Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
38. Flash Back in Bali 3


__ADS_3

Bali, 2014.


Dari dalam kamar mandi, Allen berteriak pada Yovien.


"Dek, makan duluan aja dek, nanti kakak nyusul, soalnya kamu kalo makan lama," omel Allen pada adiknya itu.


"Iyaa Iyaaa udah mandi aja gausah bawel kak," ketus Yovien.


Setelah selesai bersiap siap, Yovien menuju meja makan minimalis apartemennya. Yang memang diperuntukan bagi dua orang.


Yovien duduk di meja makan tersebut. Dilihatnya menu yang tersaji diatas meja makan itu.


"Hah? Nasi sama mie instan lagi?" syok Yovien.  Semalam, ia telah makan nasi dan mie instan, dan pagi ini ia harus memakannya lagi. Yovien yang awalnya hidup di semarang, pada setiap jamuan makan dengan keluarga paling tidak sedikitnya ada lima belas menit hidangan, kini di Bali hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Meski kini ia dan Allen tinggal di apartemen mewah, tetapi makan mereka sungguh seadanya. Dan melihat hidangan makan diatas meja ini, Yovien menjadi tidak berselera makan. Ia hanya melihatnya saja. Tanpa menyentuh sedikitpun.


Allen telah selesai mandi, kini ia mulai mengenakan seragam barunya, menyisir rambutnya dan memakai parfum. Kemudian ia berjalan menuju meja makan.


"Loh, dek. Gimana si kan kakak suruh makan dulu tadi, kok gak makan makan sih, malahan diem aja," omel Allen.


"Kita langsung ke sekolah aja lah, kak. Yovien gak pengen makan," ujar Yovien.


"Makan ini dulu, nanti kalo kakak udah kerja dapat gaji kita bisa makan yang lebih enak dari ini," jelas Allen.


"Nih, Aaaa," Allen menyuapkan nasi dan mie instan pada Yovien.


"Gak mauuu!" tolak Yovien sambil menutup mulutnya menggunakan tangan.


"Kalo kamu gak mau makan, terus sampe sakit, siapa yang susah? Kakak kan?" tindas Allen.


"Oh, jadi Yovien ini nyusahin kakak?"


"Bukan begitu, kakak janji deh ntar kalo kerja terus abis gajian kakak beliin ayam," ucap Allen.


Dan akhirnya Yovien mengangguk pasrah. Lalu Allen menyuapinya lagi seperti semalam. Setelah sarapan pagi mereka selesai, Allen menaruh piring di westafel yang berada di dapur apartemen. Tak lupa Allen mencuci piringnya terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.


"Kak, kita beneran jalan kaki?" tanya Yovien.


"Iya jalan kaki, kata mama cuma lima belas menit, kan?" sahut Allen.


"Yaudah deh, tapi jalannya pelan pelan aja ya kak," pinta Yovien.

__ADS_1


"Udah ayok cepet!" Allen berlari menyambar tas sekolahnya kemudian keluar dari apartemennya, " kalo lama kakak tinggal," ucap Allen sambil berlari.


"Tunggu kak!" pinta Yovien yang kini menyambar tas sekolahnya juga dan mengejar Allen.


Dalam perjalanan ke sekolah mereka berlari.


"Kak, kenapa kita harus lari? Emang masuknya jam ber-a-pa?" tanya Yovien sambil ngos ngosan karena berlari.


"Ya jam 7 lah, jangan sampai telat kita siswa baru, dan ini bukan Allenandria School, jadi kita tidak bisa semena mena," jelas Allen yang masih berlari dengan tempo sedang.


"Ah baiklah kak, jangan cepat cepat larinya kak, Yovien kuwalahan," kata Yovien.


Dan Allen sedikit memperlambat tempo berlarinya.


***


Mereka tampak telah sampai di depan pintu gerbang SMA N 1 Denpasar. Terdapat dua guru laki laki yang sedang bertugas piket menyapa siswa siswi pagi itu.


"Selamat pagi pak, kami berdua murid pindahan dari Allenandria School Semarang." ucap Allen pada guru tersebut.


