
Setelah merasakan desiran panas di tubuhnya, jantung Dhezia kini berdegup lebih kencang. Ia kini memberanikan diri menatap mata Allen. Dilihatnya tatapan hangat dari lelaki itu, dan seulas senyum di bibirnya. Hujan masih saja deras. Tanpa memperdulikan situasi sekitar, meski mereka sedang berada ditempat umum, dibawah payung yang sama kini Allen berani mengecup bibir Dhezia sekilas. Tanpa disangka, setelah mendapatkan kecupan sekilas dari Allen. Kini Dhezia sedikit menjinjitkan kakinya yang telah gemetar kedinginan dan basah akan air hujan.
Sambil tangan kiri masih membawa payung, sementara tangan kanan Dhezia memasangkan penutup kepala hoodie yang dipakai Allen. Hingga wajah Allen terbenam sembunyi dalam hoodie yang dipakainya. Dan Dhezia segera mencium bibir Allen, ********** lembut sembari memejamkan mata.
"Eumm....Eumm...mmpp...," ***** Dhezia.
Entahlah, mungkin hawa dingin dan hujan yang deras telah membuat Dhezia kehilangan akal sehatnya hingga seberani itu melakukan hal gila terhadap Allen. Kissing under umbrella?
"Apa dia barusaja mencium saya?" batin Allen.
"Dan apa ini? Dia ******* bibir gue? Berani sekali ini cewek," batin Allen dalam hati. Sebenarnya ia juga menikmati ciuman dariĀ Dhezia.
Dan beberapa saat kemudian, Allen mulai tersadar jika ia masih memakai celana loreng dan sepatu pdl. Meski seragam atasnya dan kepalanya telah tertutupi dengan hoodie. Tetap saja, Allen berpikiran buruk dan khawatir jika
saja ada yang melihatnya. Dan pikiran buruknya telah berhasil menciptakan keberanian dalam dirinya.
"Bagaimana jika ada yang melihat? Aku hanya mengecupnya sekilas, tapi apa ini? Dia balas ******* bibirku, bagaimana jika ada yang melihat?!" pekik Allen dalam hati.
"Tidak tidak! Ini tidak benar! Meski gue nikmatin ini, meski ini Dhezia yang cium gue! Ini tempat umum, harus lepasin saat ini juga!" pikir Allen berontak. Kini Allen mulai gugup atas perlakuan Dhezia terhadapnya dan perlahan
mendorong tubuh Dhezia menjauh.
"Ma-af," kata Allen setelah melepaskan bibirnya dari gadis itu.
"Gu-Gue yang minta maaf...," sahut Dhezia yang ikut gugup juga setelah menyadari Allen melepaskan ciumannya.
Allen tampak diam. Ia hanya menatap gadis di depannya itu. Allen tau Dhezia kecewa. Tapi Allen tak punya pilihan lain, karena mereka sedang berada di tempat umum.
Dan Dhezia yang melihat Allen hanya diam menatapnya, berusaha mencairkan suasana.
"Nih, payungnya bawa aja, ntar jangan lupa kembaliin ke pintu dekat lobi," pesan Dhezia pada akhirnya.
Allen menerima payung yang diberikan Dhezia.
"Ia melepaskan ciumannya? Apa Allen tidak menyukaiku? Tapi tadi dia yang menciumiku duluan! Ah, entahlah." pekiknya dalam hati.
Memang benar, Allen sulit sekali dipahami. Dan Dhezia akan kelihatan seperti cewek yang tidak tau malu jika ia terus terusan masih berdiri didepan Allen setelah lelaki itu melepaskan ciumannya. Akhirnya tanpa berkata apa-apa Dhezia berlari keluar dari payung yang kini dipegang oleh Allen dan meninggalkan Allen yang masih berdiri ditengah derasnya hujan. Dhezia berlari kearah gerbang keluar Hotel Bonita.
"Anastasyaaaa Hujan Anastasnyaaa....!!!" teriak Allen saat ia berlari meninggalkan
lelaki itu.
Dhezia tidak peduli jikapun dirinya harus basah sekarang. Karena kejadian yang menimpanya barusan membuatnya tampak begitu memalukan.
__ADS_1
Dan Allen gusar, ia juga tidak tinggal diam. Ia berlari mengejar Dhezia. Takut terjadi apa-apa dengan gadis itu.
