
"Zia, bangun! Udah di Terboyo nih," ucap Yovien sambil mengguncangkan tubuh Dhezia perlahan. Berharap Dhezia segera bangun. Aneh memang. Mereka bahkan baru bertemu. Tapi mengapa dengan gadis itu Yovien merasa
begitu akrab seperti dua insan yang sudah lama saling mengenal. Yovien memang mempunyai kepribadian mudah dekat dengan siapa saja, ramah, dan sangat welcome dengan orang baru yang datang ke hidupnya.
"Oh, iya iya. Udah sampai?" sahut Dhezia. Kemudian membuka matanya.
"Iya. Ayok turun," ajak Yovien. Kemudian menggandeng tangan Dhezia. Mereka berdua kemudian turun dari bis.
"Kau mau kuliah dimana tadi?" tanya Yovien. Sepertinya Yovien lupa, atau tadi tidak fokus. Sehingga harus menanyakan hal yang telah diberitahukan Dhezia sebelumnya, bahwa Dhezia akan kuliah di Universitas
Terbuka saja agar dapat sambil bekerja.
"Bukan kuliah. Baru mengurus pendaftaran ini nanti, di Universitas Terbuka aja, Vien." jawab Dhezia.
"Yakin mau kuliah disitu? Cyber University of Indonesia kan?" tanya Yovien.
"Sekarang namanya berubah?"
"Udah lama si UT punya julukan Cyber University of Indonesia, mahasiswanya dapat kuliah dimana aja dan kapanpun, sangat fleksibel si menurutku, Zia. Aku juga kuliah disitu. Ya mungkin bagi kebanyakan orang mungkin
pemikirannya beda dengan kita karena ada embel embel "terbuka" itu. Mereka hanya tidak tau, kalo Universitas Terbuka juga termasuk perguruan tinggi negeri, bahkan pencetak CPNS terbanyak," ucap Yovien.
"Kamu kuliah disitu, Vien? Ambil jurusan apa?"
"Hukum." jawab Yovien singkat.
"Kukira ekonomi, kamu kan pemilik restoran" kata Dhezia asal.
Padahal sebenarnya ia belum tau apakah Yovien pemilik restoran atau karyawan yang juga kerja di restoran. Mengapa bisa tahu tentang info loker restoran yang baru saja ditawarkan tadi dan menyuruh Dhezia kerja kapanpun Dhezia mau.
"Belum jadi pemilik. Restoran itu masih milik kedua orang tuaku. Nama restonya Xander Japanesse Food, udah pernah denger?"
"Kayaknya pernah denger, tapi dimana ya?" Dhezia mencoba mengingat -ingat nama itu. Sepertinya tampak tidak asing.
"Haha, udah gapapa kalo gatau. Besok juga tau tempatnya kalo udh kerja. Ini jadinya kamu mau kemana, Re? Kampus UT Mangkang?"
"Iya. Aku naik Trans Semarang aja ya,"
"Bareng aku aja, Zia." ajak Yovien.
"Gausah, Vien. Takut ngerepotin," tolak Dhezia.
"Gak terima penolakan! Tuh mobil aku di parkiran. Bareng aku aja," Akhirnya Yovien menarik tangan Dhezia paksa, "Awww.....Vien..Vien..Iya Iya tapi jangan tarik tarik gini, sakit tauk!" ronta Dhezia.
"Makanya nurut bawel," cibir Yovien. Kemudian menggandeng kembali tangan Dhezia menuju parkiran terminal untuk mengambil mobilnya.
Setelah sampai di parkiran, Yovien kemudian membukakan pintu depan sebelah kiri Dan menyuruh Dhezia masuk ke mobilnya.
"Silakan masuk, tuan puteri....," ucap Yovien sambil tersenyum menggoda.
"Ih apaan si." Pipi Dhezia sedikit memerah akibat ulah Yovien. Kemudian refleks memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
Dhezia telah berada didalam mobil. Kemudian Yovien juga menyusul masuk ke mobilnya. Lantas melajukan mobil sport yang hanya bisa diisi dua orang itu. Di dalam mobil, Dhezia tampak melirik ke sekeliling mobil itu. Betapa mewah dan pasti sangat mahal harganya. Yovien mengulurkan tangannya ke arah tape mobil. Memutar musik dj dengan volume paling keras. Dan Dhezia bergidik ngeri.
"Ini mobil atau speaker ya," batinnya.
"Tidur aja, Zia. Ntar kalo udah sampai depan kampusnya aku bangunin," kata Yovien.
"Gimana bisa tidur orang di dalem mobil kayak di depan panggung konser," protes Dhezia.
"Hahaha, nih aku pelanin." Tangan Yovien terlihat memutar bagian volume. Mengecilkan suara musik dj itu.
"Udah pelan kan, tidur aja, Re." kata Yovien lagi.
"Mengapa kau baik padaku?" Tanya Dhezia pada Yovien yang sedang menyetir.
"Baik? Emang aku lakuin apa kok baik?" Yovien tidak mengerti apa yang diucapkan Dhezia barusan.
"Ya kau mencarikanku pekerjaan, kau juga kini mengantarkan aku mendaftar kampus," jelas Dhezia.
"Ya kebetulan saja di Restoran mama sedang membutuhkan waiters. Dan aku juga mau ke kampus registrasi sekalian ngurus nilai ku. Ada yang E kemarin." jawab Yovien santai.
