Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
50. Memakai Baju Maid (Pelayan)


__ADS_3

"Aku titip dia sama ibu ya, tolong ajarin apa aja yang perlu, gausah terlalu keras juga, jangan membentaknya ya, Bu." pesan Yovien pada Bu Mulyani.


"Iya, Tuan. Terimakasih sudah meluangkan waktu datang kemari," ucap Bu Mulyani.


"Kan aku memang mau titip dia ini bu." Yovien sekilas melingkarkan tangannya ke pinggang Dhezia.


"Iya, baik tuan. Akan kami latih dengan baik agar dapat menjadi pegawai Xander Japanesse Food yang diandalkan," jawab Bu Mulyani mantab.


"No, no. Jangan terlalu keras padanya. Kasih dia waktu bekerja enam jam per hari. Sisanya akan dia gunakan untuk belajar, beri dia libur hari sabtu dan minggu. Karena dua hari itu dipergunakannya untuk kuliah nantinya," pesan Yovien panjang lebar.


Sementara Bu Mulyani dan para pegawai lainnya syok seketika, sehingga refleks menelan ludahnya sendiri. Tidak terkecuali Dhezia. Gadis itu kini berdiri syok disamping Yovien. Ia benar benar tidak menyangka, Yovien akan memperlakukannya sebaik ini.


"Baik, Tuan." patuh Bu Mulyani.


"Oh, jangan lupa anterin dia ke mess karyawan dulu ya, Bu. Biar naruh barang barangnya dulu ini," perintah Yoevin kembali.


"Baik, Tuan Muda. Akan saya antar," jawab Bu Mulyani.


"Terimakasih banyak, Bu. Kalo gitu aku pergi dulu ya, jaga dia baik baik," pesan Yoevin lagi.


"Iya, Tuan. Hati hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan," ucap Bu Mulyani. Kemudian membungkukkan setengah badannya sekilas. Tanda memberi penghormatan.


Kini Yoevin menoleh kearah Dhezia.


"Oh, hati hati dijalan, Vien." ucap Dhezia setelah berdiri syok tadi.


"Iyaa, disini dulu ya, nanti aku telfon kalo udah sampai tempat kerja," ucap Yovien. Kemudian mengacak sekilas rambut Dhezia.


Melihat tingkah Yovien yang mengacak rambutnya, Dhezia seketika tersenyum kikuk. Sebenarnya, ia merasa sangat tidak enak dengan para karyawan karena ia diperlakukan Yoevin seperti itu.


Dan akhirnya Yoevin melangkah pergi, meninggalkan restoran itu. Para pegawai dan Bu Mulyani kembali menundukkan setengah badannya. Sampai dirasa Yovien cukup jauh melangkah, kemudian mereka baru menegakkan kembali tubuhnya.


"Huh...akhirnya udah pergi juga," desis salah satu karyawan.


"Iya, daritadi tuh gue deg deg an bangeeeet, mana mukanya ganteng banget lagi," sahut salah satu karyawan yang lain.


"Eh, tapi siapa cewek itu tadi ya, jadi kesel aku dia diperlakukan spesial sama Tuan Yovien," ujar salah satu pegawai dengan baju maid yang sexy. Menandakan jika pegawai itu berada di posisi waiters.


"Tolong kembali bekerja!!!"


Dan Bu Mulyani langsung melotot kearah mereka. Para pegawainya yang berdasas desus.

__ADS_1


***


Setelah kepergian Yovien. Bu Mulyani langsung menjalankan perintah dari pewaris kedua Xander Group itu.


"Mari, Nona. Saya antar," ucap Bu Mulyani.


"Ah, iya bu. Tidak usah memanggil saya Nona bu, saya kan nantinya juga karyawan biasa disini, hehe." Dhezia menjelaskan posisi dirinya yang berbeda dengan Yovien.


"Rencana saya, kamu akan saya taruh di posisi waiters, agar kamu mengenal dulu macam macam menu yang ada di Restoran ini. Nanti setelah kamu mengenal semuanya, dan jika kamu bisa memasak, akan ditaruh di bagian


kitchen," jelas Bu Ratia pada Dhezia.


"Oh, iya bu. Saya terima aja," jawab Dhezia.


"Dan saya memanggil kamu Nona karena memang semua waiters disini akan dipanggil dengan sebutan Nona. Kamu nantinya juga akan mengenakan seragam maid(pelayan) yang sexy seperti mereka," jelas Bu Mulyani sambil menunjuk para pegawainya yang menempati posisi waiters di Restoran itu.


