MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab 19 Ardan Vs El.


__ADS_3

Hampir satu jam El melayani pelanggan, sampai semua daging habis diborong tanpa sisa, Bu Dahlia sangat gembira, “Terima kasih banyak ya Mas El, berkat Mas El laris manis, maaf merepotkan.”


“Sama-sama Bu, semoga berkah ya usahanya, kami pulang dulu.”


Ketika hendak keluar pasar El melihat ada pedagang menjual tas rajut wanita. Ia begitu tertarik dengan motif yang lucu, ‘Besok bukannya tanggal tiga belas Januari ya?’ pikir El. Ia pun akhirnya membeli satu buah tas rajut itu.


...****************...


Amelia menyiapkan makan malam sambil menunggu kedatangan Ardan, ia memasak dengan menu seadanya.


Tok! Tok! Suara pintu di ketuk. “Asalamualaikum,” salam Ardan.


“Waalaikumsalam,” balas Amelia. Bergegas membukakan pintu, Amelia pun kembali ke dapur meneruskan memasak, tetapi ... tok! tok! Suara ketukan pintu kembali terdengar, "Ardan buka pintunya!” seru seseorang di luar.


Amelia pun membuka pintu dan ternyata Ibu Mertua dan Mbak Rosi yang datang. “Oh Ibu, Mbak Rosi mari silakan masuk!” ucap Amelia.


“Gak perlu di sini saja, mana Ardan?” tanya Ibu Mertuanya.


“Bang Ardan lagi mandi Bu, baru pulang kerja,” jawab Amelia.


Ardan keluar dari kamar mandi, memakai kaos oblong dan juga celana pendek, sambil mengusap rambut yang basah dengan handuknya.


“Bang, ada Ibu dan Mbak Rosi tuh yang datang mencari,” ujar Amelia.


“Oh ya, abang akan temui,” balas Ardan menuju ruang depan.


Amelia menata masakannya diatas meja, kemudian menyusul Ardan yang sedang berbicara dengan Ibunya.


“Oh Bu, Mbak Rosi ayo masuk!” ucap Ardan.


“Tidak usah Ardan, kami ke sini cuma sebentar mau bilang hari besok ulang tahun anak Mbak Rosi, kamu datang ya?” sahut Mbak Rosi.


“Baiklah, kebetulan Ardan besok libur kerja,” sambung Ardan.


“Bagus tetapi, kamu sendiri saja ya jangan bawa si udik kampung itu,” ucap Ibunya.


“Kenapa Bu? Amelia kan isteriku.”


“Ibu gak mau dia datang malu-maluin saja, ibu mengundang teman-teman Mbakmu yang sosialisasi itu, entar mau ditaruh di mana muka Ibu? Kalau mereka tahu Ibu punya menantu seperti dia,” tutur Ibunya.


Amelia mendengar perkataan Mertuanya dibalik gorden yang menjadi penghalang dari ruang tamu dan dapurnya. Hatinya benar-benar sakit dan merasa terhina. Ia langsung memasang muka ceria seakan tidak mendengar hal itu

__ADS_1


“Ibu dan Mbak Ratna sini mari mampir sebentar sekalian kita makan malam bersama,” tawar Amelia.


“Tidak usah, paling makan lauk tahu, tempe dan telur ceplok, gitu aja mau nawarin kita makan, sorry kita gak suka makan itu,” tolak Mbak Rosi lebih dulu.


“Iya kita pamit aja, ingat ya Ardan jangan lupa harus datang!” sela Ibunya, dan mereka langsung pergi.


Ardan hanya terdiam tak bisa membela istrinya.


...****************...


Pagi harinya Ardan sudah siap memakai kemeja, ingin pergi ke acara ulang tahun ponakannya. Ia mengstater motornya dengan kencang.


“Mau ke mana Bang?” tanya Amelia, pura-pura tidak tahu.


“Mau ke acara ulang tahun Rossa anak Mbak Rosi,” jawab Ardan cuek.


“Sendiri? Aku gak diajak Bang?” tanya Amelia memastikan.


