Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
29. Kedatangan Yovien


__ADS_3

"Selamat Malam pak, saya Yovien Xander dari Satuan Brimob Semarang,  ingin bertemu kakak saya, Allen Xander Yudha di Kompi B." jelas Yovien.


"Oh, iya. Silakan masuk." Salah satu dari tentara penjaga pintu gerbang pos menuju Kompi B itu mempersilakan Yovien masuk batalion.


"Terimakasih," ucap Yovien singkat.


Yovien kemudian mengendarai mobil sport nya itu memasuki Batalion Kawasan Kompi B, menuju barak pribadi Allen. Yang sering disebut asrama atau rumah dinas. Di kawasan itu tampak berjajar rumah dinas bercat warna hijau. Banyak pepohonan yang rindang di kawasan itu. Akan tetapi, jalanannya terlihat bersih. Tak ada satupun daun yang jauh. Hingga sampailah ia didepan barak pribadi Allen. Yovien mamarkirkan mobilnya di depan barak Allen. Kemudian keluar dari mobilnya dan menuju pintu barak pribadi Allen itu.


Tok!Tok!Tok!


Yovien mengetuk pintu barak Allen.


"Kak? ini aku kak! Tolong buka pintunyaaaa!!" teriak Yovien.


"Kak!! Allen! Tolong buka, aku tau kamu di dalam kak!" teriak Yovien lagi sambil terus mengetuk pintu barak Allen.


Dan sepertinya, teriakan Yovien terlalu keras hingga menimbulkan keluarnya tetangga barak yang lain.


"Cari siapa, mas?" tanya gadis yang keluar dari barak sebelah.


"Allen." jawab Yovien singkat.


Entahlah, dirinya sudah terlalu kesal malam itu. Hingga menjawab pertanyaan seorang gadis pun sesingkat itu. Biasanya, Yovien tak seperti itu. Ia ramah dengan semua orang. Apalagi jika itu perempuan.


"Oh, Mas Allen sepertinya habis maghrib tadi kumpul di barak bujang, mengurus adik-adik lettingnya, coba mas cari kesana," usul gadis bernama Rea itu.


"Yaudah, saya cari kesana. Makasih," kata Yovien pada akhirnya.


Haruskah sampai sekeras ini? Hanya ingin bertemu dengan kakaknya saja sesusah ini? Yovien tampak kesal, tapi ia berusaha agar tetap bersabar. Bagaimanapun, ia juga tidak mau menjadi CEO.

__ADS_1


Yovien kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil sportnya kembali, akan tetapi gadis yang tadi menanyainya itu buru-buru berkata padanya, "Mas, mobilnya ditinggal disini aja gapapa, barak bujang di depan situ, dekat kok,


jalan kaki bisa. Soalnya parkirnya sempit disana," ucap Rea.


"Oh, yaudah saya titip sebentar, ya. Tolong jagain," kata Yovien.


Belum sempat rea menjawab, Yovien sudah melangkahkan kakinya pergi menuju barak bujang.


Dan Rea tetap berdiri disana.


***


Di barak bujang, Yovien tampak mencari- cari keberadaan Allen. Severius yang melihat kedatangan Yovien, segera menanyai lelaki itu, "cari siapa, Bang?"


"Allen," jawab Yovien singkat.


"Tunggu sebentar, ya mas," kata Severius.


Severius kemudian berlari memanggil Rigel.


"Bang Rigel, ada yang nyari abang di depan barak," kata Severius.


"Siapa?" tanya Rigel.


"Gak tau, coba abang temuin dulu," usul Severius.


"Oke," sahut Rigel.


Akhirnya Rigel menemui Yovien yang masih menunggu di depan barak bujang.

__ADS_1


"Ini orangnya, Bang." kata Severius.


Melihat tentara yang datang itu, Yovien sontak berkata, "saya cari Allen, dan ini bukan Allen."


"Yang dicari Allen gitu kok, bukan saya!" cecar Rigel.


"Siap salah bang! Izin, tadi sebelum pergi bang Allen bilang kalo ada yang nyari dia suruh panggil Bang Rigel." jelas Severius.


"Oh gitu, ada apa?" tanya Rigel pada Yovien.


Rigel tampak mengamati lelaki di depannya itu, sepertinya tidak asing. Setelah benar-benar mengamatinya, Rigel sontak menebak, "bukannya ini Yovien?"


"Iya, saya Yovien bang," jawab Yovien sambil tersenyum.


"Pantas saja, mirip persis dengan foto yang ditunjukkan Allen. Ternyata ini aslinya," jelas Rigel.


Yovien tampak sedikit tersenyum. Ternyata kakaknya itu pernah menunjukkan fotonya pada temannya. Itu sedikit membuat hati Yovien bahagia.


"Tapi aaf, tadi Allen katanya sedang keluar, gak tau keluarnya kemana soalnya gak bilang sama saya," jelas Rigel.


"Arghh. Kemana lagi sih, Kak?" batin Yovien.


Kini Yovien tampak seperti orang putus asa. Karena perintah mamahnya yang mau gak mau harus diturutinya, jika tidak ia juga yang akan kena imbasnya. Ia sudah mencari kakaknya jauh- jauh ke Kota Kudus, dan mendatangi kakaknya secepat mungkin ketika tau bahwa Allen sudah berada di Batalion. Ia bahkan harus meninggalkan Dhezia sendirian di Stasiun Tawang.


"Maafkan aku, ZiaZia..," gumamnya dalam hati.


***


Bersambung... Jangan lupa kasih ulasan ya^^

__ADS_1


__ADS_2