Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
45. Tak Mampu Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Allen menyadari jika gadis cantik yang tengah diciumnya kasar itu menitikkan air matanya. Terasa dari pipinya yang basah. Dan perlahan, Allen sedikit melembutkan ciumannya pada bibir gadis itu.


"A-len...," panggil Dhezia di sela sela ciuman pria itu. Ia masih bertahan dalam rengkuhan Allen.


"Hm? Eumhh..mpph...," sahut Allen mendengar gadis yang diciumnya itu menyebut namanya.


"Cu-kup..," pinta Dhezia yang kesekian kalinya, dan akhirnya Allen melepaskan bibirnya dari bibir Dhezia. Ia menatap lekat wajah gadis yang tengah direngkuhnya itu. Sungguh, ia menyayangi Dhezia. ia ingin memiliki gadis itu sepenuhnya. Tapi mengapa, ia tak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.


"Anastasya...., maafkan saya, tadi itu... ," lirih Allen menyadari kekhilafannya. Untuk yang kedua kalinya, Allen gagal mengandalikan dirinya. Mengapa setiap mencium Dhezia, ia selalu menginginkan lebih.


"Maaf? Sebenarnya kamu nganggep aku apa sih, Len? Tolong pergi sekarang, aku tidak mau menamparmu untuk yang kedua kalinya, jangan menemuiku lagi!" ujar Dhezia dengan nada bergetar. Dhezia takut akan perasannya


sendiri, ia takut tidak bisa membatasi dirinya, sehingga dapat terjerumus ke hal hal yang tidak diinginkan nantinya. Terlebih lagi, sekarang ia di Indonesia. Dhezia juga takut berurusan kembali dengan Allen. Ia sepenuhnya


sadar jika ia dan Allen berada di level yang berbeda.


"Jangan menemuimu lagi?" Allen mengulang kata kata yang Dhezia ucapkan.


"Kumohon pergi!" bentak Dhezia dengan suara yang begetar.


Apa Dhezia tidak sadar? jika ia barusaja membentak pewaris utama Xander Group. Dan Allen langsung melangkah pergi meninggalkan Dhezia. Allen seketika berpikir mungkin Dhezia benar benar tidak menyukainya. Sampai sampai dicium saja ia enggan.


***


Setelah terlihat agak jauh dari kamar Dhezia, Allen menghentikan langkahnya di tangga yang menghubungkan beberapa lantai hotel itu. Ia tadinya memilih berjalan menuruni tangga, daripada menggunakan lift. Perasaan di hatinya terlalu kacau. Ingin sekali ia berteriak sekeras kerasnya tentang hidupnya. Mengapa ia tak pernah bahagia? Apa salahnya? Orang tua yang terus memaksanya melepaskan profesi yang digelutinya, adik yang merebut cinta pertamanya, dan sekarang perempuan yang ia cintai membencinya?


"Arghh!!" DUMMMM!!! Allen mengepalkan tangannya keras kemudian dihantamkannya pada dinding samping anakan tangga Hotel Bonita. Dan kini tangan Allen sedikit lebam merah.


Akan tetapi, tak ada gunanya juga ia melakukan demikian, sebab Dhezia masih saja tak bisa memahami perasannya.

__ADS_1


Dan Allen masih saja terngiang, semenjak kejadian delapan tahun silam di bali, ketika ia akan mengungkapkan perasaannya pada Nicole, tetapi adik kandungnya Yovien lebih dahulu mengungkapkan cintanya pada gadis yang menjadi cinta pertamanya itu, akhirnya sampai sekarang Allen memiliki masalah trauma ketika ingin mengungkapkan perasaannya pada perempuan. Termasuk pada Dhezia.


Setelah meluapkan emosinya dan menenangkan dirinya di anakan tangga hotel itu, kini Allen berjalan menuju parkiran hotel. Tempat dimana ia memarkirkan motor sport nya.


Sementara Yovien dan Nyonya Clarista juga telah sampai di Kawasan Hotel Bonita malam itu. Yovien melajukan mobil itu menuju parkiran Hotel Bonita. Dan mungkin, malam itu adalah malam keberuntungannya. Setelah mencari kakaknya di Kota Kudus, di Batalionnya sampai melacak keberadaannya di Kawasan Kota Lama, akhirnya Yovien menemukan Allen di Hotel Bonita.


"Mah, Mah! Itu Kak Allen!" ucapnya dengan cepat pada Nyonya Clarista.


"Iya, sayang kamu hentikan mobilnya disini cepet, biar mamah yang turun!" sahut Nyonya Clarista dengan buru-buru.


