MENCURI ISTRI TETANGGA

MENCURI ISTRI TETANGGA
Bab 8 POV Amelia


__ADS_3

Semenjak hampir dua belas tahun aku tidak pernah melihat sosoknya lagi, kini entah kenapa aku dipertemukan kembali dengan dia. Pagi hari yang cerah namun tak secerah rumah tanggaku, tak kusangka orang yang paling ingin ku hindari di dunia ini, malah orang yang kutemui di pagi hari, tak sampai disitu betapa kagetnya aku ketika tahu dialah penghuni baru kontrakan sebelah.


El Farizi, nama yang pernah melekat dalam sanubari, mendampinginya hanyalah sebuah ilusi, bayangan akan cerita cinta yang terpatri hanya melalui mimpi, “Kenapa gue jadi sok puitis begini sih?” gumam Amelia mengutuk dirinya sendiri. Sebab sedari tadi bayangan akan kenangan bersama El juga mengusik pikirannya.


...****************...


Pertengkaranku siang hari itu dengan Bang Ardan yang menjadi suamiku membuatku sangat malu apalagi saat ini El sedang menyaksikan berada persis di sebelah rumah kontrakan kami. Aku juga tak bisa menahan amarah saat tahu Bang Ardan semalaman tidak pulang ke rumah, aku tahu ia marah karena tidak ada makanan, “Ah, paling ia makan dan tidur di rumah ibunya yang katanya kaya raya itu.” Pikirku, malah tiba-tiba ada notifikasi WA dari Ayu tentang suamiku yang sedang mabuk dan tidur di warung jabl*y sungguh aku geram sekali, karena ini sudah kedua kalinya ia ketahuan selingkuh. Aku sebenarnya, gak tahan lagi dengan kelakuan Bang Ardan. Dulu waktu awal-awal ia sangatlah baik dan manis terhadapku, bahkan berani menantang orangtuanya hanya demi menikahiku, tidak seperti El yang menurutku adalah pecundang. Bang Ardan anak dari majikan tempat Bapakku bekerja, usia kami hanya terpaut dua tahun lebih tua dia. Karena seringnya aku membantu ibu menjadi tukang cuci gosok di rumah orang tua Bang Ardan. Ada rasa yang mengalir indah di hati kami. Maklum saat itu aku baru lulus SMA dan sedang patah hati karena ditinggal kekasih. Jadi ku terima sajalah pernyataan cinta dari Bang Ardan waktu itu


“Dek, Abang sekarang memang belum ada kerjaan sih, ini masih ikut Ayah jalankan usaha cuci motor dan mobil, kamu mau kan jadi isteri Abang?” tanya Ardan tulus.


“Ta-tapi Bang, bagaimana jika Ibu Abang tahu pasti ia sangat marah sekali, kan Abang tahu Ibu Abang itu orangnya pemilih,” ucap Amelia ragu.


“Iya, Abang tidak perduli, seperti apapun Ibu menghalangi kita, Abang akan selalu mempertahankanmu Amelia,” Ujar Ardan mantap.


Orang tuaku menilai keseriusan dan kesungguhan Bang Ardan meminangku mereka pun setuju. Kami melangsungkan pernikahan dengan sederhana walau tanpa restu dari Ibu Abang Ardan. Ku kira setelah menikah Abang Ardan menjadi dewasa tak lagi meminta uang pada orang tuanya karena, ia sudah menjadi kepala rumah tangga, dan seorang suami. Namun yang kusangka tidak sesuai harapan ia, tidak pernah mau bekerja dan usaha meski sedikit saja untuk menafkahi ku. Seperti tak ada rasa tanggung jawabnya pada aku isterinya, ketika Ibu Ardan tahu kami menikah Ayah dan Ibu ku yang bekerja di rumah Bang Ardan diberhentikan, sedangkan untuk menyambung kebutuhan hidup aku hanya bisa menjadi kasir di toko Pak Haji Lulung.

__ADS_1


...****************...


Aku berinisiatif untuk mengontrak rumah saja agar tidak terlalu merepotkan Bapak dan Ibu, berharap Bang Ardan bisa berpikir dewasa dan memulai hidup mandiri, ternyata ia masih saja tidak sadar diri dengan kenyataan. Malah sekarang ia suka sekali main tangan, tak segan-segan ia menamparku bahkan mendorong-dorongku, pernah sekali karena aku terlambat menyiapkan makan siang, ia menendangku hingga terjadi pendarahan. Aku benar-benar tidak tahu kalau aku sedang mengandung, karena lemahnya kandungan dan tertekannya aku mempunyai seorang suami yang hanya bisa tidur, makan, dan menggadu minta uang dengan orang tuanya saja, janinku mengalami keguguran saat itu juga, Bang Ardan mengaku insaf, dan meminta maaf, ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku maafkan tetapi entah kenapa saat itu pula rasa cinta padanya hilang mengguap begitu saja seiring dengan perlakuan Bang Ardan yang kasar dan hinaan dari keluarga Bang Ardan. Janji hanya tinggal janji, mulut memang mudah untuk mengucap tetapi, untuk merubah kebiasaan perlu tindakan dan pembuktian.


...****************...


“Hah, tetangga baru itu mantan kamu?” ucap Bang Ardan reaksi kagetnya, saat aku ceritakan siapa El sebenarnya. Saat El menegur kami yang lagi berantem di teras rumah.


“Husssst... Abang pelan-pelan suaranya, entar kedengaran orangnya lagi di sebelah,” ujar Amelia menahan mulut Ardan dengan jari telunjuknya.


‘Hemmmz panik kan elu? Kalau mantan gue lebih cakep dan tajir dari pada elu' gumam Amelia dalam hati senang.


“Gue juga kagak tahu kalau toh orang nyasar ke sini Bang, lagian itu masa lalu doang, makanya kita jangan bertengkar terus malulah bang di lihat orang, kan Abang tadi sudah berapa kali janji gak ulangi lagi, Awas aja kalau sampai Abang kembali ketahuan selingkuh dan mabuk lagi! Gue benar-benar akan minta cerai,” ancam Amelia.


“Iya, iya elu maafin gue ya? Pokoknya entar di depan mantanmu itu kita harus mesra-mesra ya sayang...,” ucap Ardan seakan gak mau kehilangan Amelia.

__ADS_1


“Entahlah, tergantung Abang gimananya nanti,” rajuk Amelia yang masih sakit hati atas perlakuan Ardan.


...****************...


Ku berharap setelah teguran dari Mas El kemaren lakiku benar-benar berubah dan mau berkerja, ternyata kemesraan yang ia lakukan padaku hanya untuk pertunjukan apabila ada tetangga atau Mas El yang lewat di depan rumah saja, setelah itu watak aslinya kembali muncul. Belum lagi hinaan dan cacian dari keluarga Bang Ardan sendiri, aku dituduh menggunakan pelet untuk memikat Ardan dan sampai dikatakan mandul karena usia pernikahan yang hampir sepuluh tahun ini setelah keguguran satu kali itu, aku tidak pernah hamil lagi. Mungkin Tuhan juga mengerti tentang kesulitan dan masalah kehidupan yang kujalani hingga tak ingin menambah beban dengan kehadiran seorang anak.


Bersambung....


Visual Ardan



Visual Amelia


__ADS_1


__ADS_2