
Melihat Yovien yang tersenyum membuat Rea berkata, "andai saja aku punya kakak, pasti akan ada kenangan indah juga sepertimu."
"Tapi itu hanya kenangan masa kecil saja, dan kini kakakku membenciku," kata Yovien.
"Membencimu?" Rea bergidik curiga.
Dan Yovien hanya terdiam.
"Maksudku apa yang kamu lakukan sampai kakakmu membencimu?" heran Rea.
"Karena dulu kita pernah menyukai gadis bule yang sama," jawab Yovien singkat.
"Gadis bule?" tanya Rea meminta penjelasan lebih.
"Saat itu kami masih SMA. Papah dan mamah mengirim kami untuk bersekolah di bali, itu semacam pelatihan kepribadian yang dibuat orang tua kami sendiri agar kami dapat hidup mandiri. Hanya kami berdua, tanpa mamah dan papah," tutur Yovien.
"Terus?" sahut Rea.
"Kami dilatih agar mengerti kerasnya hidup di dunia. Betapa susahnya mencari uang. Kami tinggal di apartemen tetapi hanya dijatah 300rb saja selama satu bulan untuk biaya makan, keperluan sehari-hari dan uang jajan sekolah, mau mati saja rasanya," cerita Yovien.
"Lalu?" tanya Rea kembali.
"Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA dan kakakku kelas 2 SMA di bali. Aku sering menangis, setiap pulang sekolah aku menangis di apartemen karena lapar, aku tidak bisa memakan apa yang aku mau karena minimnya jatah yang diberikan orang tua kami. Sekolah harus jalan kaki, padahal saat SMP sering diantar jemput sopir pribadi kami. Aku masih tidak mengerti betapa kejamnya orang tua kami, setelah memperlakukan kami dengan manja tapi kemudian kami dituntut agar bisa menjalani kerasnya hidup," ujar Yovien.
"Masa lalu yang menarik," sahut Rea.
"Menarik apanya? Itu membuat hubungan kami renggang. Karena kita kekurangan uang itu, akhirnya setiap pulang sekolah kakakku bekerja di sebuah toko roti, Nicole bakery. Tapi aku hanya menangis lalu tertidur di apartemen
setiap pulang sekolah," jelas Yovien.
__ADS_1
"Oh berarti kakakmu membencimu bukan karena kalian menyukai perempuan yang sama tapi karena kamu malas!" cibir Rea.
"Bukaaaaan, dengerin dulu makanya," kesal Yovien. Tapi Yovien juga sebenarnya senang karena ada yang menjadi temannya bercerita.
"Setiap hari sabtu kakakku pulang ke apartemen dengan membawa uang, nasi goreng telur karena memang kakakku tidak bisa memakan daging, dan minuman cokelat panas yang enak. Aku sangat gembira setiap hari sabtu itu datang," ucap Yovien menceritakan kegembiraannya waktu itu.
"Eum..," kini Rea menatap Yovien. Mengagumi setiap kata yang didengarnya. Apalagi tentang Allen. Rea sudah lama mengagumi tetangga asramanya yang bernama Allen itu semenjak ayahnya pindah ke batalion di Semarang.
"Kemudian suatu waktu, saat itu hari sabtu juga. Kakakku pulang kerja dengan membawa makanan dan uang seperti biasanya. Saat itu untuk pertama kalinya, kakakku bercerita jika dia menyukai seseorang. Kak Allen mencintai anak pemilik toko roti tempat ia bekerja." Yovien melanjutkan ceritanya. Sementara Rea terdiam. Tampak sedikit rasa kecewa di raut wajahnya.
"Kau kecewa? Bukan maksudku membuatmu sakit hati ya, lagian kejadian itu sudah delapan tahun yang lalu," ucap Yovien.
"Tidak kok, lanjutkan saja. Aku tidak kecewa, hehe." Rea terkekeh kecil.
"Waktu itu Kak Allen bercerita jika perempuan itu berhidung mancung, berambut pirang dan berkulit putih," jelas Yovien.
"Oh anak pemilik toko roti itu bule, ya," sahut Rea.
"Lalu apa hubungannya denganmu?" tanya Rea.
