Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
27. Allen Menemui Dhezia


__ADS_3

Setelah melemparkan dirinya di kasur, Dhezia meraih ponsel yang berada dalam ranselnya dan menghidupkannya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati ratusan panggilan tak terjawab dari Allen melalui Whatsapp nya.


"Hah..???! tidak mungkin..," pekiknya dalam hati sambil menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang ponsel yang menampilkan banyak panggilan tak terjawab dari Allen.


Masih sambil memegang ponselnya, Dhezia kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan menuju jendela kamar. Dhezia membukanya perlahan. Dan tampak pemandangan Kota Semarang yang sangat cantik. Dari arah jendela kamar, angin malam berhembus pelan, menumbuhkan suasana damai di hati. Dhezia tampak memandangi seluruh sudut kota itu dari jendela kamarnya.


***


Di barak bujang, setelah menutup telfon dari Yovien, Allen kembali menghubungi nomor Dhezia. Meskipun hatinya sudah harus siap-siap kecewa bila saja nomor itu masih tidak aktif, karena memang nomor Dhezia tidak aktif daritadi pagi. Tetapi Allen terus mencobanya.


"Siapa tadi bang?" tanya Severius yang menyadari muka abangnya yang berubah menjadi bete ketika menerima telfon tadi.


"Apanya?"


"Yang telfon abang tadi, loh. Abang tampak kesal," jelas Severius.


"Oh, adek gue,"


"Kepin itu?" tebak Severius.


"Yovien dodol, jelek banget ingatan kamu, Sev!" sahut Candra.


"Hah?" lengguh Severius.


"Nama adeknya bang Allen tuh Yovien! bukan Kepin! Yovien Xander dari Xander Group! Saya aja hapal!" ledek Candra.


"Yeee, sensi amat sama saya kamu, Can!" sahut Severius.


"Lah kamu otak kamu seperempat gitu, jadi sensi saya!" ledek Candra lagi.


"Ledekin aja kamu, Can! Emangnya otak kamu utuh apa? palingan juga seperempat juga kayak saya!" cibir Severius.


"Gak! Enak aja kamu kalo ngomong!" bantah Candra.


Sementara Allen hanya diam memandangi kedua adik lettingnya itu. Severius dan Candra tampaknya langsung menyadari ketika abangnya itu memandangi mereka.


"Udah? Atau mau ledek- ledekan lagi?" tanya Allen pada mereka.


"Maaf bang, biasa ini Candra yang duluan," jawab Severius.


"Enak aja, kok saya!" tolak Candra masih saja tidak terima.


Dan Severius refleks menginjak jempol kaki Candra, "Kamu sekali- kali mengalah kenapa!" cibir Severius.


"Gak! Ngapain ngalah kok sama kamu, gak ada gunanya! kalo sama Citra saya mau ngalah!" ujar Candra.


"Kamu masih sama Citra?" Allen segara menyahut.


"Eh? Iya masih si bang, kadang- kadang saya chat dia. Abang bagaimana sama Dhezia?" Candra bertanya dengan hati-hati.


"Entahlah," jawab Allen singkat.


"Ehm, tadi adiknya abang kenapa kalo boleh tau? kok tumben telfon, hehe" tanya Severius mencoba mencairkan suasana.


"Biasanya telfon, tapi kali ini buat saya kesal!" jawab Allen.


"Memangnya kenapa kalo boleh tau bang?" tanya Severius.


"Besok mamah gue ngadain RUPS Luar Biasa pergantian Dewan Direksi Perusahaan. Kalo gue gak datang Yovin yang akan dijadiin CEO," jelas Allen.

__ADS_1


"Lah kan kayaknya adiknya abang polisi kan? di manado? memang bisa datang?" heran Candra.


"Udah di pindahin mamah ke Semarang dia, sekarang dinas di Semarang." jelas Allen lagi.


"Pindah segampang itu?" sahut Severius.


"Polisi, Sav! Ditambah lagi Xander Group Sav! Iphone 14 aja kayak harga permen karet!" cecar Candra.


Dan lagi-lagi, Severius buru-buru menginjak jempol kaki Candra.


"Ngomong gak hati- hati! Xander xander tau gak disini ada anaknya, Can!"


"Gapapa. santai aja," jawab Allen singkat sok cuek. Tetapi, masih saja tak menutupi rasa kesalnya.


Dan kini, Allen kembali menelfon Dhezia. Kemudian terdengar nada berdering. Raut wajah yang awalnya kesal berubah menjadi riang.


***


Ketika tengah memandangi beberapa sudut Kota Semarang dari balik jendela kamarnya, ponselnya bergetar, tertera jelas nama Allen dalam panggilan itu. Dan kini, Dhezia memberanikan diri untuk mengangkat telfon dari Allen.


("Selamat malam, Len.") sapanya melalui panggilan telfon itu.


("Kemana aja sih lo? Di telfon gak diangkat, ponsel di matiin, sengaja banget ya biar punya alasan buat gak ngangkat telfon saya?") Allen langsung meluap-luap emosinya. Bahkan memanggil cewek yang dicintainya pun pakai sebutan "lo".


