kau sukai dan kenapa?" Tanyaku.

__ADS_1


"Aku tidak suka Tante yang sebelumnya menginap disini dan teman baik Mama juga." Ucap Leon.


"Apa maksudmu Alex?" Tanyaku kepadanya.


"Tidak, aku suka Alex. Ini adalah Lila yang tidak aku sukai." Balasnya.


"Lila? Bagaimana kau bisa tidak suka pada Lila yang kau kenal sudah lama dan kau malah menyukai Alex yang baru saja datang?" Ucapku.


Pada saat itu Leon tidak bisa mengatakan apapun. Mungkin itu hanyalah insting seorang anak kecil. Tapi aku juga merasakan hal yang sama tentang Lila. Bagiku dia itu seolah bukanlah seorang teman, tapi musuh. Bibi Ana juga sudah mengatakan hal itu dan sekarang Leon.


'Apakah semua ini bukan hanya suatu kebetulan?'


Aku tidak bisa mengatakan apapun untuk sekarang tentang bahaya apa yang membuat aku harus melindungi Nilam. Tapi tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan melindungi keluargaku.


"Kita sudah selesai." Ucapku.


Saat aku turun ke ruang makan bersama Leon, semua orang sudah duduk dan wanita yang menyebut dirinya sebagai sepupu Nilam itu juga ada di sana. Dia duduk di kursi yang berada di kursi biasa aku duduk. Jadi aku tidak menghiraukan kursi yang tempat biasanya aku duduk itu dan memilih untuk duduk di samping Nilam. Sementara Leon duduk di sisi lainnya.


"Keponakanku sayang, itu bukan lah kursi biasa tempat kau duduk." Ucap Om Romy.


'Ini memang bukan tempat biasanya aku duduk. Lantas kenapa?' ucapku dalam hati.


"Iya, aku memutuskan untuk merubahnya hari ini." Balas ku.


Makanan sudah disajikan dan kami semua mulai makan. Bagaimanapun aku tidak bisa menikmati makan malam ku karena ada wanita ****** yang tidak bisa berhenti menatapku. Lebih dari itu, Nilam tidak menghiraukan aku seolah aku tidak ada di sisinya.


'Bagaimana dia bisa tidak menghiraukan aku? Ayo lihat apakah dia tetap tidak mau menghiraukan aku.'


Pada saat Nilam menyuapi makanannya, aku mengelus pahanya. Pada saat aku menyentuhnya, dia hampir tersedak oleh makanannya yang tengah dia kunyah itu.


"Nilam ada apa?" Tanya Papa dengan khawatir dan aku langsung memberikan air untuk diminum Nilam.


"Aku harap kau baik-baik saja Nilam." Ucap Om Romy.


"Terima kasih Tuan Romy. Aku hanya sedikit tersedak." Balas Nilam.


Alisku mengkerut saat Nilam memberikan senyuman hangatnya kepada Om ku dan dia bahkan tidak berterima kasih kepadaku, padahal akulah orang yang memberikan air kepadanya. Jadi aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang sudah aku lakukan sejak tadi untuk membuat dia merintih. Untungnya dia bisa menutupi mulutnya dan berusaha membuat orang lain agar tidak bisa mendengar suaranya itu.


Kali ini dia tidak bisa menahan semuanya dan dia akhirnya melihat ke arahku. Walaupun dia menatapku dengan tajam dan mencoba untuk menyingkirkan tanganku. Tapi aku terus memaksa dan menyentuh pahanya yang mulus. Dia memakai gaun berwarna putih yang sangat mudah bagiku untuk meraba tubuhnya dan berpura-pura makan dengan seperti biasanya.


"Aldi, hentikan." Bisik nya dengan suara yang sangat kecil untuk tidak membiarkan orang lain mendengarnya dan hanya aku yang mendengar suaranya itu.


"Kalau begitu berjanjilah kepadaku untuk bertemu di ruang belajar tengah malam nanti." Balas ku kepadanya dengan suara yang pelan.


Untungnya tidak ada yang menyadarinya. Tapi dia menolak ajakan ku. Jadi aku terus menyentuhnya dengan cara yang semakin lembut di mana hal itu tidak bisa memberikan pilihan lain kepadanya selain setuju dengan permintaanku. Kemudian aku pun langsung menjauhkan tanganku dari pangkuannya.


"Gadis baik." Bisik ku.


"Mama, kenapa Mama berkeringat?" Tanya Leon.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2