Dan Dhezia melongo seketika. Ia benar benar syok. Ia tidak salah dengar kan? Berpakaian seperti maid( pelayan) yang sexy? Dress pendek yang jauh diatas lutut. Tetapi, mau tidak mau ia harus mematuhinya. Itu sudah terlanjur sampai di tempat itu. Jika ia menolak, maka ia akan merasa tidak enak dengan Yovien


yang telah membawanya kemari dengan semua perhatiannya.


"Iya, Bu. Tidak apa apa," jawab Dhezia terpaksa.


"Mari ikut saya menuju mess karyawan restoran ini," ajak Bu Mulyani. Kemudian melangkahkan kakinya.


***


Akhirnya mereka berdua sampai di mess karyawan.


"Luas juga ya, ada banyak kamar disini. Lumayan lah kalo tinggal disini gratis," batin Dhezia dalam hati.


"Kamu di kamar 100 ya, hanya ini yang masih kosong," ucap Bu Mulyani membalikkan badannya. Ia memberikan petunjuk pada Dhezia yang sedari tadi berada di belakangnya. Kemudian membukakan kunci kamar itu.


"Baik bu, terimakasih." Dhezia segera memasuki kamar itu.


Kamar dengan satu kasur springbed, satu kipas angin, dan satu almari plastik kecil. Tetapi anehnya, didepan masing masing kamar terdapat westafel pencuci tangan dan cermin. Malahan tampak seperti toilet. Padahal itu deretan kamar.


"Mengapa ada westafel didepan kamar bu?" tanya Dhezia refleks.


"Karena setiap yang memasuki kamar harus bersih. Jadi mencuci tangan dulu jika mau masuk kamar," jelas Bu Mulyani.


"Oh, gitu," sahut Dhezia.

__ADS_1


"Iya, kamu disini dulu ya, saya akan ambilkan sebaran maid buat kamu," ucap Bu Mulyani.


"Oh baik bu. Terimakasih banyak," ucap Dhezia. Kemudian mengikuti tradisi karyawan yang membungkukkan setengah badannya ketika orang yang dihormatinya akan pergi.


Bu Mulyani tersenyum melihat tingkah Dhezia. Ia menyadari, sepertinya Dhezia gadis yang pintar. Hingga ia tidak sudah menjelaskan. Ia yakin, Dhezia akan cepat beradaptasi nantinya.


Akhirnya Bu Mulyani pergi meninggalkan kamar mess Dhezia.


***


Dhezia segera menutup pintu kamar, kemudian  manata barang barangnya yang memang tidak terlalu banyak. Jadi dengan cepat dia menyelesaikannya. Kemudian ia merebahkan dirinya di kasur dengan keras.


"Arghh, semalam gabisa tidur, semoga aja mulai kerjanya besok," pekiknya dalam hati.


Akan tetapi, sejenak ketika ia tengah merebahkan dirinya, terdengar pintu kamar mess nya kembali diketuk.


Tok! Tok! Tok!


Dan Dhezia segera bangkit dari kasur. Ia membuka pintu kamar. Tampak Bu Mulyani datang dengan membawa baju maid.


"Ini baju kamu, silakan dicoba dulu. Jika kebesaran nanti saya kecilkan di tukang jahit, soalnya ini sudah ukuran paling kecil," jelas Bu Mulyani.


"Oh, iya bu. Saya izin coba baju ini dulu ya," ucap Dhezia menerima baju itu.


"Iya, nanti temuin saya di ruangan saya ya," perintah Bu Mulyani.


"Baik bu," jawab Dhezia.


Kemudian Bu Mulyani pergi meninggalkan Dhezia.


***


Setelah Bu Mulyani pergi, Dhezia pun segera menutup kembali pintu kamar mess nya. Dan segera mencoba baju yang diberikan Bu Mulyani.


"Hah? Pendek sekali, ketat sekali, minta yang agak longgar aja lah nanti," gumam Dhezia syok setelah mencoba baju itu.


Kring...kring...


Terdengar ponselnya berdering, Dhezia melirik sekilas kearah ponselnya yang tadi ia letakkan bagitu saja diatas meja ketika menata barang barangnya. Dan betapa deg deg an hatinya ketika melihat nama yang tertera di ponsel yang berdering itu.


***

__ADS_1


Bersambung^^


Jangan lupa kasih ulasan ya^^


__ADS_2