
Dan Dhezia masih saja berdiri gugup.
"Ck! Harusnya tuh gue gak gugup, ngapain juga gue kek gini, yang
harusnya malu tuh Allen!" umpat Dhezia dalam hati.
Kemudian dilihatnya lelaki itu yang kini duduk di tepi ranjang dengan kaki yang juga berada diatas ranjang.
"Kok bisa ya santai kali tuh cowok!" maki Dhezia dalam hati.
"Lo mau berdiri aja disitu? Mana tadi nasi goreng saya?" tanya Allen.
"Heh?! Bisa bisanya nanyain nasi goreng," jawab Dhezia asal. Kemudian segera mengambil nasi goreng dan teh hangat yang tadi sudah dibelinya melalui aplikasi grabfood.
"Ini," Dhezia segera membuka dua bungkus nasi goreng itu. Kemudian ikut duduk di tepi ranjang. Didepan Allen.
Dan Allen segera memakan nasi goreng yang telah dibukakan Dhezia untuknya. Lahap sekali, dalam tiga menit nasi dan teh hangat itu telah habis.
"Hah?!" heran Dhezia.
Padahal Dhezia saja baru dapat dua suap dan Allen sudah habis duluan.
"Kenapa?" tanya Allen. Sepertinya ia tau jika Dhezia memperhatikannya.
"Apanya?" sahut Dhezia.
"Kamu perhatiin saya seperti itu,"
"Tuh kan, dia pakai saya saya lagi, berarti kalo Allen lagi kesel dia pakai panggilan saya saya?" Dhezia bertanya-tanya dalam hati.
"Eh, engga...nasi goreng kamu udah habis ya? Laper banget ya? Mau aku pesenin lagi?" tanya Dhezia hati-hati.
"Gausah, saya terbiasa aja makan dengan cepat. Tidak lambat-lambat!" jelas Allen.
"Oh, gitu," jawab Dhezia lesu.
"Bukan maksud saya menyindir kamu ya, tapi saya terbiasa saja. Bahkan saat pendidikan dulu saja sepuluh detik harus sudah selesai dan habis," jelas Allen kembali.
"Hah? Emang bisa?!" kaget Dhezia mendengar cerita dari Allen.
"Mau tidak mau harus bisa, bahkan setelah kami makan sepuluh detik tidak boleh minum dulu, push up dulu lima pukul kali baru minum," jelas Allen pada Dhezia.
"Hah?! Apa gak cegukan nanti?" Dhezia syok dengan cerita yang baru saja didengarnya. Apa ada pendidikan yang seperti itu?
"Kamu harus berhati hati saat makan agar tidak cegukan," jawab Allen datar.
"Jika mungkin itu aku, gabisa si kayaknya," sahut Dhezia.
Dan Allen hanya menjawab perkataan Dhezia dengan senyum yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
***
Dari dalam apartemennya, Yovien masih saja frustasi, mengenai apa yang harus dilakukannya terhadap gadis yang dipanggilnya hantu itu.
Ia menelfon kakaknya, Allen. Tetapi, sudah puluhan kali tak ada jawaban dari Allen. Usahanya itu tak membuahkan hasil. Akhirnya mau tidak mau ia tetap harus menjaga Rea setidaknya sampai gadis itu bangun.
Ditengoknya Rea kembali. Diulurkannya tangannya kearah dahi gadis itu. Diambilnya lap kompres air hangat yang awalnya ia letakkan disana. Kemudian Yovien menempelkan kembali telapak tangannya di dahi gadis itu.
"Bagus deh, udah hangat," gumamnya.
Dan sesaat setelah Yovien memeriksa keningnya, gadis itu membuka matanya.
"Apa yang kamu lakukan terhadapku?" tanya Rea dengan nada yang lemah.
Kini Rea berusaha bangun.
"Tidur aja, kan kamu sakit," ucap Yovien penuh perhatian.
Bukannya merasa nyaman, Rea malahan curiga dengan Yovien. Terlebih lagi Rea menyadari jika baju yang dipakainya kini sudah berganti.
"Tadi hujan, lalu...," Rea berusaha mengingat kejadian yang menimpanya.
"Kau! Apa yang kau lakukan saat aku pingsan tadi? Kau menyetubuhiku?" ketus Rea.
