Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
21. Kembalinya Allen ke Semarang


__ADS_3

Setelah kembali dari rumah Dhezia dan bergegas menuju Balai Desa, Allen segera mengemasi barang- barangnya, memasukannya kedalam ranselnya. Dipakainya baju seragam lengkap dengan sepatu dan baretnya hijaunya. Karena status yang sudah siaga. Artinya, sebentar lagi mereka akan kembali ke Semarang.


"Cepet, Len. " ujar Rigel.


"Iya, lo kenapa gak nelfon gue daritadi sih, Gel. Jadi keteteran kan gue," sahut Allen.


"Yaudah sini gue bantu, lo makan dulu sana tadi belum makan kan?" kata Rigel.


"Iya bang, makan dulu sana," sahut Candra


"Udah makan, tadi dirumah Dhezia," jawab Allen.


Barusaja Allen menjawab pertanyaan dari Rigel, truk pengangkut personil tampak sudah tiba didepan pintu gerbang Balai Desa.


"Udah semua, itu truk kita, ayo cepat!" seru Allen ketika melihat truk hijau dengan atap tenda terhenti di depan balai desa.


"Ayo naik, bang!" Seru Severius.


"Ya," jawab Allen.


Allen, Rigel, Severius dan Candra kemudian berlari keluar gedung Aula Balai Desa dan menuju ke arah truk sembari menggendong tas ransel berisi barang bawaan mereka. Sudah ada beberapa personil dari Desa lain yang duduk diatas truk. Rigel menaiki truk duluan, disusul Allen, Severius, dan Candra.


"Candraaa...!!"


Teriakan Citra sontak membuat seluruh personil yang berada diatas truk menoleh, termasuk Candra. Yang merasa namanya sedang dipanggil.


"Aku akan sering sering mengunjungimuuuuu....," teriak Citra yang berlari ke arah truk itu.


Kini Citra berada di depan gerbang Balai Desa, melihat Candra dari bawah truk itu.


"Heh, cewek kamu teriak teriak noh," kata Rigel.


"Iya sayaaaaang,"


Jawaban Candra membuat Rigel sontak merespon, "Citra sayaaaang disini jangan selingkuh ya, kalo bang Candra yang selingkuh boleh, hahaha," goda Rigel.


"Ih gaboleeeeeh!" larang Citra sambil cemberut.


Candra hanya tertawa melihat cewek manisnya itu cemberut, kemudian tampak dari atas truk Candra melambaikan tangannya ke arah Citra, dan dibalas anggukan senyum dari gadis itu.


Tak lama kemudian suara mesin truk itu terdengar seperti akan melaju. Dan benar saja, diwaktu setelah senja itu, akhirnya truk itu bergerak melaju menuju tujuannya. Meninggalkan Balai Desa.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, Allen tampak termenung. Setelah ini, pikirnya mungkin dia akan jarang bertemu dengan Dhezia. Dan gadis itu pasti perlahan mulai jauh darinya.


"Berat ya, Len. Kamu murung sekali. Jangan murung begitu, jarak Kudus


ke Semarang cuma 2 jam, gak jauh," ucap Rigel memberikan semangat pada teman satu lettingnya itu.


"Iya," jawab Allen singkat.


"Semangat, semangat," kata Rigel sambil menepuk pundak kiri Allen.


"Saya gak di semangatin bang? Saya juga jauh dari Citra, haha," canda Candra.


"Kamu kan beda ceritanya, emang udah suka sama suka. Kalo Allen kan senjata makan tuan, jahil sama cewek eh dianya malahan suka, hahahaa," sahut Rigel. Kemudian tertawa.


"Gak lucu." sahut Allen ketus.


Sementara Severius, pikirannya teringat akan sosok Merta, gadis yang menyatakan perasaannya tadi siang.


***


Setelah menempuh 2 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di Semarang. Truk personil yang mereka naiki telah memasuki pintu gerbang Batalion. Para personil segera turun dari truk dan melakukan apel pengecekan. Setelah itu kembali ke barak masing-masing.


