
Setelah Yovien berpikir bahwa gadis mirip hantu di depannya itu sakit hipotermia. Tanpa ragu-ragu, kini Yovien melepas semua pakaian Rea. Termasuk pakaian dalamnya. Dilihatnya pakaian Rea yang serba putih termasuk pakaian dalamnya.
"Ih, benar- benar kayak hantu!" makinya sambil menaruh pakaian basah Rea dibawah sofa. Ia kemudian membersihkan tubuh Rea dengan handuk dan air hangat. Tak ada rasa nafsu sedikitpun, yang ada hanyalah rasa kasihan. Gadis kurus dengan rambut panjang dan tubuh yang kini putih pucat.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada hidup gadis hantu ini?" pikirnya dalam hati.
Setelah membersihkan tubuh Rea. Yovien kemudian mengambil celana tidur dan kemejanya, kemudian memakaikannya pada tubuh Rea. Dikompresnya Rea kembali dan diselimutinya tubuh Rea dengan selimutnya yang tebal agar gadis itu hangat. Sambil menunggu gadis itu bangun, ia membersihkan dirinya sendiri yang juga
basah kuyup akan hujan dan kotor.
Yovien menuju kamar mandi apartemennya. Yovien melepas satu persatu baju yang dikenakannya. Terlihat tubuh atletisnya yang putih dengan perut kotak- kotak. Dibasuhnya dirinya dibawah shower.
"Ahh.. segarnya...," gumamnya sambil membiarkan dirinya terkena air yang memancar dari shower.
Selesai mandi, Yovien mengusap seluruh tubuhnya menggunakan handuk. Berjalan ke kamarnya, dan segera mengambil baju ganti. Yovien kemudian mengenakan pakaiannya. Ia tampak berjalan kearah cermin yang berada di kamarnya. Diusapkannya getsby dan disisirnya rambut hitam itu dengan rapi. Ia hanya mengenakan celana hitam dan kaos berwarna putih, tetapi kulitnya yang putih bersih dan wajah yang tampan membuat Yovien tampak maskulin. Setelah ia selesai, mendadak ia teringat dengan Dhezia. Yovien meninggalkan gadis itu di
Stasiun Tawang sendirian tadi. Ingin sekali ia menemui Dhezia sekarang.
"Bagaimana dengan hantu itu?" batin Yovien.
Ia kembali berjalan menuju ruang tamunya dan gadis itu masih terbaring di sofa. Yovien kemudian meraih ponselnya. Berniat menghubungi Allen kembali.
Kring...kring...
Panggilannya berdering.. Dan lagi lagi Allen lama mengangkat. Dicobanya lagi yang kedua kalinya, Yovien menelfon Allen kembali.
Kring....kring.....
***
Disisi lain, Allen yang terlanjur dongkol terhadap Dhezia tampak melangkahkan kakinya keluar dari Hotel Bonita.
"Gadis menyebalkan! ngapain juga gue jauh-jauh kesini samperin dia kalo akhirnya malah jadi kayak gini!" umpatnya dalam hati.
Allen berjalan kearah dimana motornya diparkirkan. Akan tetapi, hujan mendadak turun hingga membuat Allen refleks melarikan diri mencari tempat berteduh. Ia berlari kembali kearah lobi hotel dan berteduh disana.
"Sial, niat melarikan diri malahan kejebak di hotel ini lagi! Mana jas hujan gak kebawa lagi!" kesalnya sambil mengusap lengan jaketnya yang basah terkena hujan.
***
__ADS_1
Sementara Dhezia yang barusaja merebahkan dirinya di kasur setelah kepergian Allen, kini meraih ponselnya. Ia teringat dengan Yovien.
"Kenapa Yovien belum datang ya? padahal tadi udah pesan kamar dua," batin Dhezia.
"Aku telfon aja kali ya?" pikirnya kemudian.
Akhirnya Dhezia memutuskan untuk menelfon Yovien. Berniat memberitahu nomor kamar Yovien yang sudah ia pesan tadi. Setelah dipencetnya nomor Yovien,
Tuttt.. Tuutt.... Tu Tut Tut..,
Namun, ternyata nomor whatapp Yovien sedang berada di panggilan lain.
"Ah mungkin Yovien lagi sibuk, gue chat aja lah," pikir Dhezia.
("Vien, kita dapat kamar nomor 1007 sama 1008, nah aku kan di kamar 1007, kamu di kamau 1008 ya, sebelahan ko, di lantai 5, kamu baik baik aja kan, Vien?") tanya Dhezia dalam pesan singkatnya malaui whatapp, kemudian ia
memencet tombol send.
Dilihatnya baterei ponsel Dhezia tinggal 5%. Lalu ia mengambil charger ponsel daridalam tas ransel miliknya. Kemudian mencolokkan ponselnya ke stopkontak dinding sebelah televisi yang berada di kamar hotel.