"Heh hantu! Aku sudah merawatmu dan kamu malahan menuduhku yang tidak tidak? Aku bahkan kini meninggalkan gadisku sendirian di Stasiun Tawang! Gara gara siapa? Kau! Kau tidak mau kerumah sakit saat aku berniat membawaku kesana, sehingga harus berakhir diapartemenku ini!" kesal Yovien dengan luapan emosinya.
"Maaf..," ucap Rea pada akhirnya.
"Iya aku minta maaf, tapi jangan memanggil hantu lagi, namaku Rea." ucapnya.
"Oh, kau punya nama? Kukira kau benar benar hantu," ledek Yovien.
Rea hanya diam tak bergeming.
"Kau sudah merasa baikan?" tanya Yovien. Ia sebenarnya kasihan melihat Rea.
"Iya, tenang saja. Ini biasa terjadi padaku saat aku sedikit kedinginan. Terutama dengan angin malam," jelas Rea.
"Oh, jadi kau tidak bisa kena angin malam? Itu semacam alergi?" Yovien tampak kepo.
"Itu kebiasaan, hihi," sahut Rea sambil tertawa.
"Jangan tertawa, kau membuatku takut!" maki Yovien..
"Tenang saja, aku manusia bang, bukan hantu," ucap Rea sambil tersenyum.
Dan Yovien sedikit lega setelah mendengar jawaban dan ulasan senyum dari Rea.
"Jadi kau tidak bisa kena angin malam terlalu lama ya? Kalo kakakku dia gak bisa makan daging, duku waktu kami kecil saat mendapatkan jatah makan siang dari sekolah, ia selalu mengasihkan dagingnya padaku," ucap Yovien
__ADS_1
bercerita pada Rea.
"Iya tidak bisa, aku punya riwayat hipotermia," jawab Rea.
"Nah kan tebakanku benar," sahut Yovien. Kini ia duduk di sofa, disamping Rea.
"Gak enak juga ya, gabisa keluar keluar malam dong berarti," sahut Yovien.
"Iya gabisa kalo lama. Kamu pasti sangat menyayangi kakak kamu ya? Kakak kamu perempuan?" tanya Rea.
"Iya sangat sayang aku sama kakakku. Laki laki dia, kamu pasti kenal sama dia. Namanya Allen. Tinggalnya tadi di asrama yang waktu aku gedor gedor pintunya dan kamu tiba tiba muncul bilang orangnya lagi di barak bujang. Tapi
aku tadi kesana gak ada orangnya kok, katanya lagi keluar," jawab Yovien panjang lebar.
"Oh mas Allen. Iya mas Allen ganteng si, Rea suka sama dia," ucap Rea santai.
"Kamu menyukai kakakku?" tanya Yovien setengah tidak percaya.
Dan Rea hanya mengangguk polos.
"Oke, nanti aku bilangin sama dia," sahut Yovien.
"Jangan!" cegah Rea.
"Kenapa? Kau mau mencintai dalam diam?haha," Yovien terkekeh.
"Bukan juga, nanti aja Rea yang ungkapin sendiri nanti, kalo udah siap," jawab Rea mantap sambil mengangguk.
"Dih! Emang siapnya kapan?" tanya Yovien sinis.
"Ya nanti, apa si nanyain Rea terus!" kesal Rea.
"Haha yaudah gak deh, pantes si kalo kamu suka sama Allen. Kakakku Allen itu memang baik. Dulu waktu sekolah setiap istirahat juga dia selalu mengantrikan minuman coklat kesukaanku di kantin. Aku menunggunya di kelas, dan
dia sangat telaten setiap hari setiap jam istirahat membawakanku minuman cokelat itu," ucap Yovien.
"Terus?" Rea tampak penasaran.
"Dia satu tingkat lebih tinggi dariku. Aku kelas satu smp dan dia kelas dua waktu itu. Dia rela turun ke lantai satu setiap jam istirahat untuk mengantar minuman cokelat itu dan memastikan jika aku baik baik saja," imbuh Yovien.
"Kakak yang baik," sahut Rea.
"Jika diluar sekolah, orang orang menyangka kami seumuran, tetapi itu tidak benar, aku dan kakakku selisih satu tahun, mungkin karena tinggi kita sama, jadi orang menyebutnya begitu," ungkap Yovien lagi.
"Ah begitu ya," jawab Rea.
Sementara kini Yovien tersenyum. Teringat akan masa masa bersama kakaknya dulu.
***
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa kasih ulasan ya^^