MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab 9 Kedatangan Andreas


__ADS_3

Sebuah mobil Alphard hitam berhenti di muka gang, “Bener gak sih ini alamatnya?” lirih lelaki tinggi memakai kacamata hitam itu turun dari mobil hitamnya.


“Sepertinya benar masuk di sini Pak rumah kontrakannya pak,” Jawab sopirnya dari dalam mobil.


“Ok baiklah, aku telpon si Bos dulu...,” ucap lelaki itu mengambil telpon dari balik kantung celananya.


Tuut!


Tuut!


“Ah, sial gak di angkat-angkat lagi, ya sudah tunggu di sini ya, saya jemput bos dulu, ” umpat lelaki itu.


“Siap Pak,” sahut sopir.


Baru beberapa langkah si lelaki ini terhenti karena mendapati seseorang wanita yang keluar dari salah satu rumah kontrakan tersebut sambil memangku ember berisi kain jemuran.


“Hei, kamu... Ame-lia kan?” tanya lelaki berkacamata itu.


“I-iya... maaf anda siapa ya?” tanya balik Amelia heran dengan orang asing di depannya.


“Ini gue Andre, masih ingat gak?” Lelaki itu melepas kacamata hitamnya, wajah putih dan hidung mancung khas blasteran Arab Indonesia.


“Astaghfirullah, ini elu Ndre? Gue bener-bener pangling lihat elu,” ujar Amelia.


“hehehe... iya gue juga tadi sempat gak kenalin elu Mel, karena elu sekarang berubah banget, makin tambah cantik,” kata Andre ketawa cenggesan.


“Berubah? Emang gue wonder momen,” kilah Amelia.


Karena memang benar apa yang dikatakan Andre dulu ia begitu tomboy tak memperhatikan penampilan, semenjak ditinggalkan EL, ia menjadi lebih femenim apalagi setelah menikah walau hanya memakai baju rumahan alias daster, ia tetap anggun dan manis.


“Oh ya elu ada apa ke mari?” tanya Amelia sambil menjemur pakaiannya di halaman rumah.


“Oh ini gue lagi cari rumah kontrak si El katanya ia ngontrak di daerah sini,” jawab Andre.


“Oh itu orang, noh rumah kontrakannya!” Tunjuk Amelia ke samping.


Drrtttt!


Drrrrt!


Nengnong!


Nengnong! suara sering telpon gengam milik Andre berdering, ternyata panggilan ulang dari El.

__ADS_1


“Eh Bos...,” jawab Andre mengangkat telponnya belum sempat ia mengucapkan salam.


Tak beberapa lama El keluar dari rumah kontrakannya, “Wooy... sini elu!” El melambaikan tangan, menyuruh Andre masuk ke dalam rumahnya.


“Nah itu dia orangnya, Mel gue permisi dulu ya, ke sana,” kata Andre mematikan panggilan telponnya.


“Oh iya, silakan,” imbuh Amelia ramah.


...****************...


“Elu ngapain tadi mampir di situ hah?” tanya El sebal.


“Ya elah, namanya juga tadi lagi cari alamat, mana telpon gue gak di angkat-angkat lagi, terus gue jalan kagak nyangka ketemu sama tuh Amelia,” jawab Andreas.


“Gue tadi lagi mandi siap-siap gak dengar telpon bunyi di kamar, nah ayo sekarang kita berangkat,”pinta El.


“Eh beneran elu tetanggaan sama Amelia?” tanya Andreas mulai kepo.


“Ya, seperti yang elu lihat,” jawab El singkat.


“Widiih... pucuk di cinta ulampun tiba, akhirnya setelah elu sekian lama cari-cari dia, ternyata bertemu di sini,” cakap Andreas girang.


“Iya tapi....” Perkataan El terhenti ketika ada suara ribut dari sebelah rumah.


...****************...


“Bu, saya ini seorang isteri bukan tulang punggung keluarga, lagian anda punya anak lelaki kok lembek, tidak bisa kerja keras, kerja sedikit saja sudah merasa kecapean, malu seharusnya Bu! Anda yang katanya orang kaya raya punya anak lelaki tetapi tidak bisa menafkahi isterinya dan ingat Bu! Saya bukan mandul tetapi saya pernah hamil, namun keguguran gara-gara di tendang oleh anak anda yang sok jagoan,” timpal Amelia tak mau kalah. Sudah cukup selama ini dia diam terintimidasi.


