
Dengan perasaan kesal, Bu Mulyani segera berlari mencari Dhezia di kamar mess nya.
"Kenapa sih anak itu lama sekali, tadi padahal sudah saya suruh ke ruangan saya setelah mencoba seragam waitersnya," kesalnya sambil berjalan tergesa gesa. Dan kini, ia telah sampai didepan pintu kamar mess Dhezia.
TOK TOK TOK!!!
TOK TOK TOK!!!
Bu Mulyani mengetuk pintu dengan keras. Dan langsung dibukakan oleh Dhezia yang masih mengenakan baju waiters sexy nya.
"Eh, buk?" kaget Dhezia.
"Ikut saya, cepat!" Bu Mulyani langusng menarik tangan Dhezia paksa.
"I-Iya buuu."
Dhezia berjalan dengan tergopoh-gopok dikarenakan pergelangan tangannya ditarik paksa Bu Mulyani.
***
Sementara Allen yang tersenyum puas, kini telah duduk di salah satu kursi pelanggan, di kelas gold eksekutif restoran itu. Restoran Xander Jappannese Food ternyata tak hanya menyediakan bangunan yang bergaya tradisonal khas jepang. Akan tetapi, didalamnya terbagi menjadi tiga tingkatan kelas pelanggan. Mulai dari kelas reguler, kelas silver, dan kelas gold eksekutif. Sehingga dapat menjangkau semua kalangan. Baik dari masyarakat kelas menengah maupun dari masyarakat kelas atas. Semuanya dapat menikmati hidangan di Xander Japanesse
Food dengan berbagai pilihan menu dan harga. Tentunya, menu masakan yang disajikan pada tiap kelas berbeda beda. Pada kelas Reguler, di Xander Japanesse Food menyajikan makanan dengan harga start from 50k, pada kelas silver makanan menyajikan dengan harga start from 100k, dan pada kelas gold eksekutif menyajikan makanan dengan harga start from 500k per menunya.
Allen kini duduk sembari memegang majalah yang berisi daftar menu, daftar harga dan gambar hidangan masakan di Restoran milik kedua orang tuanya itu. Di kelas gold eksekutif, satu ruangan hanya berisi satu meja makan dan dua kursi. Dengan desain ruangan bergaya jepang yang tradisional namun tampak mewah itu, terpajang beberapa lukisan yang dilukis oleh pelukis ternama jepang. Diantaranya lukisan yang dibuat oleh Hiroshi Yoshida bernama Fuji from Kawaguchi Lake. Lalu lukisan yang dibuat oleh Takashi Murakami bernama 727. Dan lukisan yang terpajang disebelah jendela ruangan gold eksekutif itu karya Katsushika Hokusai yang bernama The Great Wave off Kanagawa. Allen meletakkan roti dan cokelat yang telah dibelinya diatas meja yang dihiasi dengan bunga dan lilin. Ia membuka kotak tempat roti dan cokelat yang telah dibelinya. Ia tak sabar menunggu kedatangan Dhezia.
***
Dari luar ruangan para pegawai Xander Japanesse Food sedang memperhatikan Allen melalui monitor cctv. Tak terkecuali para waiters sexy restoran itu. Mereka juga tengah memperhatikan Allen. Sepertinya, para pegawai terlalu penasaran dengan apa yang dilakukan Tuan Mudanya itu di dalam ruangan.
__ADS_1
"Oh tampan sekali meski hanya lewat kamera cctv liatnyaaa," ujar Novia. Salah satu waiters yang dinilai mempunyai tubuh paling sexy diantara para waiters lainnya.
"Dih, Novia kamu itu gak pernah ketinggalan emang kalo sama yang macho macho kayak gini, masih ganteng mana sama Tuan Yovien?" tanya pegawai kitchen bernama salsa.
"Ganteng semua, dua duanya, duh gimana ya rasanya tidur sama Tuan Allen," ujar Novia penuh gairah.
"Heh, itu Tuan Muda kita! Ngomong kok gak hati hati," kesal Salsa terhadap Novia.
"Iya, tau tuh Novia pikirannya porno mulu," kesal waiters yang lain.
"Biarin, mereka sama sama ganteng dan macho. Terlebih lagi para putra dari Xander Group. Tidur sama mereka gak dibayar pun mau gue!" ucap Novia yang langsung dibalas dengan pukulan sendok oleh Salsa.