“Hahaha, ngapain ngajak elu, Kagak salah? Coba elu sadar diri dulu Mel, masa bawa istri penampilan dekil dan juga baju kucel seperti yang elu itu pakai itu,” ejek Ardan.


“Akukan bisa dandan sebentar Bang dan ganti baju agak bagus dikit,” kilah Amelia.


“Halah baju bagus yang kaya gimana pun yang elu pakai kalau emang muka elu dah jelek ya tetap aja jelek, dekil jadinya,” hina Ardan.


El yang bersiap ingin pergi kerja, menjadi geram mendengar perdebatan dan hinaan dari mulut Ardan ke Amelia.


Mata Amelia berkaca-kaca, membuat El tidak sanggup melihatnya.


“Amelia!” panggil El.


“Ada apa Mas?”


“Ya gak apa-apa sih, gue cuma mau bicara sama elu,” ucap El.


“Elu mau bicara apa sih Mas?”


El datang menghampiri di depan halaman. Mata Ardan melihat dan menatap tajam ke arah mereka berdua.


El menarik tangan Amelia menyingkirkan sedikit menjauh dari Ardan, sedangkan Ardan yang melihat itu merasa cemburu. Namun percakapan mereka masih bisa terdengar.


“Gue cuma mau kasih ini doang, dan selamat ulang tahun,” ucap El.

__ADS_1


Amelia terharu, tak menyangka jika El masih mengingat hari ulang tahunnya.


“Jangan salah sangka, gue cuma kasihan lihat tas slempang elu ini sudah koyak, belum lagi talinya sudah mulai mengelupas,” ujar El memberanikan diri menyerahkan tas rajut yang ia beli kemarin di pasar.


“Sebelumnya terima kasih banyak atas perhatian Mas El, tetapi maaf gue gak bisa nerima ini, gue harus menjaga perasaan suami gue,” sahut Amelia.


“Elu masih membela lelaki yang jelas sudah menghina dan menyakiti perasaan elu itu?”


Amelia hanya terdiam.


“Hei, apa yang kalian bicarakan di Lama-lama di sana?” tanya Ardan.


“Ya elah, gue pinjam sebentar istrinya sudah ngamuk,” sambung El.


“Emang istri gue barang bisa seenaknya elu pinjam?” protes Amelia pada El.


“Lha, gue kira elu gak punya suami,” sindir El.


“Hei, kurang aj*r elu ya,” umpat Ardan.


“Apa elu? Gue kira takut sama elu, punya istri tetapi gak pernah diperhatikan, punya istri tetapi, gak pernah di perduliin penampilan dan juga kesehatannya,” cemoh El.


Sebenarnya Amelia membenarkan apa yang dikatakan El, suaminya itu jangankan memberikan uang untuknya membeli skincare seperti perempuan lain, untuk makan saja diperoleh dari hasil kerjanya, ia pun sangat iri dengan pada teman-teman perempuannya yang bisa merawat diri dan penampilannya.


Sedangkan Amelia sekarang, tidak lebih dari wanita kucel, Ibu rumah tangga yang sambil bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bahkan ketika sakit tidak ada yang merawatnya, untuk membeli baju lebaran yang satu tahu sekali pun selalu Amelia urungkan agar bisa mengirim uang berobat ayahnya dikampung.


“Terserah gue dong, istri-istri gue kenapa elu yang sok atur? Berengs*k,” kelakar Ardan.


“Mana yang lebih brengs*k, gue apa elu hah? Suami yang tega menjadikan istrinya sebagai jaminan pinjaman, ingat itu!” ejek El.


Ardan tidak terima dengan pernyataan El, ia kemudian melayang tinjunya.


Bugh! Rahang El terkena pukulan dari Ardan, sehingga ada darah yang mengalir dari mulutnya.


Bugh! El juga membalas, melayangkan bogemnya, tepat terkena hidung Ardan.


“Hei stop! Kenapa kalian ini seperti anak kecil? ” pekik Amelia.


Para warga mendengar adanya keributan, segera datang melerai mereka berdua.


Bersambung....

__ADS_1


Yuk reader's, silakan mampir dan juga baca cerita teman saya ini.



__ADS_2