Dan Yovien pun seketika menghentikan mobilnya. Nyonya Clarista segera berlari kearah Allen yang telah bersiap mengendarai motornya.


"Aleenn.......!!!" panggil Nyonya Clarista. Ia kini berlari lebih kencang lagi, meski Nyonya Clarista memakai high heels.


Mendengar ada yang memanggilnya, Allen pun menoleh kearah sumber suara.


"Mamah? Ngapain mamah disini malem malem larut gini? Mamah kan itu? Gue gak salah lihat kan?" pekik Allen dalam hati sambil membelalakkan matanya.


Terdengar deru nafas Nyonya Clarista yang terenggah enggah akibat berlari. Dan kini ia telah sampai di depan Allen. Sementara Allen tak berkata apapun selain menunjukkan tatapan heran.


"Mamah ini, sayang. Kenapa begitu lihatnya?" ujar Nyonya Clarista setelah mengatur nafasnya.


"Ngapain mamah disini? oh tidak, ngapain mamah manggil aku?" tanya Allen dengan pura-pura acuh. Tetapi sebenarnya, ia sedikit mengkhawatirkan mamahnya yang berlari kearahnya tadi dengan nafas terenggah, tetapi syukurlah ketia ia lihat dari jarak dekat mamahnya tampak baik- baik saja.


"Apa mamah tidak boleh memanggil putra kandung mamah sendiri?" tanya Nyonya Clarista penuh penekanan. Dan mendengar itu, diri Allen bergetar.


"Cepat katakan, ada apa?" tanya Allen berusaha mengatasi gerogi pada dirinya akibat perkataan Nyonya Clarista.


"Mamah mau kamu datang ke RUPS besok pagi jam sembilan, bukan kamu aja, Yovien juga. Mamah harap kamu tidak menolaknya kali ini," tegas Nyonya Clarista.

__ADS_1


"Hahahaa...," Allen seketika terkekeh, kemudian melanjutkan,"apa mamah jauh jauh mencariku kesini hanya untuk undangan rapat? Wow,, menarik sekali."


"Allen!!" bentak Nyonya Clarista.


"Ah, mamah bahkan tidak bertanya bagaimana keadaanku, apa aku baik baik saja. Padahal tadi awalnya dalam hatiku sempat mengkhawatirkan mamah, mengapa mamah jauh jauh berlari kearahku, aku kira mamah memperdulikanku, ingin tau keadaanku! Tapi apa? Mamah malahan datang hanya untuk undangan rapat! Tidakkah


mamah tau aku selama ini terluka?" ujar Allen panjang lebar hingga membuatmata Nyonya Clarista berkaca- kaca.


"Allen... maafin mam-," barusaja Nyonya Clarista bergumam pada Allen sembari akan meraih pergelangan tangan Allen. Tetapi, Yovien tiba tiba muncul dan keluar dari mobil.


Allen melihatnya dengan tatapan penuh amarah. Pikir Allen, memang sejak awal, Yovien lah yang selalu di manja oleh kedua orang tuanya. Bakhan ketika Yovien memilih jalan hidupnya sendiri, Tuan Xander dan Nyonya Clarista tetap datang saat penutupan pendidikan Yovien. Dan yang paling Allen benci, Yovien


lah yang merebut perempuan bule cinta pertama Allen ketika di Bali delapan tahun silam, Nicole.


"Mamah sudah dengan Yovien, mengapa masih mencariku?" ujar Allen kemudian berlalu secepat kilat melajukan motor sport nya. Meninggalkan Nyonya Clarista yang masih berkaca kaca. Dan Yovien yang masih berdiri kaku menatap kepergian Allen.


"Mah..udah mah, jangan nangis disini. Yuk masuk mobil," kata Yovien sembari merengkuh mamahnya.


Dan Nyonya Clarista buru- buru menghapus air matanya dan menuruti perintah Yovien. Kini ia dan Yovien telah berada di dalam mobil.


"Mamah tidak tau kalo akibat kejadian di Bali akan sejauh ini. Tolong jujur sama mamah, apa ada yang kalian tutupi? sebenarnya ada apa saat di Bali? sampai kamu dan Allen berubah sejauh ini?" tanya Nyonya Clarista pada


Yovien yang menatap kosong kaca mobil depannya.


"Tidak ada, Mah. Kak Allen berubah karena memang sudah mandiri saja, jadi tidak ingin mencampuri urusan perusahaan," jawabnya berbohong.


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa kasih ulasan ya^^


__ADS_2