Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
40. Flash Back in Bali 5


__ADS_3

Bali, 2014.


"Bagus! Menakjubkan, nama kamu siapa?" tanya Bu Nana yang terpukau mendengar jawaban sempurna Allen.


"Allen," jawab Allen singkat.


"Oh jadi yang bernama Allen itu kamu ya, memang benar benar pintar," puji Bu Nana.


"Terimakasih," ucap Allen singkat.


Dan dibalas senyum ramah oleh BU Nana. Kemudian Bu Nana kembali berjalan kedepan kelas.


"Baik anak anak, untuk pelajaran biologi hari ini kita akhiri sampe disini, apakah ada pertanyaan yang mau ditanyakan?" tawar Bu Nana.


"Tidak buuu," jawab para siswa dan siswi di kelas Allen.


"Iya sudah, kita akhiri sampai disini, selamat siang," ujar Bu Nana sambil membereskan buku modul pegangan khusus guru kemudian keluar meninggalkan kelas.


Dan Allen juga kini menutup buku modul biologinya.


"Hei hei, Allen?" panggil siswi bule yang duduk di bangku belakang Allen. Ia mengguncangkan pelan bahu Allen menggunakan jari telunjuknya dari belakang.


Dan Allen pun seketika menoleh ke sumber suara.


"Hei, its me!" ujar siswi itu semangat.


"Oh, Nicole?" jawab Allen sambil tersenyum.


"Aku baru pindah bersekolah disini beberapa bulan yang lalu," ujar Nicole masih dengan bahasa indonesia yang berantakan. Tetapi Allen memahami maksud perkataan Nicole.


"Iyaa, nanti saya jadi kan bekerja di tempat kamu?"


"Oh tentu saja. Sepulang sekolah ini kamu harus bertemu dengan my dady!" jawab Nicole antusias.


Sungguh suatu kebetulan yang luar biasa, ternyata Allen sekelas dengan Nicole. Allen merasa beruntung bisa sekelas dengan perempuan bule yang menolongnya kemarin.


***


Tet...tet...


Akhirnya bel pulang sekolah telah berbunyi. Allen bersiap mengemasi peralatan sekolahnya.


"Ayo kita bekerja," ujar Nicole yang telah siap mengantarkan Allen ke toko roti milik papahnya.


"Iya ayo, tolong tunggu saya di depan gerbang sekolah ini ya, saya mau ke kelas adik saya sebentar di lantai satu," ujar Allen pada Nicole.


"Oh tentu, di depan gerbang school," sahut Nicole. Kemudian melangkahkan kakinya mendahului Allen yang masih berdiri di kelas usai mengemasi barangnya.


"Semoga bisa langsung kerja hari ini," doa Allen dalam hati.


"Bilang sama Yovien dulu aja kali ya, barangkali dia nunggu," pikir Allen.


Akhirnya Allen berlari menuju kelas Yovien.


***


Sesampainya di kelas Yovien, ternyata memang benar. Adiknya itu telah menunggunya di depan kelas.


"Lama, kak!" umpat Yovien pada Allen.


"Sabar, kakak tadi beres beres dulu, jam terakhir biologi tadi kakak disuruh jelasin banyak sama gurunya," jelas Allen.


"Oh, yaudah ayok pulang," ajak Yovien pada Allen.


"Dek, kamu pulang duluan aja, kakak abis ini mau kerja mungkin pulang sore atau malem," jelas Allen.


"Kerja? Emang udah dapat? Cepat banget kak," kata Yovien.


"Udah, doain ya nanti lancar biar kita bisa jajan, kamu pulang duluan aja dek," suruh Allen.


"Iya udah, iyaa tak doain lancar, kak! Yovien pulang duluan ya,"


"Iyaa hati hati,"


Dan Yovien berlalu meninggalkan kakaknya itu.


"Biar pulang duluan lah, ntar kalo Yovien tau gue sama Nicole bisa diaduin sama mamah kalo dapat kerja karena koneksi dengan cewek ntar ribet," batin Allen.


Karena Allen ingin kedua orang tuanya benar benar mempercayainya jika ia dapat hidup dengan mandiri. Tidak dengan bantuan orang lain, apalagi dengan bantuan seorang gadis. Benar benar memalukan.


Setelah Yovien tidak kelihatan, ia kemudian segera berlari menemui Nicole yang telah menunggunya di depan pintu gerbang keluar sekolah.


"Nicole!" panggil Allen.


"Ya? Lets go!" ajak perempuan bule itu.


Dan mereka berdua segera berjalan menuju Nicole Bakery.


***


Sesampainya mereka di depan toko roti itu, Nicole langsung mengajak Allen bertemu dengan papahnya. Allen dan nicole berjalan memasuki toko roti itu. Terdapat macam macam pajangan roti di sederet ruangan yang di desain khas eropa


itu.


