
Dan Dhezia hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Hidangannya lama ya," ujar Allen.
"Tidak, aku tidak nyaman berada disini hanya berdua denganmu, sementara aku hanya seorang pelayan," ujar Dhezia.
"Kau tinggal dimana?" tanya Allen.
"Di mess restoran ini," jawab Dhezia.
"Jika tidak nyaman berada diruangan elite ini bersamaku, kita ke kamar mess kamu saja, disana pasti kamu nyaman bersamaku," ujar Allen enteng.
Dan langsung dibalas oleh pelototan mata dari Dhezia.
"Hahaa." Allen terkekeh melihat gadis di depannya itu kesal karena perkatannya.
"Jangan bercanda! Gak lucu!" ketus Dhezia.
"Siapa yang bercanda? Apa pernah saya main main dengan kamu?" tanya Allen yang membuat Dhezia menelan salivanya sendiri.
Glek!
Allen memang benar benar diluar dugaan.
"Kamu sulit melepaskanku ketika sedang menciumku, apa semua lelaki semesum kamu?" ujar Dhezia sinis.
"Apa? Kamu bilang saya mesum hanya karena mencium kamu?" protes Allen.
"Lalu A-PA? Saat kamu menciumku yang aku rasakan bukan ketulusan tapi nafsu kamu, Len!" Dhezia kini sedikit emosi.
"Itu SAMA SEKALI BUKAN NAFSU! Saya mencium kamu kerena saya MENCINTAI KAMU! Jelas?!!" tegas Allen dengan emosi.
Dan Dhezia seketika syok mendengar penegasan dari Allen. Ia benar benar bingung. Apakah ia harus senang atau sedih. Disisi lain, Yovien lah yang lebih dahulu mengungkapkan cinta padanya. Yang dikhawatirkan oleh Dhezia
akhirnya terjadi. Cinta segitiga antara dirinya, Allen dan Yovien. Dan terlebih lagi, mungkin Allen dan Yovien adalah saudara, meski Dhezia belum menyelidikinya. Akan tetapi, telah banyak bukti yang ia temukan. Dan ia tidak
mungkin gegabah menjawab pernyataan cinta dari mereka berdua.
"Ekhem."
__ADS_1
Tiba- tiba terdengar suara seperti seseorang sedang berdeham dari arah pintu ruangan. Bu Mulyani. Sepertinya Bu Mulyani mendengar apa yang dikatakan Allen pada Dhezia barusan, karena memang suara Allen dengan nada emosinya cukup kencang. Akan tetapi, Bu Mulyani tidak berni berbicara apapun setelah berdeham.
Bu Mulyani datang dengan membawa hidangan yang telah dipesan Allen. Kemudian disusul para waiters yang lainnya dengan membawa semua hidangan terpopuler dari Xander Japannesse Food dibelakangnya. Bu Mulyani dan para waiters itu meletakkan hidangan diatas meja.
"Silakan dinikmati, Tuan Muda Allen."
Bu Mulyani berucap dengan penuh hormat sambil membungkukkan setengah badannya.
"Terimakasih, kalian bisa pergi sekarang," ucap Allen. Kemudian mengusir mereka.
Sepertinya Allen benar benar emosi sekarang.
"Baik, Tuan Muda Allen. Silakan dinikmati, jika perlu apa- apa pencet saja tombol yang berada di pojok ruangan," ucap Bu Mulyani yang hanya dibalas sedikit anggukan dari Allen.
Dhezia yang melihat Bu Mulyani, tak berani berucap apa-apa didepan Allen. Ia hanya memakai bahasa isyarat berupa kecemasan melalui kontak mata sekakan- akan berkata, "Ibu tidak apa-apa? bolehkah aku pergi dari ruangan ini sekarang?"
Dan Bu Mulyani seakan mengerti arti dari kontak mata Dhezia, kemudian membalas kearah Dhezia dengan menggelngkan kepalanya. Tanpa pikir panjang lagi, Bu Mulyani dan para waiters lainnya segera meninggalkan ruangan.
Kini tersisa Allen dan Dhezia yang berada di ruangan itu. Jantung Dhezia berdegup dengan sangat kencang. Ia telah membuat Allen marah. Perutnya sebenarnya lapar. Tetapi melihat Allen di depannya, ia mendadak kenyang
kembali. Bahkan semua hidangan terenak Xander Jappannese Food tak mampu menarik selera makannya. Dhezia hanya mengedarkan pandangannya kearah lain, ke dinding- dinding ruangan gold eksekutif itu.
"Lihat apa?"
Sebenarnya ia hanya mengalihkan pandangannya saja agar matanya tak bertatapan dengan mata Allen. Situasi di ruangan itu benar benar canggung dan membuatnya takut.
Allen kini juga menoleh kearah dinding ruangan yang dilihat oleh Dhezia.
"Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki daya tarik tersendiri di dunia seni. Salah satunya di seni lukis. Siapa yang nggak tahu, lukisan-lukisan Jepang yang sangat khas dengan pemandangan alam dan budayanya, membuat karya-karya tersebut sangat mudah dikenali," ujar Dhezia.
"Kamu suka seni?" tanya Allen.
"Tentu saja. Aku juga pandai menari. Sewaktu berada di Los Angeles, Aku memperkenalkan lagu jawa dan musik gamelan pada kelas tariku," ujar Dhezia dengan tersenyum.
"Hebat juga," puji Allen.
" Itu lukisan yang dilukis oleh pelukis terkenal jepang bernama Hiroshi Yoshida, nama lukisnnya Fuji from Kawaguchi Lake. Hiroshi Yoshida itu dikenal sebagai salah satu dari tokoh terpenting dari gaya shin-hanga (shin-hanga adalah jenis seni di awal abad ke-20 Jepang), selama periode Taishō dan Shōwa, yang menghidupkan kembali seni tradisional ukiyo-e yang bermula di periode Edo dan Meiji waktu abad ke tujuh belas sampai ke sembilan belas," ujar Dhezia.
"Dan Dia dilatih dalam tradisi lukisan minyak Barat, yang diserap dari Jepang saat periode Meiji," timpal Allen.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kamu juga mengetahui tentang seni," kata Dhezia.
"Lukisan sebelahnya itu karya Takashi Murakami kan? Lukisan itu bernama Tujuh Ratus Dua Puluh Tujuh. Takashi Murakami mungkin seniman Jepang yang paling terkenal saat ini. Karya-karyanya dijual dengan harga tinggi di
pelelangan besar, sementara seninya telah menginspirasi seluruh generasi baru seniman, tidak hanya di Jepang, tapi juga di dunia internasional," ujar Allen menunjuk lukisan itu.
" Iya, betul sekali. Seni Murakami meliputi cakupan yang luas dan umumnya digambarkan sebagai superflat. Karya-karyanya terkenal karena penggunaan warna, penggabungan tema dari tradisional Jepang dan budaya yang
populer," sahut Dhezia.
Kini Allen merasa sedikit emosinya telah berkurang. Dhezia perempuan yang pintar dan pengetahuannya luas. Benar- benar perempuan idamannya selama ini.
"Dan yang di sudut itu?" Allen kembali membuka suara.
"Itu lukisan yang dilukis oleh Katsushika Hokusai. Namanya The Great Wave off Kanagawa. Lukisan The Great Wave off Kanagawa mungkin juga adalah lukisan Jepang yang paling dikenali yang pernah dibuat. Ini merupakan sebuah karya”buatan Jepang” yang paling menonjol. Lukisan ini menggambarkan gelombang besar yang mengancam kapal-kapal di pantai lepas prefektur Kanagawa. Meskipun terkadang dianggap sebagai tsunami, gelombang itu seperti yang ditunjukkan oleh judulnya. Sebuah gelombang besar," ujar Dhezia kembali.
"Iya, sebuah gelombang besar. Selayaknya diriku saat berada berdua bersamamu," ujar Allen.
Yang seketika membuat Dhezia salah tingkah.
"Sadar sadar, Zia. Yovien sama Allen mungkin aja saudaraan. Lo harus nyelidikin dulu identitas dan hubungan mereka, sebelum lo jawab peryataan cinta mereka. Jangan gegabah Dhezia Anastasya." Hati kecil Dhezia berbicara pada dirinya sendiri. Dan akhirnya-
"Ehm," Dhezia hanya berdeham. Kemudian mengalihkan pembicaraan, "kamu tidak lapar? Len?"
"Tentu saja lapar. Aku sedari tadi hanya menunggumu untuk makan bersamaku," sahut Allen.
Dan Dhezia kini melihat bermacam-macam hidangan makanan yang berada diatas meja.
"Wuah, banyak sekali, apa ini mahal?" tanya Dhezia spontan.
"Tentu saja mahal! Jika kamu tidak memakannya maka nanti aku akan menyuruhmu membayar semua hidangan ini!" ketus Allen.
"Heah?! Aku tidak makan tapi harus bayar??" sahut Dhezia setengah tidak percaya dengan perkataan Allen.
"Namun, jika kamu memakannya sampai habis disini bersamaku, maka aku yang akan bertanggung jawab atas semua hidangan ini," ujar Allen enteng.
Dan Dhezia buru- buru meraih garpu. Lalu menusuk hidangan makanan itu dan memakannya dengan lahap.
"Apa nama makanan ini?" Dhezia bertanya disela sela ia mengunyah makanan.
__ADS_1
"Kamu tau banyak tentang seni negara Jepang, akan tetapi tidak tau tentang hidangan makanannya?" sahut Allen heran.
***