Dan tentu saja, Allen dengan mudah menangkap gadis itu. Ia telah terlatih untuk berlari sejak ia menjadi prajurit. Allen dapat dengan mudah berlari di jalanan, lapangan, hutan dan bahkan Allen telah terlatih dapat berlari di dalam
air. Berlari mengejar gadis seperti Dhezia tentu saja bukan hal yang sulit. Kini ia berhasil menangkap pergelangan tangan kanan gadis itu.
"Anastasya.....," panggilnya.
"Lepas!" pinta Dhezia.
"Kamu mau kemana?" tanya Allen lembut.
"Bukan urusan lo! Lepas!" ketus Dhezia.
"Zia.. tadi itu tempat umum, Zia! Kamu gak lihat aku masih pakai seragam?" tanya Allen dengan suara berat.
Kemudian diliriknya celana Allen. Memang benar, ia masih memakai loreng.
"Ah, kenapa gue gak berpikir sejauh itu?" pokok Dhezia dalam hati.
"Aku suka kamu cium kayak tadi, tapi jangan di tempat umum juga, Zia!" Kini mata Allen menatap hangat Dhezia.
"Maaf," sahut Dhezia singkat.
"Iya," Dhezia masih saja menjawab dengan singkat.
"Yaudah habis ini di kamar hotel lo boleh cium gue lagi, Zia!" bujuk Allen.
"Mimpi!" ketus Dhezia.
Kemudian ia berjalan duluan meninggalkan Allen dan m kembali ke arah Hotel. Allen hanya tersenyum mendengar jawaban Dhezia. Dan Allen kembali mengejar gadis itu dan memayungi tubuhnya yang telah basah. Terlihat sekali lekukan tubuh Dhezia. Mata Allen sesekali mengedarkan pandangannya ke leher gadis di sebelahnya itu. Dan tampak beberapa kali Allen menelan salivanya sendiri setelah melirik kearah leher dan dada Dhezia.
"Sadarlah, Len. Jangan diluar batas!" pekik Allen pada dirinya sendiri.
Kemudian Allen mengalihkan pandangannya kearah lain.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua tampak memasuki pintu lobi, Allen menaruh kembali payung yang tadinya dipinjam oleh Dhezia kedalam keranjang samping pintu lobi.
"Mau naik tangga atau naik lift?" tanya Allen.
"Naik lift aja cepet," jawab Dhezia.
"Oke,"
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua menaiki lift. Setelah sampai depan pintu kamar Dhezia,
"Masuk lagi aja gpp," kata Dhezia.
Sangat lucu memang, tadi saja Allen keluar dari kamar ini dengan emosi, dan akhirnya dia kembali ke kamar Dhezia lagi. Sungguh, ini pertama kali bagi Allen. Dapat mengalami mencintai seseorang dengan tulus. Meski awalnya hanya keisengannya saja menjahili gadis itu saat berada di Kudus. Ia tidak menyangka
akan sejauh ini.
Setelah Allen masuk, Dhezia menutup pintu kamarnya kembali.
"Tunggu sebentar ya, gue ganti baju dulu," ucap Dhezia.
Allen tidak menjawab, ia terlihat sok cuek.
Dhezia kemudian mengambil pakaian tidur dari dalam tas ranselnya. Dan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Allen lagi lagi duduk di tepi ranjang. Menghela nafas panjang. Sementara mukanya masih datar.
"Fiuhhh..., hadapin Dhezia lebih susah dari hadapin musuh!" kesalnya dalam hati.
Beberapa menit kemudian Dhezia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju tidur.
Dhezia berdiri sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, dan leher jenjang nya kembali terlihat.
Allen terpana melihatnya. Dhezia benar benar cantik. Meski tanpa polesan make up. Wajahnya yang oval, bulu lentik matanya, kulitnya yang sawo matang tapi manis, dan lehernya sangat jenjang.
Allen sebenarnya gugup melihat Dhezia seperti itu. Tapi ia berusaha menyembunyikannya dan tetap cool.
"Udah selesai?" tanya Allen datar.
"Iya, udah. Maaf nunggu lama," kata Dhezia.
"Gak lama kok," sahut Allen.
"Kamu mau minum apa? Diluar hujan. Kita nge grab aja ya? Gimana?" tawar Dhezia.
"Iya gapapa," sahut Allen yang masih berusaha terlihat santai. Padahal, pandangan matanya terus menerus terpana akan kecantikan gadis di depannya itu.
***
Bersambung...
Jangan lupa kasih ulasan ya gaes^^
__ADS_1