Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
44. Melacak Keberadaan Allen


__ADS_3

"Sudah bilang bukan gitu, Mah!" umpat Yovien sambil fokus ke layar laptop nya.


"Mamah gak tanya sama kamu, Yovien. Kamu kerjain aja apa yang mamah minta," sahut Nyonya Clarista ketus.


"Eh, gini tante, tadi tuh waktu---" Belum sempat Rea menjawab pertanyaan Nyonya Clarista. Yovien buru buru menyelanya.


"Udah selesai, Mah! Ini mamah lihat peta ini, Kak Allen disini," tunjuknya ke monitor laptop.


"Disini disini dimana? Mamah mana ngerti baca peta!" kesal Nyonya Clarista.


"Ini mah disini," Yovien memperbesar peta itu. Menunjukkan titik letak keberadaan Allen.


"Loh, eh?! Ngapain Kak Allen di Hotel Bonita ya, Zia zia kan juga menginap disana," gumam Yovien.


"Kamu ngomong apa sayang?" tanya Nyonya Clarista kurang jelas mendengar Yovien bergumam barusan.


"Eh, engga Mah. Kak Allen di Hotel Bonita mah, dekat kawasan Kota Lama," jelas Yovien.


"Kamu tau tempatnya? Tolong antar mamah kesana," pinta Nyonya Clarista pada Yovien.


"Kalo aku kesana sekarang, sekalian bisa temuin Rere kan. Tapi gimana Rea? Ah, anterin aja pulang ke asramanya baru nganter mamah ke Hotel Bonita," pikir Yovien dalam hati.


"Gimana sayang?" tanya Nyonya Clarista lagi.


"Oke mah, Yovien anterin. Tapi kita nganter Rea pulang dulu ya," kata Yovien pada akhirnya.


***


Mereka bertiga pun segera keluar dari apartemen dan menaiki lift menuju parkiran mobil yang berada di lantai paling dasar bangunan itu.


"Biar Yovien yang nyetir aja, Mah." ujar Yovien menepis tangan mamahnya ketika akan masuk ke kursi kemudi.


"Oh oke," Nyonya Clarista menuruti saja kemauan Yovien. Ia kemudian duduk di kursi depan sebelah kiri. Disamping Yovien. Sementara Rea duduk di kursi belakang.


Yovien segera melajukan mobil Nyonya Clarista itu dengan kecepatan tinggi.


"Pelan pelan aja sayang," pinta Nyonya Clarista.


"Biar cepet sampe, Mah!" sahut Yovien. Bukannya mengurangi kecepatan mobil yang dikendarainya, Yovien malahan menambah laju kecepatan mobil itu sampai seratus empat puluh km per jam. Ia terlalu bersemangat, karena ia berpikir Dhezia juga berada di Hotel Bonita. Yovien akan menemui gadis cantik itu lagi setelah meninggalkannya sendirian di Stasiun Tawang sore tadi.


"Iya tapi ini membahayakan keselamatan kita, bagaimana kalo kita dikejar polisi?!" pekik Nyonya Clarista mulai panik.


"Mamah lupa aku juga polisi sekarang, Mah? Jangan menganggapku seperti Yovien kecil yang manja lagi," kesal Yovien.

__ADS_1


"Oh iya maaf sayang," sesal Nyonya Clarista.


***


Dan mobil itu terus melaju dengan cepat. Hingga sampailah mereka di depan batalion  1002.


"Rea, kamu turun disini aja ya," ucap Yovien menyuruh Rea turun di depan pintu gerbang asrama batalion itu.


"Oh, iya. Makasih udah tolongin aku tadi," ucapnya. Yovien mengangguk pelan. Kemudian Rea keluar dari mobil itu dan tampak berjalan masuk gerbang Batalion 1002.


Nyonya Clarista mengamati kepergian Rea dari dalam mobilnya.


"Teman kamu itu tinggal didalam sana? Memangnya boleh? Punya rumah di dalam sama atau bagaimana? " heran Nyonya Clarista.


"Mamah bertanya karena benar benar tidak tau?" heran Yovien dengan pertanyaan receh mamahnya.


"Apa kamu bertanya saat sudah mengetahui jawabannya?" kesal Nyonya Clarista pada putranya.


"Hahaha, maaf mah," Yovien terkekeh mendengar mamahnya kesal. Kemduian melanjutkan," iya, di dalam sana itu ada semacam asrama. Kayak perumahan gitu warnanya hijau semua. Bisa tinggal di dalam sana kalo orang


tuanya atau orang yang mengasuhnya tentara yang dinas di batalion itu, gitu biasanya, Mah."


