
Bali, 2014.
Gadis itu benar-benar membantu Allen membawakan empat kantong beras yang barusaja dibeli Allen di minimarket dekat apartemennya. Dalam perjalanan menuju apartemennya Allen tampak canggung. Allen juga tampak bingung akan membiarkan gadis yang telah membantunya ini masuk ke apartemennya atau tidak nanti. Karena
ia tidak punya suguhan apa apa di apartemennya.
"Siapa nama anda?" tanya gadis bule itu.
"Allen," jawab Allen canggung waktu itu.
"Oh, anda sudah lama tinggal disini?" tanya perempuan bule itu dengan nada bicara yang formal. Mungkin karena perempuan bule itu belum fasih berbahasa Indonesia.
"Saya baru pindah hari ini," jawab Allen menjelaskan.
"Oh, pertama darimana?" tanya perempuan bule itu salah dalam kata katanya.
"Maaf?" sahut Allen.
"Oh maksudnya, awal awal anda tinggal dimana?" Perempuan bule itu memperjelas maksud dari pertanyaannya.
"Oh, awalnya saya tinggal di Kota Semarang, hari ini pindah kesini, dan saya akan disini selama enam bulan," jawab Allen. Entah mengapa malahan ia menjelaskan dengan rinci pada perempuan yang baru saja membantunya itu.
"Ah, I see," sahut perempuan itu. Ia tampak mengerti.
"Siapa nama anda?" tanya Allen. Ia teringat jika tadi belum bertanya balik saat perempuan itu menanyakan nama Allen.
"Nicole, from Los Angeles, nice to meet you Allen, you're very handsome and cool," ucap Nicole menyebutkan namanya dan sedikit memuji paras Allen.
"Apa perempuan bule ini berpikir jika aku tampan? Dia lihat darimana? Seorang lelaki yang sedang menggendong galon terlihat tampan? Hah?!" pekik Allen dalam hatinya. Berpikir apakah perkataan perempuan bule yang sedang membantunya itu jujur ataukah hanya berpura pura.
"Hei? Are you okay? Mengapa diam?" ucap Nicole membuyarkan pikiran Allen.
"Ah tidak. Nice to meet you too, Nicole," sahut Allen kemudian tersenyum.
Nicole yang melihat Allen tersenyum berpikir jika pemuda di sebelahnya itu tampak sangat tampan dan menawan.
"Haha, I live in... disana Nicole Bakery," ujar Nicole sambil menunjuk toko roti bertingkat yang berada agak jauh dari apartemen Allen. Tetapi bangunannya tinggi sehingga dapat terlihat dari kejauhan.
"Kamu anak pemilik roti?" tanya Allen.
"Maaf?" sahut Nicole masih saja kesulitan memahami setiap bahasa indonesia. Karena ia barusaja datang ke Indonesia tiga bulan yang lalu.
"Are you the daughter of the Nicole Bakery owner? (Apa kamu anak perempuan dari pemilik Nicole Bakery)?" tanya Allen.
"Ah yes, iya aku anak mereka," jawab Nicole pada akhirnya.
"Perempuan bule yang lucu," batin Allen mendengar cara berbicara Nicole.
__ADS_1
"Apakah di tempat kamu membutuhkan pegawai?" Allen tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk segera mencari kerja.
"What?"
"Lowongan kerja, ada?" tanya Allen kembali.
"A bakery chef?" sahut Nicole.
"Yap. Betul sekali,"
"Anda akan melamar?" heran Nicole.
"Iya,"
"Sepertinya ada, besok datang saja, nanti saya berbicara with my dad," kata Nicole sambil tersenyum.
"Oh betapa baiknya perempuan bule ini," batin Allen.
Akhirnya mereka berdua sampai didepan apartemen Allen.
"Anda mau masuk?" tawar Allen.
"Ah, sorry. Lain waktu saja, saya soalnya akan ada agenda lain," jawab Nicole sembari meletakkan beras Allen dilantai depan apartemennya.
"Baiklah, terimaksih ya..," ucap Allen sambil tersenyum.
"Welcome.., besok silakan anda datang di Nicole Bakery," kata Nicole. Bahasanya masih agak campur aduk. Tetapi, Allen dapat memahami perkataan dan ketulusan perempuan bule itu saat membantunya.
