
Hari mulai menjelang petang. Dhezia masih duduk di tempat yang sama, menunggui Yovien.
"Vien, udah maghrib ini. Mau jam 6 sore." Dhezia memberanikan diri membuka suara pada lelaki yang kini masih tertunduk lesu.
"Iya, Zia. Kamu pesan penginapan sendiri bisa, Zia? Aku harus ke suatu tempat," ucapnya pada Dhezia.
Yovien harus menemui kakaknya, Allen. Yovien harus mengatakan pada Allen jika besok akan diadakan RUPS Luar Biasa pergantian direksi perusahaan, dan Allen lah yang harus menggantikan posisi papahnya sebagai CEO di Xander Group.
"Kamu mau kemana?" Tampak raut wajah Dhezia yang khawatir.
"Ke suatu tempat." jawab Yovien singkat.
Dhezia hanya diam, kemudian Yovien melanjutkan, "udah, habis ini jalan aja kesana, Zia. Dekat kan, ini uangnya. Pesan saja dua kamar, Zia." Yovien menyerahkan sepuluh lembar uang seratus ribuan kepada Dhezia.
Dhezia menerima uang itu, kemudian berkata, "kenapa banyak sekali? kita cari penginapan yang murah saja, Vien."
"Iya, terserah kamu aja, Zia. itu untuk berjaga- jaga saja. Aku mungkin akan kesini lagi tengah malam," jelas Yovien.
"Oh, iya." Ingin sekali Dhezia bertanya kemanakah Yovien akan pergi. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya. Yovien pasti akan bercerita kepadanya nanti. Sebenarnya ada apa, dan mungkin ia akan sabar menunggu tanpa
harus bertanya.
"Aku pergi dulu ya, Zia. Terimakasih jaketnya." Yovien melepas jeket sweeter rajut yang diselimutkan Dhezia di punggungnya. Kemudian memakaikannya pada Dhezia. Dan jantung Dhezia sedikit berdegup karena perlakuan
Yovien.
"I-iya, Vien. Hati- hati," jawab Dhezia.
Yovien kemudian melangkahkan pergi sambil melambaikan tangannya meninggalkan Dhezia.
***
Sementara di batalion, sehabis kegiatan shalat maghrib para tentara senior harus datang dan ikut berkumpul bersama adik-adik lettingnya di barak bujang. Memberikan pembinaan, menertibkan dan memantau kondisi barak. Diantara para senior lainnya, terdapat seseorang yang tengah duduk di tepi salah satu ranjang
yang berjajar banyak itu menjadi pusat perhatian adik-adik lettingnya. Malam itu, Allen tidak mengomeli adik-adik lettingnya seperti biasanya. Melihat tingkah Allen yang hanya diam sambil fokus dengan ponselnya itu, membuat
adik-adik lettingnya bergidik heran. Allen sedang mencari- cari instagram Dhezia. Pikirannya masih saja tak bisa lepas dari perempuan kini ponselnya tak aktif itu. Karena itu, Allen ingin berusaha lebih mengenal Dhezia lewat media sosialnya.
"Can can! gak biasanya tuh bang Allen begitu," bisik Severius.
"Gak tau, lagi kesambet apa daritadi diem aja, nyuruh kita nyapu barak pun enggak!" sahut Candra.
"Gegara si Dhezia mungkin?" Severius menebak- nebak.
"Kayaknya sih, jangan-jangan bang Allen di--,"
__ADS_1
Prakkk...!!!!
Belum sempat Candra melanjutkan bicaranya, sudah terdengar seperti ada bunyi ponsel dibanting. Dan benar saja, Allen membanting kasar poselnya ke lantai. Candra dan Severius kaget seketika.
"Ada masalah Bang?" Severius memberanikan diri untuk bertanya.
Akan tetapi, Allen sepertinya tak menghiraukan pertanyaan Severius dan malahan melanjutkan kembali tingkah anehnya. Kini Allen meraih dan meremas kasar Katsina Doll yang awal mulanya tadi berada di sampingnya.
"Gadis menyebalkan! Katanya kau menghubungiku saat sampai Semarang, tapi mana? Mana? MANAAA HAH?!!!" umpat Allen pada Katsina Doll yang dipegangnya. Kemudian meremas boneka itu dan melemparnya juga ke lantai.
Mukanya kini merah padam.
"Hah? Boneka apa itu? Sepertinya Bang Allen udah gila!" ujar Candra.
"Hushh! jangan sembarangan bicara, Can! Kalo kedengaran sama dia bisa abis kita!" sahut Severius mengingatkan teman lettingnya itu.
