
Allen masih duduk di tepi ranjang. Ia masih saja terpana melihat kecantikan gadis di depannya itu. Dhezia barusaja mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang kini ditaruhnya sembarang diatas ranjang. Dhezia kini juga duduk di tepi ranjang, disebelah Allen. Sementara Allen tetap bersikap cool. Sok cuek dan pura pura acuh.
"Len...," panggil Dhezia.
"Hm?" jawabnya datar.
"Mau apa jadinya? Nasi goreng? Pizza?" Dhezia menyebutkan sederet makanan yang berada pada menu grabfood di ponselnya.
"Apa aja," jawabnya singkat.
"Ih, apa milih lah aku bingung nih, mau yang mana?"
Dhezia memperlihatkan sederet menu grabfood yang ada di ponselnya kearah Allen. Dan Allen hanya melihat sekilas.
"Milih kamu," jawabnya asal.
"Tau ah, orang lagi nanya juga jawabnya asal gitu, yaudah aku pesenin pizza aja ya, awas gak dimakan!" ketus Dhezia.
"Jangan! Gue alergi!" larang Allen.
"Hah? Alergi apaan? Pizza?" tanya Dhezia memastikan.
"Daging," jawab Allen singkat.
"Masa? Beneran? Kamu gabisa makan daging, Len?" sahut Dhezia setengah tidak percaya.
"Iya saya tidak bisa!" jawab Allen sewot. Hingga membuat Dhezia sedikit kaget. Baru kali ini ia dengar seorang tentara tidak bisa memakan daging.
"Yaudah kita makan nasi goreng telur aja ya, sama teh hangat, dingin nih," kata Dhezia pada akhirnya.
"Iya," jawab Allen singkat.
Kemudian diliriknya lelaki itu sekilas. Sepertinya sifat asli Allen memang sangat dingin. Tapi kenapa ia terlihat keren dimata Dhezia? Lelaki berhidung mancung. Kulitnya coklat eksotis. Rambut yang cepak, benar benar khas seorang
tentara.
Setelah sekilas memandang Allen. Dhezia kembali fokus pada layar ponselnya. Melanjutkan memesan nasi goreng pada aplikasi grabfood.
Dan Allen kini juga membuka ponselnya. Dilihatnya beberapa panggilan tak terjawab dari adiknya, Yovien. Kemudian Allen kembali mengirimi Yovien sebuah pesan singkat.
("Besok saya jaga, jadi gak bisa datang ke RUPS! Urus aja sendiri sama mamah!")
Kemudian Allen memencet tombol send.
Sesaat setelah ia mengirimi pesan itu, Yovien langsung menelfonnya. Tetapi lagi lagi Allen tak mengangkatnya. Ia malah meletakkan ponselnya diatas meja yang berada di sebelah ranjang hotel. Kemudian merebahkan dirinya di kasur. Tanpa peduli dengan tatapan heran Dhezia.
"Ada telfon tuh dari adik kamu, kok gak diangkat malahan di letakkan di meja?" ujar Dhezia yang melihat tulisan "adik" di layar ponsel Allen yang berdering diatas meja.
"Biarin aja," sahut Allen kesal.
"Kamu mau aku mengangkatnya untukmu?" tawar Dhezia.
__ADS_1
"Gak usah, Zia." jawab Allen datar.
"Yaudah kalo gitu, bentar lagi dateng ini nasi gorengnya, aku turun dulu ke lobi ya," pamit Dhezia.
"Iya," jawab Allen singkat. Ia masih saja terbaring di ranjang.
Dan Dhezia segera keluar dari kamarnya dan berlalu menuju lobi. Dhezia menunggu di depan pintu lobi dan sesaat kemudian ada grab yang datang mengantar
makanannya.
"Neng Dhezia Anastasya, ya?" tanya lelaki paruh baya yang sedang mengenakan jaket grab.
"Iya pak,"
"Ini neng, makanannya totalnya 70ribu," sebut pak grab sambil menyerahkan pesanan Dhezia.
"Ini pak," Dhezia menyodorkan uang selembar lima puluh ribuan dan selebar dua puluh ribuan.
"Makasih ya neng," ucap pak grab itu.
"Iya pak, sama sama," jawab Dhezia.
Kemudian Dhezia kembali menaiki lift dan masuk kembali ke kamarnya.
Tanpa disangka, lelaki yang dipesankan nasi goreng oleh Dhezia kini malahan tidur sambil tengkurap. Masih dengan memakai hoodie. Dhezia memperhatikanlelaki itu. Ujung celana bawah lututnya basah. Sepertinya terkena percikan air hujan tadi saat ia berlari mengejar Dhezia.
"Maafkan aku," gumam Dhezia sambil memegang kaki bagian bawah Allen. Lalu ia melinting keatas celana loreng Allen yang basah kearah lutut Allen. Sehingga kaki lelaki itu tidak kedinginan.
