Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
54. Allen Terpesona


__ADS_3

Melihat reaksi Dhezia yang kesal, Allen segera melepaskan tangan Novia yang dilingkarkan di lehernya.


"Jika memang ini SOP Restoran, lanjutkan saja. Tapi kamu tidak perlu melakukan ini pada saya ya. Ingat! Saya Tuan Muda Pertama Xander Group! Dan Xander Japanesse Food dibawah naungan Xander Group! Kamu harus hormat! Jangan samakan saya dengan pelanggan elite yang lain!" ketus Allen pada Novia.


Mendengar perkataan Allen. Dhezia yang masih berdiri di dekat pintu ruangan yang barusaja ia buka itu lututnya lemas seketika. Perasaan yang awalnya kesal kini berubah gugup dan syok. Awalnya, Dhezia pikir Allen bukanlah bagian dari Xander Japanesse Food. Ternyata ia adalah pewaris utama Xander Group yang juga menaungi Xander Japanesse Food.


"Lalu siapa Yovien?" syok Dhezia dalam hati.


Dan hati Novia kini semakin geram karena Allen berkata seperti itu padanya di depan Dhezia. Ia sangat malu sekaligus marah. Tanpa pikir panjang, Novia segera melangkahkan kakinya cepat. Berniat keluar dari ruangan itu. Akan tetapi, ketika Novia selangkah lagi akan melewati pintu keluar. Allen kembali berbicara.


"Waiters, tolong bawakan saya semua hidangan yang termahal yang ada di Restoran ini!" perintah Allen.


"Baik, Tuan." ucap Novia tanpa berbalik. Kemudian berjalan lenggak lenggok  melenggang pergi dengan acuh melewati Dhezia yang berdiri terpaku di depan pintu ruangan.


Mendengar perintah Allen, Dhezia juga seketika berbalik. Ia sadar diri jika ia seorang waiters sekarang. Maka adalah bagian dari tugasnya juga menyajikan hidangan untuk Allen.


Melihat Dhezia yang berbalik, seketika Allen beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat menghampiri Dhezia.


"Mau kemana lo?"


Dengan cepat, Allen menarik tangan Dhezia dan mendudukannnya di kursi.


"Kamu disini saja dengan saya," ucap Allen singkat.


"Hah?! Gue sadar posisi gue, Lex. Gak pantes duduk disini," ucap Dhezia lirih.


Allen kini duduk di depannya. Hanya mereka berdua yang ada di ruangan gold eksekutif elite nan romantis itu.


"Semua jadi tidak masalah jika saya yang menyuruh, bukan?" ucap Allen enteng.


"Kamu tidak malu duduk di ruang elite ini bersama pelayan?" tanya Dhezia lirih.


"Tidak. Tidak sama sekali."

__ADS_1


Allen menjawab yakin.


Dhezia hanya diam, tetapi menatap tajam mata Allen.


"Kenapa lihat saya seperti itu?"


Dhezia masih saja diam. Dengan pandangan mata yang masih menetap Allen tajam. Ia sangat kesal. Apalagi yang diinginkan Allen kali ini. Ia bertanya tanya dalam hati.


"Kamu cantik. Meski sedang memakai baju pelayan," ujar Allen. Kemudian tangannya meraih roti yang telah dihidangkannya diatas meja. Ia menyuapkan roti itu ke mulut Dhezia.


"Buka mulut. Kalo tidak kamu akan masuk penjara karena tidak mengganti ponsel saya." Allen mengancam Dhezia. Dan terpaksa, Dhezia pun harus membuka mulutnya. Menerima siapa roti dari Allen. Ia kemudian mengunyah roti itu. Tanpa berkata apa apa.


"Bagaimana rasanya?" tanya Allen sambil tersenyum.


Entah mengapa melihat Allen tersenyum membuat Dhezia tambah ngeri. Sebenarnya apa mau Allen.


"Enak," jawab Dhezia singkat.


"Kamu tidak tanya apa nama roti ini?" Allen mulai mencari topik pembicaraan.


"Yang barusan kamu kunyah itu bolilo. Kalo yang ini breadsticks, dan yang ini corn rye," jelas Allen sambil menujuk satu satu roti didepan mereka.


"Sepertinya kamu tahu banyak tentang roti," sahut Dhezia datar.


Padahal sebenarnya didalam hatinya ia takjub, Allen ternyata lelaki yang pintar.


