Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
48. Trans Semarang


__ADS_3

Di Hotel Bonita, Dhezia masih saja kacau pikirannya. Entah berapa lama ia berbaring dengan mata terpejam tetapi otak dan hatinya masih berpikir keras. Ia sungguh bimbang. Sementara jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi. Semalaman ia benar benar tidak bisa tidur nyenyak. Ada Allen dan Yovien yang mengganggunya. Mimpinya bisa tidur nyenyak di hotel megah bernama Bonita itu hanya khayalan belaka.


"Fiuhh...," Ia menghembuskan nafas panjang. Ingin sekali ia cepat- cepat bekerja dan mendaftar kuliah kembali, agar kehidupannya kembali normal seperti semula.


Dhezia meraih ponselnya.


"Apa Yovien sudah bangun?" tanyanya dalam hati. Berniat ingin menghubungi pria itu.


"Tapi kan dia baru tidur tadi jam tiga pagi, kasian kalo gue bangunin sekarang, lagian dia buat apa sih sampe jam tiga pagi? temuin cewek? Ah, kalo temuin cewek gak mungkin kan dia tadi nembak gue? Ya tapi setidaknya dia


harusnya cerita kan abis darimana, Ah tau ah kesel," umpat Dhezia dengan kesal.


Tok!Tok!Tok!


Akan tetapi, disaat Dhezia sedang mengumpat kesal, terdengar ada yang mengetuk pintu kamar hotelnya. Dhezia pun segera beranjak bangun dari ranjang hotel itu dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Yovien yang sudah berdiri dengan pakaian rapi.


"Selamat pagi, ZiaZia." sapa Yovien sambil tersenyum.


"Eh?!" Sejenak, hanya kata itu yang keluar dari mulut Dhezia. Ia terlalu kaget melihat Yovien. Tetapi, ia kemudian langsung melanjutkan, "oh, udah mau check out sekarang?" tanya Dhezia yang sebenarnya masih agak canggung jika harus berhadapan dengan Yovien semenjak lelaki itu menyatakan cinta padanya.


"Iya, nunggu apalagi?" sahut Yovien.


"Tap-tapi aku belum siap siap, belum mandi belum berkemas juga belum rapiin kamar," ucap Dhezia gugup.


"Yaudah mandi dulu, aku bantu berkemas, kamar gausah dirapiin gapapa sebenernya kan ada hausekeeping hotel," jawab Yovien santai.


"Oh yaudah tunggu sebentar, aku mandi dulu," ucap Dhezia pada akhirnya.


"Oke," Kemudian Yovien masuk kamar hotel Dhezia. Ia segera membantu Dhezia merapikan barang-barangnya. Dhezia pun segera mengambil pakaian ganti dan alat make up nya lalu bergegas mandi.


Sebenarnya, Yovien hanya ingin mendengar jawaban dari Dhezia. Ia tidak sabar sampai sampai datang sepagi ini ke kamar Dhezia. Dan mengajak gadis itu check out sekarang. Bahkan ketika Dhezia belum berkemas. Setelah Yovien membereskan barang-barang Dhezia yang sebenarnya hanya sebanyak satu tas ransel itu,


beberapa menit kemudian Dhezia keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang telah rapi. Karena ada Yovien di kamarnya, terpaksa ia harus berdandan di kamar mandi. Karena Dhezia terlalu malu jika harus berdandan didepan Yovien.


"Sudah, Zia?" tanya Yovien.

__ADS_1


"Udah," jawab Dhezia sembari memasukkan pakaian kotor dan alat make up nya kedalam tas ranselnya. Ia tampak tergesa gesa. Dhezia tidak enak engan Yovien yang menunggunya terlalu lama.


"Ayok, kita kemana?" ujar Dhezia pada Yovien.


"Ke Xander Japanesse Food dulu ya, aku perkenalkan kamu dengan supervisor restoran itu, biar besok sudah bisa mulai bekerja," ujar Yovien.


"Iya, terimaksih Yovien yang baik," sahut Dhezia kegirangan.


Dan mereka berdua pun kini turun menggunakan lift hotel menuju bagian resepsionis yang berada di depan lobi hotel untuk check out.


"Permisi mbak, mau check out dari kamar 1007 dan 1008," ujar Yovien sambil menyerahkan kunci kamar hotel pada resepsionis.


Pegawai resepsionis itu menerima kunci yang diserahkan Yovien padanya.


"Baik kak, terimaksih telah menginap di Hotel Bonita," ucap pegawai resepsionis hotel itu sambil membungkukkan setengah badannya.


