Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
28. Allen Marah


__ADS_3

"Itu tadi sapaan selamat malam, Anastasya!" jelas Allen.


"Apa-apaan?" heran Dhezia mendengar perkataan Allen.


"Kau kan dari luar negeri? Kenapa tampak begitu kaget? Di Amerika banyak adegan kayak gitu kan, Anastasya?" kata Allen memastikan.


"Iya tapi perlakuan kamu aneh! Kita di Indonesia sekarang, Len! Bukan di Amerika!" kesal Dhezia.


"Yasudah, saya tidak mau membuat kamu kesal malam ini, Nona Anastasya...," kata Allen sambil tersenyum.


Dan Dhezia hanya diam. Kemudian berjalan kembali menuju dekat jendela. Allen melihat sekeliling. Tampak kamar hotel yang minimalis dengan ranjang single bad di dalamnya, sebuah kamar mandi, meja televisi, AC, dan sebuah jendela yang kini terbuka.


"Kamu tidak menawariku minum?" tanya Allen.


"Nih," Dhezia mengambil dan menyodorkan sebotol Pocari Sweet pada Allen.


"Ini minummu?" tanya Allen menerima Pocari Sweet itu. Kemudian melepas sepatu dan jaketnya.


"Dari hotel," jawab Dhezia singkat. Dhezia berpura- pura sok cuek. Ia takut jika saja Allen tiba- tiba membahas tentang ponsel Iphone 14 nya dan Dhezia belum mendapatkan uangnya.


"Tapi aku melihatmu mengambilnya dari dalam ranselmu itu." Allen menunjuk ransel Dhezia.


"Minum aja gapapa kok," kata Dhezia pada akhirnya.


Kemudian melanjutkan menatap kearah luar jendela kembali. Sebenarnya ia senang Allen mendatanginya. Hanya saja, ia tidak mengerti bagaimana cara mengungkapkannya.


Setelah melepas jeketnya dan meminum Pocari Sweet, Allen duduk di tepi ranjang, kemudian membuka suara, “kau tidak lelah berdiri terus menerus?”


Dhezia menggeleng sambil tersenyum. Ia tampak membayangkan sesuatu. Ia membayangkan jika saja tiba-tiba, Allen berdiri kembali mendekati Dhezia. Mendekatkan wajahnya pada wajah Dhezia. Dan Dhezia pun bisa merasakan hembusan napas Allen yang begitu hangat melewati wajahnya. Disamping hembusan angin malam yang keluar masuk melewati jendela kamarnya itu, badan Dhezia


bergetar dan merinding, menerima perlakukan Allen.


"Kau tidak lelah berdiri terus menerus?" tanya Allen heran.


Sementara Dhezia hanya menggeleng sambil tersenyum, matanya tak berkedip. Karena ia sedang membayangkan sesuatu, lebih tepatnya jika Allen menyetubuhinya.


"Hey, kamu mikir apa?" goncang Allen pada tubuh gadis di depannya itu.


"Aaaaaa.... jangan sentuh akuu!!! Aku masih pengen perawaaan,!!!!" refleks Dhezia kaget sambil berteriak.


"Siapa juga yang mau menyentuh kamu, Nona Anastasya?" sindir Allen.

__ADS_1


Dhezia Anastasya, sedari tadi hanya melamun. Setelah mendengar pertanyaan Allen, ia meggeleng menjawab pertanyaan Allen sambil tersenyum. Dalam lamunannya, Dhezia membayangkan Allen akan menyetubuhinya malam ini. Pikiran Dhezia benar-benar jauh diluar nalar.


"Hah?!" lengguh Dhezia.


"Kamu bayangin apa?" tanya Allen kembali.


"Ya hanya ada kita disini, Len. Siapa tau kamu akan meminta tubuhku sebagai imbalan atas ponsel Iphone 14 kamu yang gak sengaja pecah itu!!" kesal Dhezia.


"Kalo sekedar kiss si iya. Tenang saja saya gak akan sampai diluar batas," sahut Allen datar. Kini ia kembali duduk di tepi ranjang.


"Hah?!" Dhezia mendadak salah tingkah.


"Bodoh..bodoh.. apa yang barusaja gue bayangin? Gue dengan Allen? Ngelakuin itu bareng? Haha kamu mimpi banget, Zia! Masa iya  bakal nikah sama konglomerat kek Allen! Lebih- lebih menyebalkan pula! Yang ada kamu hanya akan direndahkan, Zia!" pekik Dhezia pada dirinya sendiri.  Dhezia berbalik menghadap keluar jendela kembali. Ia menggetok getok kepalanya sendiri.


"Kenapa? Kamu bayangin yang engga- engga ya, Nona Anastasya? Ah ternyata pikiranmu kotor juga ya," tebak Allen meledek Dhezia.


"Enak aja! Gak!" tolak Dhezia dengan nada tinggi.


