Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
24. Kota Lama Semarang


__ADS_3

Setelah percakapannya dengan Yovien barusan, Dhezia masih saja terdiam melihat keluar jendela. Menikmati suasana Kota Semarang. Yovien melirik gadis di sebelahnya itu.


"Mikir apalagi, Zia?"


"Oh, Engga Vien. Kita sampai mana? Bisa lewat Kota Lama ngga? Aku pengen kesana," pinta Dhezia.


"Kota Lama?"


"Iya, sudah lewat ya?" tanya Dhezia.


"Oh belum, sebentar lagi lewat Kota Lama, kamu pengen kesana dulu, Zia?"


"Iya kalo boleh." Dhezia menjawab, kemudian tersenyum kearah Yovien.


Yovien yang melirik gadis di sampingnya tersenyum itu sontak memalingkan wajahnya kearah kemudi mobilnya kembali, " manis sekali," batinnya.


"Oke kita kesana dulu," jawab Yovien pada akhirnya.


Padahal sebenarnya jalan menuju Kota Lama sudah kelewat jauh, tetapi tidak apa- apa. Demi Dhezia, Yovien rela memutarbalikkan mobilnya kearah Kota Lama.


"Terimaksih Yovien." Dhezia tersenyum kembali.


"Iya iya, biasa aja si gausah senyum senyum gitu," tegur Yovien sembari pura pura fokus menyetir.


"Loh, yang senyum aku kenapa kau yang sewot, Vien?"


"Iya ya, haha, sorry Zia."


"Ih, ga jelas Yovien ih," gerutu Dhezia.


"Udah gausah ngomel ngomel, sabuk pengamannya pakai, Zia!" perintah Yovien.


"Oh, iya. Kok baru ngingetin sih, Vien?" Dhezia mengingat cara memakai sabuk pengaman mobil sport yang ia tonton di drama korea, tetapi sialnya ia masih saja tidak bisa, padahal sudah sesuai prosedur, sabuk di tarik


lalu di kaitkan.


"Gini, lalu gini.., tapi kok gabisa? Duh gimana nih, pasti gue keliatan bego di depan Yovien," pekiknya dalam hati.


Melihat reaksi Dhezia, Yovien dengan sigap menepikan mobil sport nya kearah pinggir. Lalu mendekatkan dirinya kearah Dhezia, kemudian memasangkan sabuk pengaman itu.


"Gini caranya, tuan puteri, hahaha," kata Yovien.


Bukannya berterimakasih, Dhezia malahan memukul lengan atas Yovien dengan keras.


"Arrggghhhh!!! Sakit Zia!" ucap Yovien sambil mengelus elus lengannya.


"Kamu ngerjain aku kan, Vien?" tindas Dhezia, kemudian mengerucutkan bibirnya.


"Idiii, imut sekali ini anak," puji Yovien sambil mencubit pipi kanan Dhezia.


"Aaww.. udah ayok, Vien. Gausah modus," omel Dhezia.


"Ih siapa juga yang modusin kamu, Zia." gerutu Yovien. Kemudian menginjak pedal gas dan melajukan mobil sportnya kembali.


"Ya siapa lagi? Disini gak ada orang selain kamu, Vien." cerocos Dhezia.


"Udah diem bawal ih kamu Zia!"


"Kamu yang harusnya diem, Vien. Karena lagi nyetir,"


"Yaudah kalo gitu kamu aja yang nyetir, Zia."


"Kamu gila? Pasang sabuk pengaman aja gabisa, disuruh nyetir," umpat Dhezia.

__ADS_1


"Hahahaa..., iya ya bisa bisa buat jalan baru ntar," ejek Yovien.


"Ih..," sinis Dhezia.


Beberapa menit kemudian, setelah perdebatan mereka sampailah di Kawasan Kota Lama Semarang. Yovien memarkirkan mobilnya. Begitu mobil berhenti, Dhezia langsung turun. Mengamati bangunan bangunan yang ada di Kota Lama. Dhezia membentangkan tangannnya, mendongakkan kepalanya keatas sambil memejamkan mata. Menghirup udara dalam dalam dan menghembuskannya.


Sementara, Yovien hanya menatap heran tingkah Dhezia.


"Ngapain sih kesini, Zia? Disini tuh bagusnya kalo malem," omel Yovien.


"Yaudah kita disini aja sampe malem, Vien." jawab Dhezia asal.


"Kamu gila, Zia? Katanya mau daftar kampus," protes Yovien.


"Ini kan minggu, Vien. Lagian daftar online kayaknya bisa, deh. Kan kata kamu Cyber University of Indonesia," jelas Dhezia.


Entah apa yang dipikirkan Yovien sampai ia lupa kalo hari ini tanggal merah,


"Ups! Sorry, Zia. Biasanya aku gak pernah libur kerja si, palingan kalo ada


cuti aja baru libur,"


"Cuti? Perlu cuti juga kah untuk seorang pengusaha?"


"Hah?"


"Kamu kan anak pemilik restoran," jelas Dhezia.


"Gak cuma restoran aja, Zia. Papah dan Mamah juga punya Xander Mall, haha." Yovien menjelaskan dengan santai.


"Xander Mall? Sepertinya tidak asing," gumam Dhezia.


Dhezia langsung teringat dengan Allen. Saat Allen menyelamatkannya dari Pak Lurah malam itu, Allen juga berkata bahwa ia pewaris utama Xander Grup. Tetapi, Dhezia buru- buru menyangkal dugannya. Tidak mungkin kan Yovien dan Allen saling mengenal. Mungkin saja nama Xander ada banyak.


