MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab 6 Sebatas Kenangan


__ADS_3

Senja mulai menguning, bertanda sebentar lagi matahari akan tenggelam di ufuk barat. El sedang duduk di teras Pak Haji Udin karena mau pinjam palu sebab ada lubang tikus tadi malam di dapurnya. Rencana mau nutupin itu lubang,


“Ini palunya nak El,” kata Pak Haji Udin menyerah palu kepada El


“Terima kasih ya Pak Haji,El pinjam dulu,” ucapnya


“Kenapa gak kamu kasih racun tikus aja sih El?”


“Saya mana tahu obat begitu Pak Haji, saya baru kali ini ngontrak rumah,”


“Owalah, anak kota to, mana paham? Yo wes, kalau tikusnya masih ada kamu bilang aja nanti biar Pak Haji yang belikan racun tikusnya,”


“Iya Pak Haji Terima kasih, saya pamit dulu,Assalamu’alaikum,”


Jarak antara rumah Pak Haji dan kontrakan tak terlalu jauh, sehingga lima menit pun sampai.


Sampai rumah El bergegas memperbaiki dapurnya.


Tok!


Took!


Took!


Bunyi pukulan palu, “Heh, akhirnya selesai juga,” ucap El dan ingin mengembalikan palu ke Pak Haji Udin.


“Eh, Mas El mau ke mana toh?” Sapa Putri, dengan ganjennya


Kebetulan malam ini, malam minggu jadi anak muda pada nongkrong di depan kontrakan. Terutama putri dan teman-temannya.


“Ooh ini saya mau ke rumah Pak Haji mengembalikan Palu buat benerin dapur ada yang jadi lubang tikus,” jelas El


“Kirain tadi tetangga sebelah yang ribut lagi,”


“Emang kamu suka mereka ribut? ”


“Ya gak gitu juga sih Mas El, Oh ya Mas nyanyi lagi dong, kangen tahu sama suara Mas yang merdu,”


“Nanti ya habis bakda isya saja,”


“Ok, Mas El ditunggu ya,”


Sesuai janjinya El dan Putri Kawan-kawannya pun nongkrong di bawah pohon jambu, dua pasang suami isteri Ardan dan Amelia juga berada di teras rumah mereka, Ardan asyik memainkan ponselnya sedangkan Amelia menyaksikan El yang duduk berada di tengah-tengah para gadis.


“Huh, dasar carper! Emang dasar playboy cap kadal gurun dari dulu,” umpat Amelia kesal.


“Hah... elu ngomong apaan sih Mel? Elu masih kesal sama gue ya?” tanya Ardian yang tak mengalihkan pandangannya dari gadget.


“Eh, gak bang, tadi cuma asal omong aja,” jawab Amelia agar Ardian suaminya tak menaruh curiga.


“Emang kalian mau request lagu apa?”


“Terserah Mas El, nanti kita ngikutin saja,” kata Sisil senyum


“Oke lah kalau begitu,” dengan gitar kesayangannya El memulai memetik dawai kunci C


“Aku yang lemah tanpamu

__ADS_1


Aku yang rentan karena


Cinta yang t'lah hilang darimu


Yang mampu menyanjungku


Selama mata terbuka


Sampai jantung tak berdetak


Selama itu pun aku mampu untuk mengenangmu


Darimu (darimu), kutemukan hidupku


Bagiku (bagiku), kaulah cinta sejati


Yeah, huu, huu (darimu)


(Bagiku, engkaulah cinta sejati)” El menyuruh Sisil melanjutkan Intro.


“Bila yang tertulis untukku


Adalah yang terbaik untukmu


‘Kan kujadikan kau kenangan


Yang terindah dalam hidupku


Namun takkan mudah bagiku


Meninggalkan jejak hidupmu


Sebagai kenangan yang terindah”


Puk! Puk! Puk!


Tepuk tangan serempak dilakukan oleh Putri Cs.


“Widiih... seru nih ya, kalau ada Mas El, emang dulu Mas El belajar main gitar di mana?” tanya Sisil


“Gue dulu pernah gabung di band sekolah neng,” ujar El mengenang masa lalunya


“Wah keren, pasti Mas El yang jadi idolanya semasa itu kan?”


Putri datang dengan membawa mampan berisi penuh pisang goreng. “Eeetttts... sebelum lanjut ceritanya, ini cobain dulu pisang goreng buatan ibu saya.”


“Alhamdulillah... ternyata Bu Imah paling pengertian,” ucap El sambil mengunyah pisang goreng di dalam mulutnya.


