
Yovien dan Dhezia masih duduk didalam bus Trans Semarang yang mengantarkan mereka ke tempat tujuannya.
"Pemberhentian Halte selanjutnya, bagi yang mau ke Simpang Lima, Elizabeth, Mangkang, Ngaliyan." Terdengar suara kondektur bus memberitahu informasi tujuan pada setiap halte yang akan dilewati. Sesekali, Yoevin melirik
kearah Dhezia yang duduk dengan penumpang penumpang perempuan lainnya. Dhezia tampak membalikkan tubuhnya, menghadap kearah luar dari jendela bus Trans Semarang itu. Ia sedang menikmati perjalanannya di Kota Atlas itu, sembari mendengarkan musik bus yang mengalun lembut di telinganya.
Setelah setengah jam berada dalam bus, akhirnya terdengar kembali kondektur bus yang berdiri didepan pintu akses masuk BRT Trans Semarang itu bersuara, "Selanjutnya Halte Pleburan."
Dan Yovien segera berdiri. Dhezia yang melihat Yovien berdiri seketika ikut berdiri juga. Dengan satu tangan keatas berpegangan pada handgrip (pegangan penumpang yang biasanya tergantung di tengah bus BRT) kini mereka berdua telah berdiri di dekat pintu akses bus itu. Yovien segera meraih pergelangan tangan Dhezia.
Memegangnya sedikit erat. Dhezia melihat pergelangan tangannya yang digandeng oleh Yovien. Seulas senyum tipis mengembang dari sudut bibirnya.
"Kita turun disini?" tanya Dhezia pada Yovien.
"Iya, Halte terdekat sini soalnya, gapapa ya habis ini jalan kaki," sahut Yovien.
"Iya gapapa," jawab Dhezia sambil senyum.
Ting tong!
Akhirnya pintu bus Trans Semarang terbuka tepat didepan Halte. Tempat dimana Yovien dan Dhezia akan turun. Karena jarak bus yang agak renggang dengan Halte, Yovien dan Dhezia terpaksa harus sebisa mungkin melebarkan langkah kakinya ke halte itu. Yovien turun terlebih dahulu dengan tangan yang masih menggandeng
pergelangan tangan Dhezia. Kemudian diikuti Dhezia turun.
"Yap," pekik Dhezia ketika melompat dari Bus ke Halte.
"Gapapa kan?" tanya Yovien refleks.
"Iyaa gapapa, gimana rasanya naik Trans Semarang?" sahut Dhezia.
"Iyaa nyaman si, kualitas udara di dalam Bus juga bagus," jawab Yovien.
"Biar pernah ya naik Trans Semarang wkwk, yaudah ayok kita jalan kakiiiii," ajak Dhezia dengan riang. Menarik tangan Yovien.
Sebenarnya, Yovien malas sekali jika harus jalan kaki. Ia terlalu gengsi terhadap pandangan orang orang yang lewat. Mengajak cewek berjalan kaki menurutnya itu hal yang buruk. Apalagi jika nanti masuk ke Restoran Xander Japanesse Food, para karyawan restoran itu pasti langsung bergosip tentangnya.
"Zia, kita ke apartemen aku dulu ya ambil mobil," ucap Yovien di sela sela ia berjalan kaki dengan Dhezia.
__ADS_1
"Apartemen kamu deket sama restoran yang nantinya jadi tempat aku kerja?"
"Iya, deket," jawab Yovien singkat.
"Ambil mobil buat apa?" tanya Dhezia.
"Buat ke Restoran lah," sahut Yovien.
"Lah tadi katanya deket, kok ngambil mobil segala?" protes Dhezia. Kini ia menghentikan jalannya. Yovien juga demikian.
"Ntar aku digosipin karyawan mamah kalo kesana nggak bawa mobil, parah kan kalo jalan kaki sama cewek, dikira cowok gak modal," umpat Yovien.
Dan langsung dibalas dengan tawa ngakak oleh Dhezia.
"Bhakss....hahahaa.., apa sekarang ini kamu mau pamer apa yang kamu punya? Dan apa? Mau pamer bawa cewek pakai mobil mewahmu itu?" ucap Dhezia disela sela tertawanya.
"Kok ketawa sih, Zia. Gak lucu!" kesal lelaki itu.