"Eum gitu, aku kir-," Belum sempat Dhezia melanjutkan kata katanya tetapi ponselnya terdengar berdering. Buru buru ia meraih ponsel yang berada dalam saku ranselnya. Melihat siapa yang meneleponnya.
Deg! Allen.
Melihat namanya tertera di layar ponsel saja langsung membuat badan Dhezia gemetar dan jantungnya berpacu lebih kencang. Mungkin begitulah perempuan. Jika ia mencintai, maka melihat nama dari orang yang dicintainya ysajaang tertera di ponsel saja sudah membuat jantung berdegup kencang. Dhezia hendak mengangkat
telfon Allen, tetapi ia belum mendapatkan uang untuk mengganti ponsel Allen yang rusak.
"Telfon dari siapa si, Re? Serius banget mukanya." heran Yovien.
"Engga ini, temen, hehe." jawab Dhezia.
"Iya udah angkat aja loh," usul Yovien.
"Engga," tolak Dhezia singkat. Kemudian memencet tombol matikan ponsel. Dan menyimpan kembali ponselnya kedalam ranselnya.
"Lah kenapa gak diangkat?" tanya Yovien heran.
Dhezia diam beberapa saat, enggan menjawab pertanyaan Yovien. Sebenarnya Dhezia ingin sekali cerita mengenai masalah yang menimpanya.
"Ada sesuatu?" Yovien kembali mengajukan pertanyaan.
Dhezia menoleh kearah Yovien yang sedang menyetir, akhirnya ia membuka suara.
"Eum Vien..lo pernah rusakin barang orang?" tanya Dhezia.
"Barang berharga? Atau barang biasa aja? Kalo barang biasa sih sering, wkwk. Kenapa emang, Re?"
"Eum.. kalo barang berharga? Lo pernah rusakin?" tanya Dhezia.
"Sejauh ini belum pernah sih, Re. Kenapa emang? Kamu rusakin apa?" Yovien mendadak ingin tahu apa sebenarnya maksud dari pertanyaan Dhezia.
__ADS_1
"Eum.. ponsel, yang harganya...," Dhezia menahan nafasnya sebentar, sebelum melanjutkan bicaranya, "belum cukup jika dibeli dengan gajiku beberapa bulan, karena bagiku itu mahal," jelas Dhezia.
"Ponsel apa emang?"
"Iphone 14, dan aku harus menggantinya secepatnya, Vien," jelas Dhezia kembali.
"Kalo tidak keberatan bisakah kamu menceritakan kronologinya, Zia?"
Jiwa penyidik Yovien mulai keluar.
"Singkatnya, saat itu hujan. Aku gak sengaja nabrak cowok yang lagi nerima telfon didepan toserba, hingga ponsel cowok itu terlempar ke jalan raya kemudian terlindas oleh mobil pincanto yang melaju kencang malam itu, kemudian dia gak terima ponselnya rusak dan aku disuruh ganti rugi," jelas Dhezia pada Yovien.
"Ganti rugi berapa?" tanya Yovien.
"Eum, dua puluh juta rupiah," Dhezia menyebutkan nominal itu dengan nada suara bergetar.
"Biar aku saja yang menggantinya, Re." ucap Yovien singkat.
Dhezia sontak terkejut mendengar jawaban Yovien.
"Hah? Dua puluh juta loh, Vien. Bukan dua puluh ribu," Dhezia memperjelas, memastikan kalo saja Yovien salah mendengar penjelasannya.
Melihat reaksi Dhezia, Yovien hanya tersenyum tipis, sambil terus menyetir.
"Vien... kau kira dua puluh juta itu bercanda?" Dhezia menatap heran Yovien yang sedang menyetir.
"Itu tak lebih dengan harga permen karet bagiku," Yovien menjawab dengan tenang.
"Bukan begitu maksudku Vien.., aku hanya tidak suka berutang dengan orang lain," Dhezia menjelaskan dengan lirih.
"Bayar dengan setiap hari menemuiku, haha..," jawab Yovien.
"Hah?! Apa itu artinya aku menyelesaikan masalah tapi menimbulkan masalah lagi yang lain? Masalah harus mencium Allen setiap pagi, siang, sore, dan malam hari selesai, tapi kemudian aku harus menemui Yovien setiap hari? Ah kau pasti sudah gila Dhezia." pikiknya dalam hati sambil merutuki diri sendiri.
"Kok diem? Gak mau ya ketemu aku tiap hari, Zia?" tanya Yovien.
"Bukan....bukan maksud aku kayak gitu, tapi kan setelah ini aku harus bekerja Vien,bagaimana nanti kalo aku sibuk? dan kamu juga sibuk? lagipula setelah ini aku bekerja, aku bisa mencicilnya dengan gajiku kan, Vien?"
"Uang seperti harga permen karet bagiku. Kalau begitu aku aja yang menemuimu setiap hari, Zia." jawab Yovien.
"Hah?! Memangnya boleh karyawan di apelin setiap hari di tempat kerja? Meski anaknya pemilik tetap gak boleh kan?"
"Hahaha.. siapa yang mau ngapelin kamu, Zia? Aku kan cuma datang memeriksa, itu pun saat malam hari bisanya, siang hari aku sibuk. Mama pasti akan senang sekali kalo aku sering berkunjung ke restoran," jelas Yovien.
"Ah begitu."
"Jadi sepakat ya? Kamu membayarnya dengan menemuiku setiap hari, Zia!"
"Oh, iya,"
Dhezia hanya menjawab Yovien singkat, kemudian terdiam. Mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Melihat suasana Kota Semarang.
__ADS_1
***