Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
41. Kembali ke Masa Sekarang, 2021


__ADS_3

Kota Semarang, 2021.


Di apartemennya, Yovien tersadar dari lamunannya akan kenangan dan peristiwa pahit ia alami dengan kakaknya sewaktu delapan tahun silam di Bali. Ia dan kakaknya mencintai perempuan yang sama. Jika waktu dapat diputar kembali, ingin rasanya Yovien tidak usah mengenal Nicole waktu itu. Tetapi, semua sudah terlambat. Nicole lah yang menyebabkan hubungan ia dan kakaknya menjadi renggang bahkan sampai saat ini. Sekarang, bahkan untuk menghubungi Allen saja sulit, berkali kali menelfon Allen tak pernah mengangkat telfonnya. Dan jika Allen


mengangkat pun, Allen akan berbicara dengan nada formal, yang terdengar seperti berbicara pada orang lain, bukan pada adiknya. Karena peristiwa itu, Allen benar benar telah berubah.


***


Sementara Rea terlanjur tertidur di bahu kanan Yovien. Dan Yovien enggan menggerakkan badannya. Ia berniat membuat Rea tidur pulas di bahunya sampai pagi. Meski awalnya menyebalkan, kini Rea dapat sedikit membuat hatinya tenang.


"Tidurlah, terimaksih sudah mendengarkan ceritaku," gumam Yovien pada Rea yang sedang tertidur pulas.


Dan Yovien kini ikut memejamkan matanya juga, dengan kepala yang disandarkan ke sofa. Ia terlalu capek hari ini. Meski ia diancam oleh mamahnya jika tidak menemukan Allen, maka Yovien lah yang akan menggantikan posisi papahnya sebagai CEO Xander Group.  Tetapi entahlah, kini Yovien malah memilih tidur pulas dengan telapak tangan yang masih menempel di rambut panjang Rea.


***


Di hotel Bonita, setelah mendengar cerita makan selama sepuluh detik waktu pendidikan militer Allen, Dhezia pun melanjutkan melahap nasi gorengnya. Sementara Allen sehabis makan, kini beranjak dari tepi ranjang. Masih


menggunakan selimut yang berbalut di tubuhnya ia menuju meja TV. Diambilnya ponselnya yang berada disana, dilihatnya ada puluhan panggilan tak terjawab dari Yovien. Padahal Allen telah mengiriminya pesan singkat. Sebenarnya setiap kali ia menerima panggilan dari Yovien, Allen masih saja teringat akan Nicole. Allen


masih saja merasa jika adiknya itu telah mengkhianatinya.


("Jangan menelfonku lagi!") kesal Allen melalui pesan singkatnya yang dikirim kembali kepada Yovien.


Sementara Dhezia yang melihat Allen seketika menyadari raut wajah Allen yang berubah saat melihat ponselnya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Dhezia sembari mengunyah makanannya.


Dan Allen kembali meletakan ponsel miliknya diatas meja.


"Tidak," jawabnya singkat. Kemudian berjalan dan melemparkan tubuhnya kembali di ranjang dengan kasar. Sehingga kasur yang berada di ranjang itu ikut terguncang akibat ulahnya.


"Aaaa jangan gitu! Nanti nasi goreng aku tumpah, gak lihat apa aku masih makan?" cerocos Dhezia yang masih makan di tepi ranjang.

__ADS_1


"Iya ih, bawel, orang saya cuma mau tidur!" kesal Allen.


"Kamu gak berniat tidur disini malam ini kan?" tanya Dhezia penuh selidik.


"Tidur disini. Tidur disini sampai pagi," ketus Allen.


"Apa yang pernah terjadi dengan pria ini hingga ia begitu menyebalkan?" batin Dhezia.


Diarahkan pandangan matanya kearah Allen. Tampak Allen yang telah memejamkan matanya. Dan Dhezia pun segera menyelesaikan makannya. Kemudian minum teh hangat yang tadi telah dipesannya dan mencuci tangan.


Seusai mencuci tangannya, Dhezia mendekat kearah Allen yang kini berbaring dengan mata terpejam. Tak tega rasanya jika ia harus membangunkan pria itu. Tetapi, ini sudah terlalu larut malam. Dan Dhezia khawatir jika saja Yovien tiba tiba datang dan mengetahui jika ada pria yang tidur di kamar hotelnya.