"Suatu sore saat Kak Allen sedang bekerja, aku berjalan jalan ke kawasan sekitar apartemen kami. Kemudian aku disapa oleh seorang gadis bule cantik saat berada di taman dekat apartemenku. Tanpa disangka, tanpa pernah aku rencanakan semenjak saat itu aku dan gadis bule itu semakin dekat. Setiap sore aku dan dia bertemu. Aku menyukainya, aku mencintainya. Hanya dia dan Kak Allen semangatku saat aku berada di bali. Tanpa aku tahu, ternyata perempuan yang Kak Allen suka adalah perempuan yang sering kutemui setiap sore itu, Nicole."
jelas Yovien kemudian.
"Dan Allen tanpa sengaja memergokimu sedang berduaan dengannya?" tanya Rea langsung tanpa basa basi.
"Tepat sekali. Saat hari sabtu sore hari seperti biasanya, aku akan keluar bertemu dengan Rea. Dan Kak Allen akan pulang melewati taman dekat apartemen kami. Kak Allen saat itu juga membawa bungkus nasi goreng telur dan
cokelat hangat di tangannya. Dan sedihnya, dia melihatku ketika aku bertemu dengan Rea di teman itu. Seketika nasi goreng dan cokelat hangat yang berada di tangan kak Allen itu jatuh. Mungkin dia kaget saat mengetahui perempuan yang disukainya bersama dengan adiknya sendiri. Berduaan di taman," jelas Yovien.
__ADS_1
"Lelaki yang malang," sahut Rea.
"Setelah melihat kami, Kak Allen buru buru pergi tanpa sepatah kata pun. Di taman, aku menelfonnya berkali kali, tapi dia tak mengangkatnya. Saat itu aku masih belum tau salahku dimana. Hingga aku bertanya pada Nicole. Aku
menanyai Nicole apakah ia anak pemilik Nicole bakery atau bukan. Dan sedihnya perempuan yang aku cintai itu memang anak pemilik toko roti. Kami mencintai perempuan yang sama. Padahal, waktu itu Kak Allen sudah bercerita padaku, tapi kenapa aku malahan mendekati perempuan itu, tetapi aku memang benar benar tidak
tau saat itu," jelas Yovien panjang lebar kali tinggi. Dengan nada suara yang sedih.
"Iyaa kalo gitu klarifikasi aja sama kakak kamu kalo kamu gak tau jika itu perempuan yang kakak kamu suka," jawab Rea.
"Setelah di apartemen aku jelasin sama Kak Allen, tapi dia tak menjawab apapun, tapi perlahan dia mulai menjauhiku dan dingin terhadapku," sesal Yovien.
"Iya udah yang sabar ya, aku doain kalian hubungannya cepat baik kembali," ucap Rea.
"Tapi ini sudah delapan tahun, Rea. Sementara Kak Allen masih tampak acuh padaku," keluh Yovien.
Entah mengapa, setiap membicarakan kakaknya Yovien selalu berakhir sedih dan berlinang air mata. Sama seperti saat bersama Dhezia tadi. Yovien menundukkan kepalanya dan matanya berkaca kaca.
"Eh? Kamu menangis?" kaget Rea.
Dan Yovien masih saja menundukkan kepalanya. Sementara tubuhnya masih terduduk di sofa, disebelah Rea.
"Aku menyesal mendekati Nicole," kata Yovien dengan suara parau.
Dan Rea kini mengelus pundak Yovien sambil berkata," itu sudah berlalu..., sekarang kamu hanya perlu tetap bersikap baik dengan kakakmu,"
Dan Yovien tetap menunduk. Tanpa berkata apa-apa. Tanpa terasa sudah hampir jam dua belas malam Rea menunggu Yovien yang masih duduk dengan kepala tertunduk. Rasa kantuk kini sudah menjalari mata Rea. Hingga tanpa terasa, kepala Rea kini terjatuh di pundak sebelah kanan Yovien. Yovien yang awalnya menundukkan kepalanya, kini menoleh kearah Rea. Kemudian mengelus puncak kepala hingga ujung rambut gadis itu sekilas. Kemudian tersenyum, ada sedikit beban lega di hatinya karena telah bercerita pada Rea tentang kakaknya.
***
__ADS_1
Terimaksih. Jangan lupa kasih ulasan yaa^^.