
Cinta itu tak hanya sekedar kata, tetapi perlu pembuktian nyata, agar kau bisa melihat mana yang sungguh-sungguh cinta dan yang hanya ungkapan semata. -EL-
...****************...
Susana hati El sedang kacau, ia berharap dengan pulang ke rumah kontrakannya, ia bisa mendapatkan ketenangan di sana. Di halaman kontrakan rame para tetangga sedang berkumpul namun ternyata sedang melihat suatu perkara.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bogem mentah berhasil mendarat kepipi Ardan, kini Ardan terkapar di atas tanah.
“Cepat lunasi hutang-hutangmu kalau tidak kami tidak akan segan-segan untuk mempenjarakanmu!” ancam seseorang lelaki yang ditemani dua orang pengawalnya.
“Ampun Bang Doni, mohon beri saya waktu lagi,” mohon Ardan.
“Ini sudah waktu tempo dan ini sudah hari terakhir saya kasih kesempatan untukmu,” hardik Doni yang diketahui sebagai renternir di sini.
“Saya mohon Bang, beri saya waktu lima hari lagi sampai saya benar-benar mendapatkan uang itu,” ucap Ardan mengiba.
“Ya Allah, Abang Ardan...,” pekik Amelia yang datang dari berkerja.
‘Astaga drama apalagi yang ku saksikan ini?’ gumam El.
“Amelia... tolong Abang sayang, abang butuh duit untuk melunasi hutang dengan Bang Doni,” ujar Ardan tanpa dosa.
“Abang sejak kapan berhutangnya?Kok aku gak tahu sih, lalu ke mana uangnya?” cecar Amelia menatap tajam Ardan meminta penjelasan.
“I-iitu... anu, Abang pinjam uangnya dulu untuk main slot game,” jawab Ardan terbata-bata.
“Ya Allah, jadi Abang berhutang dan uangnya habis hanya untuk main slot game judi online, keterlaluan kamu bang!” Amelia tak bisa menahan amarahnya ia memukul-mukul pundak suaminya.
“Makanya sekarang apakah kamu ada uang, bantu Abang melunasi utang-utang itu?”
“Memang berapa hutang-hutang Abang Ardan?” Amelia mengalihkan pandangannya bertanya kepada Bang Doni sangat renternir.
“Utangnya lima puluh juta rupiah, beserta bunganya dua puluh juta rupiah totalnya menjadi tujuh puluh juta,” jelas Bang Doni.
__ADS_1
“Astaghfirullah, banyak sekali, aku mana ada duit untuk membantu kamu Bang Ardan,” kilah Amelia.
“Ayolah, Amelia sayang bantu Abang! Abang beneran tidak ada uangnya masa kamu tega abang di penjara,”
“Itu resiko Abang, lagian Abang yang behutang kok minta bantuan sama aku?” omel Amelia.
“Dasar isteri tak berguna,” geram Ardan.
“Hei, kalian berdua ini malah bertengkar, cepat katakan apakah kalian bisa melunasi hutang-hutang itu beserta bunganya?” Peringatan dari Bang Doni dan dua preman.
“Saya minta keringanan hati Bang Doni untuk bisa memberikan saya sedikit kelonggaraan waktu kembali,” ucap Ardan.
El mendekat dan berkata, “Aku bisa memberikanmu uang sebanyak itu dan kamu bisa memilikinya untuk membayar semua hutang-hutangmu.”
“Oh ya? Mana uangnya cepat berikan!”
“Tidak semudah itu, saya punya penawaran,” tawar El yang mulai tersenyum licik.
“Andreas nyalakan kamera Handphonemu,” perintah El, dengan sigap Andreas mematuhi perintah bossnya.
“Astaga, ide gil* apalagi yang mau Boss lakukan?” gumam Andreas yang ikut tegang.
“Syaratnya adalah kamu harus meninggalkan Amelia isterimu,” ucap El lantang.
“Hah, gil* kamu Mas El, aku kamu jadikan sebagai bahan taruhan?” desis Amelia tersulut emosi.