"Oh, engga, Vien. Ayok kita kesana," ajak Dhezia menyusuri Kawasan Kota Lama. Yovien hanya mengikuti langkah Dhezia.


"Disini seperti di Luar Negeri kan, Vien?"


"Iya, mirip di Belanda."


"Betul sekali, Kawasan Kota Lama ini dulunya sering disebut Outstandt. Nah jalan ini yang dulunya berfungsi untuk mempercepat jalur perhubungan antara ketiga pintu gerbang. Sementara jalan utamanya dulunya bernama Heeren Straat, yang saat ini bernama Jalan Letjen Suprapto," jelas Dhezia sambil berjalan menuyusuri Kawasan Kota Lama itu. Yovien hanya menatap heran sambil berjalan mengikuti gadis di depannya itu.


"Kamu tau, Vien?" Kini Dhezia membalikkan tubuhnya menghadap Yovien yang berjalan di belakangnya.


"Apa?"


"Tadi katamu seperti di Belanda, bukan? karena menyimpan bangunan khas Eropa, Kawasan Kota Lama ini mendapat julukan? Coba tebak?"


"Apa? ZiaZia cerewet? Kamu jadi pemandu wisata disini aja, Zia."


"Yeee, Yovien ngambek,wkwkwk,"


"Abisnya kamu membuatku tampak bodoh. Kasih tau aja kenapa si, apa emang julukannya? gausah tebak- tebakan segala!" protes Yovien.


"Little Netherland, hehe. Ya karena sedikitnya terdapat 50 bangunan kuno yang berada di Kawasan ini, luasnya juga sekitar 31 hektar, Vien," jelas Dhezia.


"Memangnya kamu pernah mengukur?" kesal Yovien.


"Engga si, hehe. Itu menurut buku yang aku baca saat aku gabut," jawab Dhezia santai.


"Kamu baca buku kalo gabut? Rajin sekali," umpat Yovien.


"Sepertinya kata- katamu terdengar mengejek, Vien."

__ADS_1


"Gak kok, beneran. Itu pujian paling tulus, Re."


"Kamu tau sedikit sejarah Kawasan ini ,Vien?"


"Engga, udah deh, Zia. Jangan membuatku tampak bodoh! Kalo mau jelasin ya jelasin aja kenapa! Lagian aku juga pendengar yang baik," protes Yovien.


"Nih aku jelasin ya, sejarahnya itu berawal dari kesepakatan antara Kerajaan Mataram dengan pihak VOC, dulu dimana Kerajaan Mataram harus menyerahkan Semarang sebagai pembayaran akan bantuan VOC dalam menghadapi pemberontakan Trunojoyo. Menurut buku yang aku baca nih, Vien. Kesepakatan itu terjadi tanggal 15 januari 1678 silam. Sejak itu mulailah dibangun beberapa bangunan mulai dari gedung pemerintahan, rumah rumah warga, kanal serta benteng yang bernama Vijhoek. Pada abad ke 19 hingga 20, Kota Lama semarang ini menjadi


pusat perdagangan."


Dhezia menjelaskan panjang lebar pada Yovien. Dan Yovien tak menunjukkan reaksi apapun selain menatap Dhezia heran. Dan kemudian perut Yovien berbunyi,


Krukk..kruuukkk...


"Haha, sepertinya kamu laper, Vien. Kita cari makanan dulu yuk,"Ajak Dhezia.


"Aku menahannya dari tadi," jawab Yovien.


"Maafkan aku, Vien." sesal Dhezia.


"Aku ingin makan Roti O, Zia." ungkap Yovien.


"Hah? Roti O apaan?" heran Dhezia.


"Roti lah, masa iya daging. Rotinya namanya Roti O," jelas Yovien.


"Eumm gitu, dimana ada Roti O?" tanya Dhezia.


"Ada disana, di kawasan Stasiun Tawang," ucap Yovien sambil mengarahkan tangannya menunjuk tempat jualnya Roti O yang dimaksudnya.


"Kau mau kita berjalan kesana?" tanya Dhezia heran.


"Iya lah, deket kok. Ayok, Zia." ajak Yovien narik tangan Dhezia.


"Iya iya iya..," Dhezia terpaksa mengikuti langkah Yovien.


Hingga tibalah mereka didepan Stasiun Tawang.


"Nah itu Roti O," tunjuk Yovien.


"Owlaah itu," angguk Dhezia.


"Kamu duduk disini aja, Zia. Biar aku yang pesen,"


"Iyaa...aku yang gak pedes ya, Vien."


"Hah? Kamu kira ini mirip burger atau pizza,Re?"


"Bukan ya?"


Melihat reaksi Dhezia, Yovien malahan mendekatkan mulutnya ke telinga Dhezia, membisikkan  jawabannya,"jelas bukan, gak ada yang pedas. Semuanya manis, Zia. Kayak kamu."


Mendengar bisikan Yovien, wajah Dhezia refleks bersemu merah.


"Tunggu disini ya." Dhezia hanya mengangguk. Dan Yovien berjalan menuju Outlet Roti O. Dan beberapa menit kemudian, Yovien kembali sambil membawa 4 Roti O kesukaannya itu.


"Nih buat Dhezia 2, buat aku 2,"


"Kok beli dua, Vien?"


"Pasti habis, Zia. Coba aja enak sekali," kata Yovien antusias. Kemudian melahap Roti O kesukaannya itu. Dan Dhezia juga melakukan hal yang sama. Melahap dan menghabiskannya, sembari menikmati suasana di Stasiun Tawang Kota Semarang.


***

__ADS_1


__ADS_2