Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
47. Bunga Aster


__ADS_3

"Baik, saya terima. Uang pas ya mas. Terimaksih sudah berbelanja di Nikita Flower," ucap penjaga toko bunga itu.


Yovien mengangguk, kemudian berjalan kembali memasuki taxi online yang tadi ditumpanginya.


"Sudah mas?" tanya pengemudi taxi online itu.


"Iya sudah pak, kita ke Hotel Bonita ya," ujar Yovien.


"Baik mas," Dan pengemudi itu segera melajukan mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dia puluh menit, Yovien kembali


tiba di Hotel Bonita. Ia segera turun dari taxi itu dan membayarnya.


"Di aplikasi totalnya empat puluh delapan ribu, pak." ucap Yovien.


"Iya, betul," sahut pengemudi taxi online itu.


"Ini ya pak," Yovien menyodorkan uang selembar dengan nominal lima puluh ribu rupiah. Dan pengemudi taxi online itu menerima uang Yovien.


"Kembaliannya ambil aja pak, ucap Yovien kembali.


"Terimakasih banyak ya mas," kata si pengemudi. Kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kawasan hotel itu.


Yovien kemudian berjalan menuju lobi Hotel. Dibukanya kembali ponselnya, dibacanya pesan whatsapp yang masuk dari Dhezia yang belum sempat dibalasnya.


"Kamar 1008, lantai lima," gumam Yovien ketika membaca pesan itu.


Dan Yovien pun segera menaiki lift menuju lantai lima. Terdapat deretan kamar hotel dengan nomor yang tertera di pintunya. Yovien mencari kamar nomor 1008. Dan ketemu. Kini Yovien telah berada di depan pintu kamar hotel yang telah dipesankan Dhezia untuknya. Akan tetapi, ia lupa jika kunci kamarnya dibawa oleh Dhezia. Sehingga mau tidak mau, ia harus memintanya.


Diliriknya pintu kamar sebelah. Nomor 1007.


"Itu berarti Dhezia di dalam sana," pikir Yovien.


Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul tiga pagi.


"Huuuh..," Yovien menghela napas panjang. Kemduian memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu.


Tok!Tok!Tok!


Tak ada suara yang menyahut.


Tok!Tok!Tok!


Masih hening.

__ADS_1


"Dhezia tidurnya pulas banget ya," batin Yovien.


Tok!Tok!Tok!


Diketuknya pintu itu yang ketiga kali. Dan akhirnya.


Ceklek!


Dhezia membukakan pintu itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat Yovien berdiri didepan kamarnya sambil membawa bunga.


"Hei..maaf gangguin kamu tidur," ucap Yovien sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Tidak apa apa," jawab Dhezia sambil tersenyum kearah Yovien. Yang semakin membuat Yovien kikuk sendiri.


"Eh? Eum ini buat kamu, ZiaZia." ucapnya sambil menyodorkan bunga aster yang telah dibelinya tadi.


"Buat aku? Terimakasih Yovien yang baik," ucapnya menerima bunga itu. Kemudian menghirup dalam bunga yang dipegangnya itu didepan Yovien.


"Harum?" tanya Yovien.


"Iya, harum. Masuk dulu yuk," ajak Dhezia pada lelaki itu.


Yovien hanya mengangguk. Lalu melenggang masuk. Yovien mengedarkan pandangannya diseluruh sudut kamar itu. Tampak selimut dan seprei yang berantakan diatas ranjang. Dan Dhezia seketika meletakkan bunga yang


"Santai aja. Aku kalo tidur juga sama, berantakan kayak gitu, hehe," ujar Yovien sambil tertawa.


Sementara sikap Dhezia malahan tampak canggung setelah menawarkan Yovien masuk. Karena gara gara Allen yang tidur dan memeluknya di ranjang itu tadi, makanya sepreinya jadi berantakan. Dan selimut yang dipakai Allen juga belum ia lipat.


"Maaf ya, aku kalo tidur memang begitu, padahal aku cewek ya, hehe," ucap Dhezia berbohong sambil tertawa kikuk.


Dan kini, gara gara Allen. Dhezia menjadi malu dihadapan Yovien. Mungkin saja sekarang ini Yovien menganggapnya cewek yang tidak rapi ketika tidur. Setelah merapikan itu, Dhezia meraih kunci kamar hotel Yovien. Dan mengasihkannya pada pria itu.