“Bagaimana?” tanya El menatap tajam pada Ardan, ia tidak menghiraukan Amelia yang marah-marah.
“Oke, baiklah kalau begitu lagian aku juga sudah tidak mau lagi bersama isteri gak ada guna seperti dia, ” tunjuk Ardan tepat dimuka Amelia.
“Bagus, ini ambillah uang seratus juta rupiah!” El mengambil uang cash dari dalam tasnya, ia menghamburkan uang itu tepat dimuka Ardan juga.
Ardan yang begitu senang melihat betapa rakus dan tamaknya memunguti semua uang tersebut. Ia tak memperdulikan perasaan Amelia yang kecewa pada suaminya itu.
“Mas apa yang kamu lakukan hah? Tega kamu mau menjualku pada dia? Dasar suami berengs*k,” umpat Amelia.
“Sudah cukup drama kalian!” bentak EL. Sedangkan Ardan pergi berlari membawa uang tadi.
“Apakah lelaki seperti itu yang ingin kamu pertahanankan? ” bisik EL menatap tajam Amelia.
__ADS_1
...****************...
Baaamm! Pintu rumah kontrakan Amelia, tertutup kencang, air mata yang sedari tadi ia tahan kembali bercucuran mengenangi pipinya. Marah bercampur malu ia rasakan, belum lagi sakit hati atas perlakuan suaminya.
“Tega kamu Bang Ardan, kamu benar-benar keterlaluan,” raung Amelia kesal.
El juga kembali rumah kontrakannya untuk beristirahat, “Ku harap setelah kejadian ini kamu sadar bahwa lelaki itu tidak pantas kamu tangisi,” gumam El.
...****************...
Kejadian sore itu disaksikan semua oleh para tetangga dan juga beberapa orang yang lewat, belum lagi expresi keterkejutan mereka saat El melempar uang ke muka Ardan seakan-akan uang itu tidak ada artinya bagi EL.
Keesokan harinya terdengar bisik-bisik tetangga yang mulai kepo dengan desas-desus El seorang sultan kaya raya yang sedang menyamar mencari isteri.
“Duh, gosip terpanas dan terhangat pagi ini seantero RT, mengenai si Amelia yang jadi korban KDRT dan juga Mas El yang ternyata tajir bak sultan,” ujar Bu Minah cerocos.
“Iya Bu, semua orang juga tahu itu, tetapi kasihan juga kan si Amelianya kok tega sih suaminya menjual isteri terang-terangan begitu,” sambung Bu Ratni.
“Eh Bu Ratni, kasihan apanya? Salah dia sendiri mau aja bertahan dengan suami macam si Ardan itu, sudah pengganguran ditambah suka main fisik,” julid Bu Minah.
“Ya elah Bu Minah, namanya juga suami bagaimanapun sikapnya tetap dihormati,” bijak Bu Rahmah yang ikut nimbrung.
“Idih, Mikir dong Bu Rahmah masa iya kita sebagai isteri mau aja ditindas begitu, yang ada kita keburu abis meregang nyawa,” protes Bu Minah.
“Husst! Bu Ibu sudahlah tuh orangnya keluar,” imbuh Bu Ratni.
Pagi ini Amelia keluar rumah dengan mata sembab dan wajah pucat, ia melangkahkan kaki ke teras rumah, namun tubuhnya yang lemah tak bisa membuat pijakan kakinya kuat, seketika itu pula ia ambruk.
“Astaghfirullah, Amelia...,” teriak Bu Rahmah melihat Amelia pingsan.
Mendengar ada suara teriakan ibu-ibu El yang sedari tadi masih belum terbangun dari tidurnya, langsung kaget dan keluar rumah, ia melihat Amelia tergeletak di teras. El dan ibu-ibu langsung mendekati dan membopong Amelia masuk ke dalam rumahnya.
Bersambung....
Happy Reading... Maaf ya lama upnya karena fokus ke novel satunya.
Sambil nunggu El up cerita ini silakan teman-teman mampir ya dicerita saya yang satu ini.
__ADS_1