Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
43. Permintaan Nyonya Clarista


__ADS_3

"Yovien..., bukan maksud mama gak mau datang ke penutupan pendidikan Allen sayang, saat itu mamah sudah bilang jika hari itu bertepatan dengan penandatanganan kontrak kerjasama perusahaaan kita. Ada tamu penting dari New York sayang, jadi mamah benar benar minta maaf gak bisa datang," ucap Nyonya Clarista penuh penyesalan.


"Harusnya kalo mamah gak bisa datang ke penutupan pendidikan Kak Allen ya gak udah datang ke penutupan pendidikan polisi Yovien, Mah! Menurut Kak Allen papah sama mamah tuh pilih kasih!" kata Yovien penuh penekanan.


"Maafkan mamah, sayang. Tolong jangan bahas itu sekarang ya, ada hal yang lebih penting, makanya mamah sampai kemari selarut ini," kata Nyonya Clarista.


"Ada apa?" tanya Yovien singkat.


"Kamu tidak menyuruh mamah masuk dulu?" tanya Nyonya Clarista pada putra bungsunya itu.


Yovien ingin menyuruh mamahnya masuk ke apartemennya. Tetapi, ia bingung karena ada Rea di di dalam sana. Yovien takut mamahnya salah paham atau semacamnya. Karena ada perempuan yang tidur di apartemennya selarut ini.


"Maaf, Mah. Kita bicara disini saja," jawab Yovien pada akhirnya.


"Yaudah, mamah langsung ke intinya saja ya, besok ada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pergantian direksi perusahaan kita. Papah sudah menyebar undangan rapat ini keseluruh tamu undangan termasuk para investor melalui Bursa Efek Indonesia (BEI),"


Sejenak Nyonya Clarista menghela nafas panjang. Kemudian melanjutkan perkataannya.


"Dan mamah harus menemui Allen malam ini, agar ia datang ke RUPS besok pagi jam sembilan. Papah dan mamah akan menobatkan kamu dan Allen sebagai CEO baru. Papah dan mamah juga akan menyerahkan sembilan puluh persen saham Xander Mall pada Allen dan sembilan puluh persen juga dari total lembaran saham Xander Food padamu," jelas Nyonya Clarista.


Sementara Yovien masih diam.


"Dengar, Dek. Ini kesempatan yang langka. Mamah tidak mau harus memperkerjakan orang lain untuk posisi CEO, sementara mamah mempunyai putra putra yang hebat, kamu mau kan membantu mamah menemui Allen malam ini?" tanya Nyonya Clarista penuh harap.


"Kak Allen gak ada di batalion, tadi Yovien sudah kesana," jawab Yovien pada mamahnya.


"Kalo gitu mamah boleh minta tolong sesuatu? Ehm kamu kan polisi. Pasti mudah jika mamah meminta tolong cari tau keberadaan kakak kamu kan?" ucap Nyonya Clarista sambil tersenyum.


"Yovien gak bisa, Mah! Tidak boleh mencari tahu jika tidak ada kasus atau semacamnya," tolak Yovien.


"Sayang, ayolah. Kali ini saja mamah minta tolong ya, mamah sudah jauh jauh larut malam kesini nemuin kamu," lirih Nyonya Clarista.


Dan Yovien tampak diam berpikir. Sebenarnya ia kasihan melihat mamahnya. Tetapi, disisi lain, ia juga takut jika saja Allen semakin membencinya. Hanya Allen satu satunya kakak yang Yovien punya.


"Aku mencarimu kemana mana." Tiba tiba terdengar suara yang sontak membuat Yovien dan Nyonya Clarista kaget.


Rea muncul dari dalam apartemen Yovien.

__ADS_1


"Kamu ngapain kesini?!" gugup Yovien akibat Rea yang tiba tiba muncul dan terlihat oleh Nyonya Clarista.


"Oh, mamah datang disaat yang tidak tepat ya," ucap Nyonya Clarista kemudian.


"Tidak, Mah! Ini tidak seperti yang mamah bayangkan, sungguh. Yovien tidak seperti itu," jelas Yovien pada Nyonya Clarista.


Dan Nyonya Clarista malahan tampak tersenyum, kemudian menyahut, " kamu benar benar sudah besar ya Yovien."


"Tidak mah, bukan seperti itu." Yovien masih saja menyangkal.


"Kamu melarang mamah masuk, karena ada perempuan ini di dalam kan?" tebak Nyonya Clarista sambil menaikkan satu alisnya.


"Tidak, Mah!" sangkal Yovien yang kini terlihat sedikit emosi karena malu. Kini wajahnya merah padam.


