Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
25. Stasiun Tawang


__ADS_3

Dhezia telah melahab dan menghabiskan Roti O miliknya, begitu juga dengan Yovien.


"Kamu berarti sering kesini, Vien?"


"Gak juga, sesekali saat dinas ke Luar Kota, dan aku harus menaiki kereta. Makanan didepan stasiun ini jadi penyembuh mood terbaik saat aku lelah. Bahkan makan pop mie pun kalo makannya disini terasa nikmat. Entah itu memang nikmat atau hanya aku yang menikmatinya, haha,"


"Dinas??" Dhezia mengernyitkan dahinya.


"Oh sorry, Zia. Sebenernya aku polisi, Zia."


"Po-polisi?" Dhezia berkata dengan terbata.


"Iya, Zia. Gausah gugup gitu, ih. Emang kenapa kalo polisi?" kesal Yovien.


"Eh, engga. Kamu gak lagi menyelidiki sesuatu kan?"


"Di hidupmu gak ada yang perlu aku selidikin, Zia. Kecuali hatimu, ahahahaa." Yovien tertawa keras tanpa memperdulikan sekitarnya.


Dhezia sontak memukul keras lengan Yovien. "Jangan keras keras ketawanya, Vien. Orang- orang pada lihatin kita ini," protes Dhezia.


"Aku gak peduli, Zia. Karena barusaja aku tertawa di sebelah cewe cantik kayak ZiaZia." Yovien berkata antusias.


"Ih apaan si, di Stasiun kok tertawa keras gitu, gak lucu! Yaudah kalo gitu coba ceritain awal mulanya tempat ini," pinta Dhezia.


"Tempat ini?"


"Iya, kamu bilang menikmati tempat ini, bukan?"


"Ya tapi aku gak tau, Zia. Tempat ini bahkan udah ada sejak aku belum lahir!" kesal Yovien.


"Haha, ya kamu kan bisa tau sejarahnya dari baca buku!" protes Dhezia.


"Aku gak suka baca buku, Zia! Kamu aja yang ceritain, kan kamu suka baca buku,"


"Iya tapi ada imbalannya ya!" pinta Dhezia.


"Apa?"


"Satu malam di Penginapan di Kota Lama,' kata Dhezia antusias.


"Hah? Kita baru kenal, Zia. Udah ngajak tidur bareng aja! Gak giru caranya, Zia. Kita mulai dulu dengan kencan yang sehat, Zia."


"Kencan yang sehat? Heh?!! lagian yang ngajak tidur bareng siapa Vien? Maksud aku ya pesan dua kamar gitu terpisah! jelek dih pikirannya!" umpat Dhezia.


"Oh, hahaa, oke setuju Zia!"


"Yess, jadi gini Vien. Menurut buku yang aku baca, Semarang tuh dikatakan sebagai tempat kereta api penting, karena sebagai kota tempat kelahiran kereta api di Indonesia," jelas Dhezia.


"Iya kalo itu gue tau, Zia!"


"Dengerin dulu dong, Vien. Stasiun Tawang dirancang oleh arsitek Belanda Sloth-Blauwboer dan diresmikan pada tanggal 1 Juni 1914. Sebelumnya, pada tahun 1911 dilakukan peletakan batu pertama oleh Anna Wilhelmina van


Lennep, putri Kepala Teknisi di NISM," jelas Dhezia.


"Terus? NISM apaan, Zia?"

__ADS_1


" Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), Vien." jelas Dhezia.


"Eum, terus?" Yovien sedikit memiliki rasa ingin tahu. Sepertinya gadis disebelahnya itu memiliki banyak pengetahuan.


"Bangunan stasiun didirikan menggunakan konstruksi beton bertulang. Bentuk bangunan stasiun memanjang sekitar 168/175 meter, terdiri atas bagian utama di tengah sebagai vocal point yang dibuat lebih tinggi. Bangunan utama tersebut memiliki kubah besar berbentuk persegi yang atapnya ditutup dengan lapisan tembaga. Di dalam bangunan utama stasiun merupakan hall dengan langit-langit tinggi yang di sangga oleh empat kolom utama, sepintas mirip dengan bagian tengah pendopo joglo atau rumah adat Jawa," jelas Dhezia.


"Wuahh kamu keren, Zia! Terus terus?"


"Interior hall dihiasi relief perunggu itu karya pemahat Willem Brouwer dari Leiderdorp. Di dalam hall terdapat tiga buah konter loket guna penumpang membeli tiket kereta api. NIS juga menyediakan sebuah kios besar yang menjual koran dan buku, dan disekeliling atap kubah terdapat jendela yang memberikan pencahayaan untuk hall, sehingga memperkuat kesan megah pada ruangan. Selain itu, jendela pada sekeliling kubah digunakan juga sebagai ventilasi udara. Pencahayaan juga didapatkan dari jendela pada fasad bangunan utama yang terpasang kaca dari perusahaan J. H. Schouten di Den Haag."


Yovien melongo seketika.


"Hahaa, dan lagi, Vien. Di kedua sisi bangunan utama itu terdapat konstruksi besi berbentuk pelana buatan Werkspoor, Amsterdam. Atap bangunannya itu ditutupi dengan genteng buatan Stoom Pannen fabriek van Echt. Sayap bangunan bagian kanan yang merupakan ruang tunggu kelas satu, ruang kepala stasiun, ruang sinyal serta ruang operasional. Sedangkan sayap kiri digunakan sebagai ruang tunggu kelas dua dan tiga yang pada masa kolonial diperuntukan bagi pribumi," jelas Dhezia lagi.


"Kamu belajar semua ini darimana, Zia? Bahkan aku aja yang orang Semarang asli gak tau sama sekali,"


"Makanya rajin baca buku ya, Tuan Muda Yovien..," ledek Dhezia.