“Jadi ... gimana, bener nih Mas El dulunya punya group band? ” tanya Sisil kembali


“Iya, dulu waktu sekolah SMA ada ekstrakurikuler group band sekolah, saya sebagai vokalis sekaligus gitaris, tetapi ada juga vokalis cewek orangnya agak tomboy dan galak,” cetus El nyaring, tersenyum smirk menatap ke arah Amelia yang duduk di terasnya, sengaja biar Amelia mendengar, karena memang itu tujuannya.


“Oh begitu, Mas El boleh gak Putri minta ajarin main gitarnya,” pinta Putri


“Oh tentu boleh, sini dekat Mas!”


“Asyik, ayo Mas gimana mainnya?” Putri sangat antusias minta diajari, apalagi saat El mencoba merangkul pundaknya agar tangannya bisa mencapai leher gitar. Sekali lagi mata El melirik ke arah Amelia, tatapan mereka berdua bertemu, melihat itu Amelia cepat-cepat mengalihkan pandangan, ia malu jika ketahuan sedang memperhatikan El yang di keliling gadis-gadis.

__ADS_1


...****************...


Sembelas Belas Tahun Yang Lalu


Di Koridor sekolah SMA CITRA ANUGRAH nampak tergesa-gesa seorang gadis, menuju ruang BK untuk memenuhi panggilan karena beberapa kali ketahuan membolos. Amel memang terkenal badung dan agak tomboy.


“Amelia, ini sudah ke berapa kalinya kamu bolos, kalau kamu seperti ini terus, nanti Bapak Kepala Sekolah bisa skorsing kamu,” ujar Bapak Gunawan sebagai guru BK.


“Tolong dong Pak, jangan sampai saya di skorsing, saya janji ini yang terakhir kalinya,” mohon Amelia.


“Kamu ini janji terus, kenapa pula kamu tidak ada ikutan ekstrakurikuler di sekolah? Kamu tahu kan peraturannya bahwa semua siswa-siswi harus wajib mengikuti beberapa ektrakurikuler,” jelas Bapak Gunawan lagi.


“I-iya Pak, saya tahu, tetapi apa ektrakurikuler yang cocok dengan saya?” tanya Amelia


“Kamu bolos karena sering manggung di acara hajatan atau kondangan kan?” tanya Bapak Gunawan serius


“Hehehe, iya betul Pak kenapa?”


“Nah di sekolah kita kan ada group band sekolah kenapa kamu tidak ikut mereka saja nyanyi di sana?” usul Bapak Gunawan.


“Hahaahaha...,” tawa anak-anak band yang di pimpin oleh El, saat Amelia mencoba mengatakan mau bergabung bersama mereka sesuai usul Bapak BK.


“Saya mohon Kak, saya harus ikut ektrakurikuler ini saja untuk menambah nilai saya, saya bisa nyanyi lagu dangdut,” jelas Amelia memohon. Karena saat itu Amelia memang adik kelas El.


“Hahahaha, yakin kamu mau bergabung ke band ini? Gak salah alamat?” tanya Vania yang juga salah satu anggota groub band sekolah.


“I-iya Kak saya yakin,” jawab Amelia mantap.


“Ada apa sih ini?” tanya El yang tiba-tiba datang dengan gaya khas dan gitar kesayangannya.


Amelia terpesona melihat nya ‘Ganteng banget.’ Bisiknya dalam hati


“Ini El, anak kelas dua IPS katanya mau ikut gabung,” jawab Andre sangat drummer


El menatap tajam Amelia dari ujung kaki hingga ujung kepala, bagaimana tidak? Amelia berdandan bukan seperti cewek tetapi lebih mirip seorang laki-laki.


“Oh ya? Apa yang kamu bisa?” tanya El pada Amelia


“Sa-saya bisa nyanyi kok Kak,”


“Nyanyi apa saja?” tanya El kembali mulai penasaran


“Nyanyi lagu dangdut, dan lagu rock Kak,” jawab Amelia gugup


‘Hemmmz menarik juga nih cewek,’ gumam El dalam hati


“Ok kamu boleh gabung,” ujar El


“Ta-tapi El, group kita sudah lengkap komponennya,” protes Vania sebagai pianis.


“Iya, tak salahnya kan kita memberikan kesempatan kepada dia, siapa namamu hah?” jawab El sambil menunjuk Amelia


“Nama saya Amelia Kak,” jawab Amelia girang.


“Iya, nah mulai besok kamu boleh ikut latihan ya Amelia, kamu harus tunjukkan dulu kemampuanmu sama saya,” ungkap El


“Iya Siap Kak,”

__ADS_1


'Huh, ni cewek kayanya juga mulai cari perhatian ke El,' gerutu Vania tak suka dengan kehadiran Amelia di group mereka.


Bersambung...


__ADS_2