Mendengar Allen yang marah-marah, Dhezia berusaha mencairkan suasana.


("Gausah marah-marah, nanti gantengnya ilah loh,") goda Dhezia.


("Hah?! Apa kamu bilang tadi, Zia?") Mendadak suara Allen berubah hangat.


("Hihi, udah gak marah lagi ya, tuan muda Allen Xander Yudha?") goda Dhezia.


("Kenapa? tuan muda ini kaget ya?") tanya Dhezia sok polos melalui telfon.


("Gak! bodo amat kamu mau tau nama lengkap saya mau enggak saya gak peduli!") kesal Allen.


("Idii, ini si tuan ngambek ya?") ledek Dhezia.


("Jangan panggil saya tuan muda!") tolak Allen.


("Yaudah ini Mas Allen ngambek? Gara-gara saya?") tanya Dhezia masih saja sok polos.


("Gak! Ngapain saya ngambek cuma gara-gara cewek gak jelas kayak kamu!") cecar Allen.


("Yaudah kalo gitu aku tutup dulu ya telfonnya, selamat malam,") pamit Dhezia hendak menutup telfon itu.


("Tunggu-tunggu, sekarang lagi dimana kamu?") tanya Allen.


("Aku? Hotel Bonita.") jawab Dhezia singkat.


("Hotel Bonita?")


Sial. Dhezia keceplosan. Tapi, apa boleh buat, Allen sudah terlanjur mendengarnya.


("Hotel Bonita dekat Kota Lama?") tanya Allen pada Dhezia.


("Iya.")


Setelah Dhezia menjawab iya, Allen segera menutup telfonnya.

__ADS_1


Tupp....


Dhezia yang terkejut tiba-tiba suara Allen menghilang pun tampak kesal.


("Halo? Len?? Allen? His..,") umpatnya. Sepertinya pria itu barusaja menutup telfonnya.


"Padahal dia sendiri yang nelfon, eh di tutup gak minta izin dulu, minimal assalamualaikum atau apa gitu kek," pekiknya kesal dalam hati.


***


Tanpa menunggu lama, Allen segera bersiap menemui Dhezia. Diambilnya jeket hoodie hitamnya.


"Can! Sav! Gue keluar dulu ya, ntar kalo butuh apa-apa atau ada yang


nyari kalian telfon aja Rigel!" perintah Allen.


"Siap, Bang!" jawab mereka berdua.


Setelah memakai jaketnya, Allen segera berlari keluar barak.


"Lah kalo bang Allen yang dicari masa iya kita telfonnya ke bang


Rigel?" heran Severius.


"Itu artinya bang Allen gak mau diganggu, dodol! Otak kamu seberapa sih, Sev?" maki Candra.


"Yee, saya kan cuma tanya, kenapa sampai otak- otak segala?" protes Severius.


"Tau lah, lama-lama stress saya ini ngomong sama kamu, Sav! Udah kamu telfon Merta aja sana! Daripada bikin saya badmood," suruh Candra.


"Saya gak punya nomor Merta!!!!!" kesal Severius. Kemudian ia berjalan keluar barak meninggalkan Candra yang sensi akan tingkahnya.


"Sono sono," umpat Candra.


***


Setelah keluar dari barak, Allen dengan segera melajukan motornya menuju Hotel Bonita yang berada di Kawasan Kota Lama. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit. Akhirnya sampailah Allen di Hotel Bonita. Tanpa


ragu-ragu Allen memasuki hotel itu. Allen berjalan menaiki anakan tangga hotel itu. Kemudian menelfon Dhezia kembali. Dan sesaat kemudian langsung terdengar suara Dhezia dari arah telfon itu.


("Iya, Len?") sahut Dhezia saat mengangkat telfon lelaki itu.


("Kamar nomor berapa?") tanya Allen.


("Loh kamu kesini, Allen?") tanya Dhezia.


("Tidak baik menjawab pertanyaan dengan pertanyaan kembali,") kata Allen.


("Eumm..,1007,") lanjut Dhezia.


Dan lagi-lagi, Allen segera menutup teleponnya. Sebenarnya, otak Dhezia menolak dengan keras. Membiarkan seorang lelaki bertamu di kamar hotel malam- malam itu sangat buruk di Indonesia. Kecuali di Los Angeles. Semua akan baik-baik saja jika saja itu Amerika. Dan ini Indonesia. Tapi, hati kecil Dhezia mengatakan jika ia memang rindu dengan Allen. Ia tidak dapat membohongi perasannya.


Tok! Tok! Tok!


Dan benar saja, telah terdengar suara pintu diketuk. Dhezia segera membukanya.


Ceklekk..!!


Tanpa disangka, setelah Dhezia membuka pintu kamarnya. Allen langsung memeluknya. Mendorong dirinya memasuki kamar itu. Dan menutup pintunya kembali, kemudian menguncinya. Dhezia yang kaget dengan perlakuan Allen sontak mendorong Allen. Mencoba melepaskan dirinya. Dan Allen yang melihat tingkah takut Dhezia segera melepaskan pelukannya terhadap gadis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2