
"Lalu bagaimana sekarang? Besok pagi RUPS Luar Biasa pergantian direksi perusahaan akan dimulai jam 9 pagi mah. Sementara mamah masih tidak bisa menghubungi Yovien!!" ujar Tuan Xander dengan emosi.
"Masih ada waktu semalam, barangkali nanti nomornya aktif," sahut Nyonya Clarista.
"Jangan menunda lebih lama lagi, Mah! Ini sudah lewat tengah malam!! Dan kita sudah menyebar undangan RUPSLB ke Bursa Efek Indonesia (BEI)!! Bagaimana jika sampai besok anak anak itu masih tidak bisa di hubungi?!" panik Tuan Xander.
"Diam, Pah! Jangan membuat mamah tambah pusing! Daritadi papah hanya berbicara tanpa melakukan usaha apapun untuk menemukan mereka!!" bentak Nyonya Clarista pada suaminya.
"Aarghhh!!! Benar benar anak anak tak tau di untung!!" Tuan Xander membanting keras stopmap berisi catatan daftar pemegang saham yang dipegangnya itu ke lantai.
"Stop, Pah! Jangan menyalahkan mereka! Siapa yang membuat mereka sampai seperti ini? Papah! Papah yang membuat mereka hidup mandiri di Bali delapan tahun silam dan berakhir seperti ini!! Anak emas kita Allen yang pintar awalnya penurut berubah seenaknya sendiri!! dan Yovien? Anak manja pintar itu juga kini
dapat hidup mandiri! Karena siapa? Papah yang membuat mereka seperti ini!! Jadi jangan salahkan mereka kalo memilih jalan hidupnya sendiri!!!" umpat Nyonya Clarista kasar pada suaminya.
"Papah tidak tau apa yang menjadikan mereka sampai berbuat sejauh ini, Mah!! Dan sekarang mamah mendukung mereka? Maksud mamah biar perusahaan yang papah bangun puluhan tahun ini hancur bergitu saja karna tak memiliki pewaris?!" murka Tuan Xander.
"Stop! Pah! Mamah bilang stop! Papah marah pun tak akan langsung bisa merubah keputusan mereka! Semua butuh waktu, Pah! Kita harus buat mereka sadar! Kalo perusahaaanlah yang lebih penting dibanding profesi mereka!" Nyonya Clarista berusaha meredam amarah suaminya.
"Papah akan mengirim orang ke batalion Allen dan ke apartemen Yovien untuk menjemput paksa mereka," ujar Tuan Xander pada akhirnya.
"Mamah tidak yakin orang suruhan papah bisa masuk ke batalion Allen. Meski dari Xander Group, karena Allen didalam sana di lindungi oleh orang orang batalion, Pah!" ujar Nyonya Clarista menanggapi keputusan suaminya.
Sementara Tuan Xander tampak diam berpikir.
"Jika Allen sudah bilang tak mau bertemu apalagi di jemput paksa oleh orang suruhan papah itu yang ada nanti malahan orang suruhan papah itu yang habis ditangan mereka! Menjemput paksa Allen gak segampang yang papah bayangin!" cerocos Nyonya Clarista sambil terus memencet mencet ponselnya
menghubungi nomor Yovien.
PRAKKKK!!!
__ADS_1
Sementara Tuan Xander langsung merebut paksa ponsel yang dipegang istrinya itu dan membantingnya keras ke lantai.
"Tidak ada gunanya menelfon anak bungsu mamah itu terus terusan! Tidak ada cara lain! Selain dijemput paksa!!" murka Tuan Xander.
"Pah! Papah benar benar tidak pernah memahami mereka sedikitpun!" umpat Nyonya Clarista pada suaminya yang kini masih meluap luap amarahnya.
Sementara tanpa terasa air mata menetes di pipi Nyonya Clarista. Ia capek dengan akan suaminya yang tak pernah bisa mengontrol emosinya. Dan perasaan Nyonya Clarista benar benar sangat kacau dan buruk sekarang. Semenjak kedua putranya memilih jalan hidupnya masih masing, ia merasa kesepian. Setiap hari, ia hanya melewati hari harinya dengan bekerja mengurus perusahaan lalu pulang.
