MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab. 24 Kecurigaan Amelia.


__ADS_3

“Terima kasih ya, Mas El, Bu Rahmah dan Bu Minah sudah mau menolong saya,” ucap Amelia tersadar sembuh dari demamnya.


“Iya sama-sama yang penting kamu harus jaga kandungan dan juga jangan terlambat makannya,” nasehat dari Bu Rahmah.


“Iya Bu, saya pamit pulang dulu, Mas El dan Bu Minah juga terima kasih banyak sudah menampung dan maaf merepotkan,” ujar Amelia sungkan.


“Tidak apa sesama tetangga harus saling perhatian,” sahut Bu Minah.


...****************...


Malam berikutnya.


“Dari mana saja kamu Bang?” tanya Amelia pada Ardan yang baru pulang.


“Kerjalah,” jawab Ardan cuek.


“Kerja apa? Sampai dua hari gak pulang-pulang, aku ke tempat kerja Abang, bos bilang Abang izin tidak masuk kerja,” omel Amelia.


“Buat apa kamu ke sana hah? Bikin malu saja.”


“Asal kamu tahu saja, aku mencari-cari kamu ke sana ke mari, tetapi kamu gak ada? Memang kamu ke mana saja sih Bang?” cecar Amelia.


“Udah ah, aku capek mau tidur!”


“Tapi Bang?”


Ardan mendorong Amelia yang mendekat sehingga ia mundur beberapa langkah kebelakang.


...****************...


“Astaghfirullah kenapa Abang acak-acak baju dalam lemari?”


“Mana duit, sini bagi duit!”


“Gak ada duit Bang, kenapa kamu seperti ini lagi sih? Bukannya sudah janji mau berubah untuk anak kita,” pekau Amelia.

__ADS_1


Ardan mendengus kesal, “Ini juga demi elu, biar kita bisa hidup enak.”


“Maksudnya bagaimana? Kenapa elu gak kerja hari ini Bang?”


“Gak usah bawel deh, ada uang lima puluh juta gak?” tanya Ardan.


“Buat apa uang sebanyak itu Bang?”


“Nanti elu juga akan tahu,” ucap Bang Ardan.


‘Pasti ada yang gak beres nih, rencana apa lagi yang ingin kau lakukan Bang?’


“Gak ada pokoknya uang segitu, sok-sokan mau cari uang lima puluh juta, buat bayar pinjaman sama Mas El aja gak bisa,” gerutu Amelia.


“Cerewet lu ah, gue gampar juga nih!” hardik Ardan meninggalkan Amelia yang tercengang sendiri.


...****************...


“Ayo dong Bu, pinjamin Ardan uang lima puluh juta aja buat ngajak Mira jalan, nanti kalau Ardan pacaran dengan Mira kan Ibu juga yang enak dapat jatah bulanan, biar aku nanti mintakan sama Mira,” rayu Ardan pada Ibunya.


“Lagian kok perkara ngajak jalan aja sih kenapa begitu banyak perlu uang?” tanya Mbak Ute yang dari tadi juga ikut mendengarkan.


“Iya Ute, sepertinya Mira beda kelas orang-orang sosialita gitu deh,” bela Ibunya.


“Ya sudah, ini Ibu ada cincin emas nanti kamu jual aja ke toko mas, mungkin bisa buat nambahin uangnya,” sambung Ibunya.


“Wah Terima kasih, sekali ya Bu,” sahut Ardan senang.


“Iya tetapi, ingat nanti kamu harus memacari Mira, agar kamu bisa menguasai uangnya,” pinta Ibunya lagi.


“Tenang saja Bu, Mira pasti akan jatuh cinta dan tergila-gila dalam pelukanku,” yakin Ardan.


“Bagus dah nanti selanjutnya kamu ceraikan saja di Amelia yang kampung*an itu, Ibu malu punya menantu seperti dia,” ujar Ibunya Ardan.


...****************...

__ADS_1


“Mau ke mana Bang? Kok sudah rapi bawa koper segala?” tanya Amelia.


“Ah cerewet kau, aku mau keluar kota selama tiga hari, jadi jangan banyak tanya,” ujar Ardan.


“Hah, ngapain Bang, ada apa sebenarny?” Amelia begitu kebingungan.


Ningnong! Ningnong! Dering nada telepon milik Amelia berbunyi.


“Ya Halo?” Amelia mengangkat telponnya.


“Apa Bu? Ayah kritis, baiklah Amelia akan ke sana sekarang,” ucap Amelia cemas.


Saat Ardan ingin keluar rumah.


“Bang, tunggu Bang!”


“Ada, apa sih elu cegah-cegah gue hah!” bentak Ardan.


“A-ayah sedang kritis di kampung Bang, ayo kita ke sana!” Amelia panik.


“Ah itu masalah elu, minggir entar gue terlambat lagi,” jawab Ardan.


“Tapi Bang, ... Bang?” Ardan tak menghiraukan Amelia. Ia pergi begitu saja menggunakan taksi.


Amelia mengemasi beberapa lembar bajunya dan pergi tergesa-gesa.


“Eh mau ke mana neng Amelia, kok buru-buru gitu?” tanya Bu Minah kebetulan melihat Amelia.


“Iya Bu, ini saya titip rumah jika Bang Ardan nanti pulang sampaikan kalau saya pergi ke kampung karena Ayah saya sedang kritis,” tutur Amelia.


“Baiklah neng, hati-hati di jalan ya,” ucap Bu Minah.


Amelia tersenyum menggangukan kepala, ia segera mencari taksi untuk sampai ke kampungnya harus menempuh sekitar delapan kilo perjalanan.


Bersambung ....

__ADS_1


Silakan mampir juga di sini.



__ADS_2