Sementara Rea masih mencoba memahami situasi yang ada.


"Kamu kenapa muncul, sih? Mau pulang sekarang, hah?!" tanya Yovien dengan emosi pada Rea.


"Kamu menyuruhku pulang sekarang? Yaudah aku pulang sekarang, makasih ya udah tolongin aku sewaktu pingsan tadi," ucap Tea bersiap akan meninggalkan Yovien dan Nyonya Clarista.


Akan tetapi, saat Rea akan melangkah pergi, Nyonya Clarista segera menahan pergelangan tangan Rea.


"Bukan tante," jawab Rea heran. Mengapa mamah Yovien menganggapnya sebagai pacar Yovien. Padahal mereka barusaja bertemu tadi.


"Oh, jadi kamu yang Yovien. Kamu sakit? Rumah kamu dimana? Biar tante antar kamu pulang sekarang, ya?" tawar Nyonya Clarista pada Rea yang masih terlihat pucat.


"Eum, saya tinggal di asrama batalion 1002 tante, tidak apa apa, saya pulang naik grab saja," jawab Rea.


"Batalion 1002 kan tempat Allen. Alangkah baiknya jika aku mengantar perempuan ini, siapa tau bisa menemui Allen disana," batin Nyonya Clarista.


"Tante antar kamu ya," tatapnya pada Rea. Berharap gadis itu mau diantar pulang olehnya.


"Meski mamah kesana, Kak Allen gak ada disana, Mah!" Seperti tahu apa yang dipikirakan mamahnya, Yovien segera menyela sebelum Rea menjawabnya.


"Biar Yovien yang mengantar Rea," lanjutnya lagi.


"Yovien..., tolong kali ini saja bantu mamah ya, tolong cari tahu dimana keberadaan Allen," lagi lagi Nyonya Clarista memohon pada Yovien.

__ADS_1


"Mamah tadi bertengkar dengan papah. Kamu pasti tidak mau kan jika terjadi apa apa dengan kami?" lirih Nyonya Clarista pada Yovien.


Begitu mendengar perkataan mamahnya, ada sedikit rasa sesak di dada Yovien. Ia menyayangi mamahnya, tapi ia juga sangat ingin berbaikan dengan Kakaknya. Akhirnya dengan berat hati, Yovien menuruti keinginan mamahnya.


"Yaudah silakan masuk, Mah. Yovien bantu carikan," ucapnya singkat. Kemudian masuk kembali ke apartemennya sambil menggandeng tangan Rea.


"Aku tidak jadi pulang?" heran Rea yang menyadari pergelangan tangannya di gandeng oleh Yovien kembali masuk ke apartemen.


"Besok pagi sekalian," jawab Yovien acuh.


"Heh?! Besok pagi? Jadi aku harus tidur disini lagi sampe pagi?" batin Rea dalam hati. Ia tak menjawab Yovien. Setelah Rea mengingat cerita Yovien dengan Kakaknya, Allen. Kini Rea sedikit tahu situasi Yovien. Sehingga ia tak ingin lagi berdebat dengan Yovien.


"Tunggu dulu disini mah," ucap Yovien yang berlalu ke kamarnya mengambil laptop.


Dan Nyonya Clarista kini duduk di sofa. Begitu juga Rea yang duduk di samping Nyonya Clarista.


Dan sesaat kemudian Yovien datang dengan membawa laptopnya. Lalu Yovien mulai mengotak atik laptop tersebut. Melacak keberadaan Allen.


"Tunggu sebentar ya, Mah." pinta Yovien.


"Iya sayang, mamah tunggu kok," jawab Nyonya Clarista.


"Rea, tolong ambilin minum di kulkas dekat dapur itu buat mamahku!" perintah Yovien pada Rea.


Dan Rea hanya mengangguk saja, meski sebenarnya belum tau dimana keberadaan tepat kulkas Yovien. Rea hanya bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti perintah yang diberikan Yovien tadi padanya.


"Ini tante, minumnya," Rea menyodorkan sebotol teh dingin pada Nyonya Clarista.


"Terimaksih. Kamu teman yang baik," ucap Nyonya Clarista sambil tersenyum.


"Ah iya, terimaksih tante atas pujiannya, tapi sebenarnya saya dan Yovien baru bertemu tadi tante," jelas Rea.


"Hah? Tadi? Baru bertemu tadi tapi Yovien langsung mengajak kamu tidur disini?" tanya Nyonya Clarista to the point.


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa kasih ulasan ya^^


__ADS_2