"Dad! Ini my friend. Allen! Allen mau bekerja disini sebagai chef perbantuan kita," ujar Nicole pada papahnya.


"Oh, ini teman kamu yang mau bekerja disini?"


"Yes dad! Nicole ke kamar dulu ya mau ganti seragam sekolah dengan pakaian di rumah. Allen silakan berbicara dengan my dad," ujar Nicole kemudian berlalu ke kamarnya meninggalkan mereka.


"Jadi Allen, sudah pernah bekerja di toko roti sebelumnya?"


"Belum pak, tapi saya tipe seseorang yang belajar keras agar cepat dapat menyesuaikan diri dimanapun," ujar Allen dengan percaya diri.

__ADS_1


"Oke, jika begitu baik, karena kamu belum pernah di toko roti sebelumnya, akan lebih baik jika saya menempatkan kamu di bagian pegawai di toko depan dahulu, agar dapat belajar mengenal macam macam jenis roti terlebih


dahulu ya," ujar Mr. Jack, papah Nicole.


"Tidak apa-apa pak, saya akan menyesuaikan diri secepat mungkin," ujar Allen meyakinkan Mr. Jack.


"Baik, mari saya antar kamu ke toko depan, saya akan menjelaskan sedikit macam macam roti," ujar Mr. Jack.


Dan sesaat ketika mereka hendak melangkahkan kakinya, Nicole pun datang.


"Dad!" panggil Nicole pada Mr. Jack.


"Sudah selesai? Ini dady mau mengantar Allen berkeliling belajar macam macam roti," jelas Mr. Jack.


Dan Nicole pun menyahut, "Allen belajar dengan Nicole aja, dad! Dady silakan mengurus bagian kitchen," kata Nicole.


"Oh begitu, oke nanti tolong ajari Allen dengan baik ya," pesan Mr. Jack.


"Sure!" jawab Nicole meyakinkan papahnya.


Dan senyum tipis terluas di bibir Allen mendengar bahwa Nicole lah yang akan mengajarinya. Perlahan sepertinya ia mulai menyukai perempuan bule itu.


"Lets go Allen!" ajak Nicole.


"Iya, ayo,"


Mereka berdua pun berjalan menuju etalase kaca yang penuh dengan macam macam roti.


"Oke mulai yang pertama ya, ini namanya bagel, adalah roti khas dari Eropa Timur (Polandia), bentuknya bulat seperti donat, tapi bagian dalam lebih padat. Bagel biasanya di sajikan pada saat makan pagi, dibelah, dibakar dan


diolesi keju krim. Pada adonan bagel biasanya ditambahkan kismis, blueberry, bawang, biji-bijan atau bumbu daun," jelas Nicole sambil menunjuk roti itu.


"Sebentar saya catat," ucap Allen mengeluarkan buku tulis dan pulpen dari dalam tas ranselnya. Kemudian mencatat apa yang dikatakan oleh Nicole.


"Oke, yang kedua ini bialy. Pernah dengar?" tanya Nicole.


"Pernah. Roti yang berasal dari Eropa Timur (khususnya Polandia) berbeda dengan bagel, bentuknya bulat namun memiliki lubang / kawah di bagian atasnya biasanya diisi dengan irisan bawang bombay," jawab Allen.


"Wow, kamu pernah berpergian keluar negeri sebelumnya?" tanya Nicole tiba tiba begitu mendengar jawaban Allen.


"Hanya beberapa kali. Aku sering menjumpai bialy sewaktu bertamasya ke Polandia," jawab Allen datar.


"Itu bagus. Selanjutnya yang ketiga ada Pan Blanco, ini roti yang berasal dari daerah Meksiko memiliki kulit yang keras dan biasanya dibelah untuk dipergunakan sebagai dasar dari sandwich," kata Nicole.


Dan Allen dengan telaten mencatatnya.


"Yang keempat ada roti dengan tekstur empuk dan rasa yang kaya serta sedikit manis. Dibuat dari telur, mentega, ragi, tepung, dan terkadang ditambahkan juga buah kering atau kacang-kacangan. Namanya brioche," jelas


Nicole menunjuk deretan roti nomor empat itu.


Allen masih dengan santai mencatatnya. Sesekali ia melirik kearah Nicole yang sedang berbicara. Perempuan bule yang cantik.


"Aku menyukainya, Nicole cantik," batin Allen dalam hati.


"Allen? Sampai itu dulu ya, besok belajar lagi. Nanti kamu boleh pulang pukul enam petang," ucap Nicole pada Allen sambil tersenyum. Hingga membuat jantung Allen berdebar.