Karena Dhezia pun tadinya dapat menginap di Hotel Bonita karena Yovien lah yang membayarnya. Ia pasti akan merasa tidak enak dengan Yovien. Akhirnya Dhezia memberanikan diri untuk membangunkan Allen.


"Len...., bangun, ini udah larut malam, kamu harus pulang," kata Dhezia sambil mengguncangkan pundak Allen yang masih tertidur.


"Emmhh....." hanya terdengar eraman dari bibir pria itu. Tampaknya usaha Dhezia membangunkan Allen itu sia sia.


"Baru sebentar masa iya udah tidur?" heran Dhezia.


"Ah, mau pura pura atau mau tidur beneran aku harus membangunkannya!" pekik Dhezia dalam hati.


"Aleeeennnnnnnn...., banguuuunnnn," panggil Dhezia sedikit lebih keras dari sebelumnya. Ia juga kini lebih keras dalam mengguncang bahu Allen. Berharap Allen akan bangun.


"Berisik!" ketus Allen dengan mata terpejam. Dan tanpa disangka, Allen dengan sigap menarik tangan Dhezia sehingga kini Dhezia jatuh ke pelukan Allen dalam posisi berbaring.


Allen pun segera memeluk Dhezia dengan cepat. Mengunci tubuh gadis cantik itu dalam pelukannya. Dan kini, kepala Dhezia menempel di dada bidang Allen. Allen dapat merasakan aroma shampo rambut Dhezia yang semerbak wangi.


Sementara Dhezia sontak kaget seketika, niatnya dan usahanya membangunkan pria itu kini malah berujung menjadi hal yang mendebarkan dada. Dengan jarak sedekat itu, Dhezia bahkan bisa merasakan degup jantung Allen. Tetapi pikiran Dhezia kini justru tidak bisa tenang. Akankah kejadian yang dilamunkannya saat Allen


pertama datang ke kamar hotelnya itu akan terjadi malam ini? Dhezia bertanya tanya dalam hatinya. Pikirannya sungguh tidak tenang. Dhezia masih bertanya tanya apa yang dipikirkan Allen saat ini, apa yang dipikirkan Allen saat memeluknya seerat ini.


"Jika begitu lebih tenang kan?" ucap Allen dengan mata yang terpejam dan memeluk erat Dhezia.

__ADS_1


"Bi-bisakah kamu menjauhkan tubuhmu sedikit?" pinta Dhezia dengan gugup.


"Tidak, lebih nyaman tidur dengan memelukmu seperti ini," jawab Allen santai.


"Kamu santai, lah aku? Kamu gak tau aku deg deg an banget gini!" pekik Dhezia dalam hati. Terlebih lagi, Allen masih menggunakan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Celananya yang basah masih dikeringkan di bawah AC. Sehingga Dhezia dapat merasakan sesuatu yang sedikit mengeras di bagian bawah sana.


Menyadari Dhezia yang diam tak menjawabnya, Allen segera menenangkannya.


"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun," ucap Allen meyakinkan gadis cantik yang kini sedang dipeluknya.


"Ya siapa tau kamu ngelakuinnya ntar pas aku udah tidur!" tindas Dhezia.


Dan sepertinya, Allen menyadari apa yang Dhezia pikirkan.


"Kan saya udah bilang. Gak akan melakukan apapun Dhezia Anastasya! Saya bisa menahannya, saya tidak akan melakukannya tanpa izin darimu," kata Allen penuh penekanan.


"Kata kata laki laki harus bisa di percaya ya!" ucap Dhezia memperingatkan Allen.


Dan hanya dibalas senyum oleh pria itu. Kemudian Dhezia memejamkan matanya. Dan tertidur dalam pelukan Allen.


"Gadis menyebalkan. Semoga kita bisa bersama, selamanya. Meski tanpa ungkapan cinta," batin Allen.


Selepas terlibat dengan masa lalunya bersama Nicole dan Yovien, Allen memiliki sedikit rasa trauma ketika akan mengungkapkan perasaannya pada perempuan.


***


Malam yang larut itu, di rumah besarnya yang seperti istana itu, tampak Nyonya Clarista yang mondar mandir di depan lobi. Memegang ponselnya menelfon Yovien. Tetapi tak juga ada balasan dari putra bungsunya itu. Nomor Yovien tidak aktif.


"Gimana mah? Sudah diangkat?" tanya Tuan Xander yang berjalan menghampiri istrinya.


"Belum. Tidak aktif," jawab Nyonya Clarista.


***

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa kasih ulasan ya ^^


__ADS_2