Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
36. Flash Back in Bali 1


__ADS_3

Bali, 2014.


Keluarga Xander tampak memasuki salah satu  kawasan apartemen mewah yang berada pada pusat kota di Denpasar, Bali.


"Yaaa lumayan mewah si mah, Yovien bisa liat Kota Denpasar dari atas sini," kata Yovien yang berlari kearah jendela begitu memasuki kamar apartemennya.


"Selama satu semester ini kalian berdua akan tinggal dan sekolah disini," pernyataan Nyonya Clarista pada kedua putranya.


"Kalian berdua?" sahut Allen meminta penjelasan lebih.


"Iya, Lex. Kamu sama Yovien akan tinggal disini," jelas Tuan Xander.


"Lalu papah sama mamah?" sahut Yovien begitu mendengar penjelasan papahnya, Tuan Xander.


"Ya papah sama mamah habis ini kembali ke Semarang. Kalo papah sama mamah disini siapa yang ngurus Xander Grup sayang?" jawab Nyonya Clarista sambil tersenyum.


"Gapapa deh mah, selama fasilitas dan uang saku full yaaaaa, ya ya ya, juga Yovien pengen pakai Lamborgini ke sekolahnya, gausah di antar sopir pribadi nanti Kak Allen aja yang nyetir, iya kan kak?" respon Yovien.


"Hem," deham Allen.


"Tidak, kalian disini harus belajar mandiri. Papah dan mamah hanya memberikan uang jatah 300ribu per bulan. Itu untuk makan, dan biaya kehidupan sehari hari. Untuk biaya sekolah sudah papah bayar. Entah bagaimana caranya kalian harus belajar hidup mandiri," jelas Tuan Xander.


"Tiga ratus ribu?" tanya Allen setengah tidak percaya dengan perkataan papahnya.


"Haaahhh??!!!! Yovien pasti salah dengar kan ini, pah?" syok Yovien.


"Iya TIGA RATUS RIBU, kalian harus bisa mengaturnya," tegas Tuan Xander.


"Pasti bisa sayang, dan jangan menghubungi papah dan mamah jika tidak ada hal yang mendesak ya," pesan Nyonya Clarista.


"Tidak tidak! Bagaimana bisa papah sama mamah setega ini dengan kami? Dan apa? Tiga ratus ribu itu tidak cukup pah!" protes Yovien.


"Kan papah sudah bilang, bagaimana caranya harus bisa. Entah dengan bekerja atau bagimana, pokoknya papah mau pulang nanti anak anak papah dapat hidup mandiri!" tegas Tuan Xander.


"Yaudah kalo gitu kirim Lamborgini nya dulu, pah!" cacar Yovien.


"Tidak! Tidak ada Lamborgini atau sopir pribadi, kalian berdua berangkat sekolah dengan berjalan kaki," jawab Nyonya Clarista.


"Memangnya kami akan bersekolah dimana?" tanya Allen.

__ADS_1


"Hah jalan kaaaaakiii?!" syok Yovien.


"Dimana lagi? Kalian akan sekolah di sekolah favorit tentunya. SMA N 1 Denpasar. Dan kalian harus jalan kaki, tidak jauh kok, hanya 15 menit dari sini jika berjalan cepat," jelas Nyonya Clarista.


Yovien hanya geleng-geleng kepala. Sementara Allen masih terdiam dengan wajah datar.


"Benar - benar tidak dapat dipercaya," umpat Yovien.


"Belajarlah hidup mandiri, Yovien!" ujar Tuan Xander.


"Pah, masak iya kami sekolah di sekolah favorit dengan berjalan kaki? Nanti bagaimana jika kami di ledek sama teman teman? Apa ini? Seorang anak konglomerat yang jalan kaki?" Yovien tersenyum kecut.


"Buktikan sama teman teman, jika anak konglomerat juga dapat hidup mandiri, tidak manja," ujar Tuan Xander.


"Yaudah sayang, papah dan mamah pamit dulu ya, ini uang tiga ratus ribu rupiah untuk jatah kalian selama satu bulan ini, nanti bulan depan akan mamah transfer ya," kata Nyonya Clarista meletakkan tiga lembar uang seratusribuan diatas meja depan sofa apartemen. Kemudian berpamitan pada kedua putranya. Nyonya Clarista dan Tuan Xander pun kini meninggalkan mereka.


"Maaaahhhh!!" teriak Yovien begitu Nyonya Clarista dan Tuan Xander berlalu meninggalkan apartemennya.


