Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
22. Dhezia ke Semarang


__ADS_3

Setelah terakhir kali membaca pesan dari Allen malam itu. Dhezia memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengan Allen sampai ia berhasil mendapatkan uang untuk mengganti ponsel Allen yang rusak. Dan situasi yang diperkirakan telah memasuki Zona Kuning Corona Virus itu pun memberikan harapan bagi Dhezia untuk dapat melanjutkan study S1-nya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu yang nyaring itu membangunkan Dhezia dari tidurnya. Sepertinya dirinya agak membaik, setelah memulihkan diri dengan tidur yang cukup sejak kemarin. Setelah mengetuk pintu, Bu Ratia masuk ke kamar Dhezia dan Laura.


"Kak Zia sudah baikan?" tanya Bu Ratia sambil memegang kening Dhezia.


"Udah buk," jawab Dhezia.


Dengan suara yang masih terdengar baru bangun tidur. Tak lama kemudian, Dhezia mencoba bicara dengan ibunya, "Dhezia ke Semarang nyari kampusnya hari ini aja ya buk," ujar Dhezia.


"Kamu sudah sembuh betulan?"


Bu Ratia tampak khawatir.


"Udah Ibuuukk," ucap Dhezia sambil memeluk erat ibunya sekilas kemudian melepaskannya kembali.


"Iya udh siapin dulu berkas berkasnya, kak." sahut Bu Ratia.


Kemudian Bu Ratia melirik kearah Laura yang masih belum bangun pagi itu. Lantas berkata, "Laura bangun sayang, shalat subuh dulu, nak."


"Hoaam, bentar lagi buk lima menit," tawar Laura yang masih terpejam matanya.


"Iya udah lima menit lagi bangun ya, ibu siapin sarapan dulu buat kalian," ucap Bu Ratia. Kemudian berlalu menuju dapur.


"Dek, banguuuuuuun. Kakak mau ke Semarang ini, yang mandi kakak dulu atau kamu dek?" Tangan Dhezia menepuk-nepuk pundak Laura.


"Kakak dulu," sahut Laura yang masih terpejam matanya.


"Yaudah kalo gitu,"


Setelah berkata pada Laura, Dhezia kemudian  berlalu untuk segera mandi, menyiapkan berkasnya, dan bergegas menuju terminal Kudus.


***


Pukul 06.00 WIB. Pagi itu, cuaca tidak secercah biasanya. Dengan berbekalkan jaket sweeter rajut dan tas gendong berisi berkas, Dhezia berdiri di terminal menunggu bis jurusan Semarang. Suasana terminal terlihat sepi, tidak banyak orang yang berlalulalang disana. Selang beberapa menit berdiri, akhirnya bis Dhezia datang. Dengan segera ia melangkahkan kakinya naik keatas bis. Kursi kursi penumpang terlihat banyak yang kosong. Mungkin dikarenakan masih dalam masa pemulihan pandemi. Terdapat jarak berupa tanda silang antara kursi yang satu


dengan kursi yang lainnya. Dhezia melangkahkan kakinya menuju kursi penumpang belakang dekat jendela.


"Mungkin akan terasa nyaman," batinnya.


Kemudian duduk di kursi dekat jendela itu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, bis mulai berjalan. AC bis yang mengembun di jendela kaca bis pagi itu menandakan hawa udara semakin dingin. Dhezia memejamkan matanya. Menahan dingin dan memikirkan beberapa kampus tujuan yang terlintas di pikirannya. Bis masih melaju dengan kecepatannya. Hingga sampailah di terminal Kota Demak. Terasa beberapa saat bis berhenti sejenak, mungkin saja menaikkan penumpang yang juga hendak pergi ke Semarang. Dhezia sejenak membuka matanya, melihat kearah luar jendela bus. Memastikan telah sampai mana


perjalananya.  Dhezia meraih headset yang berada di saku ranselnya kemudian memasangkannya ke telinga, mendengarkan alunan musik gamelan jawa yang mengalun lembut sembari memejamkan matanya. Tidak tidur, hanya saja ingin melepaskan semua beban hidupnya. Hingga ia kembali membuka matanya ketika menyadari ada seseorang yang duduk sampingnya. Dhezia menoleh kearah seseorang yang duduk di sampingnya itu. Seorang pria dengan hidung mancung, wajahnya sekilas hampir mirip dengan Allen.


"Betapa pasarannya wajahmu, Len. Sampai sampai ada cowok yang mirip kamu gini, ntar jangan jangan di Semarang juga banyak cowok bermuka gini, haha," batin Dhezia.


Pria itu juga mengenakan jaket kulit serta celana jeans. Jam tangan, sepatunya semua kelihatan mahal.