"Untung aja dia itu abang asuh kita ya, kalo engga sudah saya suruh keluar barak! berisik saja!" umpat Candra.
"Hush!! Nih, kau juga berisik mending nyapu aja sebelum dibantai sama Bang Allen ntar," suruh Severius pada Candra.
"Lah, kalo saya nyapu terus kau ngapain?"
"Saya tidur dong, ahahahaa..," sahut Severius sambil tertawa keras.
"Heh kalian!" panggil Allen.
"I-iya bang? kenapa bang?" sahut Severius gugup.
"Udah bikin laporan piket belom? Kok gak ngapa-ngapain daritadi malahan asyik main-main tok! Liat aja ya kalo sampe saya kesini laporan piket belum, lantai juga masih ada yang kotor saya tin--,"
Kring... kring...
Belum sampai Allen selesai mengomel terdengar ponsel yang dilemparnya tadi kelantai berdering. Allen berharap Dhezia yang menghubunginya. Ia segera mengambil kembali ponselnya dan melihat siapa yang menelfonnya. Ternyata, dugaannya salah. Adiknya lah yang menelfonnya, Yovien.
("Halo? Ada apa?") tanya Allen tanpa basa- basi.
("Kak! kakak tuh tak samperin ke Kudus kemarin kak!") jelas Yovien.
("Kan saya sudah kembali, ada perlu apa memangnya?")
("Bisa gak sih, kak? kita bicara lebih santai? jangan kayak orang asing!") tegas Yovien.
Wajah Allen tampak merah padam, tetapi ia berusaha meredam amarahnya
("Kalo gak ada yang dibicarain saya tutup ya,")
__ADS_1
("Kak! Besok mamah ngadain RUPS kak! Kakak harus datang! Kalo engga--,")
("Kalo engga apa?")
("Posisi CEO akan diberikan sama aku, Kak!")
("Ambil saja! Lagian ya mereka juga lebih sayang sama kamu dibandingkan sama saya! Mereka juga datang jauh-jauh ke Manado saat kamu upacara penutupan pendidikan polisi kan? Sementara saat saya upacara penutupan pendidikan tentara? Mereka gak datang, Vien! Padahal itu di Semarang!") umpat Allen pada adiknya itu.
("Cuma masalah itu kakak jauhin aku, Kak? Udah itu bahas nanti, sekarang kakak dimana kak? sudah di batalion kan? Aku kesana sekarang,")
Tuupp..~
Yovien mematikan telefon itu. Dan Allen mengiriminya sebuah pesan singkat.
("Tidak usah datang kemari, tidak ada yang perlu kita bahas.") Lalu Allen memencet tombol send.
***
Setelah berjalan dari Stasiun Tawang, akhirnya Dhezia sampai di penginapan. Ia berjalan ke meja resepsionis untuk memesan kamar.
"Selamat datang di Hotel Bonita, ada yang dapat kami bantu?" ucap seorang perempuan muda yang berada di meja resepsionis itu.
"Aku mau memesan dua kamar untuk malam ini," jawab Dhezia.
"Kakak mau yang single bad atau twin bad?" tanya resepsionis itu.
"Single bad," jawab Dhezia.
"Baik, dua kamar single bad ya. Totalnya empat ratus ribu rupiah," kata resepsionis itu.
"Ini kak." Dhezia menyerahkan empat lembar uang seratus ribuan pada resepsionis itu.
"Baik, terimakasih," jawab resepsionis itu sambil menerima uang empat ratus ribu yang diserahkan Dhezia padanya.
"Ini kuncinya kak, kamar nomor 1007 dan 1008. Mari saya antar," kata si resepsionis menyerahkan kunci kamar. Kemudian berjalan menunjukkan kamar yang telah di pesan Dhezia. Dan Dhezia hanya mengikutinya dari belakang
sambil menggendong tas ranselnya. Setelah sampai di depan kamar yang di pesan Dhezia, si resepsionis berkata, "sebelah sini ya, kak. Saya tinggal ya kak, kalo butuh apa-apa silahkan pencet bel yang ada di kamar. atau bisa juga langsung mendatangi resepsionis, selamat malam," ucap resepsionis itu pada Dhezia.
"Iya, terimakasih." Resepsionis itu kemudian meninggalkannya.
Dhezia segera memasuki kamar yang telah dipesannya. Tanpa melepas dulu sepatunya, ia langsung melemparkan dirinya ke kasur.
"Ahh...nyamannya...," gumamnya sambil membentang-bentang kan tangannya di kasur. Menatap langit-langit kamar. Ia sangat capek seharian ini.
***
__ADS_1