Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
52. Membeli Roti untuk Dhezia


__ADS_3

Kring...Kring...Kring....


Kring...Kring...Kring.....


Dalam kamar mess nya Dhezia yang masih menggunakan baju maid itu terpaksa harus mengangkat telfon Allen. Karena pikirannya yang terlalu overthinking. Dhezia takut jika saja Allen tiba- tiba menuntutnya karena masalah ponsel Iphone 14. Masa depan Dhezia masih panjang, ia tidak mau harus berakhir di penjara hanya


karena insiden rusaknya iphone 14 milik Allen.


("Selamat pagi,") sapa Dhezia mengangkat telfon yang sedaritadi berdering itu.


("Pagi, maaf ya soal semalem, lo dimana sekarang?") sahut Allen.


("Iya gapapa, di daerah Jalan Hayam Wuruk,") jawab Dhezia. Entah mengapa, ia tak tau alasannya, mengapa ia sulit sekali mengabaikan Allen.


("Jalan Hayam Wuruk?") jawab Allen dari seberang sana. Allen sedikit heran, "ngapain Dhezia disana?" batin Allen dalam hati.


("Iya, aku udah dapat kerja di Restoran Jepang disini, secepatnya aku akan mengganti ponsel iphone 14 kamu, Len.") ucap Dhezia penuh semangat melalui telfon.


Allen yang mendengar perkataan Dhezia seketika langsung mematikan telfonnya. Dhezia pasti sedang berada di restoran milik keluarganya. Karena memang tidak ada retoran jepang yang lain selain Xander Japannese Food milik keluarganya.


Allen segera bangkit dari kasurnya. Mencuci muka dengan cepat, memakai parfum, lalu berlari keluar. Dengan masih mengenakan seragamnya, Allen mengendarai motor sportnya dengan tergesa-gesa. Ia berniat menemui Dhezia di Xander Japannese Food.


Secepat kilat, Allen melajukan motornya. Awalnya, tak memikirkan apapun. Ia hanya ingin menemui gadis yang dicintainya itu secepatnya. Tujuh menit lamanya ia berada diatas motor sport yang dikendarainya dengan kencang. Kini, Allen sebentar lagi sampai di Jalan Hayam Wuruk.


Akan tetapi, mendadak ia teringat akan perkataan Rigel. Allen seketika menepikan  motornya.


"Bawa hadiah? Hadiah apaan?" gumamnya dibalik helm full face nya. Allen tampak memikirkan sesuatu.


"Bawain roti sama coklat aja lah," pikirnya pada akhirnya.


Ia mengedarkan pandangannya di sepanjang Jalan Hayam Wuruk itu. Dan kebetulan, ada toko roti yang tergolong lengkap, menyediakan berbagai macam produk roti.


Tanpa pikir panjang, Allen segera mengendarai motornya menuju toko itu. Sampai di depan toko, ia memarkirkan motor sportnya dan bergegas memasuki toko.


Karena Allen sudah pernah bekerja di Nicole Bakery sebelumnya. Ia paham betul berbagai macam produk roti. Ia tau mana yang enak, yang selalu di buru pelanggan. Ia juga mengetahui roti limited edition yang hanya dibeli oleh orang orang kalangan atas.


Allen menyusuri toko roti yang lumayan besar itu. Ia melihat satu persatu roti yang dipajang di dalam kaca berlampu itu.

__ADS_1


"Silakan, cari roti apa kak?" Salah satu pegawai toko roti itu menghampiri Allen dan bertanya padanya.


"Tolong berikan saya roti bolilo, breadstiks, sama corn rye breath, juga kalo ada coklat saya mau dua," pesan Allen pada pegawai toko roti itu.


"Baik kak, saya ambilkan. Untuk coklat kami menyediakan coklat karakter dengan berbagai macam bentuk, ada bentuk buah buahan, ada bentuk hello kitty, juga ada bentuk boneka khas amerika, kakak pesan yang mana?" tanya pegawai toko roti itu.


"Yang karakter boneka khas amerika aja," pilih Allen.


"Baik, tunggu sebentar saya siapkan. Silakan langsung ke kasir untuk membayar dan mengambil pesanan," kata pegawai toko roti itu.


"Oke," sahut Allen. Kemudian berjalan menuju kasir toko roti itu.


Sesampainya di kasir, pegawai kasir langsung mengkonfirmasi pesanan Allen.