Yovien dan Dhezia kini keluar dari hotel itu. Mereka kini sudah berdiri di depan lobi.


"Zia, sorry aku lupa kalo aku gak bawa mobil, semalem kesini naik taksi online," jelas Yovien.


"Hah? Naiknya dimana emang?" kaget Yovien karena belum pernah sekalipun ia naik Trans Semarang.


"Ya di halte lah, masa iya di stasiun," ketus Dhezia.


"Iya, maksud aku haltenya dimanaaaaaaaa," kesal Yovien.


"Disebelah sana, masih di Kawasan Kota Lama kok," ujar Dhezia sambil menunjuk arah Halte Kota lama bus Trans Semarang.


"Yakin mau naik Trans Semarang? Bukannya ntar malahan muter muter?" tanya Yovien heran.


"Iya gapapa kan, lagian juga muter muter tetep murah bayarnya, lebih hemat hehe," ucap Dhezia kemudian tertawa renyah.


"Iya udah kalo itu mau kamu." Akhirnya Yovien pun setuju dengan ajakan Dhezia. Disisi lain, ia juga belum pernah menaiki Trans Semarang. Ia hanya menaiki taxi online atau mobil pribadinya, sehingga ada sedikit rasa


penasaran dalam diri Yovien.

__ADS_1


***


Dhezia dan Yovien kemudian berjalan menuju Halte Bus Trans Semarang yang juga masih berada di lingkup Kota Lama. Sesampainya di Halte Bus, ada seorang penjaga di halte tersebut. Lantas Yovien pun segera bertanya.


"Mau ke Jalan Hayam Wuruk, bisa naik Trans Semarang kan mbak?" tanya Yovien pada penjaga halte sekaligus penjual tiket bus di halte tersebut.


"Bisa, tunggu ya mas, bis nya sebentar lagi," jawab mbak penjaga halte itu.


"Jadi ini beli tiket dulu ya mbak, tolong tiket untuk dua orang,"pinta Yoevin.


"Baik mas, totalnya delapan ribu rupiah," ujar mbak penjaga halte menyebutkan nominal.


"Hah? Serius nih cuma delapan ribu? Murah amat," batin Yovien dalam hati.


"Vien, aku bayar sendiri aja," ujar Dhezia tiba tiba. Ia merasa tidak enak jika terus terusan menggantungkan dirinya dengan Yoevin. Sementara lelaki itu sudah membayarkan kamar hotelnya semalam. Masa iya cuma empat ribu


rupiah ia juga tidak bisa membayar? Akan tetapi, Yoevin malahan menolak keinginan Dhezia untuk membayar tiket bus nya sendiri.


"Biar saja sama aku sekalian, cuma delapan ribu kok dua orang," ucap Yoevin. Kemudian menyodorkan uang receh dua ribu rupiah sebanyak empat lembar ke penjaga halte itu. "Uang pas ya mas, ini tiketnya, silakan duduk dulu," ujar penjaga halte menerima uang Yovien dan menyerahkan dua tiket bus pada Yovien.


Beberapa menit Yovien dan Dhezia duduk di kursi tunggu. Menunggu bus mereka datang. Dan setelah menunggu akhirnya bus mereka datang.


"Tujuan hayam wuruk naik yang ini mas, mbak," kata penjaga halte bus tadi memberi aba-aba.


Yovien dan Dhezia segera bangkit dari duduknya dan masuk kedalam bus. Akan tetapi di dalam bus ternyata kursi berada di pinggir pinggir melingkari bentuk bus dan saling berhadapan. Bukan berderet dari depan kebelakang seperti bus pada umumnya. Dan penumpang laki laki dibedakan tempat duduknya dengan penumpang perempuan. Sehingga menjadikan Yoevin merasa sedikit tidak nyaman dan khawatir karena tidak bisa duduk di sebelah Dhezia. Dan Dhezia seperti menyadari kekhawatiran Yovien, ia pun segera mengirimi Yoevin pesan singkat melalui


Whatsapp.


(" Aku baik baik aja disini,") ucapnya melalui pesan singkat itu. Sehingga membuat Yoevin sedikit lega ketika membacanya. Ia pun kemudian menyandarkan kepalanya di kursi bus itu. Memejamkan mata, sambil menikmati alunan musik yang terdengar dalam bus itu.


***


Bersambung^^


Jangan lupa kasih ulasan ya ^^

__ADS_1


__ADS_2