"Gak ah, aku dengerin cerita dari kamu aja, Zia!"


"Huu Yovien males. Jangan lupa ya penginapan di Kota Lama!" cecar Dhezia.


"Iya iyaa ih bawel, gak mungkin kan cowok mengingkari janjinya, Zia!" sombong Yovien.


"Sebaiknya kamu pegang kata- katamu, Vien. Aku udah jadi pemandu wisata buat kamu hari ini ya, Vien. Harusnya aku dapat 150 ribu, tapi kali ini bayar dengan penginapan, ya!" tegas Dhezia.


"Ih perhitungan banget ini cewek!"


"Bukannya perhitungan, Vien. Ini semacam membalas kebaikan dengan kebaikan, hihi," kata Dhezia polos.


Kringg..... kring.....


("Iya Mah? Ada apalagi?") tanya Yovien tanpa basa- basi.


Dari telfon itu terdengar Nyonya Clarista berbicara.


("Kamu sudah menemui kakak kamu Allen?") tanya Nyonya Clarista melalui telfon.


("Gak ada, Mah. Dia udah balik ke Semarang. Yovien mau temuin dia di Kota Kudus gak ada, ini Yovien udah balik ke Semarang, Mah.") jelas Yovien.


("Yasudah berarti besok kamu abil cuti lagi, ya! Mamah mau ngadain RUPSLB pergantian Direksi. Kalo kakak kamu masih gak bisa di hubungin terpaksa kamu yang gantiin,") kata Nyonya Clarista melalui telfon.


("Mah! Cuti gak semudah yang mamah kira, Mah! Dan Yovien gak mau terlibat di perusahaan!!")


Tutt..


Yovien menutup telfonnya asal. Mood nya kini berantakan. Dhezia menatap Yovien. Bertanya- tanya apa yang terjadi dengan lelaki di sebelahnya itu.


"Vien? Kamu gapapa?"


"Gapapa. Sorry, Zia...," sesal Yovien.


"Tunggu sebentar." Dhezia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menuju Oulet penjual kopi untuk memesan kopi.


***

__ADS_1


"Pesan apa, mbak?" tanya si penjual di Oulet Kopi.


"Aku pesan dua Cappucino Coffe cool," kata Dhezia.


"Baik, tunggu sebenntar,"


Sesaat kemudian penjaga Outlet menyerahkan dua Cappucino Coffe Cool pesanan Dhezia.


"Totalnya tiga puluh ribu, mbak." ujar si penjual.


"Oh iya, ini..,"


Dhezia menyerahkan selembar uang sepuluh ribu dan selembar uang dua puluh ribu dari kantong tasnya.


"Termakasih, selamat menikmati," ucap si penjual sambil menerima uang Dhezia.


Lalu Dhezia kembali ke tempat dimana ia dan Yovien duduk.


***


"Yovienn..., nih."


Dhezia menyerahkan Cappucino Coffe pada Yovien.


Yovien hanya menerima sambil tersenyum, lalu meminumnya. Tanpa berkata apa- apa.


"Tampaknya ada hal yang mengganggunya, tapi apa ya?" tanya Dhezia dalam hati.


"Katanya kopi pereda rasa stress terbaik, Vien." ucap Dhezia sambil menatap lelaki di sebelahnya itu.


"Hm.. mungkin," jawab Yovien singkat.


"Kalo kamu butuh teman cerita, eum cerita aja sama aku, Vien. Aku bisa mengerti, dan aku juga pendengar yang baik." Dhezia berkata sambil tersenyum.


Melihat Dhezia tersenyum, Yovien ikut tersenyum juga, merasakan betapa beruntungnya ia bertemu gadis menarik seperti Dhezia.


"Hubunganku tidak baik dengan orang tuaku, Zia. Mengapa mereka tidak mendukungku dan tidak peduli dengan pencapaianku selama ini, menjadi polisi tidak semudah yang mereka kira, Zia." Yovien akhirnya membuka suara.


"Percayalah, Vien. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak bahagia, Vien." ucap Dhezia.


"Entahlah.., Zia. Ini berat,"


"Izin dari orang tua itu penting, Vien. Kalo kamu gak bisa dapetin izinnya, yakinkanlah mereka kalo dengan apa yang kamu jalani ini, hidupmu akan baik baik saja,"


"Ini gak seperti yang kamu kira, Zia...," ujar Yovien lemah. Kini matanya berkaca- kaca.


"Kamu manangis, Vien?"


Dhezia tampak panik melihat mata Yovien berkaca- kaca. Orang- orang melihat ke arah mereka. Yovien duduk di sebelah Dhezia, kini mulai meneteskan air mata sambil tertunduk. Melihat Yovien, Dhezia sontak melepas jaket sweeter rajut yang dikenakannya, kemudian menelungkupkannya menutupi punggung atas dan kepala


Yovien yang tertunduk menangis.


"Kamu kuat, Vien. Jangan menangis," bisiknya pada Yovien.


Sementara Yovien masih saja tertunduk sembunyi dibalik jaket sweeter rajut Dhezia. Bagaimana bisa dirinya terlihat begitu lemah didepan Dhezia yang barusaja ia temui hari ini. Tetapi, perasannya memang sedang kacau hari ini. Mamanya terus memaksanya agar ikut mengurus Xander Group. Sementara ia tetap ingin menjadi polisi. Dan besok mamahnya mengadakan RUPS. Bagaimana jika Allen tidak datang dan ia harus jadi CEO? apa itu artinya kariernya menjadi polisi harus berakhir sampai disini?

__ADS_1


Entah berapa lamanya Dhezia menunggu Yovien duduk sambil tertunduk, hingga hari mulai menjelang petang.


***


__ADS_2