"Jadi maksud kamu, orang tuanya temen kamu tadi atau yang mengasuh teman kamu itu seorang tentara? Begitu?"


"Yap, betul, Mamah pinter juga ternyata," puji Yovien pada Nyonya Clarista.


"Hahaha," jawab Yovien terkekeh.


Dan ia terus melajukan mobilnya menuju Kawasan Kota Lama Semarang. Tepatnya ke Hotel Bonita.


***


Dalam kamar hotel, Allen masih memeluk Dhezia yang kini telah tertidur pulas diatas ranjang.


"Apa Anastasya sudah tidur?" batin Allen dalam hati. Dilihatnya lekat lekat wajah gadis yang tengah dipeluknya itu.


"Lo cantik banget meski lagi tidur, gue tinggal sekatang gapapa kan? Lo disini baik baik ya, ntar gue telfon, gue ada patroli soalnya jam tiga pagi nanti," gumam Allen sambil membela rambut Dhezia.


"Lo mau ngapain?" ketus si pemilik rambut yang tiba tiba terbangun dari tidurnya.


Dan Allen buru buru menyingkirkan tangannya yang awalnya membelai rambut Dhezia.


"Gak ngapa ngapain, Zia! Mau pamit pulang sekarang, ntar jam tiga soalnya ada patroli keliling batalion, kasian Rigel kalo sendirian," jelas Allen.

__ADS_1


"Oh," sahut Dhezia. Kemduian Dhezia beranjak bangun dan berniat mengambil celana Allen yang tadinya di gantung dibawah AC kamar hotel itu.


Dan Allen buru buru menyusul Dhezia.


"Biar gue aja yang ngambil," selanya ketika Dhezia akan meloncat mengambil celana loreng itu.


"Oke, tapi jangan jatuh lagi ya selimutnya," ingat Dhezia.


"Hahaha," sahut Allen terkekeh.


Dan akhirnya Allen mengambil celana loreng nya yang telah kering itu, kemudian mengenakannya.


"Yakin bakal kembali larut malam gini? Ini setengah dua malam loh, Len."


"Gue kan cowok, lagian ini Semarang, Dhezia Anastasya. Saat survival dulu aja bahkan pukul setengah dua malam seperti ini gue masih jalan menyusuri hutan," jelas Allen pada Dhezia, agar tidak mengkhawatirkannya.


"Iya udah, kalo gitu hati hati dijalan ya," pesan Dhezia pada Allen. Ia membukakan pintu kamar hotel itu.


"Lo juga baik baik disini, ntar sampai batalion gue telfon," kata Allen.


Muuach!


Allen mencium bibir Dhezia sekilas. Sementara Dhezia sontak kaget dengan apa yang dilakukan Allen padanya barusan.


"Yakk!! Katanya kamu meminta izin dulu ketika akan melakukannya, tapi apa? Ini barusan nyatanya langsung main cium cium aja kek gak punya dosa!!" cerocos Dhezia yang langsung di bungkam oleh Allen dengan ciuman


di bibirnya kembali.


"Eumm..," ***** Allen sembari memejamkan matanya. Tangan kanannya kini menahan tengkuk Dhezia. Sementara tangan kirinya memeluk erat pinggul Dhezia.


Dhezia kaget seketika, ia meronta ronta. Nyaris saja tubuh Dhezia membentur pintu kamar hotel itu karena perlakuan Allen. Untung saja, Allen segera menahan tubuhnya, dan kembali memeluknya erat.


"Le-le-pas-ahh," rancaunya di sela sela ciuman Allen.


Namun, Allen masih enggan melepaskan bibirnya. Hingga berapa menit lamanya Dhezia meronta dan Allen terus saja menciumnya.  Dhezia kini telah kehabisan tenaga dan nafas. Dan kini, air mata kembali menitik di pipinya. Mengapa Allen memperlakukannya seperti ini lagi?


"Bukannya ia telah berjanji, akan meminta izin padaku dahulu? Apa karena ponsel itu lagi?" pekik Dhezia dalam hati.


Allen bahkan belum pernah menyatakan perasaan pada Dhezia.


"Sebenarnya kamu tuh menganggap aku apa sih, Len?" Kini hatinya kembali terluka.


***

__ADS_1


Bersambung ^^


Jangan lupa kasih ulasan ya gaes^^


__ADS_2