"Okay, see you next time, Allen." pamit Nicole yang berlalu pergi sembari melambaikan tangannya pada Allen.
Dan Allen hanya menjawab dengan senyuman. Kemudian membawa bahan makanan yang telah dibelinya menuju kedalam apartemen.
"Kaaaak, sudah pulang?" teriak Yovien di sudut kamar apartemen mereka. Ia seperti sedang menata barang barang.
"Udah dek," jawab Allen menghampiri Yovien.
"Kakak belanja apa dengan uang tiga ratus ribu? Pasti untuk sekali makan kan kak? Makan malam aja?" tanya Yovien.
"Tidak, untuk makan sebulan kemudian, nanti kalo mau nambah lauk atau butuh keperluan sehari hari seperti alat mandi dan uang jajan nanti biar kakak yang kerja," jelas Allen pada adiknya.
"Kerja?" heran Yovien. Bagimana kakaknya itu bisa secepat itu mendapatkan kerja.
"Iya, mulai besok sepulang sekolah kakak bekerja di toko roti seberang sana. Nicole Bakery." jelas Allen.
Dan Yovien hanya mengangguk, tanda ia mengerti. Yovien sangat bersyukur ia mempunyai kakak yang baik seperti Allen.
"Jadi kakak belanja apa tadi? Kita makan apa tadi malam?" tanya Yovien antusias.
__ADS_1
"Beli beras sama mie instan," jawab Allen datar.
"Hah??!! Daging? Gak ada daging? Ikan? Gak ada ikan? Sayur? Gak ada sayur? Yaaahh." Yovien menghela napas kecewa. Kemudian merebahkan dirinya di sofa.
"Tidak ada semuanya, nanti malam kita makan nasi sama mie instan," jawab Allen datar. Kemudian berlalu menuju dapur minimalis apartemen mereka.
"Haaaahhhh!!!! Bagaimana kitaaaa bisaaaaa bertahaaaaaaaannnn, hidup di duniaaaa syangaatt melelahkaaaaan," umpat Yovien dengan nada yang dibuat buat.
***
Allen memasak mie instan dengan telaten. Layaknya mengungkapkan cinta dari dalam hatinya melalui sebuah masakan. Meski hanya mie instan.
"Ini dek, udah matang. Ayo makan dulu," ajak Allen pada Yovien yang masih merebahkan dirinya di sofa entah berapa lamanya.
"Gak mau lah kalo mie instan," ketus Yovien.
"Yaudah kalo gitu kamu gak usah makan. Buat kakak aja semuanya. Dan nanti kalo lapar itu urusan kamu ya dek, kakak sudah menawarkan soalnya," ancam Allen.
"Kok kakak gitu sih? Gimana kalo Yovien mati kelaparan disini? Nanti kakak yang menyesal kehilangan adik yang menggemaskan sepertiku," sombong Yovien yang berhasil membuat Allen terkekeh.
"Hahaha, yaudah kamu makan seadanya makanya. Kakak makan dulu ya, kalo kami masih gak mau makan nanti kakak suapin," ujar Allen.
Dan mendengar perkataan Allen Yovien tampak tersenyum kegirangan.
***
Pukul 04.00 WITA di Bali.
Didalam apartemennya, pagi pagi Allen telah bangun.
"Dek, bangun dek, kita harus sekolah pagi ini," ucap Allen membangunkan Yovien dengan mengguncangkan pundak adiknya itu.
"Iyaaa," sahut Yovien dengan suara berat layaknya orang bangun tidur.
"Yaudah kamu mandi dulu, kakak buat sarapan dulu ya nanti kalo udah selesai mandi gantian kakak yang mandi, kamu makan," jelas Allen.
"Iya Iyaaa," jawab Yovien bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Allen menuju dapur minimalis mereka untuk membuat mie instan. Beberapa menit kemudian, Yovien telah selesai mandi dan mie instan
yang dibuat Allen juga telah siap. Selesai mandi Yovien mengenakan seragam sekolahnya yang baru yang telah dibelikan oleh mamahnya kemarin. Allen juga mempunyai seragam baru yang sana dengan Yovien. Kemudian Yovien menata rambutnya, menggunakan getsby dan parfum di badannya. Sementara kini giliran Allen
yang memasuki kamar mandi.
***
Terimaksih...
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa kasih ulasan ya^^
Ditunggu krisarnya^^