"Ehmm...Aku pernah bekerja di toko roti sebelumnya. Roti bolilo yang kamu makan itu mempunyai nama lain Pan Blanco. Itu roti yang berasal dari daerah Meksiko memiliki kulit yang keras dan biasanya dibelah untuk dipergunakan sebagai dasar dari sandwich. tapi aku lebih suka memakannya seperti ini, lebih kerasa teksturnya. Dan Breadsticks punya mana lain Grissini, bisa juga disebut Italian breadsticks, roti renyah breadstiks banyak


di sajikan di restoran Italia sebagai snack pembuka, sehingga tamu yang datang menunggu makanan tidak bosan tapi juga tidak kekenyangan. Roti ini selain di sajikan polos, juga diberi aneka rasa seperti wijen, bawang, atau rempah dedaunan. Silakan ini juga dicoba."


Allen meraih breadsticks yang ada dimeja kemudian disuapkannya lagi ke mulut Dhezia.


"Bagaimana?" tanya Allen antusias.

__ADS_1


"Renyah," jawab Dhezia singkat.


"Dan yang terakhir ini corn rye bread. Adalah roti yang berasal dari daratan Eropa. Roti ini sering dipergunakan sebagai makanan pokok dilapisi tepung jagung dan lebih sering di sajikan bersama daging kornet," jelas Allen. Kemudian meraih dan menyuapkan corn rye bread ke mulud Dhezia.


Dhezia menerima suapan dari tangan Allen. Kemudian berkata, "Tidak hanya di eropa, tapi di Amerika juga. Aku sering menjumpai roti yang seperti ini di Los Angeles," kata Dhezia.


"Benarkah? Ntahlah, saya belum pernah berkunjung ke Los Angeles," ujar Allen.


"Eum kamu cukup tau banyak tentang roti. Aku sudah memakannya. Terimakasih atas rotinya, bolehkah aku pergi sekarang? Aku tidak enak dengan Bu Mulyani selaku supervisor restoran ini," ucap Dhezia hati- hati.


"Kau merasa tidak enak dengan Bu Mulyani, akan tetapi berani melawanku? Padahal restoran ini milik orang tuaku. Seharusnya kau merasa tidak enak denganku, bukan dengan Bu Mulyani." Allen berkata dengan sinis.


Deg! Apa Dhezia tidak salah dengar? Allen mengatakan bahwa restoran itu milik orang tuanya. Dan Yovien juga mengatakan hal yang sama. Xander Japannese Food adalah milik orang tuanya. Lalu, apakah berarti Yovien dan Allen itu saudara? Dhezia sungguh bertanya tanya dalam hati.


"Apa mereka saudara?" batin Dhezia. Entah mengapa, Dhezia teringat dengan Yovien yang mengungkapkan perasaan padanya. Dan kini, dirinya sekarang sedang duduk di ruangan elite dengan Allen.


"Akankah ini menjadi cinta segitiga?" pikir Dhezia dam hati.


"Sekarang tidak perlu merasa tidak enak. Kamu harus temani saya makan siang," ucap Allen datar.


"Hah?! Makan siang? Lunch?! Ini bahkan masih jam sepuluh pagi, makan siang apanya?" protes Dhezia.


"Sudah terhitung makan siang. Karena pagi tadi saya sudah sarapan. Sudah diam saja, sebentar lagi para pelayan akan membawakan hidangan terenak Xander Jappannese Food untuk kita," ujar Allen.


Dan mau tidak mau, Dhezia harus mengikuti keinginan pria di depannya itu yang tak lain adalah seorang Tuan Muda. Pewaris utama Xander Group.


"Huufftt...."


Masih dengan memakai baju maid yang sexy, Ia menghela nafas panjang. Allen pun bisa mendengar lengguhan nafasnya.


"Kenapa?" tanya Allen datar. Sebenarnya ia terpesona dengan kecantikan Dhezia. Gadis itu mengenakan pakaian yang sangat menggoda kalangan pria. Lehernya yang jenjang dan paha mulusnya. Dan Allen juga seorang pria.


Pakaian dan tubuh Dhezia itu membuat Allen sedikit kesulitan untuk menjaga pandangannya. Terlebih lagi Dhezia adalah perempuan yang dicintainya, meski Allen belum mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


Akan tetapi, sebisa mungkin Allen tetap bersikap sewajarnya. Ia tidak mau menciptakan kesan yang buruk lagi tentang dirinya pada Dhezia. Setelah kejadian Allen menciumnya, lalu Dhezia menampar Allen dan mengusirnya. Ia tidak ingin hal yang sama terjadi kembali. Sebisa mungkin, Allen harus menahan diri.


***


__ADS_2