
"Benarkah begitu?" lirih Nyonya Clarista seakan akan tidak percaya. Mengapa jika hanya masalah kemandirian bisa sampai mengubah Allen sampai seperti ini. Padahal, dulunya Allen anak yang penyayang dan penuh
perhatian ke siapapun, tak terkecuali ke Tuan Xander, Nyonya Clarista, dan Yovien.
"Iya, Mah. Sekatang kita pulang saja ya, Mah. Sudah larut malam. Yovien antar sekarang," ujar Yovien dengan nada sedihnya.
Dan Nyonya Clarista mengangguk lemah. Akhirnya Yovien melajukan mobil mewah mamahnya meninggalkan parkiran Hotel Bonita.
***
Lebih dari dua puluh menit Yovien menyetir, kini mobilnya telah memasuki gerbang rumah mewahnya. Dalam perjalanannya tadi, tak ada suara sedikitpun. Baik Nyonya Clarista maupun Yovien saling diam. Sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
"Ini mobilnya biar disini aja, Mah. Yovien kembali ke apartemen naik taxi aja," ujar Yovien pada Nyonya Clarista.
"Kamu tidur dirumah saja ya, sayang," pinta Nyonya Clarista pada Yovien.
"Tidak, Mah." tolak Yovien. Jika ia tidur di rumah itu, ia akan teringat semua kenangannya bersama Allen. Di setiap sudut rumah itu, semua bayangan ia dan kakaknya tergambar jelas di ingatannya.
"Ini sudah larut malam, sayang. Mamah khawatir jika kamu kembali ke apartemen sendirian," ungkap Nyonya Clarista yang masih selalu saja menganggap Yovien anak kecil.
"Mah! Yovien sudah besar, dan terlebih lagi, Yovien polisi sekarang! Bukan Yovien kecil yang manja lagi," kekeh Yovien.
Nyonya Clarista tampak mengusap pelipisnya sekilas, ia benar- benar frustasi dengan kedua putranya.
"Yasudah, terserah kamu. Mamah pusing, besok jangan lupa datang ke RUPS di Gedung Xander Group jam sembilan pagi, jangan telat ya," pinta Nyonya Clarista."Yovien gak bisa datang besok, Mah. Maaf, jika Kak Allen bersedia datang, maka Yovien akan datang juga, tetapi Kak Allen besok jelas tidak akan datang, bukan?"
"Kamu tau sendiri bagaimana reaksi Allen tadi!" ketus Nyonya Clarista.
"Yasudah bearti Yovien juga tidak akan datang," sahutnya enteng. Kemudian melenggang pergi dari hadapan mamahnya.
Dengan kesal dan frustasi Nyonya Clarista juga berjalan memasuki rumahnya. ia benar- benar tak habis pikir dengan kedua putranya. Terlebih lagi, usahanya malam ini sia- sia.
***
Yovien telah berjalan keluar gerbang rumah megah itu. Dikeluarkannya ponselnya, kemudian memesan taxi online. Diketiknya tujuan perjalanannya dalam aplikasi itu.
(Mau kemana anda? Apartemen Hayam Wuruk)
Tulisnya pada aplikasi itu. Akan tetapi, Yovien tampak berpikir sejenak. Ia teringat dengan gadis yang ditemuinya pagi tadi dalam perjalanannya dari Kota Kudus ke Kota Semarang. Dhezia.
__ADS_1
Kemudian dihapusnya kembali tulisan tempat tujuannya itu.
(Mau kemana anda? Hotel Bonita)
Dan Yovien langsung memencet tombol search. Dalam hitungan detik, ia langsung mendapatkan taxi online yang siap mengantarkannya. Beberapa menit, ditunggunya taxi itu datang menjemputnya, dan akhirnya mobil ayla berwarna putih yang siap mengantarkannya itu berhenti tepat di depan ia berdiri. Yovien pun segera memasuki mobil tersebut.
"Hotel Bonita ya pak, sesuai titik," ujarnya pada pengemudi taxi online itu.
"Baik mas,"
Sang pengemudi segera melajukan mobilnya menuju tempat tujuan yang disebutkan Yovien.
***
Sementara disisi lain, Allen masih melajukan motor sportnya secepat kilat. Tidak peduli meski ia masih mengenakan celana lorengnya. Beruntung saja, bagian atas pakaiannya dibaluti dengan hoodienya yang tebal. Sehingga tak terlihat seragam atasnya, dan setidaknya ia dapat terlindung dari dinginnya udara malam di Kota Semarang.
Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit, Allen telah sampai di depan asramanya. Ia kemudian melepas sepatu yang dikenakannya, dan segera memasuki asramanya. Direbahkannya dirinya di kasur dengan kasar.
"Arghh!!!" pekiknya sembari mengepalkan tangan kanannya dan memukul keras kasur yang tengah ia tiduri itu dengan posisi berbaring. Allen benar benar kesal sekarang. Tubuhnya juga benar benar capek. Terlebih lagi
hatinya juga demikian. Dan sebentar lagi, ia juga akan melakukan kegiatan rutin patroli keliling batalion, karena malam ini emang giliran Allen dan Rigel.
Diliriknya sekilas jam dinding yang berada di sudut kamarnya. Pukul dua lebih empat puluh lima menit. Itu berarti, sebentar lagi ia harus bergegas menjalankan patroli.
Kemudian Allen segera melepas Hoodie yang dipakainya, merapikan seragamnya, dan memakai baretnya. Setelah itu, ia tampak memakai sepatu pdl hitam dan keluar dari asramanya. Ia berjalan menuju asrama Rigel.
***
Di Asrama Rigel.
Tok!
Baru saja Allen mengetuk dengan satu kali ketukan, si pemilik asrama sudah membukakan pintu. Tampak Rigel yang mengenakan seragam loreng lengkap dengan sepatu pdl dan baretnya, telah bersiap juga akan berpatroli malam itu bersama Allen.
"Udah balik Len?" tanya Rigel spontan.
"Udah, barusan," sahut Allen.
"Darimana emang?" tanya Rigel.
__ADS_1
"Kepo aja lo, udah ayok," ajak Allen pada Rigel untuk segera menjalankan tugas mereka, berpatroli keliling batalion.
"Heleh palingan juga ketemu betina kan?" umpat Rigel. Kemudian segera berjalan mendahului Allen.
"Lo kira ayam!" ketus Allen. Dengan kesal spontan menendang pantat Rigel.
DUMMMM!!!
Dan Rigel gantian menendang pantat Allen dengan tertawa.
DUMMM!! DUMMM!!!
Mereka pun saling membalas tindakan konyol mereka sambil tertawa. Begitu seterusnya. Hingga beban di pikirannya dapat sedikit berkurang, karena Rigel yang menghiburnya.
"Barangkali memang benar, kadang kita membutuhkan seorang teman yang dapat dengan tulus mengerti keadaan kita, bahkan tingkah konyolnya saja dapat membuat kita tertawa," ucap Allen dalam hatinya di sela sela kekonyolan
mereka.
***
Dalam perjalanannya ke Hotel Bonita, Yovien terus saja memikirkan Dhezia. Ia tampak diam dan memandang kearah jendela di kursi penumpang. Hingga taxi itu melewati sederet toko bunga yang buka dua puluh empat jam. Seketika terpikir olehnya ingin memberikan bunga pada Dhezia. Untuk mengatasi rasa bersalahnya, karena sudah meninggalkan Dhezia sendirian di Stasiun Tawang.
"Pak pak, tolong berhenti sebentar boleh? Saya mau beli bunga," ujarnya pada pengemudi taxi online.
"Boleh," jawab sopir taxi online itu. Kemudian segera menepikan mobilnya dan berhenti bahu jalan.
"Tunggu sebentar ya, Pak," ujar Yovien. Kemduian turun dari taxi itu dan berjalan ke salah satu toko bunga yang berderet di pinggir jalan itu.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" tanya si penjaga toko bunga.
"Tolong berikan aku buket bunga aster, ada?" sahut Yovien.
"Baiklah, silahkan duduk terlebih dahulu, kami akan membuatkan buket bunga asternya," kata si penjaga toko bunga.
Dan Yovien segera duduk di kursi tunggu toko bunga itu. Tak lama kemudian, si penjaga toko itu datang dengan membawa sebuket bunga Aster.
"Ini pesanannya mas, totalnya delapan puluh ribu rupiah," ujar si penjaga toko menyebutkan nominal.
"Baik ini," Yovien menyodorkan uang selembar lima puluh ribuan, selembar dua puluh ribuan, dan sepuluh ribuan.
__ADS_1
***
Bersambung...