"Ah oke oke aku berhenti tertawa, Yoevin...tidak perlu malu kamu mau jalan kaki kek, mau naik bus kek, orang yang memandang kamu tidak tau apa apa, mereka hanya bergosip seenaknya. Yang tau tentangĀ kita hanyalah aku dan
kamu," jelas Dhezia sambil menatap lekat pria di depannya itu.
Dan Dhezia seketika terdiam, Yoevin juga demikian. Sampai akhirnya Dhezia berdeham.
"Ekhmm..., katanya kamu ngasih waktu, ya tunggu aja," ucap Dhezia dengan santainya. Kemudian melanjutkan jalannya. Entah mengapa, ketika ia memikirkan perasannya, bayangan Allen lah yang terlintas di pikirannya.
"Baiklah, aku tunggu." sahutnya. Kemudian menyusul langkah Dhezia.
Setelah berjalan dari halte bus, akhirnya mereka berdua sampai didepan Restoran Xander Japanesse Food.
"Wuah, besar ya," gumam Dhezia ketika memasuki kawasan restoran itu.
"Iyaa, di belakang sana ada mess karyawan. Kamu bisa tinggal disana," ucap Yovien menunjuk arah mess karyawan.
Dhezia hanya mengangguk pelan.
Xander Japanesse Food milik Xander Group memang benar benar mewah. Restoran dengan lima lantai itu berdiri megah. Dengan lahan parkir yang luas dan taman di depan Restoran, Xander Japanesse Food ini terkenal dengan interior nya yang sangat memukau. Kombinasi antara traditional Japanese interior yang terlihat dari unsur kayu yang dominan dengan berbagai unsur modern membuat interior restoran ini sangat berkelas namun tanpa meninggalkan unsur Jepang yang tetap melekat. Restoran ini juga menyajikan traditional Japanese cuisine dengan bahan yang paling fresh dan dengan kualitas terbaik.
__ADS_1
Dari kejauhan tampak karyawan restoran yang melihat kedatangan Yovien berjalan kaki bersama Dhezia. Dan benar saja apa yang dikatakan Yovien, para karyawan langsung berbisik pada karyawan lain.
"Tuan Muda Yovien datang," ujar salah satu pegawai resto itu.
"Iya, anak kedua Xander Group datang!" ujar seorang lagi.
"Iya, tapi jalan kaki? Ia jalan kaki? Mana mobil mewahnya?" desis pegawai perempuan yang lain.
"Tuan Muda Yoevin meski tanpa mobil mewahnya juga masih tampan dan mempesona," ujar salah satu pegawai perempuan restoran itu yang mengenakan baju maid (pelayan resto) sexy karena ia berkerja sebagai waiters.
Mendengar pada karyawan bergosip, Bu Mulyani selaku supervisor atau kepala Xander Japanesse Food mendekat kearah para pegawainya itu.
"Jaga sikap kalian! Tuan Muda datang! Ucapkan hormat padanya!" perintah Bu Mulyani.
Dan para pegawainya yang tadi bergosip seketika berbaris rapi menyambut kedatangan Yovien yang berjalan dari arah gerbang Restoran itu.
"Selamat datang tuaaaaaan," sapa para pegawai resto yang telah berbaris itu. Mereka menundukkan setengah badannya.
Berapa terkejutnya Dhezia ketika para pegawai menyambut kedatangan Yoevin dengan begitu tunduknya.
"Tuan?! Tuan Muda gitu maksudnya? Kayak di drama korea aja!" pekik Dhezia dalam hati.
Yovien menggandeng tangan Dhezia masuk ke restoran itu. Dengan sigap, Bu Mulyani segera menghampiri Yovien.
"Ada yang dapat kami bantu, Tuan Yovien?" tanyanya.
"Ini temanku. Mulai besok dia akan kerja disini, tolong carikan posisi yang pas untuknya ya," kata Yoevin pada Bu Mulyani.
"Baik, Tuan." jawab Bu Mulyani patuh.
"Zia. Kamu belajar sama Bu Mulyani dulu ya, aku soalnya ada dinas jam sembilan pagi ini," ujar Yoevin pada Dhezia yang berdiri di sampingnya.
"Iya, Vien. Terimakasih ya," ucap Dhezia tersenyum ke arah lelaki disampingnya, yang tak lain benar-benar seorang tuan muda.
***
Bersambung^^
__ADS_1
Jangan lupa kasih ulasan ya^^