Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant
51. Curhat dengan Rigel


__ADS_3

"Allen?" pekik Dhezia dalam hati ketika ia melirik sekilas ponsel yang berdering itu. Ia sungguh bimbang. Harus mengangkat telfon itu atau tidak. Ingatannya kembali terngiang kejadian semalam, saat ia mengusir Allen dengan


kasar di depan kamar hotelnya setelah pria itu menciumnya kasar.


Kring...Kring...


Dan ponsel itu terus saja berdering.


***


Di Batalion 1002, Semarang.


Semalam, sejak pukul tiga pagi hari, Allen berpatroli keliling batalion bersama Rigel. Mereka menyusuri setiap kawasan batalion itu jika saja ada yang mencurigakan. Sesekali ketika mereka tangah berkeliling batalion dan bertemu dengan anggota tentara lainnya, Allen ataupun Rigel akan bertanya tentang sandi malam itu. Dan jika saja orang yang mereka tanyai tidak tau atau menjawab sandi dengan salah, maka orang itu bukan anggota dari batalionnya. Allen dan Rigel perlu mewaspadai jika saja ada penyusup yang masuk dan membahayakan. Atau


mungkin sampai meledakkan bom.


"Abis ini bangunin adek adek letting di barak bujang," ucap Rigel pada Allen yang masih berjalan disampingnya sambil membawa senjata.


"Awas aja kalo gak langsung bangun, tak siram air semua mereka. Abangnya patroli kok masih juga disuruh bangunin," kesal Allen.


"Capek kamu, Len? Kenapa kelihatan kesal begitu?" tanya Rigel yang berjalan disamping Allen.


"Wajar gak sih, Gel? Kita cium cewek karna kita suka sama cewek itu?" tanya Allen dengan nada kesal pada Rigel. Entah mengapa, ia tidak bisa melupakan Dhezia dalam pikirannya. Allen malah semakin mencintai gadis itu.


"Ya, wajar. Itu kan naluri seorang laki laki. Jika dia mencintai wanita, maka akan timbul keinginan buat menyentuh dan mencium wanita yang dicintainya, itu menurutku," jawab Rigel.


"Nah kan, Wajar! tapi kenapa dulu gue waktu cium Dhezia pertama kali DITAMPAR, dan kedua DI USIR?!" Allen bertanya dengan emosi.


"Lah Dhezianya gimana? suka sama kamu juga apa engga? Kalo gak suka ya jelas di tampar sama di usir lah," sahut Rigel enteng.


"Suka!" Dengan percaya diri Allen menjawab.


Dan Rigel menampakkan reaksi wajah heran.


"Suka! Beneran Dhezia tuh suka sama gue! buktinya dia semalem lari payungin gue saat gue mau hujan-hujanan!" cerocos Allen.


"Kek anak kecil kamu!" umpat Rigel.


"Dan lo tau, Gel? Apa yang buat gue yakin Dhezia suka sama gue? Dia cium gue ditengah hujan! Dibawah payung!" Allen bercerita dengan jelas.


"Wuih, so sweet amat si Dhezia ya. Ciuman dibawah payung saat hujan gitu maksud kamu? Hahahahaaa...," sahut Rigel. Kemudian terkekeh keras.


"Dan saat gue cium dia malahan dia gitu sama gue! Tau lah, gadis aneh!" umpat Allen kesal.

__ADS_1


"Lah lo udah ungkapin perasaan belum ke dia?" tanya Rigel.


"Belum, masih trauma sejak kejadian bali," jawab Allen singkat.


Kemudian Rigel langsung menggetok kepala Allen.


"Dodol! Ya jelas di tampar dan di usir lah! Cewek mana mau disosor gitu aja tanpa ada ungkapan perasaan! dan tipe tipe lo itu kalo cium cewek pasti kasar kan?!"umpat Rigel pada Allen.


"Ya Dhezia cium gue juga belum ngungkapin perasaan, Gel! Gitu buktinya gue gapapa, gak ngusir dia apalagi nampar!" protes Allen pada umpatan Rigel.


"Dhezia cium lo itu kode! buat cepetan lo tembak dia! gak peka banget kau jadi prajurit!" kesal Rigel.


"Lebih mudah hadapin musuh ya, daripada hadapin cewe," gumam Allen.