Padahal, dulu ketika Yovien dan Allen masih bersamanya, anak anaknya itu selalu bercerita tentang hari hari mereka di sekolah. Yovien yang manja sering merengek meminta hadiah saat ia berhasil mendapatkan peringkat tiga besar.
Sementara Allen yang selalu peringkat satu paralel juga pasti ikut mendapatkan hadiah darinya. Nyonya Clarista benar benar merindukan kedua putranya. Nyonya Clarista berharap Yovien dan Allen kembali seperti dulu, selalu patuh dan menurut padanya.
"Biar mamah pergi ke apartemen Yovien malam ini," lirih Nyonya Clarista pada Tuan Xander.
Namun, seperti tak mendengarkan perkataan Nyonya Clarista, Tuan Xander malahan berlalu kedalam rumah meninggalkan istrinya yang masih menangis di lobi rumah yang seperti istana itu.
***
matanya masih menetes, ia segera mengusapnya.
"Allen..Yovien...,maafin mamah sayang..," gumamnya sambil terus menyetir di jalanan yang basah akibat hujan yang terus mengguyur setiap sudut Kota Semarang. Jalanan terlihat lenggang. Akhirnya setelah menyetir hampir
kurang lebih setengah jam, Nyonya Clarista sampai di apartemen Yovien yang berada di dekat Restoran Xander Japanesse Food miliknya.
Kini Nyonya Clarista telah memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen Yovien. Kemduian dia keluar dari mobil mewahnya itu dan segera menaiki lift menuju apartemen Yovien.
***
Ting tong...! Ting tong....!
__ADS_1
Bunyi bel apartemen Yovien yang terdengar nyaring. Menandakan ada yang memencetnya bel itu dari luar. Akibatnya, kini Yovien terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Rea yang duduk disampingnya. Masih tertidur pulas dengan kepala masih menyandar di bahunya. Pelan pelan Yovien menggerakkan badannya, kemduian memindahkan dengan halus kepala Rea ke sandaran sofa. Yovien berhati hati agar Rea tak terbangun.
Setelah menyandarkan kepala Rea ke sofa, ia berjalan menuju monitor kamera cctv yang berada di samping pintu apartemennya. Dilihatnya dari monitor cctv itu siapa yang datang larut malam seperti ini.
Dan betapa kaget Yovien, ketika ia mengetahui jika mamah nya lah yang datang ke apartemennya.
"Hah? Mamah ngapain kesini malam malam gini?" batinnya dalam hati.
Ting tong! Ting Tong...!
Sementara Nyonya Clarista terus saja memencet bel itu, akibatnya bel itu terus saja berbunyi. Karena khawatir akan membangunkan Rea, dengan cepat Yovien membukakan pintu apartemen itu.
"Syukurlah, kamu ada disini," ucap Nyonya Clarista sambil tersenyum kearah putra bungsunya itu.
"Ada apa mah kesini malam malam?" tanya Yovien to the point pada Nyonya Clarista.
Nyonya Clarista kembali tersenyum dan menatap hangat putra bungsunya itu. Ia sangat bersyukur bisa menemui Yovien malam ini. Setidaknya, Yovien masih mau bertemu dengannya.
"Boleh mamah memelukmu sebentar?" tanya Nyonya Clarista.
Dan tanpa menunggu persetujuan Yovien, Nyonya Clarista langsung memeluk Yovien erat.
"Maafkan mamah, dek. Mamah tidak tau apa yang terjadi pada kalian ketika di bali. Semenjak kamu dan Allen pulang dari bali, hubungan kalian sepertinya tidak baik baik saja. Hubungan kalian sama mamah dan papah juga
tidak baik baik saja. Saat kembali ke Semarang selama dua tahun di kota ini kalian tidak berkata apa apa. Dan Allen test tentara dan kamu test polisi tanpa sepengetahuan mamah," curhat Nyonya Clarista panjanh lebar.
"Setidaknya Kak Allen dan aku masih mengabari mamah ketika kami upacara penutupan pendidikan. Tapi mamah tidak datang ke upacara penutupan pendidikan Kak Allen!" jawab Yovien penuh penekanan. Dan kini Yovien melepaskan pelukan mamahnya.
***
__ADS_1
Bersambung^^
Jangan lupa kasih ulasan ya gaes.