"Hahaa..,kalo sensi berarti iya, dong," sahut Allen santai.


"Yaudah makanya kamu ngapain malam- malam kesini sih, Len?" cecar Dhezia.


"Jangan membuatku membayangkan hal yang tidak-tidak lagi, ya," tegas Dhezia.


"Gak boleh ya saya rindu sama kamu? Kamu gak lihat saya berlari keluar barak terus cepat-cepat kesini? Demi siapa? Karena siapa? Karena kamu, Zia!" cerocos Allen.


"Bukan begitu, maksud aku jika cowok mengatakan rindu itu hanya 10 persen betulan rindunya, sisanya yang 90 persen mengatakan bahwa kau mau tidur dengan orang yang kau rindukan," kata Dhezia dengan cepat.


Allen melongo seketika begitu mendengar perkataan cewek di depannya itu. Ia mendadak salah tingkah. Bagaimana bisa seorang gadis tidak ada malu-malunya mengatakan hal demikian di depan laki- laki.


"Dia sedang menawarkan dirinya padaku sebagai ganti rugi atas ponselku atau bagimana?" pikir Allen dalam hati.


"Kamu pikir saya cowok apaan." sahut Allen mencoba sok cool. Kemudian melanjutkan kembali meminum sebotol Pocari Sweat yang dikasihkan Dhezia padanya.


"Iya bukannya kau meminta ciuman dariku pagi, siang, sore, dan malam saat di kudus? pura-pura lupa atau bagaimana? dan sekarang? kau datang kemari dan mengatakan rindu. Bukankah kau ingin tidur denganku?"  ketus Dhezia.


"Uhukk Uhukk...Uhukk...Uhuk..." Allen langsung tersedak begitu mendengar perkataan Dhezia padanya barusan.


"Apa yang salah dengan cewek ini?" pekik Allen dalam hati.


"Kamu gila? Bagaimana kamu bisa dengan santainya mengucapkan perkataan itu pada seorang pria?"  heran Allen.

__ADS_1


"Aku bisa santai mengatakannya karena pria itu kamu," sahut Dhezia santai.


"Awas saja kalo kamu berani mengatakannya pada pria lain juga," kesal Allen.


"Ih memangnya kenapa? Kan kita gak ada apa- apa," sahut Dhezia.


Entah mengapa perkataan Dhezia barusan membuat Allen kesal.


"Gak ada A-PA A-PA?!" Allen memperjelas kalimat yang diucapkannya.


"Menurutmu? Kau bahkan tidak pernah menyatakan cinta padaku," kesal Dhezia.


"Tidak pernah? Oh, baik! Kita meman TIDAK ADA APA-APA!" Allen menekankan kata- katanya dengan dingin.


"Apa yang kamu harapkan, Zia? Jelas kan dia hanya ingin mempermainkanmu. Tidak mungkin seorang Allen benar- benar menyukaimu, Dhezia bodoh," makinya dalam hati pada dirinya sendiri.


"Jadi kenapa masih disini?" sindir Dhezia.


"Baik! Saya pulang sekarang!" pamit Allen dingin.


Dengan segera, Allen mengenakan jaket dan sepatunya kembali. Kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar hotel Dhezia.


Duarr..!


Allen menutup pintu kamar hotel Dhezia dengan kasar. Membuat Dhezia yang masih berdiri di dekat jendela itu terkejut.


"Apa Allen marah banget ya? Tapi nada bicaranya juga dari awal udah pakai saya saya, biasanya gue gue, atau dia marah sejak awal? Sejak kesini? Dia kesel sama gue karna gak ngangkat telfon? Tapi tadi dia sempet bilang rindu!


Arghh tau ah!" pekik Dhezia dalam hati.


"Lagian perkataan gue kan gak ada yang salah, memang hubungan kita gak ada apa- apa, eh belum ada apa-apa sekarang," pekik nya dalam hati.


"Ah tau ah.., Allen memang menyebalkan!" kesalnya kemudian berjalan menuju ranjang. Dhezia merebahkan dirinya di kasur.


***


Sementara Yovien setelah telfonnya ditutup secara sepihak oleh Allen. Ia langsung mengendarai mobil sportnya menuju batalion Allen. Dan setelah 15 menit mengendarai mobil sportnya Yovien akhirnya sampai di Batalion Allen. Ia masuk melalui pintu gerbang arah Kompi B, Kompi Allen. Di depan pintu gerbang terdapat pos penjagaan yang


dijaga ketat oleh para tentara yang bertugas selama 24jam. Tentara penjaga segera keluar dari pos yang berapa di samping pintu gerbang begitu melihat mobil sport kuning milik Yovien tampak. Melihat tentara penjagaan yang keluar, Yovien pun menghentikan  mobilnya. Kemudian turun dari mobil Sport nya.


***

__ADS_1


__ADS_2