Setelah memasuki baraknya, Allen melepas seragamnya, dan bergegas mandi. Setelah mandi ia merebahkan dirinya di tempat tidur. Perjalanan 2 jam menaiki truk membuatnya lelah dan ingin cepat istirahat. Tetapi, otaknya masih saja teringat akan sosok Dhezia. Allen melirik ke arah jam dinding. Pukul setengah sebelas malam. Apa gadis itu sudah tidur? Dengan cepat Allen bangun kemudian meraih ponselnya yang berada diatas meja samping tempat tidurnya, ia mencari nomor Dhezia. Diketiknya sebuah pesan singkat melalui Whatsapp.


["Kiss me night, kamu sudah tidur?"] tanya Allen.


[Read.]


Dhezia sudah membaca pesan Allen, tetapi ia tidak membalas pesan dari Allen.


Ia tidak mau terjebak cinta dengan lelaki itu. Dhezia takut akan semakin berharap pada Allen. Ia takut akan dirinya yang tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri, meski kemarin Allen menjawab tidak memiliki perempuan di hatinya, tetapi Dhezia takut akan cintanya ditolak kembali, Dhezia masih terbayang bayang akan terakhir kali cintanya yang ditolak oleh Gabriel. Dan kedekatannya dengan Allen, tidak lebih dari sekedar hanya meminta waktu untuk ganti rugi soal insiden Iphone 14 Allen yang rusak. Dan yang terpenting bagi Dhezia saat ini adalah mencari Universitas dan bekerja agar secepatnya bisa melanjutkan kuliahnya.


"Maafkan aku, Allen. Aku pasti akan secepatnya mengganti ponselmu," gumamnya dengan badan yang masih terbaring lemas.


***


Sementara itu, Allen yang berada di baraknya tampak berdecak kesal. Apa Dhezia menjauhinya? Beberapa jam yang lalu bahkan dia menyuapiku. Bagaimana bisa sifat seseorang berubah hanya dalam waktu beberapa jam?


"Tau lah, gadis aneh!" decaknya kesal.


Allen kembali menenggelamkan dirinya di tempat tidurnya. Matanya terpejam, tetapi otaknya tampak berpikir keras, apa Dhezia tidak memiliki rasa sedikitpun terhadapnya?

__ADS_1


"Ah, bodo ah," decaknya kembali. Kemudian menengkurapkan tubuhnya


dan menenggelamkan wajahnya ke bantal.


Dan sesaat kemudian terdengar notifikasi pesan masuk di ponselnya. Dengan cepat Allen membukanya, berharap itu balasan pesan dari Dhezia.


["Ijin bang, punya nomor Merta bang?"] tanya Severius melalui pesan singkatnya.


Allen tampak mendengus kesal. Ternyata bukan dari Dhezia tapi pesan masuk dari Adik bontotnya.


["Gak ada."] jawabnya ketus.


["Gebetan abang yang cantik itu gak punya juga?"] tanya Severius.


["Gak tau."]


["Abang ko, jutek sekali bang. Kan mereka tetanggaan bang, masa iya gak tau"] sahut Severius.


[Udah diem. Saya mau tidur ini, gausah tanya yang berbau bau kudus!"] Allen mematikan telfonnya. Kemudian melemparkannya ke sembarang arah.


[" Halo.. halo..bang? Yah dimatiin!"] ujar Severius. Panggilan telfonnya sudah di tutup beberapa saat yang lalu oleh Allen.


Sepertinya abangnya Allen itu tidak sedang berada dalam situasi hati yang baik. Severius pun kemudian menepis jauh jauh keinginannya menghubungi Merta malam itu.


Sementara Allen yang telah melempar ponselnya ke sembarang arah tadi, kembali mencari ponsel yang dilemparnya tadi. Kemudian memutar lagu Last Child- Bernafas Tanpa mu yang disambungkan melalui speaker bloutoothnya dengan volume paling keras. Kemudian melemparkan dirinya kembali ke tempat tidur dan


menajamkan mata.


Kini ku harus bernafas tanpamu~


Yang meninggikan diriku yang selalu Lemah tanpa dirimu~


Yang ke lembutan hatinya harus tersakiti~


Oleh kekalahanku melawan egoku~


Ku akui aku yang memulai sgalanya Tapi lihat kini akulah yang paling terluka~


Bila harus kisah cinta ini ku akhiri Kan ku akhiri sebagai satu jalan yang terbaik untuk kita Berdua~


***

__ADS_1


__ADS_2