"Satu roti bolilo, satu breadstiks, sama satu corn rye breath. Dan juga satu kotak coklat karakter khas amerika ya kak, totalnya lima ratus enam puluh ribu rupiah," ucap pegawai kasir toko roti itu menyebutkan


nominal yang harus dibayar Allen.


"Ini." Allen segera menyerahkan kartu debit BRI nya untuk membayarnya.


Allen pun segera memencet pin nya. Dan struk telah keluar dari mesin itu.


"Ini ya kak, terimaksih telah berbelanja," ucap kasir itu.


Allen menerima roti coklat dan struk yang telah diberikan kasir padanya.


Sampai di luar, ia tampak kesulitan membawa roti itu karena ia memakai motor sport, bukan motor matic.


"Arghh!!" pekiknya kesal.


Tetapi, mau tidak mau ia harus membawanya. Akhirnya ia memegang sayang motor dengan satu tangan, sementara tangan yang satunya ja gunakan untuk memegang roti dan coklatnya.


Allen segera melajukan motornya menuju Xander Japanesse Food. Memasuki gerbang Restoran itu, kedatangan Allen diketahui oleh satpam yang berjaga di pos parkir restoran itu. Dengan segera, pak satpam mengontak Bu Mulyani dan seluruh pegawai restoran melalui ht yang dihubungkan menggunakan sinyal radio.


"Cek lapor, Tuan Muda Allen barusaja memasuki gerbang Restoran. Persiapkan diri untuk menyambutnya,"


Mendengar laporan dari pak satpam. Sontak seluruh karyawan mempersiapkan dirinya. Menyambut Allen dengan berjajar baris rapi di depan Restoran. Tak terkecuali Bu Mulyani, yang dengan sigap berada di barisan paling depan

__ADS_1


menyambut kedatangan Allen. Dalam hati Bu Mulyani sebanarnya ia heran, mengapa kedua putra Xander Group datang ke Xander Japanesse Food hari ini. Sebab, para direktur atau para kalangan atas Xander Group biasanya akan mengunjungi resto jika restoran mengalami kerugian, sementara Xander Japanesse Food kini tak mengalami kerugian, malahan bulan ini restoran itu meraup keuntungan lebih dari lima puluh persen pada pendapatannya. Jadi apa yang membuat kedua tuan muda Xander Group tiba tiba datang ke Xander Japanesse Food bersama sama dalam sehari ini.


Allen telah turun dari motornya. Ia langsung berjalan memasuki restoran itu.


"Ini Tuan Allen ya, ganteng banget jugaaa," desis salah satu pegawai yang berbaris.


"Ini pewaris utama Xander Group!" sahut seorang lagi.


"Ya tuhan, kenapa dia lebih cocok jika pakai seragam loreng gitu dibanding jas berdasi yaa," ujar salah satu waiters yang menggunakan baju sexy.


"Gak! Lebih keren kalo jadi CEO Xander Group nantinya, sebuah kehormatan bisa bertemu dengannya langsung," ujar seorang lagi.


Sementara Allen seketika menoleh kearah pegawai yang berdesas desus tentang dirinya itu. Para pegawai tampak salah tingkah ketika Allen menoleh kearah mereka. Seketika para pegawai itu juga menundukkan setengah badan mereka, tanda mereka menyambut dengan hormat kedatangannya. Sementara Allen, ia tidak berpikir heran lagi terhadap para karyawan yang menyambutnya dengan membungkukkan badan mereka.


"Selamat datang, Tuan Muda Allen, ada yang dapat kami bantu?" sapa Bu Mulyani dengan menundukkan setengah badannya.


"Gadis yang bernama Anastasya ada disini kan?" tanya Allen tanpa basa basi.


Bu Mulyani tampak berpikir. Diantara semua pegawainya yang berbaris menyambut kedatangan Allen, tidak ada yang bernama Anastasya.


"Dia baru bekerja hari ini," kata Allen lagi.


"Maksud Tuan Allen si Dhezia?" tanya Bu Mulyani hati hati.


"Iya, tolong panggilan dia!" perintah Allen.


"Tapi tuan..." Belum sempat Bu Mulyani berbicara, Allen sudah menyelanya.


"Tidak ada tapi tapian! Bagaimana bisa pegawai baru tidak ikut menyambut kedatangan saya?! Bagaimana Ibu mengajarinya?" ketus Allen. Ia benar benar kesal.


"Sebentar, Tuan Muda Allen. Silakan duduk, akan saya panggilan pelayan kami yang bernama Dhezia." kata Bu Mulyani pada Allen.


"Baiklah."


Allen tersenyum puas.


***

__ADS_1


__ADS_2