
Masih berdiri didepan barak dengan putus asa setelah mendengar jawaban dari Rigel bahwa kini Allen juga tak berada di Batalion. Akhirnya Yovien berpamitan pulang.
"Iya sudah, Bang. Saya akan menelfonnya kembali nanti. Terimaksih. Saya pergi dulu," pamit Yovien pada Rigel dan Severius.
"Iya, hati-hati." pesan Rigel.
Dan Yovien segera melangkahkan kakinya meninggalkan barak bujang itu. Ia kini menuju barak pribadi Allen tempat ia memarkirkan mobil sportnya. Setelah ia sampai depan barak pribadi Allen betapa terkejutnya ketika ia mendapati ada seorang perempuan berambut panjang berbaju putih sedang berdiri di sebelah mobil sportnya.
"Haaaaaa....hantu?" Yovien refleks kaget.
Kemudian perempuan itu berbalik.
"Ah...kaget aku. Ternyata kamu! Aku pikir tadi hantu! Tau gak sih?! Kamu tuh mirip hantu jika berbalik seperti tadi!" umpat Yovien.
Sementara Rea hanya menatap Yovien heran.
"Kamu yang menyuruhku buat jagain mobil kamu tadi, ya aku jagain, takut juga kaloĺu terjadi sesuatu soalnya ini mobil mahal," jelas Rea.
"Jagain?" tanya Yovien. Ia berusaha meminta penjelasan lebih.
"Ya tadi bilang jagain kan?" ucap Rea.
"Tapi maksud aku jagainnya gak sambil berdiri di sebelah mobil segala kali, apalagi di dibawah pohon kayak gini! Kamu tuh buat aku kaget aja, tau gak sih?! Kamu emang mau tanggung jawab kalo saja jantung saya copot disini, hah?!" tindas Yovien meluapkan emosinya.
Dan Rea segera melepas sendal jepit yang dipakainya, kemudian dilemparkannya ke arah Yovien berdiri. Dan pas sekali, sandal jepitnya mendarat dengan sempurna di pipi Yovien.
"Itu balasan untuk orang yang tidak tau terimaksih," ucap Rea dingin.
"Berani-beraninya kamu!!" murka Yovien.
"Aku sudah menjaga mobil mewahmu ini dengan baik, tapi kamu malahan mengomeliku, dasar laki laki tidak tau terimaksih!" umpat Rea kemudian berjalan meninggalkan Yovien yang masih berdiri kesal.
Sementara Yovien tidak mau kalah, melihat Rea yang berbalik pergi meninggalkannya. Dengan cepat ia, mengambil sendal jepit yang tadi dilemparkan Rea. Dan Yovien balik melemparkan sendal jepit itu ke arah Rea berjalan pergi meninggalkannya.
"Gadis menyebalkan!" umpatnya sambil melemparkan sendal jepit itu kearah Rea. Dan sempurna! Lemparan Yovien tidak meleset sedikitpun! Sendal jepit itu mendarat penuh mengenai bagian belakang kepala Rea.
PLAKK!
__ADS_1
"Aww.....!!!" teriak Rea. Seketika Rea berbalik sambil memegangi bagian belakang kepalanya.
"Hahaaa..," ejek Yovien tertawa senang.
Akan tetapi, sesaat kemudian persis setelah ia berteriak. Rea mendadak jatuh dengan mata terpejam.
"Haha, sandal jepit maut! Sekali lempar bikin jatuh!" umpat Yovien dalam hati.Yovien tidak memperdulikannya. Ia masih berdiri didekat mobilnya dan hanya berkata , "bangun..gausah pura-pura pingsan segala, dasar hantu!" umpatnya lagi.
Sementara Rea tak menunjukkan reaksi apapun. Ia tergeletak dengan mata terpejam.
"Kalo dalam hitungan ketiga, gak bangun juga saya langsung pergi!" ancam Yovien.
"Satu...dua...tiga..! Udah tiga ini, gak bangun juga hah?!" cecar Yovien.
Dan Rea masih saja tergeletak dengan mata terpejam.
"Baik saya pergi sekarang! Silakan tidur disitu sampai pagi!" umpat Yovien. Kemudian Yovien berjalan memasuki mobilnya. Dan saat ia akan memencet tombol starter mobil sport nya itu, hujan mendadak turun.
Dilihatnya dari kaca spion mobilnya, gadis itu masih tergeletak disana.
"Astaga.. jangan-jangan ia beneran pingsan!" batin Yovien.
"Hey bangun... hey.. hantu.. bangun!" Yovien menepuk-nepuk pipi Rea.
Akan tetapi, sepertinya usahanya itu tak membuahkan hasil. Mata Rea masih saja terpejam. Kini wajah gadis itu tampak pucat. Yovien gugup seketika.