"Heh, sadar lo sadaaaarr. Lo bisa baca situasi gak si? Malahan mikirin ************ mulu. Tuan Allen sama Tuan Yovien tuh kesini karena gadis yang sama!"
"Hah?!"
"Logika nih ya, tadi siapa si karyawan baru namanya? Dhezia. Iya Dhezia dibawa kesini sama Tuan Yovien, dan sekarang Tuan Allen kesini mencarinya?
Dan mendengar perkataan Salsa, kini Novia mengepalkan tangannya. Tanda tidak suka.
"Gue jadi gak suka sama karyawan baru sok polos itu," ucap Novia geram.
"Lo mau ngapain? Jangan macam macam. Itu gadisnya Tuan Muda Xander Group! Terlebih lagi mereka polisi dan tentara, berani lo?" ingat Salsa pada Novia.
"Liat aja ntar. Gue pasti bisa luluhin hati mereka berdua! Lagian cantik juga kecantikan gue, sexy juga masih sexy gue! Dan lo gak inget gue disini siapa? Apa gue murni benar benar waiters? Sadar girls! Gue juga kaya! Bokap gue pemilik JK Group! Jadi waiters disini cuma pelarian gue!" umpat Novia panjang lebar yang membuat semua nyali teman temannya itu mendadak menciut ketika mendengarkan perkataan Novia.
"Ehmm, bukannya katanya lo suka sama kepala chef kita, si Satria?" ujar Salsa mencairkan suasana.
"Gak! Udah move on!" ketus Novia.
__ADS_1
"What? Lo move on dalam waktu sehari setelah mencintak? Waras lo?" umpat Salsa.
"Iya, liat aja ntar. Gue pasti bisa menangin hati Tuan Muda Allen dan Yovien," ujar Novia penuh percaya diri.
Sementara Salsa hanya geleng geleng kepala mendengar perkataan Novia.
Di Xander Food tak ada yang berani dengan seorang Novia kecuali Salsa sahabatnya dan Bu Mulyani. Para pegawai Xander Japanesse Food telah mengetahui identitas Novia aslinya. Ia anak tunggal dari pemilik perusahaan besar JK Group. Novia hidup dengan kemauannya sendiri. Papah dan mamahnya bercerai sehingga ia menjadi anak broken home yang gila akan ***. Semenjak orangtuanya bercerai, ia hidup sebagai waiters di Xander Japanesse Food dan menjual dirinya untuk biaya hidupnya.
***
Tok! Tok! Tok! Terdengar bunyi pintu yang diketuk.
Lalu, ceklek! Seorang waiters berpenampilan sexy masuk menghampiri Allen. Novia. Dan seketika Allen menoleh kearah waiters yang masuk tersebut.
"Kirain Anastasya, ternyata bukan," pekiknya dalam hati.
Dengan berani, Novia kini berdiri di belakang kursi yang diduduki oleh Allen. Kemudian membungkukkan setengah badannya, merangkulkan kedua tangannya ke leher Allen. Dan menyandarkan dagunya ke pundak kanan Allen. Ia berniat menggoda Tuan Muda pewaris utama Xander Group itu. Sementara Allen tampak diam saja. Melihat Allen tak menunjukkan reaksi apapun, kini Novia membisikkan sesuatu pada Allen.
"Maaf Tuan Muda Allen. Apakah Tuan akan memesan hidangan? Atau akan memesanku?" tanya waiters itu penuh goda.
"Apakah bagini perlakuan para waiters Xander Japanesse Food pada tamunya di kelas gold eksekutif? Memang begini atau aku yang tidak tau?" Allen berpikir keras dalam hatinya. Semenjak Restoran itu dibangun, belum pernah
sekalipun ia menginjakkan kakinya disana. Sehingga Allen tidak mengetahui Standar Operasional Prosedur(SOP) di Xander Japanesse Food milik orang tuanya.
"Saya pesan--"
Ceklek!
Ketika Allen hendak menjawab pertanyaan Waiters Novia itu pintu ruangan tiba tiba dibuka. Muncul sosok yang melihatnya dengan tatapan kesalnya. Dhezia Anastasya.
__ADS_1
***