Plak! Satu tamparan mendarat ke arah pipi mulus Amelia. Sedangkan Ardan, suaminya hanya diam termenung melihat isterinya di tampar oleh Ibunya sendiri.


“Dasar kurang ajar, saya tidak akan pernah sudi mempunyai menantu seperti kamu,” ucap perempuan itu, yang di ketahui adalah mertua dari Amelia. “Ingat, saya bisa memberikan anak saya apa pun yang dia mau, dan saya akan menikahkan ia dengan perempuan yang sudah saya jodohkan lebih setara dengan keluarga kami!” ujar perempuan itu sebelum pergi berlalu di iringi oleh Ardan si anaknya.


Penyebab kemarahan si mertua tak lain adalah pagi tadi Ardan mengadu kepada Ibunya tak di buatkan sarapan oleh Amelia, juga tak diberi uang rokok, danArdan di paksa terus di suruh bekerja. Langsung saja Ibu dari Ardan mengamuk dan melabrak Amelia ke rumah kontrakannya, ia tak anak lelaki satu-satunya itu disuruh-suruh, dan ia ingin anaknya di perlakuan seperti raja.


...****************...


Di dalam sebuah mobil yang melaju membelah jalan raya.


“Gila tuh cowok diam aja pas Ibunya menampar isteri sendiri! Bukannya dilindungi dibela,” umpat Andreas kesal.


Ia tadi hendak menolong Amelia, tetapi di cegah oleh El katanya, ‘Elu ke sini bukan untuk mencampuri urusan orang.’ Hal itu tetap saja sangat membuat Andreas semakin geram.


El memang lelaki yang dingin dan cuek tetapi melihat perempuan di gitukan hatinya juga teriris, apalagi perempuan itu adalah Amelia.

__ADS_1


Ia sadar bukan haknya mencampuri urusan Amelia meski mereka dulunya adalah sepasang kekasih tanpa terucap kata putus satu sama lainnya. Tetapi ia merasa dirinya tak lebih dari Ardan, seorang pengecut yang juga tak berani mengambil keputusan untuk menentang orangtuanya dulu.


“Sepertinya Amelia memang tidak bahagia dengan pernikahannya,” ungkap Andreas.


“Oh ya? Dari mana kamu tahu?” tanya El dingin.


“Astaga kulkas beku berjalan, elu ya masa gak bisa melihat? Gue yang baru ketemu dia aja udah bisa menilai betapa tertekannya ia hidup sebagai seorang isteri,” ungkap Andreas.


El juga tahu itu melihat mata Amelia yang selalu berkaca-kaca membuat ia tak sanggup untuk manatapnya.


“Mungkin ini bertanda El, buat elu suatu saat nanti bisa balikan lagi sama Amelia,” cetus Andreas.


Pletaaak! El menjitak kepala Andreas.


“AAAawww... sakiit!” pekik Andreas kesakitan.


“Rasain lu, emang gue pebinor apa?” El mulai sebal dengan omongan Andreas.


“Yang nyuruh elu jadi pebinor siapa El? Kale aja dia nanti cerai elu bisa punya kesempatan dekatin dia lagi, begitu konsepnya bambang!” jelas Andreas.


‘Kalau bisa sekarang pun gue rela culik dia, bawa dia pergi jauh dan bahagiakan dia,’ gumam El cuma berani dalam hatinya.


“Eh, bagaimana keadaan perusahaan?” tanya El mengalihkan pembicaraan.


“Perusahaan aman terkendali, cuma ya jumpa klain ini doang yang gak diwakilkan sebab investor dari Tiongkok benar-benar teliti,” jawab Andreas serius. “Tetapi ... ada juga biang rusuh tiap hari,” sambungnya lagi.


“Hah biang rusuh siapa?” tanya El penasaran.


“Itu si Nadia tiap hari dia cariin elu ke kantor, gila tuh cewek sampai segitunya ngejar-ngejar elu,” jawab Andreas sengit.


“Hahaha ... ya iyalah, mana ada cewek yang bisa menolak pesona gue,” ujar El mulai narsis.


“Terus ... gue bilang aja elu lagi jadi pangeran berkuda menggembara mencari cinta sejati,” ejek Andreas.


Hampir aja tangan El kembali melayang ingin menoyor kepala Andreas.


“Hehehe ... ampun Pak Boss,” canda Andreas tertawa ngakak.


Bersambung....


(note; maaf ya baru up sekarang terus kasih semangat author ya teman-teman, jangan lupa kasih like dan komentar)


__ADS_1


__ADS_2