"Tolong.... ada yang pingsan ini tolong!" Yovien berteriak. Berharap ada seseorang yang membantunya. Akan tetapi, kawasan asrama itu terlihat sepi. Tanpa pikir panjang, Yovien segera menggendong gadis itu dan memasukkannya kedalam mobilnya.
Kini Rea telah berada didalam mobil sport milik Yovien.
"Arghh! Kenapa kamu harus pingsan segala?" umpatnya memaki gadis di sebelahnya itu.
"Rumah kamu yang mana? Aku harus bawa kamu ke rumah sakit jika kamu masih saja pingsan!" cerocos Yovien pada gadis yang dibaringkannya di kursi sebelah kemudi itu.
"Yaudah kita kerumah sakit!" kata Yovien pada akhirnya.
Seperti sayup-sayup mendengar suara rumah sakit, Rea langsung menolak perkataan Yovien.
__ADS_1
"Jangan...," kata Rea dengan mata yang masih terpejam dan wajah yang pucat.
"Kalo gak kerumah sakit terus kita kemana?" Yovien kini mulai melajukan mobilnya keluar kawasan batalion.
Melewati gerbang penjagaan, Ia menutup rapat semua kaca mobilnya dan hanya membunyikan klakson. Yovien malas jika harus menceritakan kejadian memalukan bahwa ia lah yang melempari Rea sendal jepit sehingga Rea pingsan.
Setelah keluar dari Kawasan Batalion Alex. Mendengar gadis di sebelahnya tidak mau ke rumah sakit, tanpa pikir panjang Yovien melajukan mobil sport miliknya menuju apartemennya di dekat Restoran Xander Japannese Food.
Apartemen Yovien berada di gedung bertingkat lantai 37. Sangat tinggi memang. Bahkan Yovien sendiri tidak bisa membayangkan jika nanti dirinya harus menggendong gadis disampingnya itu agar sampai diapartemennya.
Kini mobil Yovien tampak memasuki kawasan parkiran apartemennya. Yovien dengan cepat memarkirkan mobil sportnya. Dan segera menggendong Rea keluar dari mobil sportnya.
"Argh! berat banget ini hantu!" umpatnya seraya menggendong Rea menuju lift.
Di dalam lift apartemen, Rea sedikit membuka matanya. Namun, tubuhnya masih terlalu lemas untuk memahami apa yang barusaja terjadi padanya. Ia hanya menyadari bahwa ada lelaki yang menggendongnya.
"Dia sepertinya orang yang baik, karena tidak membawaku ke rumah sakit," batin Rea yang masih berada dalam gendongan Yovien.
Lalu Rea memejamkan matanya kembali, karena kepalanya masih terlalu pusing. Dan Yovien akhirnya sampai depan apartemennya. Sambil menggendong Rea, ia memasukkan sandi apartemennya, dan segera memasuki apartemennya itu. Di dalam Yovien menutup pintu apartemen kembali dan merebahkan diri Rea di sofa miliknya.
"Mengapa gadis hantu ini dingin sekali? Ah, harusnya aku membawanya ke rumah sakit saja tadi!" pekik Yovien dalam hati.
Kemudian diambilnya air hangat dari dapur untuk menghangatkan dahi Rea yang sedingin es. Yovien mengompres Rea. Wajah gadis di depannya itu memang tampak pucat sekali. Diamatinya gadis yang terbaring pucar itu dari kaki hingga kepalanya. Tubuhnya tampak kotor karena ia tadi terjatuh dan diguyur hujan, sama seperti diri Yovien yang saat ini juga tampak kotor.
Tetapi Yovien malam ini tak memperdulikan dirinya sendiri. Ia malahan sibuk memperdulikan Rea. Diambilnya handuk, kemudian dibasahinya dengan air hangat. Sesaat sebelum membersihkan tubuh Rea, Yovien kembali mengamati gadis itu.
"Sanggupkah aku melakukannya?" tanyanya pada diri sendiri.
Tanpa disangka, Yovien mulai membersihkan diri Rea. Diusapnya telapak kaki Rea hingga ke paha Rea. Kemudian diusapnya telapak tangan Rea hingga ke lengan gadis itu. Dan kini, kaki dan tangan Rea sudah bersih. Tinggal bagian leher, dada dan perut Rea yang masih kotor.
"Sanggupkah aku?" tanyanya lagi. Yovien tampak ragu-ragu. Kemudian dipegangnya telapak tangan gadis itu kembali. Telapak tangannya masih saja dingin.
"Sakit apakah gadis ini? hipotermia? atau apa? ah akan lebih baik jika aku membersihkannya dengan cepat," pikirnya pada akhirnya.
***
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa kasih ulasan ya^^