"Kayaknya juga orang kaya. Mungkin cowok cowok berwajah gini punya takdir terlahir kaya kali ya," batinnya lagi.


"Tunggu-tunggu, kalo kaya ngapain naik bis? Gak naik Mercedez? Tau ah bodo ah ngapain aku mikirin hal gak berguna," gerutunya dalam hati. Akhirnya Dhezia membuka suara.


"Maaf mas, disini gak boleh diduduki, ada tandanya kan?" kata Dhezia dengan hati-hati.


"Saya ingin duduk disini," jawabnya singkat.


Mendengar jawaban pria di sebelahnya itu, Dhezia tampak kesal kemudian memejamkan matanya kembali.


"Yaudah kalo gak mau diingatkan, lagian nanti yang diturunkan juga kamu bukan saya," gumam Dhezia dengan mata terpejam.


Sepertinya pria di sebelahnya itu mendengar apa yang dikatakan Dhezia barusan, kemudian pria itu sontak menarik headset sebelah kiri yang dipakai Dhezia, kemudian memasangkan di telinga kanan pria itu.


"Hey, ngapain kamu?" Dhezia terkejut headset nya ditarik tiba-tiba.


"Apa ini? Suara gamelan?" Pria itu bertanya dengan nada keheranan. Namun, suaranya terdengar hangat.


itu ikut memakai headsetnya. Beberapa saat mereka saling diam. Kemudian pria itu membuka suara.


"Mengapa kau duduk disini? Bukankah kursi depan juga banyak yang kosong?" tanya pria itu.


"Aku punya alasan," jawab Dhezia singkat.


"Apa? Kau sedang patah hati? Sehingga memilih duduk disini agar bisa memandang keluar jendela sambil menangis? Haha," tebaknya sambil tertawa.


"Sok tau," Dhezia menggetok keras kepala cowok di sebelahnya itu dengan tangannya.


"Aw! Kau memukulku?" Pria itu kaget.


"Gak, gue mukul gong," ketus Dhezia.


"Heh, kau samakan kepalaku yang berharga ini dengan gamelan gong? Benar benar cewek yang aneh!" oceh pria itu sambil mengelus kepalanya.


"Hihihi," tawa Dhezia.

__ADS_1


"Kau tertawa sekarang?" Yovien memandang cewek yang tertawa di sebelahnya itu.


Melihat pria di sebelahnya itu memandangnya heran, Dhezia perlahan berhenti tertawa, lantas berkata, "hmm, mungkin, bagi beberapa orang duduk di kursi bis dekat jendela dan menatap keluar kaca itu bisa sedikit mengurangi pikiran penat di kepala,"


"Kau pikiran apa?"


"Masa aku harus menceritakannya padamu, sementara aku aja belum kenal kamu," kata Dhezia.


"Aku Yovien," ucapnya. Kemudian tersenyum.


Melihat Yovien tersenyum Dhezia kemudian menjawab, "Oh iya, Aku Dhezia. Kamu turun di Semarang juga?"


"Iya, dimana lagi? Aku kan tinggal disana, Zia." jelas Yovien.


"Eum gitu ya, kamu ada informasi tempat yang buka loker di Semarang?"


"Kenapa? Kau butuh kerja?" tanya Yovien.


"Iya, rencana hari ini aku mau daftar kuliah di Universitas Terbuka, agar dapat kuliah sambil bekerja," jelas Dhezia.


"Bagaimana dengan kerja di restoran? Kamu minat?" tanya Yovien.


"Tidak apa apa, asalkan gajinya bisa untuk membayar kuliah dan biaya hidup di Kota Semarang," jawab Dhezia.


"Gajinya UMR. Dan ada Mess karyawan. Jadi kamu tidak perlu mengeluarkan uang untuk sewa kost," kata Yovien.


"Mau mau, aku mau," ucap Dhezia antusias.


"Yaudah, nanti kalo mau mulai kerja langsung aja hubungin aku ya, nanti biar aku bilang sama kepala restorannya," ujar Yovien.


"Boleh minta nomor kamu, Vin?" tanya Dhezia.


"Pasti dong, sini mana hpnya tak ketikin," pinta Yovien.


"Nih," Dhezia menyodorkan ponselnya.


Kemudian Yovien tampak menuliskan nomornya kemudian menyimpannya.


"Udah," Yovien mengembalikan kembali ponsel Dhezia.


"Makasih ya, Vien."


"Iya, tidur saja nanti kalo udah sampai di Terboyo aku bangunin," ucap Yovien pada Dhezia.

__ADS_1


"Baiklah," Dhezia kemudian memejamkan matanya. Menikmati perjalanannya menuju Kota Semarang.


***


__ADS_2