Sementara Allen segera menggenggam tangan Yovien sambil berkata," tidak apa-apa dek, masih ada kakak, kamu harus hargai keputusan orang tua kita itu, meski berat kita harus mencoba hidup mandiri seperti keinginan mereka."


Sementara Yovien kini menangis. Dan Allen memeluk adik kesayangannya itu.


bahan bahan untuk memasak, dan juga tidak tau harus memasak apa nantinya. Tapi ia harus tetap terlihat tenang agar tidak membuat Yovien takut dan khawatir tentang hidup mereka nantinya.


Allen kemudian segera keluar apartemennya dan akan menuju minimarket terdekat untuk berbelanja menggunakan uang tiga ratus ribu rupiah itu.


***


Allen keluar apartemen dengan berjalan kaki. Di jalan, jika ada perempuan yang lewat baik itu penduduk pribumi atau perempuan bule yang secara kebetulan sedang berpapasan dengannya, biasanya perempuan itu sesekali akan mencuri pandangannya kearah Allen. Anak remaja yang tampan. Postur tinggi, dada bidang, hidung mancung dan kulit coklat eksotis. Benar benar idaman para wanita. Terlebih lagi Allen mengenakan pakaian dengan harga yang mahal. Sehingga membuatnya tampak lebih menawan.


***


Saat sampai di toserba, Allen masuk dan memilih beberapa bahan makanan yang dapat ia masak untuk makan malamnya. Allen mengambil keranjang minimarket. Dilihatnya harga harga bahan makanan yang ternyata mahal saat ia hanya memiliki uang tiga ratus ribu rupiah saja.


"Uang segini biar dapat makan selama sebulan gimana? Yang penting beli beras aja dulu lah," batinnya dalam hati.


Setelah berpikir, kemudian Allen memasukkan empat kantong beras yang satu kantongnya berisi 5kg itu dan beberapa mie instan. Tak lupa juga Allen membeli satu galon berisi air putih di minimarket itu.


Allen kemudian segera membayarnya di kasir.

__ADS_1


"Berapa mbak?" tanya Allen.


"Empat kantong beras, sepuluh mie instan, dan air galon ya kak, totalnya dua ratus sembilan puluh delapan ribu rupiah kak," jawab kasir itu.


"Ini," Allen menyerahkan uang tiga ratus ribu yang dimilikinya. Dan kasir itu memberikan struk belanja dan kembalian uang dua ribu rupiah pada Allen. Dan Allen pun keluar dari dalam minimarket.


Ketika berniat akan pulang ke apartemen, ternyata banyak sekali barang bawaanya.


"Wuih banyak sekali ternyata, telfon Yovien aja kali ya?" pikir Allen yang masih berdiri di depan minimarket.


Ia tampak mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.


Tetapi sesaat kemudian, ia kembali memasukkan ponsel itu kembali kedalam saku celananya.


"Ah, tapi kan Yovien lagi nata barang barang juga tadi, kasian," batin Allen.


Akhirnya dengan kewalahan Allen terpaksa memikul sendiri bahan makanan dan air galon yang telah dibelinya di minimarket. Allen memikul galon berisi air putih di pundak sebelah kanannya. Sementara tangan kirinya memegang dua kantong plastik berisi beras yang totalnya 20kg dan 10 mie instan.


Allen berjalan dengan penuh hati hati menuju apartemen tempat ia tinggal. Tetapi saat tengah menempuh sebagian perjalanannya. Naasnya plastik kantong yang berisi beras itu pun tak kuat menahan beban sehingga harus sobek ditengah jalan. Dan empat kantong beras yang dibeli Allen pun jatuh.


"Beras saya...!" ujar Allen yang mendadak gugup kuwalahan. Karena ia masih memikul galon berisi air, Allen pun tampak kesulitan.


Dan saat itu juga, ada seorang gadis bule yang berlari ke arahnya dan segera membantunya.


"Anda baik baik saja?" tanya gadis itu sembari membantu Allen mengambil empat kantong berasnya yang jatuh di jalan.


"Iya, terimakasih," ucap Allen pada gadis itu.


"Biar saya yang membawakan ini, anda tinggal di dekat sini?" tanya gadis bule itu.


"Iya, aku tinggal di apartemen itu," jawab Allen sambil menunjuk apartemen tempat ia tinggal.


"Baiklah, saya akan membantu membawakan ini kesana," ucap gadis itu.


"Terimaksih," sahut Allen kemudian.


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa kasih ulasan ya^^


__ADS_2