***


***


Sore hari di kawasan sekitar apartemen terlihat nyaman. Yovien yang merasa bosan karena sejak pulang sekolah hanya tidur di apartemen itu pun akhirnya berjalan jalan keluar, ke taman dekat kawasan apartemen yang ditinggalinya itu. Sesampainya di taman, kemudian ia duduk di bangku taman itu. Yovien mengedarkan pandangannya disetiap sudut taman itu. Terdapat banyak bunga yang bermekaran dengan indahnya. Ketika ia sedang duduk dibangku taman itu, ada seorang gadis bule berjalan dan menghampirinya.


"Good afternoon, oh maksud saya selamat sore," sapa gadis itu pada Yovien.


"Iya sore," jawab Yovien sambil tersenyum.


"Very handsome," batin Nicole.


Lelaki indonesia dengan tubuh yang atletis, hidung mancung dan kulit putih, tidak jauh berbeda dengan bule di Amerika. Hanya saja Yovien berambut hitam. Tetapi itu yang membuatnya tampak lebih menawan dimata Nicole. Karena itu, ia memberanikan diri untuk menyapa Yovien yang duduk sendirian di bangku taman.


"Saya Nicole Smith, siapa namamu?" tanya Nicole pada Yovien. Kini bahasa indonesianya sudah sedikit mengalami peningkatan.


"Yovien. Yovienxander Yudha," jawab Yovien menyebutkan nama panjangnya.


"Oh ya, kamu mempunyai wajah yang tampan," ucap Nicole to the point menuju wajah Yovien.


"Ah terimakasih, kamu juga cantik," puji Yovien pada Nicole.


Entah mengapa Nicole kini menjadi obat dari rasa bosannya seharian ini tidur di apartemen semenjak pulang sekolah tadi. Karena Allen sibuk bekerja, Yovien sendirian tidak memiliki teman untuk diajak bicara.


"Thanks," ucap Nicole ketika mendengar pujian dari Yovien akan dirinya yang disebut cantik.


"Disini banyak sekali bunga ya," kata Yovien  mencari topik pembicaraan.


"Iya, sangat indah," sahut Nicole.


"Itu bunga mawar merah namanya. Bunga itu paling sering dijumpai di taman taman. Mawar merah itu biasanya menjadi simbol cinta dan kasih untuk diberikan kepada pasangan," ujar Yovien pada Nicole.


"Bunga di Indonesia sangat cantik ya juga mempunyai arti yang bagus," sahut Nicole.


"Iya ,kalo yang itu bunga mawar merah jambu. Perbedaan yang mencolok dari mawar merah jambu itu adalah warna di kelopaknya saja yang berbeda, yaitu merah jambu. Bunga mawar merah jambu itu dijadikan sebagai simbol ungkapan terima kasih. Mawar itu memiliki arti kelembutan dan kekaguman untuk


menunjukkan simpati," jelas Yovien pada perempuan bule di sebelahnya itu.


"Sepertinya kamu paham betul mengenai jenis dan arti bunga, kamu belajar dari mana?" tanya Nicole penasaran.


"Aku suka bunga. Selain itu juga jurusan sekolahku IPA, jadi aku belajar penuh tentang tanaman. Selain bunga aku juga menyukai cokelat panas," jawab Yovien sambil tersenyum.


"Benar benar lelaki yang langka," batin Nicole.


Sangat jarang sekali bukan, lelaki menyukai bunga dan cokelat. Kebanyakan dua hal itu disukai oleh perempuan. Bunga dan cokelat.


Setelah perbincangan mereka, akhirnya Nicole pamit pulang dikarenakan hari sudah gelap.

__ADS_1


"Ini sudah mau malam, saya pulang dulu ya," ujar Nicole pada Yovien.


"Baik, hati hati dijalan, besok sore apakah kita bisa bertemu lagi disini?" tanya Yovien.


"Bisa, besok kita ketemu lagi disini ya," ujar Nicole sebelum meninggalkan Yovien.


"Iyaa," sahut Yovien dengan senyum senang.


"Besok kita ketemu, besok nya lagi ketemu, lagi dan lagi aku akan bertemu denganmu gadis bule yang lucu," ujar Yovien dalam hatinya ketika Nicole melangkahkan kakinya meninggalkan taman itu.


***


Sementara Allen mengurungkan niatnya untuk menyatakan  perasaannya pada hari itu, karena sore itu setelah ia selesai bekerja, sepertinya Nicole tidak ada disana.


Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Terlebih lagi hari itu adalah hari sabtu, hari dimana Allen mendapatkan gaji. Setiap sabtu biasanya Allen setelah pulang bekerja akan pergi membeli cokelat panas untuk Yovien. Dan hari itu juga sama seperti hari hari sebelumnya. Allen membelikan cokelat panas


untuk adik kesayangannya itu.


***


Di apartemen Yovien sudah menunggu kepulangan kakaknya.