Jam diding kini menunjukkan pukul 9 malam. Dan rasa kantuk tak kunjung datang, malahan rasa bosan yang kini menghampiri Dhezia, hingga ia memutuskan untuk berjalan- jalan keluar mencari udara segar. Dhezia pun keluar dari kamarnya dan turun ke lobi resepsionis. Didengarnya suara hujan yang turun.
"Yah.. niat mau jalan jalan malahan hujan, di resepsionis ada payung ngga ya?" tanyanya pada diri sendiri. Kemudian berjalan menuju meja resepsionis.
"Maaf, sebelumnya boleh tanya atas nama siapa?" tanya penjaga resepsionis itu memastikan.
"Dhezia Anastasya, dari kamar 1007." jawab Dhezia.
"Terimakasih kak. Untuk fasilitas payung hotel untuk tamu berada di sebelah kanan pintu lobi, kak," kata resepsionis itu. Sementara tangannya menunjuk sebuah keranjang besi yang terkunci berisi beberapa payung, berada di
sebelah kanan pintu lobi.
Dhezia seketika menoleh kearah keranjang berisi payung itu, "tapi kok dikunci, mbak?" tanyanya lagi.
"Mari kak, saya bukakan," kata mbak resepsionis itu pada akhirnya.
Setelah Dhezia mendapatkan payung itu, ia kemduian berjalan keluar lobi. Dhezia memekarkan payungnya dan hendak berjalan jalan mencari kopi yang hangat. Tetapi, saat ia akan memakai payungnya, dilihatnya seseorang sedang berdiri di sudut depan pintu keluar lobi.
"Ternyata Allen masih disini, kalo gue lewat, ntar jadi ketemu dia lagi, ah menyebalkan!" umpat Dhezia.
__ADS_1
Dhezia pun menunda niatnya untuk berjalan-jalan ditengah hujan dan kembali masuk ke lobi. Tetapi ia sudah terlanjur meminjam payung pada resepsionis. Akhirnya ia tetap berdiri di depan lobi dalam, sementara Allen berada di lobi luar. Dhezia kini mengamati Allen yang masih berdiri menunggu hujan. Hingga ia melihat gelagat aneh dari lelaki itu. Allen mendekatkan dirinya ke air hujan yang jatuh dari atap lobi. Kemudian Allen tampak mendongakkan kepalanya keatas sambil memejamkan mata. Kemudian ia membuka matanya kembali. Kini Allen mengulurkan
tangannya ke tetesan air hujan yang turun. Hingga tangan kanannya yang penuh air hujan itu, ia arahkan ke bibirnya.
"Hah?! apa Allen barusaja meminumnya?" heran Dhezia.
Tidak berhenti disitu. Kini Allen mulai melangkahkan kakinya perlahan menembus hujan.
"Hah?! jangan jangaaan?!" pekik Dhezia dalam hati. Dan refleks Dhezia segera berlari kearah pria itu dan memayunginya.
"Kamu gila?! Hujan- hujanan gini, gimana kalo sakit, hah?" omel Dhezia sambil mengarahkan payungnya melindungi tubuh Allen dari air hujan.
Kini mereka berada dibawah payung yang sama. Allen terkejut tiba- tiba Dhezia muncul dan berlari kearahnya, memayunginya dan tampak khawatir. Padahal sebenarnya tidak apa-apa jika Allen harus kehujanan. Tetapi tanpa disangka Dhezia tiba-tiba muncul dan berlari kearahnya. Dalam hati Allen sangat senang. Tapi ia
terlalu gengsi untuk mengutarakan jika ia senang Dhezia memayunginya.
"Oh, lo mau baikan sama gue?" ketus Allen setelah Dhezia memayunginya.
"Gak gitu! ya gue.. gue..," tolak Dhezia.
"Gue apa?" ketus Allen.
"Gue kebetulan liat lo aja kehujanan, jadi gue refleks gitu," jawab Dhezia.
"Jadi ini payung buat gue?" tanya Allen.
"Gak! enak aja! Gue susah payah pinjem ini dari resepsionis situ," kesal Dhezia.
"Terus?"
"Ya.. eum..eum..," Dhezia bingung ia harus menjawab apa. Hujan semakin deras, dan kini hanya beberapa cm jarak antara tubuhnya dan tubuh Allen. Jantung Dhezia berdegup kencang,"lo jauh dikit bisa ga si? gue deg-deg an
nih," unpat Dhezia dalam hatinya.
Tanpa disangka, ditengah derasnya hujan, dibawah payung Allen malahan mencium kening Dhezia. Hingga Dhezia sedikit merasakan desiran panas.
***
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa kasih ulasan ya^^
Jangan lupa follow ig penulis @girl_a.amelia