"Udah gausah pikirin. Ngatasin gitu tuh gampang! Telfon aja bawain hadiah, jangan datang gak bawa apa- apa, ntar yang ada kalian hanya berantem!" saran Rigel.


"Bawain apa?" tanya Allen. Ia benar- benar payah dalam hal memenangkan hati seseorang.


"Ya kesukaan cewek lah! Masa aku harus ngasih tau!" kesal Rigel. Ia benar- benar tidak habis pikir dengan sahabatnya itu.


"Gausah lah, biarin aja ntar juga baik sendiri kalo mood nya udah baik," kata Allen pasrah.


Dan Rigel seketika menghentikan jalannya. Ia menarik nafas panjang.


menyenangkan hati cewek. dan jangan lupa kamu harus dateng pakai seragam," saran Rigel.


"Buket bunga? Coklat? Pakai Seragam?" heran Allen.


"Cewek rata- rata suka cowok berseragam, terlebih lagi bawain hadiah buat dia," jelas Rigel kembali.


"Oh," sahut Allen. Kini ia berpikir keras, apakah ia harus mengikuti saran Rigel atau tidak.


Dan akhirnya, Allen dan Rigel terus berpatroli hingga pukul lima subuh tadi. Setelah selesai berpatroli, Allen dan Rigel langsung menuju barak bujang untuk membangunkan adek- adek lettingnya. Para tentara junior di barak bujang harus melakukan kegiatan rutin kurfe atau bersih- bersih kawasan barak mereka setiap pagi.


"Bangun... Banguuunnn....!!!!" teriak Allen sambil menggedor gedor pintu barak bujang.


Tap! Tap! Tap!


Tepuk Rigel pada deretan kaki masing- masing adik lettingnya yang tengah berbaring diatas ranjang yang berjajar banyak di barak bujang itu.


"Dalam hitungan ketiga harus bangun semuaaaa! Satu...! Dua...!Tiga...! Jika tidak hukuman kalian berendam di lumpur sampai sore!!!" Allen memberikan peringtaan dengan lantang.


Dan seketika semua adik adik lettingnya yang tidur di barak bujang itu langsung bangun dan bergegas baris di depan Allen.

__ADS_1


"Siap! Bangun!" ucap mereka bersama- sama.


Rigel tersenyum melihat cara Allen membangunkan adik- adik lettingnya itu. Sahabatnya satu itu memang sangat kreatif.


"Hitung..., Mulai!" perintah Allen.


Dengan sigap, adik-adik lettingnya segera berhitung.


"Satu!" Suara adik lettingnya yang berada di barisan paling pinggir.


"Dua!" ucap seseorang di sebelahnya.


"Tiga!" ucap seorang lagi


"Empat!"


"Lima!"


"Enam!" Begitulah seterusnya mereka menghitung diri mereka sendiri.


Hingga tiba barisan paling pojok belakang berucap dengan lantang,


"Ijin, Bang! Genap lima puluh orang!"


"Oke, kegiatan kalian pagi ini kurfe depan barak kayak biasanya, jangan lupa bukti dokumentasi kirim di grup, ntar kalo udah selesai kurfe lapor aja sama Rigel. Saya kembali ke asrama saya dulu," jelas Allen. Kemudian pergi


meninggalkan barak bujang.


***


Setelah meninggalkan barak bujang, Allen langsung kembali ke asramanya. Merebahkan dirinya. Ia sangat lelah. Terlebih lagi hatinya kecewa akan sikap Dhezia terhadapnya. Akan tetapi, mengapa ia masih saja mencintai gadis itu? Diliriknya sekilas sebuah boneka Katsina Doll yang dititipkan Dhezia padanya.


"Gue harus gimana?" gumam Allen. Tanpa disangka saat merebahkan dirinya di kasur, ia ketiduran hingga pukul sembilan pagi.


***


Begitu Allen bangun, ia langsung meraih ponselnya. Mengetik nama Dhezia dan segera memencet tombol call pada nomor itu.


Tut.... Tut....(berdering). Lama tak ada jawaban dari Dhezia. Sudah ia tebak, Dhezia mungkin saja tidak mau menjawab telfon darinya. Akan tetapi, Allen kembali menelfonnya.


Tut....Tututtt..... (berdering)


***

__ADS_1


__ADS_2