"Dek?" sapa Allen begitu memasuki apartemen.


"Iya kak, udah pulang?" tanya Yovien yang langsung berjalan kearah Allen dan membantu melepaskan tas dan sepatu yang dipakai kakaknya itu.


"Ini dek kakak bawain cokelat panas," ujar Allen sambil menyodorkan cokelat itu pada Yovien.


"Terimakasih kak!" Ucap Yovien yang langsung meminum cokelat itu.


"Dek, kakak mau bilang sesuatu," kata Allen dengan tiba tiba.


"Apa emang? Ya bilang aja," jawab Yovien sambil meminum cokelat panas yang dibawakan Allen.


"Sepertinya kakak suka sama anak pemilik toko roti tempat kakak bekerja," curhat Allen pada adiknya.


"Hah? Seriusan? Sejak kapan?" Yovien mulai penasaran dengan apa yang dibicarakan kakaknya itu.


"Iya, sejak pertama ketemu," jawab Allen polos. Sifat cool nya kini hilang ketika ia menyukai perempuan.


"Yaudah kalo suka ungkapin aja kak," usul Yovien.


"Masalahnya itu tadi dia gak ada waktu kakak mau nyatain perasaan kakak," jelas Allen.


"Yaudah besok kalo gitu tembak aja," saran Yovien.


"Iya udah nunggu besok berarti," kata Allen pada akhirnya.


"Iya besok kalo udah nyatain ceritain hasilnya kak," kata Yovien polos.


"Hasil? Kamu kira ujian biologi!" ketus Allen.


"Hahaha," Kemudian dijawab dengan tawa yang keras dari Yovien.


***


Hari berikutnya, setelah pulang sekolah Allen dengan semangat pergi bekerja. Karena sepulang bekerja, ia berniat akan menyatakan perasaannya pada Nicole. Tetapi ia tak juga melihat perempuan itu di toko. Ketika di sekolah juga Nicole tak terlihat di kelas. Akhirnya ia harus menunda kembali untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu. Begitu selama beberapa hari Allen tak melihat keberadaan Nicole.


"Apa Nicole sakit? Mengapa aku tak melihatnya selama empat hari ini?" batin Allen.


***


Yovien juga begitu gelisah ketika selama empat hari berturut turut datang ke taman dekat apartemen, tetapi gadis bule itu yak datang. Hari kelima Yovien datang kembali ke taman dekat kawasan apartemen itu tetapi nicole juga belum terlihat.


"Apa aku tidak akan melihatnya lagi?" Gimana Yovien putus asa.


Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya setelah menunggu Nicole dari sore sampai petang.


***


Dan hari sabtu berikutnya, seperti biasanya. Sepulang sekolah Allen langsung bekerja, ia berharap hari ini bisa bertemu dengan Nicole dan menyatakan  perasaannya. Lalu ia akan pulang menemui Yovien dengan membawa cokelat panas dan membawa kabar gembira. Akan tetapi setelah pulang bekerja lagi lagi,  Allen tak melihat keberadaan Nicole. Hingga ia memutuskan untuk pulang.


***


Di  di sore hari saat hari sabtu itu, Yovien kembali datang ke taman itu, dan dilihatnya Nicole sedang duduk di bangku taman itu.


"Akhirnya aku menemukannya," gumam Yovien dalam hati.


"Hei!" sapa Nicole begitu melihat Yovien datang.


"Kita bertemu lagi, kamu kemana saja?" tanya Yovien.


"Beberapa hari kemarin aku mengunjungi ibuku di Amerika, maaf lupa mengabrimu," ucap Nicole.


Dan kini Yovien duduk di bangku taman. Di sebelah Nicole.


"Tidak apa apa, hanya saja aku sedikit khawatir," ujar Yovien penuh perhatian.


"Maaf telah membuatmu khawatir, aku tidak akan mengulanginya lagi, haha," kata Nicole sembari tertawa senang karena Yovien mengkhawatirkannya.


"Bunga disini masih sangat indah ya," gumam Yovien yang kini mengedarkan pandangannya ke sudut taman itu.


"Iya, maukah kau mengambilkannya untukku?" tanya Nicole.


"Tentu," jawab Yoevin yang segera bangkit dari bangku taman dan mengambilkan bunga untuk Nicole.


Sesaat kemudian Yovien datang dengan membawa mawar merah yang disodorkan kearah Nicole.


"Ini untukmu, Ratu," ujar Yovien memberikan bunga mawar itu.


Tetapi, tanpa disangka. Ketika Yovien tengah memberikan bunga mawar pada Nicole, ada sosok yang sedang berdiri membeku dengan hati yang terluka melihatnya dari kejauhan. Allen.


***

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa kasih ulasan ya^^


__ADS_2