"Ini, kamar sebelah ya, harus check out sebelum jam dua belas siang," ujar Dhezia.


Dan Yovien menerima kunci itu.


"Iyaa, ZiaZia yang cantik," jawabnya menggoda.


"Ih apaan si," sahut Dhezia pura pura acuh. Tetapi sebenarnya, ia senang Yovien memujinya. Lalu Dhezia berjalan mengambil kembali bunga yang diletakkannya diatas meja tadi. Kemudian mencium bunga itu kembali.


"Apa nama bunga ini?" tanyanya sambil terus memandangi bunga yang indah itu.


"Aster," jawab Yovien.


"Nama yang bagus," puji Dhezia pada bunga yang dipegangnya itu.

__ADS_1


"Kamu akan syok jika mengetahui makna dari bunga itu," ujar Yovien.


"Apa memangnya? Bisa kasih tau?" tanya Dhezia penasaran.


"Bunga aster. Bunga yang kamu pegang itu lahir pada bulan September, ia memiliki filosofi sebagai keyakinan, kebijaksanaan, dan keberanian. Nama aster sendiri diambil dari bahasa Yunani yang artinya bintang, karena bentuknya ketika mekar memang menyerupai bintang. Bunga ini tak hanya bagian dari simbol cinta tapi juga kebijaksanaan dan kepercayaan. Saat kamu menerima buket bunga aster yang dikasih oleh seseorang maka secara tidak langsung seseorang itu ingin menyampaikan pesan jagalah dirimu demi aku," jelas Yoevin panjang


lebar.


Glek!


Penjelasan dari Yovien membuat Dhezia seketika menelan salivanya sendiri. Apa Yovien barusaja menyatakan cinta padanya? Melalui bunga?


"Ehmm, jadi jad- jadi barusaja kamu itu? Itu tadi....," belum sempat Dhezia melanjutkan kata katanya. Yovien langsung menyelanya.


"Aku sepertinya menyukaimu, Zia. Jagalah dirimu demi aku," ucapnya to the point.


"Tapi, aku...aku..," jawab Dhezia bingung.


"Tidak harus menjawabnya sekarang, Zia. Besok juga gapapa, besoknya lagi juga tidak apa apa, lusa juga gapapa," ucap Yovien sambil tersenyum.


Dan Dhezia masih berdiri membeku. Ini yang pertama kalinya ia ditembak oleh seorang pria. Tentu saja Dhezia tidak boleh menyia nyiakan kesempatan itu. Ia berniat akan menjawab pernyataan cinta Yovien saat itu juga.


"Iya..," tetapi saat ia membuka mulutnya, berniat akan menjawab pernyataan Yovien. Bayangan Allen terlintas jelas di pikirannya.


"Arghh!! Mengapa disaat saat seperti ini kamu harus muncul dan menganggu pikiranku?" pekik Dhezia dalam hati.


"Iya apa?" tanya Yovien memastikan.


"Iya, aku kasih jawaban besok besok ya," jawab Dhezia pada akhirnya.


"Tidak apa apa, Zia. Santai saja, kalo gitu aku ke kamar dulu ya," pamit Yovien sambil tersenyum. Meski hatinya kini agak kecewa karena Dhezia menjawabnya besok. Itu berarti Dhezia kini menggantungnya.


"Iyaa, selamat istirahat," ucap Dhezia pada Yovien yang melangkah pergi meninggalkan kamarnya.


Dan Dhezia segera menutup pintu kamarnya kembali. Kemudian merebahkan dirinya dengan kasar diatas kasur.


"Arghh!! Gue harus gimana gimana gimanaaaaaaa," umpat nya sambil memukuli bantal hotel empuk yang berada diatas perutnya.


"Kalo gue terima, ntar Allen gimanaaaaaa, katsina doll nya Brielle masih dibawa sama dia, gue kan juga belum kembaliin Iphone 14 nya diaaaaa, dan Yovien bilang mau ganti juga gak di serah serahin duitnyaaaa, mana mahal banget lagi harganya, ntar kalo gak keganti bisa masuk penjara gue!" umpat Dhezia yang sibuk berperang dengan pikirannya sendiri. Mengapa masalahnya datang bertubi tubi? Beasiswa dicabut, dipulangkan ke Indonesia, dan harus terlibat insiden Iphone 14 yang hancur!


***


Bersambung^^


Jangan lupa kasih ulasan ya^^

__ADS_1


__ADS_2