"Oh iya, kalian telah ditunggu kepala sekolah di ruangannya," kata salah satu guru laki laki.


"Baik pak, terimaksih," ucap Allen. Tanpa menunggu lama, Allen menggandeng tangan Yovien masuk kedalam sekolah itu.


Lalu Allen dan Yovien pun mengikuti petunjuk yang ada di sekolah itu. Akhirnya mereka sampai di ruang kepala sekolah.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi..," ucap Allen.


"Silakan masuk," terdengar jawaban dari dalam ruangan.


Dengan segera, Allen dan Yovien pun memasuki ruang kepala sekolah itu. Terdapat seorang ibu kepala sekolah yang perawakannya agak gemuk dan memakai kacamata.


"Selamat datang di SMA N 1 Denpasar," ucap ibu kepala sekolah itu.


"Iya buk," jawab Allen dengan sedikit senyum penuh hormat. Tetapi Yovien hanya diam saja. Tanpa menunjukkan reaksi apapun. Pikir Yovien, mungkin akan lebih nyaman jika berada di sekolah milik kedua orang tuanya, Allenandria School. Di sekolah ini, Yovien pasti harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Harus menghafalkan nama nama guru, dan nama nama temannya. Dan itu merupakan salah satu hal termembosankan menurut Yovien.


"Allen Xander Yudha dan Yovien Xander Yudha, betul?"

__ADS_1


"Iya bu," jawab Allen lagi.


Kemudian kepala sekolah itu mengarahkan pandangannya ke name tag di seragam sekolah Allen dan Yovien.


"Kamu yang Allen, betul kan? Kamu di kelas sebelas IPA 1," ucap Bu Ida.


"Baik bu," jawab Allen.


"Kamu yang Yovien, betul kan? Kamu di kelas sepuluh IPA 1 juga," jelas Bu ida. Yang hanya dibalas anggukan oleh Yovien.


"Sudah, sekarang boleh masuk kelas, nanti kalo ada informasi lebih lanjut saya hubungi kalian kembali," ujar Bu Ida.


Kemudian Yovien dan Allen segera meninggalkan ruangan kepala sekolah dan masuk ke kelasnya.


"Kamu disini baik baik ya dek, kalo ada apa apa kakak di kelas atas," pesan Allen pada Yovien setelah mengantarkan Yovien masuk ke kelasnya.


"Oke, Kak Allen juga baik baik ya di kelas atas, nanti kalo istirahat jangan lupa kayak biasanya ya kak," pinta Yovien.


Kemudian Allen sedikit mendekatkan mulutnya ke telinga Yovien. Ia seperti akan membisikkan sesuatu.


"Dek, maaf hari ini gak ada cokelat panas ya, soalnya kan kakak gapunya uang," jelas Allen.


"Jadi maksud kakak kita gausah jajan gitu?" Yovien memperjelas.


"Ya mau bagaimana lagi? Kakak juga gapunya uang, hari ini nanti kakak baru mau kerja, nanti setelah gajian kakak beliin kamu cokelat hangat," janji Allen pada Yovien.


"Kalo gitu Yovien gamau dengerin pelajaran," ujar Yovien.


"Ya jangan gitu dek, kamu emangnya mau nilai kamu turun? Nanti papah sama mamah bakal kecewa dek, kita bisa masuk kelas IPA 1 karena nilai kita bagus kan? Kamu mau peringkat kamu turun?" omel Allen.


Yovien dan Allen saat sekolah memang sama sama pintar. Mereka rajin belajar dan tidak nakal. Hanya saja Yovien terlalu manja. Sehingga Tuan Allenander dan Nyonya Clarista memutuskan untuk membangun kepribadian mereka agar dapat hidup mandiri.


"Tanpa uang saku, nilai turun tidak masalah kan?" protes Yovien.


"Ya masalah! Jelas itu masalah dek, gimana kalo nilai kamu turun terus papah sama mamah ambil uang jatah bulanan kita? Akan lebih repot kan kalo kita gabisa makan?" omel Allen sedikit keras sehingga para siswa di kelas


Yovien sedikit mendengarnya


***

__ADS_1


Bersambung^^


Jangan lupa kasih ulasan ya^^


__ADS_2