Dhezia kini memegang kaki Allen. Dan terasa dingin.
"Mungkin karena celana yang basah ini kaki Allen dingin," rabanya dengan penuh khawatir. Mau tidak mau ia harus membangunkan Allen.
"Len...," panggilnya pelan sambil sedikit mengguncangkan bahu pemuda itu.
"Hm?" jawab Allen.
"Bangun sebentar yuk, celana kamu basah ini kaki kamu dingin," kata Dhezia dengan nada yang penuh khawatir.
"Gapapa nanti juga kering," sahut Allen datar.
"Gapapa gimana kalo kami sampe sakit disini masuk angin gimana?" tindas Dhezia.
"Terus mau gimana? Lo juga gapunya celana cowok kan?" Kini Allen mulai membuka matanya dan berusaha bangun.
"Itu pakai aja selimut dulu sampe celananya kering!" ketus Dhezia.
"Selimut?!" tanya Allen meminta penjelasan lebih dari gadis di hadapannya itu.
"Iya, tutupin aja pakai selimut sampe kering celananya," saran Dhezia.
"Lo gila?!" umpat Allen.
__ADS_1
"Daripada masuk angin?! Lagian siapa yang mau liat, gak ada apa apa yang perlu diliat!" ketus Dhezia.
"Cewek gila! Cewek nyebelin!" umpat Allen dalam hati.
"Udah, nih..., kamu mau nurut sama aku atau aku usir dari sini?" ancam Dhezia.
Dan Allen segera menerima selimut yang disodorkan Dhezia padanya. Ia juga tidak rela jika harus pulang sekarang. Ia masih ingin bersama dengan Dhezia sampe hujan diluar sedikit mereda. Dikarenakan Allen juga tidak membawa jas hujan.
"Iya iya bawel banget lo," diterimanya selimut itu. Lalu Allen bergegas hendak ke kamar mandi untuk melepas celananya.
"Mau kemana kamu?" tanya Dhezia yang melihat Allen bangkit dari ranjang.
"Ke kamar mandi lah, Lo mau gue lepas celana disini?" ketus Allen.
"Gak!" sewot Dhezia.
Mendengar jawaban gadis itu yang sewot, Allen tersenyum smirk. Kemudian ia berlalu ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Allen keluar kamar mandi dengan mengenakan selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara bagian atas tubuhnya masih mengenakan hoodie.
"Mana celananya tadi yang basah?" tanya Dhezia sesaat setelah Allen keluar dari kamar mandi.
"Ini gue gantung disini," tunjuk Allen pada celana badannya yang ia gantung di kamar mandi.
"Lama ntar keringnya..., sini aja gantung di bawah AC, biar cepet kering..," ucap Dhezia sembari berjalan masuk menuju kamar mandi mengambil celana loreng milik Allen. Sementara Allen masih berdiri mengenakan selimut di
depan pintu kamar mandi.
Setelah mengambil celana loreng Allen, ia berjalan menuju bawah AC, berniat hendak menggantungkan celana Allen di dinding yang kebetulan ada paku yangtertancap di dinding itu.
"Kamu mau menggantungkannya disitu?" tanya Allen.
"Iyaa...," Jawab Dhezia sambil meloncat ingin menggantungkan celana Allen disana. Namun sialnya, dirinya tidak terlalu tinggi untuk menjangkau paku dinding itu. Allen yang melihat Dhezia meloncat itu refleks membantu Dhezia. Ia dengan segera menyahut celananya dari tangan Dhezia dan meloncat juga untuk menggantungkan celananya. Dan Allen berhasil menggantungkan celananya itu dengan sempurna dibawah AC. Allen berbalik kearah Dhezia hingga menyadari jika mata gadis itu terbelalak kaget. Selimut yang dikenakan Allen lepas! Hingga membuat ****** ***** berwarna hitam Allen terlihat oleh mata Dhezia.
"Hah?!" Dhezia syok dengan apa yang barusaja dilihatnya. Dan Dhezia refleks membalikkan badannya.
Allen juga kaget saat tiba tiba selimut yang dipakainya lepas ketika ia meloncat tadi. Benar benar memalukan.
"Ma-af," ujar Allen singkat. Menahan malu. Dan tetap bersikap sok cool.
"A-aku tidak melihat apapun! Sungguh!" jelas Dhezia dengan gugup.
"Jika kamu melihat juga tidak apa-apa," jawab Allen santai.
Kemudian ia membenarkan kembali selimutnya yang jatuh itu. Dan berjalan menuju ranjang. Allen duduk kembali di sisi ranjang. Tanpa memperdulikan Dhezia yang masih berdiri gugup.
***
Bersambung
Jangan lupa kasih ulasan yaa....^^
__ADS_1